Matahari sedang berada di titik puncaknya, bersinar terik tepat di atas ubun-ubun seolah hendak memeras setiap tetes keringat dari pori-pori kulit. Panas yang menyengat itu membuat peluh mengucur deras hingga area depan toilet umum yang berudara pengap itu terasa semakin menyesakkan.
Bersamaan dengan embusan angin yang menambah kegerahan, aroma pesing ikut menguar memenuhi rongga hidung. Aldi berdiri mematung dengan kedua kaki merapat dan bergesekan. Itu adalah gestur pertahanan terakhir yang bisa ia lakukan, sementara keringat sebesar biji jagung mulai membasahi pelipisnya dan meluncur jatuh melewati pipi yang menegang. Di dalam perutnya sedang terjadi sebuah huru-hara. Ada gelombang pasang yang tak bisa diajak kompromi—rasanya seperti gumpalan tanah liat yang pejal dan panas menuntut jalan keluar dengan paksa. Seluruh kesadaran Aldi kini mengerucut pada satu titik fokus sempit di ujung ususnya. Ia mengerahkan segala daya intelektual dan fisiknya hanya untuk mengunci otot bawah seerat mungkin.
Dalam benaknya yang kalut, Aldi merasa sedang menjadi sipir yang memenjarakan sebuah “kemerdekaan” yang sudah siap meledak. Di hadapannya, pintu kayu yang melapuk dan menghitam karena lembab itu tampak seperti dinding benteng yang mustahil ditembus. Memanglah benar papan keropos itu sama sekali tak akan mampu memberikan perlawanan, tetapi kontrak sosial tak tertulis yang melapisinya jauh lebih tebal dari baja. Menginvasinya saat seseorang sedang berada di dalamnya adalah sebuah kejahatan etika.
Belum tuntas ia merenungi batasan etika itu, sayup-sayup terdengar erangan berat yang pendek dan berulang. Bunyi ritmis itu melempar pikiran Aldi ke dalam prasangka yang kacau-balau. Apakah manusia di dalam sana sedang kepayahan menundukkan sembelit yang menyiksa, atau justru asyik terpaku pada layar ponsel yang menyajikan fantasi daging lain? Suara keran yang sengaja dihidupkan penuh mengipasi kecurigaannya. Jelas sudah, bising buatan itu tak lain untuk mengubur jejak aktivitas apa pun agar si pelaku tak perlu menanggung malu.
Air meluap hingga merembes dari celah bawah pintu dan membasahi tanah kering tepat di ujung sepatu Aldi. Suara air yang menghantam lantai semen dengan monoton itu menjadi bukti otentik bahwa orang di dalam tidak sedang bergegas. Orang itu seolah memiliki seluruh waktu di dunia, sementara Aldi merasa setiap detik adalah ancaman bagi kehormatannya sebagai manusia dewasa. Habis sudah rasa sabarnya. Batas toleransi itu runtuh bersamaan dengan denyut di perutnya yang semakin menggila.
“Cepatlah sedikit! Punyaku ini sudah di ujung kuku!” erang Aldi membuang jauh-jauh rasa malunya. Suaranya pecah, bergetar di antara amarah dan keputusasaan.
“Sabar, belum mau keluar!” sahut sebuah suara dari dalam yang terdengar parau dan agak kesulitan.
Tak lama kemudian engsel pintu mengeluarkan suaranya. Aldi sudah menyiapkan segala sumpah serapah di pangkal lidahnya, siap menyemburkannya kepada siapa pun yang telah menghambat hajatnya. Namun mendadak saja lidahnya kelu. Sosok yang muncul dari balik pintu itu adalah Sapri, tetangga yang biasa nongkrong bersamanya di kedai kopi. Wajah Sapri merah padam. Napasnya memburu tidak beraturan seperti kuda pacu yang kelelahan setelah lintasan panjang, sementara matanya menunjukkan ekspresi kesal yang tidak bisa ditutup-tutupi.
Namun, kejutan sebenarnya berlindung di balik punggung Sapri. Seorang wanita berdiri di sana meliuk canggung dan berusaha melipat tubuhnya seringkas mungkin, sangat berharap bisa raib ditelan punggung Sapri di detik itu juga. Wajahnya asing bagi Aldi, tetapi rona merah yang menjalar dari pipi hingga ke telinganya sudah menceritakan segala rahasia yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Aldi menatap Sapri, lalu beralih ke gadis itu. Kemudian mereka bertiga mati kutu, tercekik oleh kecanggungan yang seketika mengeras di udara.
Berusaha memecah kecanggungan itu, Aldi berseru parau, “Alamak, aku kira siapa!” Suaranya sengaja dilunakkan, tetapi perutnya masih melilit hebat seperti diperas tangan raksasa. “Sedang apa kalian berduaan di dalam?” cecar Aldi yang tak kuasa membendung rasa penasaran yang beradu dengan desakan hajatnya.
Napas Sapri masih tersengal. Ia bukan baru saja menyelesaikan pekerjaan kasar yang menguras tenaga otot, melainkan baru saja ditarik paksa dari momen intim menuju pengadilan publik tepat di depan mata tetangganya sendiri. Sambil menyapu peluh di dahi dengan punggung tangan, ia menatap Aldi dengan kejengkelan seorang seniman yang mahakaryanya diganggu di tengah jalan oleh lalat pengganggu. “Aku lagi dengan dia,” jawabnya sambil menunjuk wanita di belakangnya dengan gestur gerakan kepala. Dan kembali melirik Aldi dengan tatapan memelas—campuran antara rasa malu yang membakar dan amarah karena hal privasinya diinterupsi. “Belum juga keluar, bodoh! Kau sudah ganggu duluan!”
Aldi tertegun. Di tengah desakan biologisnya ia menyadari betapa menjijikkannya sekaligus tragisnya keberadaan manusia. Manusia adalah makhluk yang senantiasa terjepit di antara dua kutub: desakan membuang kotoran dan hasrat mencari kenikmatan yang dianggap surgawi. Dua hal ini ironisnya sering kali bertubrukan pada waktu atau tempat yang salah.
Manusia ternyata begitu ringkih di hadapan tubuhnya sendiri. Di satu sisi ia ingin berdaulat penuh atas nasib dan kehendaknya, namun di sisi lain ia tak lebih dari budak bagi perut yang melilit atau hormon yang bergejolak. Begitulah Sapri. Demi sebentuk kelegaan fana ia nekat memeras kenikmatan lewat impitan daging yang serba panik di dalam toilet umum, dikepung waswas dan bau pesing yang meresap ke pori-pori. Ia mengunci selot pintu untuk menipu semesta sejenak, namun dunia luar selalu punya cara kejam untuk menginterupsi. Memang benar apa yang dikatakan filsuf, bahwa orang lain bisa menjadi neraka bagi urusan kita yang paling pribadi.
Sapri dan wanita itu melangkah keluar dengan langkah seribu, membawa serta aura kegagalan dan ketidaktuntasan yang menggantung baik di udara maupun di ubun-ubun. Mereka berjalan melewati Aldi tanpa menoleh lagi. Aldi pun segera menyelinap masuk ke dalam ruangan yang masih menyisakan hawa panas tubuh itu. Pintu ditutup rapat-rapat, dan selot dikunci dengan bunyi klik yang memuaskan.
Ia segera berjongkok di atas kloset, membiarkan seluruh pertahanannya runtuh dan menyerahkan diri sepenuhnya pada tubuhnya. Saat pelepasan itu akhirnya tiba, muncul rasa lega yang luar biasa—sensasi yang terasa profan sekaligus religius dalam waktu bersamaan. Namun di tengah kelegaan yang surgawi itu, bayangan wajah merah jambu wanita itu dan napas Sapri yang memburu kembali melintas di benaknya.
Kemerdekaan yang ia nikmati sekarang ternyata harus dibayar dengan runtuhnya privasi dan momen intim orang lain. Sambil menatap nanar ke arah bawah pintu kayu yang melapuk itu, Aldi merenung. Eksistensi manusia mungkin tak lebih dari serangkaian momen “belum keluar” yang senantiasa diinterupsi oleh ketukan pintu orang lain. Kita semua adalah antrean panjang yang saling menunggu, saling mengganggu, dan saling memburu di depan pintu nasib yang sama.
*****
Editor: Moch Aldy MA
