pulpen-pulpen berlarian
pulpen-pulpen itu sedang berlarian tak tahu arah. ia mencari catatan yang telah hilang 3 bulan ditelan malam. hingga akhirnya ia menelpon sore, tapi tak kunjung diangkat. lalu, pulpen-pulpen itu menginap di pekarangan rumahku. sementara aku sedang mencari kakiku. ternyata kakiku sedang berjalan menuju stasiun. kemudian kakiku berteriak dan kereta memakan aku.
kereta itu telah berumur 20 tahun. hidupnya membosankan hanya dari ujung ke ujung mengantar nyawa-nyawa yang tak ia kenal. bahkan sekedar berjalan saja ia dipenjara banyak aturan. seperti tidak boleh menabrak kendaraan, keluar jalan, atau sekedar makan nasi padang.
namun, hari ke hari jakarta makin cepat, ia melahap segala jenis buruh yang berkeliaran. mulai dari buruh kasar, buruh yang keasyikan mengunyah tb simatupang, sendok yang kedinginan, buruh yang dimakan paylater, hingga buruh yang bercita-cita menjadi tumbler corkcicle. jika dipikir-pikir, jakarta ini membosankan, perihal memakan saja ia mampu menelan semua hal.
pulpen-pulpen itu sudah bangun dari pekarangan rumahku. mereka terpaksa hidup dari tempat a ke meja makan b. karena jika mendengar curhatannya yang sepanjang rapalan orang tua ke anaknya. bahwa rumahnya tersebut sudah berubah menjadi outlet kopi kenangan dan malam membayarnya hanya seperempat dari jumlah tagihan. hingga akhirnya pulpen tersebut gantung diri di gramedia matraman.
–
keselek bahasa
aku melihat seorang laki-laki sepantaranku sedang keselek bahasa. dan selepas magrib ia meninggal dunia. semasa hidup laki-laki tersebut selalu mengais hantu-hantu metafora. padahal, sebagai orang tua yang bijaksana, rantang dan kulkas sudah mengomelinya setiap saat. namun, tidak usah khawatir cinta memang seperti itu. seperti bulan yang lagi asik gegoleran di tumpukan baju.
lagipula, buat apa memusingkan bahasa. aku tidak memerlukan hal itu. tiada yang lebih romantis bagiku selain pot bunga yang sedang merayu piring-piring. walaupun ujungnya dihujani beling-beling. duh. bentar lagi mau ujan. matahari pontang panting mengambil jemuran yang sudah setengah kering. begitu juga yang terjadi pada banyak masyarakat jakarta. mereka kalang kabut menjaga tubuhnya masing-masing.
sendok menangis melihat muda mudi kelaparan. mereka butuh bantal untuk menyembunyikan luka dan kedua bola matanya. karena dia baru pulang. dari tempat yang paling melelahkan. yakni memikirkan bahasa.
–
rabu seperti popcorn yang gosong
jendela kamarku sumringah sekali. karena dia baru pulang dari sekolah anaknya. mengambil rapor kenaikan kelas. dan anaknya dapat juara. anak tersebut juga gembira. karena sapu lidi tak lagi mengejek atau memukulnya. rabu ini seperti popcorn. yang meledak di matamu. walaupun agak sedikit gosong.
keesokannya. aku melihat gagang pintu yang cengengesan sambil telponan. hidupnya lebih bahagia. dibanding manusia-manusia yang menggerutu dan memaki layar ponselnya. mereka tak sadar. bahwa sedang ditertawai oleh debu jalanan dan patung sudirman.
itulah yang terjadi sekarang. bahwa polisi emang sialan. aku penasaran. kenapa tempat tidurku hanya akan tidur jika menonton dan meminum susu hangat terlebih dahulu. guling juga tidak boleh ketinggalan. sementara aku. tidur dalam bayang-bayang dan kenangan tidak mengenakkan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
