Bercak kecokelatan itu semakin lama semakin kelihatan. Mulanya hanya berukuran satu mili, tetapi sekarang malah membesar menyerupai kepala pentol korek api. Jagat menatap cermin di kamar mandi. Cermin kusam di depannya memandang balik tak berkedip.
Pemuda itu menyelipkan juntaian rambut ikal ke belakang telinga, mengamati bayangan wajahnya lebih dekat. Bulatan itu semakin mengganggu. Ia meraba, menekan, mencubit pelan. Sebulan lalu dipikirnya cuma andeng-andeng biasa.
Duk … duk … duk!
Jagat masih tak bergeming.
DUK … DUK … DUK!
Kawan indekosnya berdiri di depan pintu. Leo cengar-cengir. Pasti ada maunya, Jagat sudah hafal. Satu tangan memegang daun pintu, tangannya yang lain memegang erat handuk yang hanya membalut bagian bawah tubuhnya.
“Baru mandi?” Pertanyaan mubazir. Jagat kadang bertanya sendiri kenapa kawannya yang satu ini hobi bertanya hal-hal yang tak perlu.
Pemuda itu malas menanggapi. Kakinya bergeser cepat ketika Leo begitu saja masuk–tanpa aba-aba, tanpa dipersilakan. Kebiasaan yang ini Jagat juga sudah hafal sampai bosan.
“Perlu apa sekarang, bedak lagi?” tanya Jagat.
“Boleh pinjam foundation?”
“Pinjam atau minta?”
Masih mesam-mesem Leo berkata, “Minta.” Kawannya menarik sandaran kursi satu-satunya yang ada di dalam kamar. “Sudah tahu? Ada pertunjukan malam ini. Dan ternyata … foundation-ku kosong.”
Wajah Jagat seakan berkata, ‘ikut prihatin, tapi aku lagi off’. Tetapi yang keluar dari mulutnya, “Tunggu bentar.”
Laki-laki jangkung itu keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan celana jins biru dan kaus abu-abu lengan pendek. Otot atas lengannya terlihat menggembung. Dari dalam lemari ia mengambil dua kotak berisi bermacam produk rias dan perawatan kulit.
“Nih, sekalian aku bawa semua. Perlu yang mana?”
Seperti anak kecil yang disodori sekantong gula-gula, Leo mengulurkan kedua tangan. Bola matanya ke sana ke mari meneliti satu per satu krim foundation koleksi kawannya.
“Karena untuk acara pertunjukan, kayaknya aku perlu coverage yang lebih tebal.” Ia mengambil satu tabung.
Jagat dan Leo sudah lama menjadi anggota paguyuban wayang orang. Kelompok mereka membebaskan anggotanya memakai peralatan dandan pribadi. Tak ada sistem pemaksaan, apalagi untuk yang kulitnya rewel.
“Ini kelihatan, enggak?”
Mata Leo menyipit. Wajahnya terlihat serius. Setelah beberapa detik ia berkata, “Tahi lalat itu? Kamu risi karena itu?” Ia lalu membongkar isi kotak di depannya. “Pakai krim ini, beres.”
Jagat langsung merasa percuma bertanya kepada Leo. “Oke,” jawabnya tanpa antusias.
Leo beranjak hendak keluar. Sebelum menutup pintu. “Eh, jadi ambil cuti, enggak? Makasih,” serunya mengacungkan tabung foundation wajah berwarna krem gelap.
Kebiasaan pelupa itu pun Jagat hafal luar kepala.
***
Noda di wajahnya sekarang menjadi lebih besar. Jagat kembali mengamati. Apa ada yang salah dengan matanya, tetapi bulatan itu sekarang berubah bentuk menyerupai lambung manusia versi mini. Dahinya mengerut. Perasaan terganggu kini berubah menjadi rasa cemas. Bentuk ganjil itu memanjang dari depan telinga melebar ke bawah rahang, menutupi sebagian pipi kanan. Warnanya menjadi hitam. Apa ini tumor?
Ia menatap sekali lagi sebelum mengeluarkan napas menyerah. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Jagat mengunci kamar.
Ia berdiri di ambang pintu kamar Leo. Ransel hitam sudah siap di punggung. Satu ransel lain bersandar pada dinding. Topi bisbol menutupi sebagian wajahnya.
“Jam berapa kereta berangkat?”
“Masih nanti sore. Tapi aku takut macet,” jawab Jagat.
Kepala Leo naik turun tanda setuju.
“Salam buat semua di paguyuban.”
Leo kembali mengangguk. “Kamu sakit?” tanyanya kemudian.
Jagat yang memakai masker pelindung wajah menggeleng.
“Tumben. Biasanya kamu langsung bilang sesak kalau pakai masker.”
“Lihat, ini.” Jagat dengan cepat menarik tali maskernya.
Satu alis mata Leo terangkat. Tangan menutup mulut yang menganga. “Whoa. Enggak mau cek ke dokter?”
Jagat malas menjawab. Ia hanya menepuk pundak kawannya dan beranjak pergi.
Leo memandang punggung beransel itu menjauh. “Ti-ti di jalan,” serunya.
***
Dokter kulit di depan Jagat mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi. Intensitas tinggi terlihat jelas dari tatapan matanya saat menelusuri noda pada wajah sang pasien. Alis mata yang dibentuk cantik itu bertaut. Sudah sekitar satu tahun lewat sejak ia berurusan dengan noda yang menyimpang seperti itu. Dengan teliti ia menginspeksi tekstur dan warna “lambung” hitam di depannya.
Jari-jari langsing berbalut sarung tangan medis terangkat. Satu jari menekan beberapa titik dengan cekatan, lalu meraba permukaan kulit untuk membaca suhu dan konsistensi kekenyalan.
“Perih?”
Jagat menggelengkan kepala.
“Gatal?”
Dijawab lagi dengan gelengan.
“Ada demam?”
“Enggak ada, Dokter.”
“Alergi?”
“Enggak.”
Dokter berambut pendek itu kemudian mengambil lensa pembesar khusus. Jagat dapat melihat jelas pulasan hitam pada bulu mata. Gumpalan maskaranya terlihat lima kali lipat lebih dramatis.
Gumam ‘hmm’ berkali-kali terdengar. “Saya kerik sedikit, ya, untuk biopsi.” Sampel kerikan lalu dimasukkan ke dalam sebuah tabung kecil.
“Ini harus dikirim ke laboratorium dulu. Minggu depan bisa datang lagi?”
Sejak kunjungan ke klinik kulit, bentuk ganjil di wajahnya tampak tak berhenti berekspansi.
Ketika pemuda itu datang lagi minggu depan, dokter memerhatikan lapisan hitam telah menutupi setengah wajah dan menjalar hingga mencapai kulit kepala. Pulasan obat sama sekali tak membantu. Pertumbuhannya terlalu cepat untuk diabaikan, katanya dalam hati.
Terdiam sesaat, dermatolog itu kemudian membuka laci, mengeluarkan sebuah berkas, dan menulis cepat pada selembar memo. Kepada Jagat disodorkannya sebuah amplop berisi surat pengantar.
“Ini untuk klinik khusus. Mas Jagat bisa konsultasi dengan dokter di sini. Kami bisa bantu buatkan janji.”
Sementara menunggu jadwal baru, noda hitam itu seperti punya pikiran lain.
Jagat mencukur plontos kepalanya; penyebarannya semakin agresif. Ia ingin memastikan seberapa jauh noda itu merayap. Rambut ikalnya hanya menghalangi pandangan.
Beberapa hari kemudian, ia sudah berdiri di depan klinik.
Dilihat dari luar, klinik itu mengambil wujud tempat praktik ala gedung industrial. Arsitekturnya sangat minimalis. Sampai-sampai tak memasang plang nama. Ini klinik atau tempat interogasi, batin Jagat saat menekan bel.
Ia mendorong pintu besi tebal tak lama setelah terdengar bunyi kunci terbuka. Begitu masuk ke area lobi, aroma steril tajam menohok lubang hidungnya. Pemuda itu menyerahkan surat pengantar kepada resepsionis bermasker tanpa banyak kata.
Ia menunggu dengan sedikit gelisah. Majalah terbitan lama teronggok di atas meja. Siapa juga yang niat membaca? Dioper ke klinik ini membuat jiwa raganya minim hasrat.
Di ruang tunggu hari itu hanya ada satu orang. Sendirian, matanya memindai ruangan berdinding putih dari ujung ke ujung. Ini benaran klinik atau ruang eksperimen, batinnya lagi. Ia menoleh ke belakang saat seseorang menyapa.
“Pagi, Mas Jagat. Mari, ikut saya.” Masker medis, penutup kepala, serta pakaian dokter yang serba putih terasa menyilaukan.
Pemuda itu dibawa ke depan sebuah pintu besar. Tangan dokter dengan cepat menekan delapan digit nomor sandi. Begitu memasuki ruangan Jagat langsung disambut oleh puluhan bilik kaca kosong.
Dokter menggiringnya ke deretan bilik paling ujung. Di sana beberapa pasien lain sedang berkonsultasi. Satu pasien menempati satu bilik. Wajah dan kulit kepala mereka hitam pekat–mengalahkan arang.
Benar-benar seperti pentol korek api raksasa, pikir Jagat.
*****
Editor: Moch Aldy MA
