Nyeri Pinggang Dini Hari dan Puisi Lainnya

Ahmad Rizki

3 min read

nyeri pinggang dini hari

tak lelo-lelo ledung
bulan sirna, udara mendung
nyeri pinggang cepat kaupulang
sebelum matahari kembali menggonggong

kata-kata mengejar bayangan
yang ditawan saraf kejepit
dan kasur lengket keringat
tertawa dalam nyeri yang tak tertahan

bulan sirna, hujan datang
saraf kejepit tak pulang-pulang
oleh fisioterapi dan obat-obatan

sementara bocah laki-laki hanya diam
tanpa upaya, hanya diam
kecuali pikiran keabadian
yang datang mengganggunya berulang

tak lelo-lelo ledung
bulan sirna, udara mendung

kata-kata mengigau bau rumah sakit
yang dikelilingi teknologi elit
dan kasur lengket keringat
hanya mencibir kenyataan sulit
sementara jam selalu bercanda
di tempat kehidupannya

kata-kata tak tahu harus apa
nyeri pinggang mengaliri darah
bocah laki-laki belum juga bicara
kecuali sekedipan mata putus asa
sementara kasur lengket keringat
hanya tertawa di antara tulang belikat

tak lelo-lelo ledung
bulan sirna, udara mendung

kata-kata mencari ribuan doa
nyeri pinggang tak bisa dibendung
dan kasur lengket keringat hanya tertawa

tak lelo-lelo ledung
bulan sirna, udara mendung
kata-kata mencari pertolongan
sebelum matahari kembali menggonggong

(2025)

buang ludah

ini dia si jali-jali
lagunya enak merdu sekali
tapi sayang o, puan
hati kita belum sepaham

ondel-ondel diarak keliling pamulang
sehabis matahari tengik memangku kenyataan

senja berkarat, udara seperti besi
terbakar di paru-paru bocah remaja
yang menatap hidup dari
retakan kegamangan. ia bingung, karena
hari yang jahat berwajah ingkar janji
menyamar jadi puisi

ini dia si jali-jali
lagunya enak merdu sekali
sementara damba hanya lumut di
tepi trotoar, sisa bara sangsi
yang belum juga mati
dan kenangan menyerbu
kematian, menari di pundak waktu
setelah cinta menyala malu-malu
seperti dua burung dara
yang tersesat di rambut hitam
sore hari

ondel-ondel diarak keliling jalanan
berlari-menjerit-tertawa-sekarat
di pamulang yang serak
tapi siapa peduli, o puan
kita belum juga sepaham

ondel-ondel diarak keliling pamulang
di senja yang ciut dan sombong
bocah remaja memandangi
dua istilah yang mengaliri hati
dan ia mengambil keduanya
yang ada dan mungkin tiada
dari kata cinta yang
menggigil mencari tubuhnya

ini dia si jali-jali
lagunya enak merdu sekali
tapi siapa percaya pada lagu
kalau hati beku, membatu

ondel-ondel diarak sampai senja kalah
di tangan bocah remaja, dan
sebelum matanya berdarah
suara sumbang kenyataan
menggoda puisi-puisi
dengan jari berjubah sangsi
yang mengandung cinta dan birahi
yang mengandung umur dan mati
yang mengandung lagu dan sakit hati
yang belum juga ia mengerti

ini dia si jali-jali
lagunya enak merdu sekali
tapi siapa peduli o, puan
kalau cinta hanya suara tua
di dada bocah remaja
yang diludahi dunia
dan seisinya

(2025)

kalau karena puisi, kesepian berarti?

kesepian yang remaja memanggilku
dari matahari Mei kelabu itu
sambil mengigau mata biru
dan mengintai bibir merah delima
untuk menampung wibawa
dan cinta, atau sesuatu yang berharga.

kesepian yang dewasa menyetubuhi
kepala kanak-kanaknya dengan ironi.

kesepian yang tua melototi dari jauh
sambil terus berpesan: sudah puas, begitu?

kesepian itu menangis di pelukan
puisi pertama yang ia kuburkan
dan air matanya begitu deras
mengalir di hati yang belum bebas.

aku dilarang mengingat tubuhnya
ketika api zikir kuingat mantranya.

kesepian itu menangis di dekapan
puisi kebahagiaan yang terluka
dan bersembunyi di penjara nada.

kesepian yang balita ditemukan mati
setelah mengisi daftar riwayat ironi.

semua kesepian akhirnya terkunci di lemari
sambil mendengarkan iri-dengki
dari seluruh memori puisi
yang mencuri adegan tragedi
cinta dan benci, atau ringkasan sakit hati.

kesepian itu menangis dan tertawa
sambil mengusap benci dan cinta
dan berkata:
kalau karena puisi
kesepian berarti?

(2025)

sebab kalau bukan puisi, apa lagi?

aku tulis namamu berkali-kali
untuk kutuntaskan puisi sakit hati.

sore di Ciputat terlumasi
saraf kejepit, ngilu dan sakit gigi
dan udara yang diibadahi
orang-orang pagi tadi
bagai swasta yang merasa rugi
atau bayi ideologi
yang terjerat ejakulasi dini
karena merapal mimpi revolusi
dalam amuk senja sombong
yang merawat neraka musim semi.

sajak-sajakku bermutasi
dalam raga-nyawa dan ambisi
mengigilkan rima-metrum-irama
dan mengedap di payudara merah priayi
sebelum bulan malam itu mengigau personifikasi.

aku tulis namamu
untuk cinta-nafsu yang rampung kuramu.

para manusia yang duafa
sibuk mementingkan harta dan kemaluannya
dan tertawa pada padi yang dikelola negara:
apa masih kausimpan bekas pelukan
di pundakmu, setelah kaukatakan pulang?

sore di Ciputat macet dan sesak
oleh politisi, ambisi dan hati yang kerak
oleh racun psikologi dan sains yang sesat.

aku masih memahami bau mulutmu
yang samar dan diselubungi senyum palsu
ketika orang-orang menidurkan kemaluan
yang digoda malam, setan dan harapan
di sigenap persimpangan kemaksiatan.

buset! aku masih terpikat oleh namamu
setelah desah dan marah malu-malu
mengejar birahi kolonialismemu itu
dan dada remaja yang tak selesai aku miliki
pecah dalam perawan metafisika
untuk yang pertama, dan yang sempurna.

aku tulis namamu berkali-kali
dalam cinta-nafsu puisi
yang masih sedia
menghidupkan malapetaka.

sore di Ciputat sudah dilumat
puntung rokok
dan banjir akhir bulan
yang mengalir dalam doktrin fasismeMu
setelah rindu dan benci mengebu-gebu
menolak Tangerang Selatan
dan menghanyutkan raksasa kebudayaan
yang dirundung luka jiwa pengkhianatan.

aku tulis puisi untuk tubuh
nyawa-cinta-mata-bibirmu itu
di dada kecil remajaku
bagai alang-alang terakhir yang gentayangan
di rumah si miskin yang bermimpi pemberontakan
dan saraf kejepit mencairkan oktober
dalam doa-doa keder
lalu meletup-letup dalam marah
dan ditenggelamkan marwah metafora
sampai pecahan neraka di jiwa
menghabiskan seluruh nyawa
seluruh rindu dan cinta
sambil mengigau tentang surga
dan segenap malapetaka.

aku tulis namamu berkali-kali
untuk kuzikirkan sakit hati
yang diam-dendam-berseri
dalam seluruh sembahyang puisi.

aku tulis namamu berkali-kali
sebab kalau bukan puisi, apa lagi?

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ahmad Rizki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email