Argentina, 1985: Bagaimana Rakyat Argentina Mengadili Para Jenderal

Zimraan Asadell

5 min read

Ayah akan memenjarakan Videla” 

Ku usahakan

Juga Massera

Semua yang terlibat

 

Mulanya jaksa pengagum Beethoven itu tidak yakin akan pengadilan yang ia tangani. Ia tidak sepenuhnya gila, yang diadili adalah para pimpinan militer yang sudah berkuasa bertahun-tahun. Jaksa berkumis tebal itu juga tidak ingin menjadi bulan-bulanan untuk kasus yang tidak dipercayai sepenuhnya oleh pemerintah. Dalam kalimat pesimisnya ia mengatakan “Apa kita tiba-tiba ada di negeri ajaib? Mendadak semua diktator akan masuk penjara. Siapa yang akan memenjarakan mereka?” Nama jaksa itu Julio Strassera. 

Argentina merupakan salah satu negara yang jatuh ke tangan junta militer. Rangkaian pemerintahan sosialis runtuh bak domino di Amerika Selatan. Banyak presiden berhaluan sosialis digulingkan untuk digantikan jenderal-jenderal diktator antikomunis. Berawal di Brazil, sebagai negara terbesar di Amerika Latin yang berubah haluan menjadi “kanan” dan menjadi sekutu penting Washington yang antikomunis. Api antikomunis cepat menjalar di wilayah Amerika Hispanik itu, bahkan di dalam negeri “antikomunisme menjadi panglima nyaris seperti agama”, tulis Vincent Bevins dalam bukunya Metode Jakarta.

Baca juga:

Film Argentina, 1985 (2022) yang disutradarai oleh Santiago Mitre ini mencoba membingkai ulang tentang apa yang terjadi di Argentina di tahun itu. Sebuah harapan baru bagi negara-negara yang dilanda kediktatoran militer yang sama. Membongkar impunitas yang selama ini hanya menjadi cita-cita orang banyak. 

Naiknya Videla dan Penghilangan Paksa

Pemerintahan Juan Peron dikenal sebagai pemerintahan yang populis. Meski dirinya bertitel kolonel, ia mengkritik para oligarki dan mengakui serikat dan anggota pekerja. Ia, seperti Soekarno, juga mencoba menyejahterakan sosial dan mandiri secara ekonomi. Dan yang paling penting, ia menjaga netralitas saat Perang Dingin. Peron digulingkan pada tahun 1955, kemudian ia melarikan diri, dan kembali menjadi presiden pada tahun 1973, namun nahas ia meninggal karena serangan jantung pada 1974. Tampuk kekuasaan berpindah ke tangan istrinya sampai kudeta melanda negeri itu.

24 Maret 1976, Jorge Videla dan Emilio Massera yang menginisiasi kudeta, mereka menghabisi para Peronisme dan ideologi kiri. Penyerangan terhadap kelompok-kelompok ini kerap disebut sebagai Perang Kotor. Program “Proses Reorganisasi Nasional” yang dikeluarkan oleh Videla telah menewaskan lebih dari 30.000 nyawa. Kebanyakan korbannya adalah anggota serikat pekerja, universitas, aktivis pelajar, buruh, jurnalis, dan kelompok oposisi lainnya. Kemudian pemerintah menahan mereka di pusat penahanan rahasia di mana mereka disiksa dan dibunuh.

Menyiapkan Pengadilan

Sebagai orang di atas angin, Videla, Massera, dan segerobak jenderal lainnya memilih untuk diadili secara militer. Para jenderal itu berdalih bahwa yang mereka lakukan adalah “memerangi orang-orang subversif” dan tindakan yang berlebihan seperti membunuh, memerkosa, dan menyiksa tahanan adalah “tindakan berlebihan yang dilakukan oleh bawahan”. Tentu para hakim menghitung segala risiko sebelum pengadilan dimulai, seperti, apakah pengadilan akan berjalan sesuai prosedur tanpa intervensi dari kelompok militer. Salah seorang hakim yang berbadan besar dan berambut hitam mengatakan dengan tegas bahwa “kita berikan apa yang mereka tidak berikan kepada korban. Persidangan yang adil”.

Strassera, sebagai jaksa pengusut diberitahu pada 2 Maret 1984. Ia tak dapat menolak keputusan untuk mengadili para penjahat kemanusiaan ini. Berselang beberapa hari setelah pemberitahuan hakim kepada jaksa, Strassera mendapat ancaman bahwa putrinya akan diculik. Tekanan psikologis ini membuat Strassera paranoia. Tantangan jaksa berkacamata itu datang ketika ia mencari tim untuk mengumpulkan berkas kejahatan. Tak ada orang yang bersedia untuk menjadi bagian dari timnya karena takut, memang fasis, atau terlanjur percaya bahwa Videla memang pahlawan.

Sidang pendahuluan dibuka, Strassera mendapat wakil yang lebih muda dan nyaris tanpa pengalaman bernama Luis Moreno Ocampo. Ocampo berlatar belakang keluarga militer, kakeknya jenderal pertama Argentina, pamannya seorang kolonel, dan ibunya pergi ke gereja yang sama dengan Videla. Strassera awalnya ragu, namun melihat kegigihan pemuda sekaligus professor ini, ia luluh. Menurut Ocampo jika Strassera memilih untuk mengambil para pengacara HAM sebagai rekan timnya, mereka akan mudah didiskreditkan sebagai ‘komunis’. 

Ketika para terdakwa dipersilakan masuk dan diminta untuk memperkenalkan diri, Videla, berdiri pertama dengan rambut klimis dan sikap tegaknya ia mengatakan “Saya Jorge Rafael Videla, dan kalau boleh menambahkan, Letnan Jenderal Angkatan Darat Argentina” kemudian ia menambahkan bahwa dengan segala hormat “ia tidak mengakui legitimasi pengadilan ini”. Pembelanya menegaskan kembali kepada hakim bahwa kejahatan yang dituduhkan sesuai yurisdiksi militer, oleh sebab itu harus diadili lewat pengadilan militer. Kemudian, sederet jenderal lainnya: Orlando Ramon Agosti, Roberto Eduardo Viola, Omar Domingo Rubens Graffigna, Jorge Isaac Anaya, Basilio Arturo Lami Dozo, Armando Lambruschini, Leopoldo Fortunato Galtieri, dan Emilio Eduardo Massera juga menyatakan seperti yang Videla nyatakan, bahwa mereka tidak mengakui legitimasi pengadilan ini.

Sidang sejarah terpenting bagi negara ini diberi waktu yang relatif singkat. Mereka baru membentuk tim pencarian bukti pada 21 Oktober 1984, dan harus menyerahkannya pada pengadilan pada 15 Februari 1985.

Penelusuran Bukti

Hal pertama yang harus dilakukan tim jaksa adalah mencari bukti bahwa kejadian bengis di bawah junta militer dilaksanakan secara sistematis. Penelusuran mereka dimulai di pusat-pusat penahanan rahasia, seperti La Perla, ESMA, El Vesubio, Campo de Mayo. Mereka juga pergi ke kantor arsip kejaksaan, sampai ke kantor ibu-ibu Plaza de Mayo. Mereka juga mengumpulkan transkrip wawancara bersama saksi dan penyintas.

Tim kecil ini berangkat dari asumsi bahwa seluruh kejadian yang terjadi di bawah pemerintahan militer diketahui oleh semua petingginya. Mereka berpegang pada prinsip tanggung jawab komando, di mana seorang komandan dapat dimintai pertanggungjawaban penuh atas tindakan bawahannya. Mereka perlu bukti yang cukup agar para jenderal ini tak mengelak ketika duduk di hadapan hakim. Jaksa dan timnya bepergian ke seluruh provinsi untuk mencari informasi. Dalam penelusuran mereka teror terjadi, mulai dari didiskreditkan oleh para fasis, dilempar balon cat, hingga dibekuk polisi. Pekerjaan melelahkan ini menghasilkan 16 jilid laporan, 4.000 halaman, 709 kasus, dan lebih dari 800 saksi.

Penyiksaan Terhadap Perempuan

Pengadilan banyak menghadirkan ahli dan korban kediktatoran. Banyak orang yang tadinya beranggapan bahwa pengadilan ini salah, karena ingin menghukum para ‘pahlawan’. Sampai akhirnya seorang korban Proceso de Reorganización Nacional (el Proceso) yang bernama Adriana Calvo de Laborde bersaksi. Adriana diculik pada tanggal 4 Februari 1977, saat itu ia tengah hamil 6,5 bulan. Ia dimasukkan ke dalam mobil kemudian dilemparkan ke lantainya. Dan para penculik itu mulai menginjak dan mengancamnya. 

Seluruh kejadian ini berpengaruh pada kandungannya. Adriana menceritakan pengalaman paling pahitnya, ketika bayinya ingin keluar, ia sedang berada di mobil untuk dipindahkan. Tangan Adriana diikat dan matanya ditutup, ia berbaring di jok belakang. Ia sudah meminta kepada para penculiknya untuk berhenti karena ini waktunya bersalin. Permintaannya tak dihiraukan, malah ditertawakan dan membuat Adriana melahirkan di dalam mobil. Tak berhenti di situ, ketika bayinya menangis, ia masih dalam keadaan terikat, para penculiknya tidak mengindahkan permintaannya untuk memeluk anak perempuan yang baru ia lahirkan. Sampai di sebuah ruangan besar, bayi yang masih dalam keadaan kotor itu diletakkan di atas meja marmer dingin. Adriana disuruh mengambil ember dan lap untuk membersihkan meja dan lantai. Semua itu ia lakukan sambil diawasi petugas dan dalam keadaan telanjang.

Satu lagi seorang saksi bercerita bahwa dirinya diperkosa di suatu tempat penahanan rahasia. Di tempat itu, seluruh perempuan juga bercerita kalau mereka diperkosa berulang kali oleh militer. Tak sedikit dari para tentara yang mengambil keuntungan dari para wanita tersebut dengan cara memaksa dan brutal. 

Keputusan

Pada 18 September 1985 sidang keputusan akhir digelar. Ruangan pengadilan dipenuhi oleh banyak orang dari berbagai macam kelompok: saksi, korban, aktivis kemanusiaan, intel, ibu-ibu Plaza de Mayo, dan wartawan. Para terdakwa hadir untuk dibacakan hasilnya, Videla yang memakai jas abu-abu dan kacamata tiba sambil membawa alkitab, ia adalah satu-satunya perwira yang tidak memakai pakaian dinas tentara.

Jaksa Strassera membacakan tuntutannya. Ia mulai menyampaikan ketidakmampuannya mempertimbangkan ribuan kasus dan hanya dapat menuntut 709 kasus dari keseluruhan, ia menyebut kasus ini dalam kalimat sederhana: genosida terbesar sepanjang sejarah singkat Argentina. Perlakuan keji ini, menurut jaksa dirangkum dalam 3 kata: jahat, klandestin, dan i cowarde (pengecut). Para jenderal ini mengganti laporan resmi dengan tuduhan, menginterogasi dengan penyiksaan, dan pembunuhan di luar hukum. Jaksa mempertanyakan dalih ‘perang’ yang digaungkan oleh militer dengan apakah menduduki rumah dan menyandera kerabat adalah tindakan yang lumrah dalam perang? Apakah bayi yang baru lahir merupakan target militer?

Baca juga:

Ketika kesimpulan dibacakan, Videla berusaha mengalihkan fokusnya pada alkitab yang dibawanya. Ia tak mendengarkan sama sekali ketika kebengisan itu diurai satu persatu oleh jaksa. Saat jaksa mengutip Dante tentang neraka ketujuh yang berisikan orang-orang keji, Videla juga tak mengindahkan. Dalam pernyataannya di akhir, Jaksa melantangkan suara kebanyakan rakyat Argentina: Jangan terjadi lagi. Jangan sampai kejadian sadis ini terulang kembali apabila para terdakwa tidak diadili.

Keputusan hakim keluar dan menyatakan bahwa Graffigna, Anaya, Lami Dozo dan Galtieri dibebaskan. Sedangkan Agosti tuntut 4 tahun 6 bulan, Lambruschini 8 tahun, dan Viola mendapat 17 tahun kurungan penjara. Untuk Videla dan Massera adalah hukuman seumur hidup. Strassera terlihat tidak puas dengan keputusan mereka yang berhasil lolos dari bui, akhirnya ia mengirim surat untuk banding.

Pengadilan 1985 merupakan pengadilan pertama yang mengadili rezim junta dalam sejarah. Argentina membuktikan bahwa rezim militer dapat diadili di pengadilan sipil. Meski nantinya para penjahat ini mendapat impunitas, klaim kebenaran, ingatan, dan keadilan tak pernah berhenti dalam memori kolektif masyarakat Argentina. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki













Zimraan Asadell

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email