Pesta Kembang Api dan Kuasa Tawa: Menonton Mens Rea Bersama Milan Kundera

Muhammad Yunus

2 min read

Tawa adalah hal alamiah manusia, sebuah respons spontan terhadap kegembiraan, kelegaan, kelucuan, atau bahkan ironi hidup. Tetapi bagaimanapun, tawa, sebagaimana banyak (untuk tidak menyebut semua) hal lain di dunia, tidak dapat dilepaskan dari relasi kuasa. Kundera, setidaknya menjelaskan bagaimana tawa memiliki jalin kelindan dengan kekuasaan.

Bagi Kundera, tawa bukan sekadar ekspresi kegembiraan, melainkan tindakan politis. Kundera lalu membuat perbedaan tajam antara dua jenis tawa: tawa malaikat yang menenangkan dan tawa iblis yang mengganggu. Kasus pelaporan terhadap Pandji Pragiwaksono akibat materi stand-up Mens Rea dapat dibaca secara jernih melalui kerangka ini. Sebuah contoh konkret benturan antara tawa malaikat dan tawa iblis.

Tawa malaikat adalah tawa yang merayakan keteraturan. Tawa jenis ini mengandaikan bahwa dunia pada dasarnya baik-baik saja, atau setidaknya harus dianggap demikian demi stabilitas bersama. Dalam bahasa yang sering kita dengar, agar tidak menimbulkan “kegaduhan di masyarakat”. Tawa malaikat tidak menyukai ambiguitas, ironi, atau ketidaknyamanan. Ia bekerja sebagai perekat sosial yang menyatukan orang dalam rasa kebersamaan, sekaligus menghalangi munculnya pertanyaan yang terlalu jauh.

Baca juga:

Tawa malaikat selalu mengimajinasikan keamanan. Ia adalah sejenis tawa karir untuk menanggapi candaan atasan yang tidak lucu sama sekali. Tawa seorang sales menghadapi candaan seksis calon pembeli, atau tawa seorang anak yang harus bertahan menghadapi kasus bullying. Sejenis tawa yang yang lahir dari orang dengan posisi kuasa lemah untuk bertahan dan mendapatkan keamanan, untuk terus berpikir bahwa semua (akan) baik-baik saja.

Sebaliknya, tawa iblis lahir dari kesadaran akan perlawanan. Ia muncul ketika seseorang melihat jarak antara slogan yang dikatakan dan realitas yang terjadi, antara nilai yang diklaim dan praktik yang dijalankan. Tawa ini tidak menawarkan kenyamanan melainkan merusaknya. Tawa iblis tidak menawarkan rasa aman, tetapi ketegangan. Dalam tawa iblis, tertawa bukan tanda penerimaan, melainkan penolakan terhadap kepalsuan dan kemunafikan. Karena itulah, tawa iblis selalu berpotensi dianggap berbahaya.

Mens Rea secara jelas menempatkan dirinya sebagai tawa iblis. Materinya dibangun di atas ironi, kondisi sosial yang tidak ideal, dan kontradiksi-kontradiksi antara stabilitas yang selalu dibicarakan penguasa dengan carut marutnya keadaan masyarakat. Pandji tidak menyampaikan candaan untuk menenangkan audiens, ia berdiri di sana untuk mengguncang rasa nyaman mereka terhadap narasi-narasi yang sudah mapan. Dalam kerangka Kundera, ini adalah fungsi klasik tawa sebagai alat pembebasan: membebaskan pikiran dari kepatuhan otomatis terhadap bahasa resmi, sakralitas simbol, dan klaim moral yang tak pernah disentuh kritik.

Ketika tawa semacam ini memicu pelaporan hukum, yang terjadi bukan sekadar konflik antara individu dan institusi, melainkan benturan antara dua logika tawa. Pelaporan tersebut dapat dibaca sebagai ekspresi penolakan terhadap tawa iblis, bukan karena tawa itu lucu atau tidak lucu, melainkan karena ia menolak tunduk pada aturan ketertiban. Dalam kacamata Kundera, inilah momen ketika kekuasaan menunjukkan batas toleransinya terhadap humor: bukan pada tawa itu sendiri, tetapi pada tawa yang merusak kepatuhan.

Pelaporan terhadap Pandji, dalam kerangka ini, dapat dipahami sebagai upaya mengembalikan tawa ke fungsi malaikatnya: menenangkan, bukan mengganggu. Dengan membawa tawa ke ranah hukum, pesannya jelas, pemilik kuasa ingin menentukan (si)apa yang pantas dan tidak pantas ditertawakan. Penguasa berharap masyarakat tertawa tanpa terbebaskan.

Baca juga:

Namun justru di titik inilah makna pembebasan ala Kundera menjadi relevan. Tawa iblis tidak diukur dari diterima atau tidaknya ia oleh sistem, melainkan dari kemampuannya memaksa sistem bereaksi. Ketika tawa membuat kekuasaan meninggalkan bahasa moral dan masuk ke bahasa hukum, itu menandakan bahwa tawa tersebut telah menyentuh saraf sensitif. Ia telah berhenti menjadi sekadar hiburan dan berubah menjadi gangguan.

Pada pemerintah yang tidak peduli pada kritik, satir-satir dalam stand-up comedy masih menjadi kembang api yang meledak di langit. Ledakan itu dinikmati, tapi bagaimanpun indahnya bunga-bunga api tersebut, ia berada di kejauhan. Ledakannya tidak pernah melewati pagar kekuasan, apalagi sampai ke telinga penguasa. Pada pemerintah yang anti kritik, kembang api itu bahkan tidak boleh dinyalakan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Yunus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email