Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Rekam Jejak Perhimpoenan Indonesia dalam Sejarah Gerakan Antikolonial Dunia

Kukuh Basuki

3 min read

Tonggak kesadaran bangsa Indonesia dalam mewujudkan negara Indonesia merdeka yang seutuhnya sering dikaitkan dengan peristiwa pembacaan ikrar Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda Indonesia II tahun 1928. Peristiwa itu terjadi 20 tahun setelah berdirinya Boedi Oetomo, organisasi kepemudaan pertama yang berdiri di Hindia Belanda, yang mencita-citakan kemerdekaan Indonesia. 28 Oktober dan 20 Mei menjadi hari penting dan selalu dirayakan karena pengaruhnya menjadi fondasi dasar kemerdekaan Indonesia tahun 17 Agustus 1945.

Namun, ada satu aspek yang sering terlupakan (atau tersisihkan) dalam diskursus proses panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebuah organisasi yang didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Belanda dan negara-negara Eropa lainnya, yaitu Perhimpoenan Indonesia (PI).

Organisasi yang pada awalanya bernaman Indische Vereniging ini mempunyai sumbangsih besar dalam memperkenalkan Indonesia di mata internasional melalui konferensi-konferensi anti-imperialisme internasional yang diikuti. Begitu juga dari terbitan-terbitan majalah Hindia Poetra (HP) yang akhirnya berubah nama menjadi Indonesia Merdeka (IM).

Dalam buku Di Balik Bendera Persatuan, Klaas Stutje menyajikan narasi kronologis bagaimana kiprah kalangan nasionalis Indonesia di Eropa yang secara aktif berjuang dengan seluruh jiwa raga dan pemikirannya untuk kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya.

Ia mengumpulkan dokumen-dokumen penting yang mencatat keterlibatan pimpinan, pengurus, dan seluruh anggota PI dalam gerakan antikolonial dunia. Bagaimana tokoh-tokoh PI berjejaring aktif dengan tokoh-tokoh antikolonialisme internasional, saling bertukar pikiran dan memberi dukungan satu dengan lainnya untuk merobohkan kolonialisme di negaranya masing-masing. Stutche membuktikan bahwa nasionalisme Indonesia tidak tumbuh secara terasing, tapi sangat terkait dengan gerakan antikolonialisme internasional.

Sejarah Singkat berdirinya PI

Terinspirasi oleh berdirinya organisasi kepemudaan Boedi Oetomo yang berdiri lima bulan sebelumnya di Hindia Belanda, Indische Vereniging (IV) lahir di Leiden pada Oktober 1908. Penggagas awalnya adalah Casajangan Soripada, Soemitro, dan Jacques Henrij Abendanon. Pada awalnya perhimpunan ini bertujuan untuk mempromosikan minat terhadap warga Hindia (Indiers/inlanders/bumiputra) di Belanda untuk terhubung dengan Hindia Belanda.

Pada awalnya IV secara resmi mengambil sikap netral terhadap penjajahan Belanda. Mereka percaya akan kesejahteraan karier dan kesempatan yang akan didapatkannya setelah lulus kuliah. Namun seiring berjalannya waktu, lebih banyak anggota baru dengan karier yang tidak cemerlang, yang membuat sikap normatif IV terhadap penguasa kolonial Belanda perlahan luntur. Di sinilah titik awal pergeseran IV dari lembaga sosial menuju gerakan politik.

Baca juga:

Perjumpaan anggota IV dengan tokoh-tokoh nasionalis yang dibuang di Belanda seperti Soewardi Suryaningrat memantik simpati IV pada perjuangan kemerdekaan Indonesia lebih jauh. Bahkan pemimpin Indische Partij yang sering mengkritik Belanda ini sempat menjadi editor majalah Hindia Poetra. Belum lagi kedatangan orang-orang komunis seperti Semaoen, Darsono, dan Tan Malaka yang juga dibuang ke Belanda, membuat semangat antikolonial IV semakin menebal.

Puncaknya adalah pada sidang umum IV Februari 1922 di lantai dua Café Riche, Den Haag. Di sana mereka mengecam janji-janji Belanda yang tidak ditepati dan juga terhadap mahasiswa Belanda dalam organisasi mereka karena kurang kooperatif. Sebagai pernyataan sikap, mereka mengubah nama dari Indische Vereeneging menjadi Indonesische Vereeneging (Persatuan Indonesia). Herman Kartowisastro terpilih sebagai ketuanya, Soewarno sebagai sekertaris, dan Mohammad Hatta sebagai Bendahara.

Untuk mempertegas semangat nasionalisme, pada 1924 Nazir Pamontjak mengubah nama majalah Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka (IM). Satu tahun berikutnya, Soekiman Wirjosandjoyo menuntaskan reorientasi perhimpunan dengan mengubah nama perhimpunan ke bahasa Melajoe (cikal bakal bahasa Indonesia) menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI). IM bertransformasi menjadi media propaganda yang hanya memuat tulisan dengan semangat “nasionalisme revolusioner”

Tokoh-tokoh Penting PI

Para pengurus PI yang tersebar di seluruh daratan Eropa membuat ide-ide kemerdekaan Indonesia semakin didengar internasional sekaligus memperluas jejaringnya dengan organisasi-organisasi antikolonial dunia.

Sam Ratu Langie di Zurich Swiss mendirikan Societe des etudiants asiatiques (SDEA). yaitu sebuah himpunan mahasiswa Asia. Organisasi ini mempersatukan mahasiswa dari Indonesia, Muangthai, Korea, India, Srilanka, Tiongkok, Jepang, dan Filipina. Hal ini sangat membangkitkan solidaritas sesama negara Asia untuk melawan penjajahan di neegerinya masing-masing.

Di Paris Prancis, Arnold Mononutu sebagai perwakilan PI sering nongkrong di Taverne Pascal dan Quarter Latin. Di dua tempat itu Mononutu berdiskusi dengan mahasiswa, seniman, dan pendatang lainnya. Dari sanalah muncul koneksi-koneksi baru ataupun undangan konferensi. Mononutu juga tergabung dalam Association pour l’etude des civilisations orientales (AECO). Organisasi yang didirikan oleh Tjeng Ying Chang dan Xia Ting ini berhasil menarik perhatian mahasiswa dan aktivis dari Suriah, Jepang, hingga Rusia.

Keterlibatan dalam Kongres Dunia

Beberapa anggota AECO adalah penggagas terselenggaranya Kongres Demokrasi Internasional bagi Perdamaian di Bierville (12-23 Agustus 1926), sebuah konferensi besar yang dihadiri 5000 orang dari 33 negara. Hatta sebagai wakil PI turut menyepakati pembentukan “blok Asia” sebelum acara konferensi.

Dalam konferensi itu, Hatta berpidato yang berisi tentang proses radikalisasi kawula muda Indonesia karena kecewa dengan Belanda yang tidak menepati janji-janjinya. Alih-alih memberi kemerdekaan dan kesejahteraan, Belanda malah melakukan sensor ketat, memangkas kebebasan berserikat, dan mengesahkan undang-undang perburuhan yang merugikan.

Baca juga:

Acara penting berikutnya yang diikuti Hatta adalah Kongress Gegen Koloniale Unterdruckung und Imperialismus (Kongres Melawan Penindasan Kolonial dan Imperialisme) di Brussel. Lima orang Indonesia yang hadir waktu itu adalah Hatta, Nazir Pamontjak, Gatot Taroeno Mihardjo, Achmad Soebardjo, dan Semaoen yang membawakan mereka undangan. Kongres ini juga dihadiri tamu kehormatan dua penerima Nobel Abert Einstein dan Romain Rolland juga Soong Qingling, janda Sun Yat Sen, Jawaharlal Nehru dan George Lansbury.

Pada acara yang diikuti 174 delegasi resmi yang mewakili 137 organisasi dari 34 negara ini, Hatta dipercaya memimpin satu sesi sidang. Hatta juga terpilih sebagai anggota komite eksklusif yang pada akhirnya membentuk Liga Melawan Imperialisme (LAI). Organisasi yang menjadi induk dalam melawan imperialisme dunia ini dan berhasil menyelenggarakan Kongres Internasional Kedua Melawan Imperialisme dan Kolonialisme di Frankfurt (20 Juli 1929).

Beberapa anggota perempuan PI juga aktif mengikuti konferensi internasional, di antaranya adalah Artinah Samsoedin dan Siti Soendari yang mengikuti kongres wanita komunis di Paris pada Agustus 1934. Dalam kongres itu Siti Soendari menyuarakan perjuangan perempuan sedunia dalam melawan kolonialisme.

Selain perlawanan pada imperialisme, PI juga aktif menyuarakan perlawanan terhadap fasisme yang waktu itu sedang merajalela di Eropa. Tercatat 60 sampai 110 mahasiswa Indonesia terlibat dalam perlawanan menghadapi Jerman. Namun ironisnya, radikalisme PI juga membuat Belanda tidak percaya kepada organisasi itu hingga pada akhirnya PI semakin ditekan dan membubarkan diri.

Beberapa tokoh PI yang pulang ke Indonesia kelak menjadi tokoh-tokoh penting dalam proklamasi kemerdekaan RI dan juga dalam penyusunan dasar-dasar negara Indonesia. Bergabung dengan tokoh-tokoh nasionalis lokal lainnya, mereka membawa semangat antikolonialisme dunia untuk mengantar Indonesia menuju gerbang kemerdekaannya.

 

 

Editor: Prihandini N

Kukuh Basuki
Kukuh Basuki Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email