Sebagai orang yang sudah hidup hampir tiga perempat abad, saya sering gusar melihat tingkah anak-anak muda di zaman sekarang. Katanya ini zaman kemajuan, tetapi yang saya lihat justru sebaliknya. Anak-anak muda zaman sekarang kurang sekali menghargai orang tua. Dianggapnya kami yang tua-tua ini tidak mengerti tren, menghambat kreativitas, kolot.
Mereka sok bisa, sok hebat, sok tahu, sok-sok-anlah pokoknya. Padahal orang tua macam kami ini sarat dengan pengalaman. Kami sudah kenyang makan asam-garam dan pahit-getir kehidupan. Harusnya apa-apa yang mereka ingin perbuat, konsultasikan dulu kepada kami. Ibarat pepatah kata pepatah belajar ke yang menang, mencontoh ke yang sudah.
“Sebaiknya kalian undang kami di rapat kalian. Siapa tahu yang kalian lakukan itu keliru. Jadi, kami bisa mengoreksi,” kata saya kepada mereka sewaktu persiapan peringatan HUT RI.
“Tidak mengapa, Datuk. Kalau pun salah, kami yang menanggung resikonya. Lagi pula di media sosial sudah banyak kami dapatkan inspirasi, ” jawab mereka.
Hasilnya, cobalah lihat saat mereka mengadakan lomba 17-an tingkat RT. Andai saja mereka mau meminta saran, tentulah acaranya akan sukses, tidak amburadul seperti itu. Susunan acara yang tidak jelas, tempat pelaksanaan bermasalah, hadiah untuk para pemenang lomba entah ke mana. Alhasil, Pak RT pun mencak-mencak tak keruan karenanya. Untuk urusan sekecil itu saja mereka keteteran. Apatah lagi menyerahkan urusan negara ini kepada mereka.
Keadaannya jauh berbeda dengan dulu. Sewaktu saya muda, apa-apa yang ingin kami lakukan selalu meminta petunjuk dan arahan dari orang-orang tua supaya tidak salah dalam melangkah. Nyatanya benar. Orang-orang tua lebih paham tentang itu karena pengalamannya.
Jangan salah, anak-anak muda zaman saya dulu pun punya kegiatan yang tak kalah banyak macamnya. Sebagian terlibat dalam perjuangan bersenjata. Sebagian lainnya ada yang membuat perkumpulan tonil, ikut klub olahraga, mengadakan kursus, pameran, atau kegiatan keagamaan. Pokoknya hari-hari kami tidak pernah sepi dari kegiatan. Untuk setiap jenis kegiatan itu selalu kami minta arahan kepada orang sesuai dengan pengalamannya.
Kegiatan yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan minta nasihatnya ke Pak Pono sebagai tokoh masyarakat. Kalau berhubungan dengan kesenian konsultasi kek Mak Katik yang merupakan tokoh adat. Yang berhubungan dengan agama datang ke Buya Mas’oed selaku suluah bendang dalam nagari.
Memang tidak ada paksaan untuk itu, tapi begitulah wujud hormat kami kepada orang-orang yang lebih senior dari kami.
Nah, sebagai orang tua di zaman sekarang, saya ingin selalu memberikan nasihat. Di tempat-tempat yang saya bisa berikan, selalu saya sempatkan menyampaikannya. Saya tahu dalam hati mereka dongkol lantaran dijejali nasihat demi nasihat, tapi kewajiban sayalah sebagai generasi tua yang mungkin tidak punya banyak waktu lagi. Kepada yang beranjak dewasa sering saya berpesan supaya jangan berpacaran. Bukan tidak boleh. Tapi gaya berpacaran orang zaman sekarang membuat saya bergidik. Hampir tidak ada batasan lagi. Bahkan melebihi pasangan suami istri. Padahal zaman saya muda dulu, jangankan jalan berdua saling berpegangan tangan, saling melirik saja adalah hal yang tabu. Pacaran ala kami dulu hanya sebatas kirim mengirim surat. Itupun kalau tidak diketahui orang tua.
Kepada anak-anak muda yang suka main gim saya nasihati juga supaya mengisi waktunya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.
“Kurang-kurangilah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berfaedah, ” kata saya.
“Ini game untuk mengasah otak, Datuk. Lebih hebat lagi kalau kita bisa buat konten dengan game ini. Auto kaya kita, Tuk. Subscriber akan bertambah. Viewer akan berjibun. Monetisasi pun berjalan lancar.”
Selalu ada saja jawaban mereka. Sungguh berbeda dengan dulu. Zaman saya muda dulu tak berani kami menjawab perkataan orang tua. Kami lekas mengangguk dan mengiyakan setiap saran dan nasihat yang diberikan.
Kepada anak-anak sekolah tak lupa saya pesankan supaya belajar yang rajin. Jangan sia-siakan masa sekarang. Sebab ia tak akan kembali. Jangan ikut-ikut tawuran yang biasanya dipicu oleh hal remeh temeh. Kalau memang mau adu kekuatan bertarunglah di arena secara jantan. Jangan minum-minum karena itu merusak jiwa. Dan tidak lupa saya pesankan jauhi judi sejauh-jauhnya.
Kepada para mahasiswa yang tempo hari KKN di kampung kami juga saya nasihati. “Kalian sebagai mahasiswa adalah golongan cendekiawan. Jangan gampang diprovokasi. Kurang-kurangilah demo yang tidak berfaedah karena lebih banyak ruginya. Kalian pikir dengan demo-demo itu bisa mengubah negara ini menjadi lebih baik. Tidak sama sekali. Hanya perilaku anarkis yang terjadi. Pengalaman saya menyaksikan peristiwa demontrasi Tritura sampai sekarang, keadaan tidak menjadi lebih baik. Malah makin buruk. Penjarahan, pemerkosaan, pengrusakan. Kaum minoritas selalu jadi korbannya. Kalian bilang orde lama harus diganti. Naik orde baru diruntuhkan juga. Muncul Reformasi juga sama saja”.
“Kami bosan belajar di kelas terus, sesekali kuliahnya pindah ke jalanan. Kalau belajar di kelas terus menerus bisa stres kami, Pak Datuk. Lagi pula demo itu kan bentuk kekritisan kami terhadap pemerintah. Di negara maju demo adalah senjata mengubah kebijakan. Setiap kebijakan tidak tidak memihak kepada rakyat, akan selalu kami demo. Kamilah harapan rakyat,” jawab mereka.
Tidak hanya kepada yang mereka itu saya beri nasihat. Kepada yang sudah berumahtangga pun saya beri juga. Kadang saya heran melihat orang tua zaman sekarang. Setelah anaknya sekolah seharian, ditambahkannya pula dengan les ini dan les itu di sore hari. Bagi yang beruang, dipanggil guru ke rumah untuk mengajar anaknya yang bebal itu. Berbeda sekali dengan zaman saya sekolah dulu. Siang hari sesudah pulang sekolah, kami langsung bekerja. Entah itu membantu orang tua di sawah dan ladang, mengembalakan kambing, sapi atau kerbau, atau menyabit rumput.
Orang tua zaman sekarang memang aneh-aneh. Anak-anaknya dibelikan gawai yang canggih-canggih. Alasannya supaya mudah dihubungi. Tapi, mereka tidak tahu apa yang dilakukan anak-anak dengan gawainya.
Saya bukanlah orang yang memicingkan mata terhadap keluarga sendiri. Kepada Ros, anak saya sendiri yang telah berkeluarga, sering saya pesankan supaya mengajarkan kemandirian pada anak-anaknya sedari kecil. Jangan terlalu memanjakan mereka. Biarkan meraka melakukan apa mereka bisa sendiri. Terkadang kalau buku PR atau bekal anaknya ketinggalan, Ros segera bergegas ke sekolah mengantarkan. Saya katakan tidak usah. Biarkan ia belajar bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya.
Kegusaran-kegusaran saya ini saya sampaikan kepada kawan saya seorang pensiunan dosen.
Dengan enteng dia menjawab, “zaman sudah berubah, Bung. Cara-cara lama tidak berlaku lagi sekarang.”
“Iya tapi kan nilai-nilai yang dulu harusnya tidak berubah.”
“Begitulah adanya. Zaman sekarang yang katanya kemajuan menuntut orang sekarang serba cepat, kalau tidak mau ketinggalan. Orang-orang sibuk dengan dunianya sendiri. Mana sempat memikirkan orang lain. Zaman dulu seperti itu karena memang tuntutannya begitu.”
Benar juga yang dikatakannya bahwa zaman telah berubah. Sempat terlintas di pikiran saya, mungkin sebaiknya saya mulai aktif di media sosial agar nasihat saya lebih didengar secara luas. Saya akan meminta Ros membelikan saya gawai yang baru.
*****
