Penulis lepas yang menaruh minat pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Senang menulis di media-media online alternatif. Instagram: @farhan.m.adyatma

Orang Yunani di Antara Mythos dan Logos

Farhan M. Adyatma

3 min read

Ketika kita membicarakan filsafat, tidak jarang yang terbayang adalah nama-nama besar seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Melalui buku Sejarah Filsafat Yunani (2018) karya K. Bertens, pembaca diajak menelusuri sejarah filsafat Yunani beserta akar dari segala pemikiran rasional itu—bagaimana orang-orang Yunani Kuno beralih dari mitos menuju nalar, atau istilahnya dari mythos ke logos.

Buku yang terbit pada 2018 ini merupakan edisi revisi dari buku Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles (1975). Revisi yang dimaksud adalah penambahan dua bab tentang “Periode Hellenistis dan Romawi” dan “Neoplatonisme”. Dua bab tersebut tidak ada di buku Sejarah Filsafat Yunani edisi sebelum 2018. Oleh karena itu, subjudul Dari Thales ke Aristoteles ini tidak digunakan lagi di edisi revisi 2018 dan seterusnya.

Peta Yunani Raya

Sebelum memasuki pembahasan mengenai sejarah filsafat Yunani, pembaca akan ditampilkan “Peta Yunani Raya”. Peta ini penting untuk mengetahui situasi geografis Yunani pada masa lalu yang bisa dibilang cukup unik.

Baca juga:

“Unik” yang dimaksud di sini adalah karena Yunani pada masa itu bentuknya adalah terdiri dari banyak “negara kota” yang disebut sebagai polis. Setiap polis berstatus independen tetapi memiliki kebudayaan dan bahasa yang sama (hlm. vi). Jadi, Yunani pada masa itu bisa dibilang belum mengenal konsep negara kesatuan.

Mitos Yunani yang Melahirkan Filsafat

Filsafat di Yunani lahir pada abad ke-6 SM. Selain itu, filsafat bagi orang Yunani bukanlah suatu ilmu yang berdiri di samping-samping ilmu lain. Filsafat adalah suatu hal yang meliputi segala pengetahuan ilmiah (hlm. 1).

Salah satu faktor penyebab lahirnya filsafat di Yunani adalah karena mereka memiliki suatu mitologi (mythos) yang kaya serta luas. Mitologi di Yunani dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat.

Hal itu bisa terjadi karena mitos-mitos sudah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang hidup dalam hati manusia. Dari mana dunia kita? Dari mana kejadian-kejadian dalam alam? Apa sebab matahari terbit, lalu terbenam lagi? Melalui mitos-mitos, manusia mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta dan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya (hlm. 3).

Namun, mitos-mitos di Yunani bukanlah hal yang langsung dipercaya oleh orang Yunani begitu saja. Bangsa Yunani berusaha menyusun mitos-mitos yang diceritakan oleh rakyat untuk menjadi suatu keseluruhan yang sistematis.

Orang-orang Yunani berusaha memahami hubungan mitos-mitos satu sama lain dan menyingkirkan mitos yang tidak dapat dicocokkan dengan mitos lain (hlm. 3). Dari situ, pembaca diperlihatkan mengenai sifat rasional (logos) dari bangsa Yunani.

Thales sebagai Bapak Filsafat

Thales kemudian muncul sebagai filsuf pertama dalam sejarah filsafat Barat, sehingga ia dijuluki sebagai Bapak Filsafat. Informasi mengenai kehidupannya sebagian besar diperoleh dari Herodotos, sejarawan yang hidup pada abad ke-5 SM (hlm. 22).

Thales diperkirakan lahir sekitar tahun 630 SM di Miletos, sebuah kota pelabuhan di wilayah Ionia. Pada masa itu, Miletos menjadi jalur penting perdagangan antara Yunani, Italia, Mesir, dan Asia, sehingga terjadi pertemuan berbagai kebudayaan dan gagasan. Kondisi ini menjadikan Miletos terkenal sebagai salah satu pusat intelektual dunia kuno.

Menurut Thales, prinsip dasar alam semesta adalah air (hlm. 23). Pandangan ini lahir dari pengamatannya bahwa semua bentuk kehidupan—baik tumbuhan, hewan, maupun manusia—bergantung pada air untuk bertahan dan berkembang. Thales berpendapat bahwa tanpa air, makhluk hidup tidak mungkin ada, sebab air dapat berubah wujud tetapi tidak pernah musnah.

Thales juga mengemukakan gagasan bahwa bumi terapung di atas air, seakan-akan muncul dari laut dan bertahan di atasnya (hlm. 24). Dengan pemikirannya tersebut, Thales dikenang sebagai perintis filsafat alam yang mencoba menjelaskan dunia dengan nalar.

Socrates dan Kaum Sofis

Pada bab 3 dari buku ini, pembaca akan diberikan pembahasan mengenai perkembangan filsafat Yunani pada paruh kedua abad ke-5 SM. Bab 3 ini juga meliputi pembahasan mengenai pertentangan antara Socrates dan kaum Sofis. Masa hidup Socrates (470–399 SM) memang bersamaan dengan perkembangan Sofisme di Athena, Yunani.

Socrates memiliki perbedaan sikap dengan kaum Sofis. Salah satu contohnya adalah ketika Socrates memberikan pengajaran, Socrates tidak memungut biaya apa pun. Hal ini berkebalikan dengan kaum Sofis yang dituduh meminta uang untuk ajaran yang mereka berikan (hlm. 80).

Secara pemikiran, pertentangan Socrates dengan kaum Sofis adalah ketika kaum Sofis memberikan kriteria yang berbeda tentang dasar-dasar teori pengetahuan dan etika yang memunculkan relativitas sebuah ajaran. Relativitas yang dimaksudkan adalah pendirian bahwa baik buruk dan benar salah itu bersifat relatif. Dengan kata lain, baik buruk dan benar salah tergantung pada manusia yang bersangkutan. Dari situ Protagoras (490-420 SM) yang termasuk kaum Sofis mengatakan bahwa manusia adalah ukuran dari segala sesuatu (hlm. 82).

Sementara bagi Socrates, yang baik-buruk dan yang benar-salah sebagai nilai objektif harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Socrates juga menambahkan bahwa norma yang dianut itu tidak bersifat relatif, tetapi mutlak dan menjadi pegangan bersama manusia.

Baca juga:

Selain itu, sikap Socrates lain yang berlainan dengan kaum Sofis adalah ketika kaum Sofis suka bepergian bahkan ke negeri-negeri lain. Socrates tidak pernah meninggalkan kota asalnya kecuali tiga kali ketika Socrates memenuhi kewajibannya sebagai warga negara untuk ikut berperang (hlm. 99).

Bahkan ketika Socrates dijatuhi hukuman mati pada 399 SM, Socrates sebenarnya bisa memilih hukuman lain yaitu dibuang ke luar kota. Namun, Socrates tetap tidak ingin meninggalkan kota asalnya. Socrates akhirnya tetap menjalani hukuman mati dengan meminum cawan yang berisi racun dengan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya (hlm. 101).

Penjelasan yang Runtut

Buku Sejarah Filsafat Yunani ini menjelaskan para filsuf di Yunani secara satu-persatu dan runtut. Penjelasan dimulai dari bab 2 yang berjudul Filsafat Pra-Sokratik hingga bab 7 yang berjudul Neoplatonisme. Setiap tokoh filsuf yang dibahas akan diawali dari pembahasan mengenai riwayat hidupnya terlebih dahulu, baru kemudian dilanjut dengan pembahasan mengenai pemikirannya.

Selain itu, pembahasan mengenai tokoh filsuf juga akan dikategorikan berdasarkan mazhabnya. Contohnya seperti Mazhab Elea yang terdapat tokoh seperti Parmenides, Zeno, dan Melissos, filsuf-filsuf Pluralis seperti Empedokles dan Anaxagoras, dan lain-lain.

Hal itulah yang membuat buku ini menjadi layak untuk dibaca. Bagi saya, buku ini menjadi buku yang tepat untuk menjadi buku filsafat pertama—sebagai buku pengantar—yang dimiliki oleh pembaca baru yang ingin mendalami filsafat. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Farhan M. Adyatma
Farhan M. Adyatma Penulis lepas yang menaruh minat pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Senang menulis di media-media online alternatif. Instagram: @farhan.m.adyatma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email