Ia akan terlahir kembali sebagai makhluk baru yang hampir-hampir tidak mengenali tangannya sendiri. Ia tak pernah sekalipun membayangkan ujung jari kanannya membicarakan ujung jari kirinya yang lain.
Sejam yang lalu, ia menulis surat dengan perbendaharaan kasar. Bahkan penyunting lepas tak bisa memahami maksud dan tujuan makhluk bingung itu. Tapi ia harus tetap menyunting dan mengirimkannya pada penyair lain di Turki atau Lebanon atau Pakistan.
Orang tuanya tak pernah mengajarinya menjadi penyair, sehingga ia belajar pada pencopet di pasar dan pemungut pajak kasar. Kelesuannya adalah adat yang sopan dan hampir-hampir tak tersentuh dosa.
Mungkin dari balik matanya itu, yang menengadah kosong dan buntu, sejak semula tak melihat dengan kemampuannya itu, anak muda masa kini: menyerbu pelan orang-orang tua dengan rohnya yang tak seimbang dan kolot.
Di suatu gedung, ia melayang kadang duduk dengan canggung. Di jalan luar, ruang sepertiga jengkal hampir tubrukan, pegawai kecamatan dan buruh pabrik celana dalam digembalakan dalam kesadaran penuh. Tetapi ia tak pernah begitu yakin pada pengejawantahan rencana-rencana besar nan dahsyatnya sendiri.
Dan sebagaimana ia berunding dengan akal sehat yang kadang berkabut dan berantakan, satu-dua kata diyakininya mampu membangkitkan kebesaran sekumpulan pulau-pulau. Maka, bukanlah ia apabila tak jemawa dan bungah dengan kemampuannya untuk menyentuh dirinya sendiri.
Sejak lama ia berusaha memahamkan dirinya sendiri pada kerumitan yang bertubi-tubi, saling tumpang tindih. Akan tetapi karena ia adalah yang besar dan seorang penyelamat, tanpa syak wasangka, kolong-kolong jalan itu dikenalnya seperti saudara kandung. Sehingga orang-orang merasa tak lagi berada di negeri asing. Ia membuka suatu relung yang berdaulat dan terbuka di depan.
Dengan batin yang terguncang oleh lingkup dan hal-hal besar, karena ia hanyalah manusia kampung yang lahir di kampung dan dijejali umbi-umbian kampung serta tubuh yang hanya segenggaman zaman, ia memikul tanggung jawab kolosal. Di atas pundaknya rebahan dewa-dewa naga dengan semburan tak terbatas.
Kemuliaan yang kadang acuh itu merangkak di depannya, menyeret kaki serta tubuhnya yang lusuh dan lisut.
Bagaimana ia akan mengenali dalam samarannya seperti orang suci, kemuliaan itu hinggap dalam dirinya serta menggigit tulang rusuknya dan pada pagi hari ia menyiru di balik kulit.
Terkadang ia tergoda pada yang di luar batasnya, pada kesibukan di luar kedudukannya yang basah. Dua tangannya tak cukup untuk memegang dirinya yang terguncang hampir jatuh, sebab sebelahnya lagi sibuk menombak mamalia berkepala naga yang membelit. Kadang diusirnya, kadang tak ada pilihan selain dibiarkan ia ditelannya hidup-hidup seluruh tubuhnya yang ringkih.
Kita dapat mengamati kelesuannya di emper kota. Kadang tubuhnya berdiri di tengah rumah-rumah kumuh dengan baju putih bersih seperti orang saleh. Dua-tiga kalimat dapat melayani keputusasaan di jembatan dan gang-gang satu arah. Ada yang menyebutnya sabda, sehingga hal-hal tak kasat mata akan mewujudkan dirinya sendiri.
Siapa yang dapat membayangkan, semua pengerjaan pengamatan dan penghitungan berabad-abad tidak membawa apa-apa, tidak lebih meyakinkan dan menggugah daripada dua-tiga sabda manusia kampung kita ini.
Dalam ketidakpastian itu mereka melibatkan diri dalam kandungan “yang ajaib,” dan tak terjelaskan. Orang-orang yang rapih dan mereka yang hanya bertahan sehari-hari di pabrik penggilingan makanan cepat saji tak bernutrisi lebih suka pada pemasrahan segala kepada satu sosok saleh. Ia telah dilahirkan oleh seorang ibu untuk memikul seluruh umat menjadi satu mulut dan dua kepal tangan saja.
Mereka mendesak pelayanan. Dunia yang mengimpit tulang dan kata-kata bersih telah membuat mereka senewen. Terlalu berat dan rumit untuk dipikul. Mestilah ada yang ditanamkan dalam lidah anak manusia: rahasia isi dunia. Sehingga orang-orang biasa harus ditanggungnya.
Di sini, dalam kota inflasi yang menyeimbangkan bangunannya di atas pajak pengayuh becak, ia masih menyerbu hati-hati muda, di saat mereka belum mampu menjalani kehidupan sedikit pun dengan kemampuan dan hubungan rumit dalam uji sosial. Usia manusia amatlah pendek untuk mengerti kehidupan, siapa yang mampu menolak makhluk semacam itu di dunia?
Di tangannya yang amat muda itu telah melenyapkan ratusan tahun kerja alam dengan satu kalimat bertanda seru, amatlah agung dan berseri tapi ia tetaplah seorang bayi.
Di tangannya, jantung berdarah hijau memijal tak bersuara. Satu suara telah dihargai satu bungkus nasi dan janji yang diasong keliling alun-alun kota.
Apalagi yang dapat melengahkan hati yang terpana dalam kedahsyatannya? Bagaimana mereka akan khawatir pada masa depan yang mewah dan gemilang? Seorang anak manusia dilahirkan di tengah-tengah masyarakat dengan dua tangan yang bersinar dan wajah akar rumput.
Di selatan, di atas pantai pasir biji besi, ia menaiki seekor kerbau yang menyiru banteng sembari menaburkan bebungaan aneka warna. Di atas kakinya ia memahami kebangkitan yang tak sempurna itu. Dan malaikat akan jatuh dalam dosa melalui mulutnya. Ketahanannya pada penundaan surgawi telah melalaikannya bahwa pada mulainya ada yang menumpahkan bejana tanah liat di atas pangkuan nurani Tuhan.
Ia telah dilahirkan dan semuanya bekerja saling tumpah tindih. Pada mulanya, ia tak punya kesiapan dan kesadaran bahwa di usianya yang tak seberapa itu, telah turun bisikan “Yang Tak Terlihat,” sehingga membuatnya jadi penyair. Lidahnya bukan lagi lidahnya dan wajahnya menjadi komoditi baru.
Dalam lingkungan aslinya, pada bentuk awal yang hina nan lugu, bukanlah ia yang dapat mengatasi seluruh kerja tubuh. Pikirannya terbatas dan tak mampu menjangkau satu ibukota, tapi sebagaimana komoditi yang tak berdaulat, ia ditawar oleh penawar tinggi dan kerap kali mendapati tubuhnya serupa anjing berkabung di dalam kandang besi.
Dengan batin yang terguncang oleh suara guntur naga-naga di kejauhan, sang penyair malang diperlakukan kasar di ruang sempit rumahnya sendiri. Sejak saat itu, hari penamaan dan pengagungannya, tidak ada rumah di seluruh negeri yang aman dan menyembunyikannya dari pengucapan-pengucapan kalimatnya sendiri. Semua telah ditulis dan lebih dahulu disunting. Tak ada kerja pahit dan ngenes untuk dipertaruhkan.
Syair agung berusaha kuat bertunas di kulit lehernya, sebab lidahnya telah menghitam dan bercabang. Daya-daya subur mati di dalam relung dadanya. Tanah liat tubuhnya mengeras serupa tembikar, sehingga dengan sekali sentakan, ia akan jatuh dan tak lagi menjadi.
Dalam ketakutan semacam itu, ia tergoda untuk berunding dengan dunia yang ada di piringnya. Sang penyair saleh yang agung dan juru selamat itu masih berlindung mencari selamat dalam kepungan banjir kepentingan.
Di ruang sempit dalam keselamatan, ia meminta tolong. Tetapi lidahnya bukanlah lidahnya dan dalam kebingungan yang bertubi-tubi, ia berlatih untuk bertahan.
Bagaimana ia dapat lari dari penguasaan tuntas dua ratus juta roh manusia? Namanya telah disebut berulang kali. Setiap penyebutan namanya oleh orang lain, bercak hitam menitik di atas lidahnya.
Bolehlah ia melapangkan jiwanya dan memampatkan malam-malam yang panjang sehabis kerja, tanpa suatu kata untuk menikmati khayalan jiwanya yang tak terukur dan ditekan langit berbintang.
Apakah kita benar-benar tak memberikan orang ini kesempatan? Adakah orang lain di sana yang membantah ucapannya atau semata-mata itu di luar batas manusia sehingga ia adalah sabda itu sendiri? Tak ada manusia biasa yang mampu menanggung kekuasaan tak bertepi, menyeluruh, dan sebelum waktunya.
Cara apa untuk menyelesaikan pengembangan diri sekaligus menyadari keberadaannya yang terancam dengan mental culas dan manja: dua hal yang mematikan dan melampaui kemampuannya yang rendahan.
Tetapi suara-suara bebas itu mengolok-olok dan menuntutnya menjadi nurani Agung. Sebagaimana manusia biasa, kejahatan tak lahir dari bentuk murni kejahatan melainkan dari rasa takut manusia biasa itu sendiri dan ia akan menjadi tak dapat dikendalikan apabila tak ada setitik rasa malu padanya. Tak ada yang dapat menyadarkan sang penyair dari kubangan iluminasi. Ia tenggelam dan menjadi potensi tulennya.
Seperti anak anjing yang takut dan menggigil: Ia menyerang, menerjang, dan menggigit bayangan di depannya sebelum ia sendiri dilahap oleh kegelapan itu.
Semua prestasinya sebagai seorang lelaki beranak-beristri, adalah tempatnya berdiri dengan tubuh kaget dan gemetar. Semua upaya yang tekun serta syair-syair yang mengatasnamakan orang-orang miskin dan keluarga yang rajin dan rapih adalah caranya untuk menenangkan diri.
Adakah di sana keselamatan untuk seluruh anak-istrinya? Atau ketidakselamatan itu adalah harga yang harus dibayar supaya syair-syairnya ditulis di koran dan dibaca penjaja asongan dengan suara nyaring, “Berita-berita! Sang penyair pulang!”
Siapa tahu, tiba-tiba, cahaya putih menyorot dari sorga dan ia diampuni.
Kita dapat mengamatinya dari apa yang kita makan. Seluruh energi yang beredar beberapa tahun ke depan di pasar adalah campur tangan sang penyair kita ini.
Kita dapat memberikan dia nama dan julukan, beserta seluruh sifat-sifatnya yang tak lebih dari sembilan puluh sembilan. Apakah kita akan mengecap nama itu di lidah kita? Di sini atau di suatu tempat nanti bersama dua ratus juta manusia lainnya?
Atau apakah kita akan menjabat tangannya sebagai saudara dan memakluminya sebagai kesalahan kepakkan sayap kupu-kupu dari tangan-tangan kita sendiri?
Kitalah yang pada awalnya penasaran pada syairnya serta hendak mengasihinya. Ia adalah perwujudan wajah-wajah ngenes dan kita mengangkat tubuhnya ke balai kota ramai-ramai. Kita telah memaksanya menjadi juru selamat karena kita sendiri tak berani mengajukan diri.
Sang penyair terlanjur tak dapat berhenti. Ia kadung berjalan dalam roda mematikan itu. Ia harus memanjangkan syair satu ke syair berikutnya, dengan cara dan bahasa apa pun. Masyarakat telah melepehnya seperti batang tebu yang berisi manis gula dan memperburuk kesehatan mereka.
“Oh, alangkah manis syair-syair penyair kita ini,” kata istri sang penyair di kediamannya yang maha luas nan lapang selepas berdansa. Ia berdiri dikelilingi anak-menantu-serta cucu. Berkat sang penyairlah mereka dapat berkumpul dalam suka cita yang dahsyat dan lepas dari belenggu kerja kasar.
Tak dapat dibayangkan, bahwa sejak awal ia telah mempersiapkan diri–meski tak pernah benar-benar siap–untuk mengerjakan pekerjaan besar dan menyerahkan diri pada Yang Besar.
Kini tubuhnya diserahkan dan tak lagi menjadi miliknya. Sejak semula, yang ia persiapkan adalah kehilangan dirinya sendiri dalam jalan yang panjang mengubah yang ide menjadi konstruksi sosial konkret.
Maka bukanlah ia kini, sebab penyair adalah wajah masyarakat. Ia dilahirkan dan menjadi representasi dari sebagian besar umat. Sang penyair berlepas dari itu. Ia tak punya kemampuan sebesar itu bahkan dengan seluruh usianya.
Bayangkan bagaimana wujud manusia kita ini, di luar sana di dunia lain, ia akan melihat ketegangannya memudar tapi tubuhnya tenggelam dalam keringatnya sendiri.
Apa yang benar sebagaimana bebuahan di hutan liar dan kita sembarangan mereguknya secara hewani. Di antaranya ada yang membahayakan tapi karena kita dan manusia penyair kita ini hanya punya dua pasang mata, sehingga satu-dua buah itu sudahlah cukup menjadi kebenaran mutlak.
Bagaimana wujud manusia kita ini yang mereguk seluruh hutan dengan kedua tangannya tapi hanya mengambil satu apel saja. Matang memerah dan terasa paling benar.
Akibat dari itu, kepakkan sayap kupu-kupu yang tak tahu benar-salah itu menggoncang seluruh hutan raya.
Bagaimana ia akan khawatir pada masa depan, aspal, dan bangunan industri yang tak melayaninya dengan benar. Persembahan pada makhluk-makhluk di dalam pikirannya akan mempertanyakan untuk apa semua itu dibuat, masyarakat yang aman?
Seni lukis, seni patung, seni bahasa adalah kemunduran bagi peradaban mekanis. Asap dapur terus mengepul menjadi langit, langit meleleh menjadi tetumbuhan, tetumbuhan membuat kayu bakar, dan penyair kita ingin meringkasnya menjadi satu bangunan seribu lantai.
“Kurang metaforis apa itu?” batinnya suatu pagi sebelum mengumumkannya di mimbar agung para penyair tua yang dihadiri seluruh umat.
Metafora adalah segalanya bagi penyair. Dari satu metafora, sebongkah roti gandum akan matang dengan sendirinya. Dengan dua metafora, satu kerajaan dapat menghidupi sang penyair beserta anak-cucunya.
Alangkah semua menyanjung dan mengidam-idamkan metafora yang diucapkan mulut sang penyair bagai seteguk madu. Umat manusia amatlah letih dan perlu nutrisi semacam itu, sehingga hidupnya terasa berarti, bergairah, dan penuh harapan.
Namun dalam harapan semelena itu, selalu ada titik api kecil di tengah dada seorang muda. Ia akan meledak dan mengutuk sampai tuntas.
Apalah arti kekecewaan-kekecewaan itu, apalagi ditempatkan pada seorang penyair yang sehari-hari mengunyah ucapannya sendiri. Ia pada akhirnya akan mati kering, seluruh sari hidupnya mengerut seperti jeruk dalam pembusukan alamiah akibat disengat api anak-anak muda yang memahami ketidakterampilannya mengurus seluruh umat.
Bukan hanya kebesaran yang meliputi tubuhnya seperti selembar mantel, perasaan kepahlawanan hampir tak dapat ditanggung olehnya sehingga hampir-hampir ia kultus-diri dan masyarakat perlu mencium kakinya: hanya darinyalah pertolongan itu sampai.
Bersamaan dengan itu, kejadian-kejadian yang sepele membuat ia menengadah dan bertanya-tanya dengan penuh curiga, “Bagaimana cara seluruh kuasa dapat meloloskan diri dari perubahan dan tetap mengakar sampai ke pojok-pojok kota?”
Ia masih mengira seluruh kerjanya bertahun-tahun dan setumpuk syair-syairnya di atas koran adalah kemaslahatan. Ia tidak pura-pura atau menyamar. Dengan kesadaran penuh, ia percaya bahwa ia suci dan terurus, ditakdirkan dan lepas dari kecenderungan lalai dan keliru.
Tapi sebagian besar dari mereka telah menjadikannya seorang raja, sehingga ia mendirikan benteng-benteng yang diliputi meriam serta burung-burung yang tak berbayang dan terlatih mengumandangkan syair-syair untuk mengagungkan rajanya.
Betapa masyarakat jelata telah menggotong tubuh seorang di antara mereka yang ngenes dan biasa itu untuk menjadi keturunan dewa untuk menghibur mereka.
Hari ini sang penyair pulang dan telah menjadi anjing terlatih. Ia tak lagi bertuan sehingga ia menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Kesendirian memaksanya untuk lihai dan tak malu-malu, demi menyelamatkan anak keturunannya.
Syair-syairnya masih dibisikkan di luaran. Majas kontradiksinya masih jadi bahan olok-olokan. Namanya makin sepat dilidah, karena pada akhirnya orang-orang akan menghinakan semua sosok saleh yang tidak dapat memenuhi rencana dahsyat serta suka cita dan menanggung derita mereka.
Seekor anjing terlatih hanya bisa satu bahasa dan karena ia telah tua, tak ada serangan pada bayangan di luar kandang. Sang penyair kita ini kehilangan seluruh majasnya. Ia telah menjadi anjing tua buangan di sudut kota yang tak lagi bisa menyalak.
Dalam laju zaman ia jadi aib dan dibicarakan dengan ogah-ogahan. Seluruh syair-syairnya tak lagi mendengung keras ke penjuru kota, meski ia menjejalkannya ke mulut anak-cucunya sendiri.
Dalam tidurnya yang tak diliputi cahaya sama sekali dan bangun yang tak menggairahkan itu, ia hampir-hampir bisu. Suaranya tak lagi berdenging. Di bawah lautan gelap langit malam, ia mencoba berdiri dengan kedua kakinya yang letih dan diperdaya.
Adakah yang akan mengasihinya? Adakah masyarakat yang dengan tanpa prasangka mau menolong seorang yang hampir sepenuhnya bisu itu? Seorang yang dikorbankan masyarakatnya sendiri, yang disodorkan ke muka hewan-hewan buas, ke hadapan mereka yang bekerja dari jauh tidak dengan tangannya sendiri?
Apa yang telah kita perbuat pada penyair malang ini? Tidaklah ia mengatur seluruh rencana dari awal karena ia tidaklah benar-benar siap untuk tubrukan intens Tangan-Tangan Besar.
Dengan tubuh yang meringkuk dan waspada, ia berusaha meyakinkan orang-orang bahwa mereka salah paham. Ia masih ada dalam bangunan tubuh yang dibangun orang-orang sebagai separuh berhala, hanya untuk menjadi Juru Selamat.
“Aku hanya tukang kayu. Mulyono namaku.” Ia bilang.
Ia dilahirkan untuk berurusan dengan benda mati bukan bahasa, bukan manusia. Adakah yang bertanggung jawab untuk itu?
Dalam kebingungan yang tiba-tiba, dulu ia dipungut dari rumahnya. Mulutnya dijejali majas-majas dan pikirannya diasah seperti peluru.
Kini dalam kekalutannya yang tiba-tiba juga, ia berbaring di rerumputan sebagai peluru yang telah menembus seribu daging dan darah umat. Sisa hidupnya hanya akan dihabiskan untuk membersihkan bercak di tubuhnya itu.
Sore ini, sanak-saudaranya masih ingin menggunakannya untuk menembus seribu daging dan darah lagi.
*****
Editor: Moch Aldy MA
