Membaca menginspirasi saya

Aku Ingin Mengadu dan Puisi Lainnya

Windy Sherin

2 min read

Tolonglah, Yah

kepalaku penuh benih
yang tak pernah sempat tumbuh
sebab setiap tunasnya
selalu kau potong
menurut ukuran orang lain

lantas bagaimana bisa
kau bandingkan aku
dengan ladang milik orang lain
yang bahkan tak pernah bisa aku jejaki

tolonglah, yah
beri aku waktu
untuk tumbuh dari tanahku sendiri
jangan cabuti akarku
hanya karena aku tak serupa
dengan tanaman yang kau kagumi di halaman seberang

aku bukan si anu, yah
bukan si inu
aku bukan perlombaan
yang bisa kau menangkan lewat mulut
aku hanya anakmu
yang tak bisa menjadi siapa-siapa
selain diri sendiri—
yang selalu tampak salah di matamu

tolonglah, yah
berhentilah menyuruhku jadi langit
jika tanah pun belum sempat kupijak
jangan lagi kirim aku ke medan perang
dengan baju zirah pinjaman
jangan tanya mengapa aku terasa asing
jika setiap pagi namaku kau tukar
dengan nama anak tetangga

(Jambi, 2025)

Aku Ingin Mengadu

aku ingin mengadu
tentang hariku yang berjalan tak berarah
setiap langkahku hanya mengambang di udara
tak mendapat tempat untuk berpijak

orang-orang melaju cepat
ke sana dan ke sini
sementara aku tertinggal
di perempatan jalan yang membingungkan
ditatap sinis oleh waktu
yang terus memelintir leherku ke depan

aku telah makan waktu, makan hati
menelan jam-jam yang hambar
melahirkan lapar di jiwa dan perut
sebab tak ada yang benar-benar mengenyangkan
selain rasa dipahami dan dimengerti

mereka pikir aku baik-baik saja
karena aku tak mampu menangis
masih bisa menjawab
mengangguk
tertawa

malam-malam itu akan datang lagi dan lagi
hanya untuk menyampaikan bahwa besok
adalah salinan dari hari ini
pagi akan menjemputku dengan kantung mata
dan nafas yang sudah letih sejakku bangun

jika suatu hari aku hilang terlalu lama
bukan karena bebanku telah tiada
melainkan karena sudah tak tahu
di mana bisa kutaruh kepala
yang terlalu berat untuk dibawa

aku ingin mengadu
tetapi kepada siapa
jika semua sibuk menambal hidupnya sendiri
menjadikanku karam
di dalam kepalaku sendiri

(Jambi, 2025)

Bunda Tak Ada

sejak kau pergi, bunda
tak ada lagi tangan yang membasuh peluh
tak ada lagi suara yang memanggilku pulang
semua memudar ditelan bisingnya hari

dunia terus melesat maju
tak peduli langkahku yang terasa berat
aku menebak arah tanpa petunjuk yang dulu
kau sisipkan dalam setiap doa untukku

di mana pun jejak kutapak
selalu membawa kembali pada kenangan tentangmu
tentang masa di mana bahu ini tak perlu
menanggung beban sendirian
karena ada tanganmu yang selalu siap menopang
ada senyummu yang selalu menjadi pelipur lara

bunda
rupanya aku tak sekuat yang dulu kau ajarkan
tembok-tembok ketabahan yang kubangun runtuh
menyisakan aku dalam dingin dan sepi
yang tak pernah kukenal sebelumnya

bunda kini kau tak ada
ingin sekali kutarik kembali waktu
mencuri sejenak waktu yang sudah tak lagi milik kita
hanya untuk memelukmu
namun jarak antara bumi dan langit
takkan bisa kugapai

maafkan aku bunda
dulu sering kulupa
bahwa setiap langkahmu adalah jalan
yang menuntunku menuju surga

(Jambi, 2025)

Tuhan Tak Mengetuk, Tetapi Masuk

Tuhan tak perlu mengetuk
sebab angin telah menjadi salam
dan jendela yang tak pernah terkancing
adalah jalan yang Ia pilih diam-diam

rumahku bukan surau berubin bersih
hanya lantai tanah yang sesekali berkeringat sendiri
dan bau kencing kucing yang menyamar jadi dupa malam
namun Tuhan duduk juga di sana
tak menuntut wangi kemenyan atau suara qasidah

Ia datang saat aku sedang menanak resah
ketika sendokku mengaduk nasi dan keluh
dan air mata jatuh ke tungku
lenyap
tetapi entah bagaimana
ada yang tumbuh di dalam dada

aku tak pandai bicara kepada langit
doaku sering tercekat
kalimatku meleset
tetapi Tuhan tak menuntut puitis
ia tahu
air beriak tanda tak dalam
dan diamku justru paling jujur

malam itu
Ia tak membawa surga
hanya ketenangan yang jatuh tanpa suara
seperti embun
dan sejak itu aku paham
Tuhan tak selalu turun dari langit
kadang ia hanya menepi di kursi bambu
menyimak hidupku tanpa mengganggu

(Jambi, 2025)

Doa Orang yang Tersesat

Tuhan
bila pintu surga-Mu hanya terbuka untuk yang suci
dan suara hamba-Mu yang lurus terlalu sibuk memuji
masihkah ada celah untukku yang jalannya pincang ini
yang tangannya tak bersih
yang nafasnya berbau dunia

aku bukan yang bersimpuh dalam heningnya masjid
bukan yang air matanya mengalir karena zikir
aku adalah orang yang tersesat di persimpangan jalan
yang langkahnya sering goyah

mereka berkata Kau hanya mendengarkan yang bersih
yang lisannya tak pernah berdusta
yang matanya tak pernah melihat hal yang fana
namun di dalam kalbu
kurasa Kau pun melihatku
yang tersesat dalam gemerlap dunia
yang kadang lupa pada-Mu

jika para kekasih-Mu sudah tenggelam dalam keagungan
tenggelam dalam samudera rahmat yang telah Kau berikan
biarkan aku
yang terombang-ambing di atas perahu rapuh
berteriak menyebut nama-Mu di tengah badai
biarkan aku memohon
meskipun tanganku kotor
meskipun dosaku tak terhitung
karena hanya Engkau yang bisa mencuci semua noda ini
biarkan aku mengadu
karena hanya kepada-Mu
aku bisa pulang

(Jambi, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Windy Sherin
Windy Sherin Membaca menginspirasi saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email