Orang Mati yang Kesepian

M. Iqbal Mubarok

2 min read

Seorang lelaki tua duduk termenung di atas nisannya sendiri. Namanya Sarman. Ia telah meninggal dua puluh tahun lalu, namun masih tetap berada di tempat ini, menunggu sesuatu yang entah kapan datangnya.

Sarman bukanlah arwah penasaran yang bergentayangan dengan amarah. Tidak ada dendam yang membelenggunya di dunia ini. Ia hanya merasa kesepian. Dalam dua dekade terakhir, tak ada satu pun doa yang dipanjatkan untuknya. Tak ada anak, cucu, atau sanak saudara yang datang berziarah. Tak ada yang mengingat namanya selain batu nisan yang mulai pudar tulisannya. Seolah-olah ia telah benar-benar hilang dari dunia ini, bukan hanya secara fisik tetapi juga dari ingatan mereka yang dulu mencintainya.

Hari berganti hari, Sarman hanya bisa menyaksikan dari kejauhan para peziarah yang datang untuk mendoakan kerabat mereka. Ia iri melihat arwah-arwah lain yang tersenyum bahagia ketika nama mereka disebut dalam doa, ketika ada tangan yang dengan khidmat menaburkan bunga di atas makam mereka. Sementara ia, tetap duduk sendiri, meratapi nasibnya yang semakin samar di dunia yang telah meninggalkannya.

Suatu hari, seorang wanita muda datang ke pemakaman itu. Ia mengenakan jilbab putih dan membawa setangkai bunga melati. Sarman mengamati wanita itu dengan harapan, berpikir mungkin kali ini seseorang mengingatnya. Namun, wanita itu berhenti di depan makam lain, hanya beberapa langkah dari tempatnya. Ia berdoa dengan khusyuk, menaburkan bunga dengan lembut, lalu pergi tanpa pernah menoleh ke arah Sarman.

“Siapa dia?” tanya suara parau di sebelahnya. Sarman menoleh dan melihat seorang arwah tua yang juga duduk di atas nisannya sendiri.

Namanya Mbah Karso, lelaki yang telah lebih dulu meninggal sebelum Sarman.
“Aku tidak tahu,” jawab Sarman. “Aku pikir mungkin dia datang untukku. Tapi ternyata bukan.”

Mbah Karso menyimpul senyum. “Kau masih menunggu doa dari anak cucumu?”

Sarman mengangguk pelan. “Aku hanya ingin satu doa. Satu doa saja, agar aku tidak merasa benar-benar hilang dari dunia ini.”

Mbah Karso menghela napas panjang. “Mereka yang hidup sibuk dengan dunia mereka sendiri. Waktu berjalan, kenangan memudar, dan kita yang sudah mati perlahan dilupakan. Begitulah adanya. Aku juga dulu menunggu. Tapi sekarang aku hanya menikmati apa yang tersisa.”

Sarman terdiam. Kata-kata Mbah Karso menusuk hatinya. Apakah benar bahwa ia hanya sedang mengejar bayangan yang tak akan pernah kembali?

Namun, malam itu, sesuatu yang aneh terjadi. Sarman merasakan kehangatan yang sudah lama hilang. Ia mendengar namanya dipanggil. Lembut, penuh harapan.

“Kakek Sarman… aku tidak pernah mengenalmu, tapi aku ingin berdoa untukmu.”

Suara itu berasal dari seorang bocah kecil yang berjongkok di dekat makamnya. Bocah itu menatap nisan Sarman dengan mata polos dan penuh rasa ingin tahu. Ia bersama ayahnya, seorang pria paruh baya yang tampaknya sedang berziarah ke makam lain.

“Ayah,” kata bocah itu. “Ini makam siapa?”

Sang ayah menatap nisan itu dan mengerutkan kening. “Ini… sepertinya kakek buyutmu. Aku… sudah lama sekali tidak ke sini. Aku bahkan hampir lupa kalau beliau dimakamkan di sini.”

“Aku ingin berdoa untuknya, Ayah.”

Tanpa menunggu jawaban, bocah itu merapatkan tangan, menundukkan kepala, dan mulai berdoa dengan suara kecil tapi penuh ketulusan. Sarman merasa dadanya, meskipun sudah tak bernyawa, dipenuhi oleh sesuatu yang sudah lama hilang—kehangatan. Perlahan-lahan, tubuh arwahnya yang sebelumnya terasa berat mulai ringan. Seperti beban yang selama ini mengikatnya telah terangkat.

“Terima kasih, nak,” bisik Sarman dengan suara yang tak bisa didengar oleh mereka yang masih hidup.

Ketika bocah itu selesai berdoa, ia menoleh ke ayahnya. “Ayah, kita harus sering-sering datang ke sini ya. Supaya kakek buyut tidak merasa sendirian.”

Sang ayah mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Iya, nak. Kita akan datang lagi.”

Saat malam semakin larut, Sarman merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh tahun terakhir. Perlahan, tubuhnya menjadi semakin ringan, hingga akhirnya ia lenyap bersama angin malam, pergi ke tempat di mana kesepian tidak lagi ada.

Namun, cerita belum berakhir di sana.
Keesokan harinya, sang ayah mulai mencari tahu tentang Sarman. Ia bertanya pada sanak saudara yang masih hidup, menggali kenangan yang hampir terkubur oleh waktu. Ternyata, Sarman adalah seorang lelaki baik hati yang dulu bekerja keras untuk keluarganya. Ia menghabiskan hidupnya dengan membanting tulang, memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, setelah kematiannya, ingatannya perlahan-lahan terkikis oleh kehidupan yang terus berjalan.

Semakin banyak yang ia ketahui, semakin dalam perasaan bersalah menyelimutinya. Bagaimana mungkin mereka melupakan seseorang yang telah memberikan segalanya? Ia memutuskan untuk berbicara dengan keluarganya dan mengajak mereka untuk kembali mengingat Sarman, setidaknya melalui doa.

Hari Minggu berikutnya, pemakaman yang biasanya sunyi itu terasa lebih ramai. Beberapa anggota keluarga datang, membawa bunga dan air untuk membersihkan makam Sarman. Mereka berdoa bersama, mengenang kisah-kisah lama, dan berjanji untuk tidak lagi melupakan leluhur mereka.

Di tempat yang tak terlihat oleh mata manusia, Sarman tersenyum. Ia tidak lagi merasa sendirian. Nama dan kenangannya telah kembali, mengalir dalam doa-doa anak cucunya. Dengan hati yang tenang, ia tahu bahwa ia akhirnya bisa beristirahat dengan damai, tanpa perlu lagi menunggu dalam kesepian.

Di pemakaman yang kini lebih hidup dengan doa dan cinta, di bawah bayang-bayang pohon kamboja yang berguguran, satu arwah akhirnya menemukan ketenangan yang telah lama dinantikannya.

*****

Editor: Moch Aldy MA

M. Iqbal Mubarok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email