Semua orang mengenal Rojak sebagai pemabuk dan penjudi ulung. Dan saking celakanya, banyak orang tua yang kemudian menjadikannya sebagai sosok hantu dan contoh manusia terkutuk—menyamai kemasyhuran Malin Kundang dan Firaun. Dan sebaliknya, semua orang mengenal orang tua Rojak sebagai seorang penganut agama yang taat. Seperti Nuh dan Kan’an—semua orang sering mengibaratkan. Dan karena itulah, banyak peristiwa tak terduga dari hubungan ganjil antara Rojak dan orang tuanya itu.
Melihat kesesatan anak tunggalnya yang semakin menjadi itu, Haji Asep pun kemudian menjodohkan Rojak dengan seorang perempuan bernama Nur. Selain cantik, Nur adalah gadis yang taat.
Namun, betapa pun kaya dan terpandangnya keluarga Haji Asep, Nur dan ibunya menolak mentah-mentah rencana itu. Tidak ada seorang ibu pun yang akan sudi menyerahkan anaknya kepada seekor serigala, kata ibunya. Namun, karena mata gelap Gani Muning—ayah Nur yang sama pemabuk dan penjudinya dengan Rojak, perjodohan itu pun akhirnya tetap terlaksana juga.
Sementara di sisi Rojak sendiri, meskipun Nur seorang kembang desa, Rojak tidak pernah menaruh sedikit pun perhatian kepadanya. Nur bertolak belakang dengan kriteria yang Rojak cita-citakan; yang paham mode dan bisa diajak “hepi-hepi”. Satu-satunya alasan Rojak menerima perjodohan itu adalah soal warisan.
“Kau tidak akan menerima apa pun dariku selama kau belum menikah dan punya anak,” kata Haji Asep dengan putus asa. “Dan calon istrimu akan kupilihkan sendiri,” katanya lagi.
Keserongan Rojak itu sendiri sudah tampak saat dia masih SMA. Mencegahnya agar tidak semakin memburuk, saat itu, Haji Asep pun segera memindahkan Rojak ke sekolah berbasis agama, bahkan kemudian memondokannya ke sebuah pesantren. Tapi usaha Haji Asep itu tetap sia-sia. Bahkan, saat Rojak mondok itulah, dia malah menambahi daftar kegilaannya dengan mencelakai seorang satpam—kabur ke Lampung dan kemudian menghamili teman mainnya sendiri—membunuh bakal anaknya itu dengan ramuan nanas muda dan cytotec. Tapi, berkat kebesaran Haji Asep, Rojak tetap lolos dari kejaran masalah-maslaah itu. Dan tanpa Haji Asep sadari, karena kebesarannya jugalah, keserongan Rojak itu akhrinya terpelihara hingga dia dewasa. Dan karena itulah, dua syarat yang Haji Asep berikan itu tidak lebih dari upaya putus asa dan penghabisan belaka.
Menurut seorang kiai yang Haji Asep mintai saran, istri bisa membimbing suami menjadi lebih baik. Dan hal itu memang sudah Haji Asep saksikan sendiri: Dullah, yang sebelumnya bekerja sebagai seorang bramacorah, insaf dari pekerjaannya itu setelah menikah dengan Esih. Adapun soal mempunyai anak, menurut keterangan kiai yang lain, akan membuat hati suami menjadi lebih sejuk dan penuh kasih sayang. Singkatnya, menurut mereka, pernikahan dan anak akan membuat Rojak jadi lebih baik.
***
Nur sedang mencuci beras di wastafel ketika Rojak mendadak muncul di pintu dapur.
“Kapan kau akan hamil, tolol?” hardik Rojak.
Nur tidak menjawab. Dia memilih untuk terus memerhatikan pekerjaannya agar beras yang sedang dia cuci tidak jatuh dari wadah. Dan lebih dari itu, betapa dia menyukai suara air yang jatuh membentur seng—mengalir ke lubang wastafel menghasilkan suara yang ritmis.
“Kau bisa hamil tidak, heh?” hardik Rojak lagi—bersamaan dengan sebuah tamparan yang mendarat dengan telak di pipi Nur. Setelahnya, Rojak pun segera berlalu ke halaman belakang—tempat dia akan menenggak lebih banyak alkohol lagi.
Setelah meraba pipi kanannya, Nur segera melanjutkan pekerjaannya kembali—mengukur air dengan jari telunjuknya—membasahi dan menyabuni perabotan dapurnya satu per satu: tiga buah piring, dua gelas, dan sebuah pisau. Dan saat dia akan mengeringkan perabotannya itu di rak, Nur tiba-tiba tertarik dengan pisau yang sering dia gunakan untuk mengiris daging itu, yang tak henti-hentinya memantulkan cahaya bening yang menyilaukan matanya itu. Dia tahu jika pisau adalah alat yang tepat untuk mengiris daging; semua jenis daging.
Dan Nur juga tahu, dalam surat wasiat yang dibuat belakangan oleh mertuanya, warisan baru akan jatuh kepada Rojak jika dia sudah punya anak dari Nur. Dan jika syarat itu tidak terpenuhi setelah lima tahun kematian mertuanya itu, maka seluruh warisannya akan disumbangkan ke banyak pihak, termasuk Nur sendiri yang akan menerima rumah peninggalan mertuanya itu dan seluruh sawah. Dan Rojak hanya akan memperoleh sebidang kebun dan rumah yang sekarang sedang mereka tinggali. Lalu, jika Nur ternyata meninggal lebih dulu, maka Haji Ahmad—adik Haji Asep, akan menentukan pengganti Nur. Karena alasan itulah, Rojak tidak pernah berpikir untuk menyingkirkan Nur dan mencari perempuan lain—semuanya hanya akan membuat situasi jadi lebih rumit lagi.
Nur juga paham jika dia tidak suka ditampar dan dimaki. Tapi sayangnya, dia punya ibu yang sama terancamnya dengannya. Bercerai dengan Rojak sama artinya dengan mengurung kembali ibunya bersama seekor macan; bersama seorang pemabuk dan penjudi ulung; bersama seorang laki-laki yang seharusnya dia sebut ayah.
Nur kembali meraih pisau yang mengilat-ilat itu dan mulai menggerakkannya dengan hati-hati untuk mencacah labu menjadi kotak-kotak kecil. Dan saat Nur sedang asik memotong itulah, Rojak terdengar kembali mengumpat, “Kapan kau akan hamil heh, babi?”
Nur bukannya tidak pernah berusaha untuk mengingatkan suaminya itu. Saat awal-awal menikah, Nur sering memberi nasehat tapi Rojak selalu menjadikannya burung beo. Kemudian, semakin sering Nur mengingatkan, semakin sering juga Rojak melayangkan tangan. Dan pipi Nur pun jadi semerah bawang dan hatinya sehancur gelas jatuh. Karena itulah Nur akhirnya memilih untuk lebih sering berbicara dengan dirinya sendiri daripada harus berurusan dengan seekor serigala.
Nur terus mencacah labu menjadi potongan-potongan kecil dan lebih kecil lagi. Dia sengaja membuka keran dan membiarkan air menciptakan suara ritmis. Dan pada saat seperti itulah, Nur sering merasa jika ada kegelapan yang mulai hadir dalam dirinya—dia tiba-tiba teringat dengan bayang-bayang ibunya; teringat dengan saat-saat terakhir sebelum ibunya itu menjelma orang-orangan sawah; teringat dengan Bapaknya yang sering meraung-raung minta uang—menghantam kepala ibunya tanpa ampun; teringat dengan napas ibunya yang tiba-tiba hilang dan kemudian berdengus kembali setelah beberapa saat—seperti baru terbangun dari sebuah mimpi buruk. Dan sama sepertinya, yang mati pada saat-saat seperti itu bukanlah tubuh ibunya, tapi jiwanya sebagai seorang istri.
Nur memindahkan potongan-potongan labu yang sudah hancur itu ke sebuah mangkuk. Dan dari tempatnya berdiri, dari sebuah jendela yang terbuka, dia bisa dengan leluasa menjatuhkan matanya ke halaman; memandang suaminya yang sedang asik menenggak alkohol itu.
Tapi itu tidak berlangsung lama; Nur segera menarik kembali matanya ke wastafel untuk mencuci talenan dan pisau. Dan lagi-lagi, saat pisau itu berada dalam genggamannya, Nur merasa sangat tertarik dengan kilatan-kilatan yang terus dipantulkannya—dia menaruh pisau itu kembali ke rak dengan sangat hati-hati.
Setelah Nur mengeringkan tangan, tanpa Nur sadari, dia mulai menyentuh perutnya dengan ganjil—membuat sebuah gerakan memutar di sana. Nur tersenyum ganjil menyadari tingkahnya itu. Dan saat itulah, Rojak tiba-tiba datang—mulai meraba tubuh Nur dengan kasar.
“Kapan kau mau kasih aku anak, heh?” Rojak memburu.
Nur tidak menjawab. Dia sedingin kulkas dan sehening patung.
Dengan kasar, Rojak menarik Nur ke ruang tengah dan menyandarkan tubuh Nur itu ke kursi. Setengah jam kemudian, Rojak menghentikan perbuatannya; Rojak segera mengenakan celananya kembali dan kemudian pergi ke tempatnya semula.
“Sebentar lagi kau bakal hamil, Nur,” kata Rojak, terdengar sangat puas. “Wa Imin sudah memberiku resep terbaik,” lanjutnya, lalu tertawa ngakak.
Sayangnya, yang Rojak ketahui memang hanya sebatas itu; bahwa dia hanya perlu menyetubuhi dan melepaskan cairan putih itu ke vagina Nur. Dan setelah itu, sebuah janin pun akan tumbuh—lahirlah seorang bayi mungil dari sana. Lalu seluruh harta orang tuanya pun akan jatuh ke tangannya tanpa kecuali. Dan memang, hanya sampai di situlah pengetahuan Rojak berakhir. Tak ada yang tahu bahwa selama bertahun-tahun, Nur telah menanamkan sebuah alat ke dalam rahimnya sendiri.
*****
Editor: Moch Aldy MA

Padahal aku menunggu Nur menancapkan pisau itu ke punggung suaminya