Pandi yakin rumah yang baik mestilah diurus seorang istri. Sekarang, rumahnya kacau. Rumput menyesaki halaman, piring kotor berserakan di kamar, sampah ada di ruang tamu, jendela kamar yang retak, dan tumpukan baju di lantai dapur. Kekacauan itu dibuat makin rumit saat anaknya, Raya, datang. Ia mau tinggal bersama ayahnya, tetapi urusannya kelewat berat bagi Pandi.
Pengembang mau membeli rumah itu, dan Pandi tentu saja menolaknya. Anaknya setuju saja dengan tawaran itu, toh mereka bisa membeli rumah yang lebih bagus nantinya. Pandi masih mencoba membujuk Raya, tetapi gadis itu enggan melunak. Dan ia tidak peduli pada saat wajah ayahnya mulai mengeras.
Dulu, ketika mereka masih satu rumah, Raya ingin dijemput ayahnya sepulang sekolah. Ia menelepon Pandi karena hujan turun, ayahnya berkata akan datang satu jam lagi, tetapi hingga malam Pandi tidak menjemput.
Di lain waktu, Raya menelepon dan meminta dibelikan nasi goreng sebelum jam tujuh, karena jika makan terlalu malam itu tak baik bagi badannya. Paginya ia bangun dengan rasa lapar, dan ayahnya sudah berangkat kerja. Ia pergi ke sekolah dengan perasaan kesal. Itu terus berulang, sampai ayahnya marah saat Raya minggat ke rumah tantenya.
Raya pernah mencoba tinggal. Tidak sampai hari ketujuh, ia minggat lagi dengan cara yang sama. Rumah itu terlalu apak. Meski ibunya juga pernah tinggal di sini, tetapi kehangatan seorang wanita yang biasanya mengurus rumah tidak meninggalkan jejak sama sekali.
Raya menduga-duga saja soal kasih sayang ibu. Hal semacam itu mungkin hanya dirasakan lewat tante Anya, adik kandung dari ibunya. Pandi berusaha melakukan hal yang sama, tetapi Raya enggan menanggapi. Bertahun-tahun hingga lulus sekolah dan sekarang ia kuliah, mereka tidak lagi serumah. Saat ayahnya mulai sakit dan kesulitan mengurus dirinya sendiri, Raya mencoba untuk tinggal bersama ayahnya lagi.
Hal pertama yang terjadi pada Raya adalah isi perutnya seolah-olah meminta keluar. Rumah ini kondisinya makin buruk. Pandi diam saja dan selama seharian mereka membereskan rumah itu.
Sikap Raya disambut baik oleh Pandi, meski itu tidak berlangsung lama karena Raya ingin rumah ini segera direnovasi. Pandi menceritakan kondisinya pada Raya, tetapi gadis itu hanya memberi tatapan dingin sambil berkata: “Pinjam saja ke bank.”
Pandi diam saja. Kepalanya sedang merajut pendapat lain. Ia juga membayangkan bagaimana jika gagasan meminjam ke bank diperbuat.
“Jika memang sulit, jual saja rumah ini!” Raya mulai kesal dan dia tahu kata-kata itu akan memancing amarah ayahnya. Raya pergi ke kamarnya, ia berdiri sambil menatap retakan jendela. Raya menyesal, tetapi dia diam.
Saat malam hari, ketika mereka makan bersama, Pandi bertanya pada Raya soal kuliahnya. Raya makan dengan tergesa, dan ia sama tergesanya menjawab pertanyaan Pandi.
“Satu tahun lagi aku akan lulus. Bekerja di sekitar sini adalah pilihan terbaikku.”
“Maafkan soal kondisi rumah ini.”
“Ayah,” Raya memendam suaranya pelan, “aku mohon lupakan itu semua. Ibu sudah tenang di sana.”
“Tidak semua yang diubah menjadi lebih baik. Ayah tahu. Ayah paham. Sekali lagi, yang kau inginkan belum tentu baik.” Ayahnya diam. Raya pun membalas diam.
Malam itu keheningan berlanjut sampai Raya terbangun dari tidurnya karena di luar orang-orang ramai berkumpul. Mereka sedang memukuli seorang maling hingga darahnya mengganti warna aspal jadi merah. Pandi tidak tahan melihat itu lalu mengajak Raya masuk ke dalam rumah.
Esok paginya, Pandi dengan hati yang gamang mencabuti bunga-bunga mawar merah di halaman rumahnya. Mawar merah, bunga terakhir yang dibelikan Pandi pada istrinya sebelum Raya lahir. Wanita itu kelewat senang karena sudah lama, sejak terakhir kali saat pacaran dulu, Pandi tidak bersikap seperti ini.
Istrinya berhasil melahirkan Raya, tetapi ia gagal menjaga nyawa. Pandi ingat tangannya dipenuhi warna merah darah istrinya saat memegang mawar yang akan ia tanam. Ia lebih sering gagal dengan bunga itu, kemudian membiarkannya begitu saja, dan mawar itu tumbuh sendiri.
Rumah-rumah mewah mengepung rumah Pandi. Orang-orang melewatinya, sampai mawar merah merekah, banyak mata yang mampir melirik.
“Bunga ini tampak bahagia,” seorang wanita tua berkata pada Raya. Gadis itu tentu menjawab bahwa ayahnya merawat bunga itu dengan bahagia juga. Kebahagiaan seseorang tentu akan menular ke siapa dan apa saja, begitu si wanita tua berkata pada Raya.
Semua barang-barang dikeluarkan, dan Pandi mulai menyingkirkan kenangannya di rumah ini. Raya, yang rasa bahagianya meluap, ikut mengeluarkan barang-barang milik ayah dan ibunya. Mereka akan tinggal di rumah tantenya selama renovasi.
Sesekali Raya akan datang melihat rumah itu. Mereka berdua banyak bicara ini itu mengenai bagaimana baiknya rumah itu dibangun. Raya mungkin lebih cerewet dan Pandi hanya ikut-ikut saja. Namun saat Raya pergi, Pandi akan meminta maaf pada tukang-tukang itu.
Pandi ikut bahagia saat Raya begitu senang dengan rumah mereka. Meski menghabiskan seluruh tabungan ditambah akan ada cicilan belasan tahun, pikiran mereka sudah penuh dengan rasa senang. Rumah jadi lebih besar dengan lebih banyak ruang, tetapi Pandi akan tetap merawat mawar di sisi depan rumah yang nyaris menempel jalan raya.
“Berjanjilah padaku ayah tidak akan mengubah warna catnya.”
“Ibumu suka warna pilihan ayah.”
“Aku tahu itu, sekarang aku yang menentukan segalanya.”
Pandi senyum-senyum saja dan membiarkan Raya sibuk dengan ponselnya. Ia tahu pilihan apa pun tidak penting. Warna cat, dekorasi, dan uang tidak sebanding dengan tinggal bersama anaknya. Pandi yakin istrinya juga akan melakukan hal yang sama jika itu menyangkut Raya.
Rumah itu berwarna merah, tetapi bukan merah yang mencolok. Raya tahu selera ayahnya buruk dan seleranya bagus. Raya juga sadar, ia perlu memberi sedikit ruang untuk kebahagiaan ayahnya dengan memilih warna merah. Namun itu merah yang, siapapun memandangnya, akan berkata norak. Di tengah deretan rumah lain yang berwarna putih, rumah Pandi dan Raya jadi daya tarik orang-orang di sana.
Berbulan-bulan di sana, mereka menjalani peran anak dan ayah yang semestinya. Pandi merasa ini bukan keputusan yang buruk. Di ruang kerjanya, ia menuliskan surat untuk istrinya bahwa Raya bahagia. Tidak sampai tulisannya selesai, Pandi yang tadinya sudah mengantuk kaget karena suara kaca pecah.
Ia berlari ke asal suara: kamar Raya. Gadis itu tertelungkup, dan darah mengalir dari kepalanya. Pandi menggendong Raya dari kamar ke pintu keluar, dengan tangan yang memerah, dan jejak darah di lantai.
Orang-orang di luar ribut. Mereka menangkap maling yang mengincar rumah Pandi. Raya lemas, kepalanya bocor, dan Pandi menahannya dengan tangan tetapi sia-sia. Tangannya penuh dengan darah, dan di rumah sakit ia hanya melihat tangan itu saja.
Raya sembuh. Cat rumah diganti dengan warna lain. Mawar merah diganti dengan bunga lain. Setiap melihat warna merah Pandi akan meringis ketakutan, dan karena itu Raya kesal setiap barangnya berwarna merah harus dibuang. Termasuk saat Raya kelak menikah, memiliki anak, dan Pandi takut menggendongnya.
