QORIN
Sisipkan jemarimu, Qorin, di sela
Jemariku yang meraba-raba geletar nyali
Kebisuan cermin. Di antara detak jam
Dan nyala gering sebatang lilin.
Ruang separuh suwung. Remang meraung
Di balik punggungku yang tegak
Menyediakan riang bagi tubuhmu
Juga segenap kesementaraan. Yang rawan.
(2025)
–
TENTANG KUNANG-KUNANG
Setelah hujan reda
Kunang-kunang berhamburan di halaman
Pendarnya pucat bulan
Tapi angin dari batang bambu
Menghalaunya
Ke seberang kolam ikan
Seluruh presensi meluas serupa lanskap
Pada cemas
Setelah kopi pekat di cangkir kedua tandas,
Hanya rentang dua jam setengah
Pindah di lambung kosong itu
Tapi oknum sulit tidur
Yang kepalanya riuh
Mendapatkan maklum
Dari waktu berputar lalu
“Kunang-kunang, hinggap mendekap wijayakusuma
Menjaga mekar dan wanginya, ibu,
Kunang-kunang bukanlah nyala kuku hantu…”
Tapi memang ada sejenak siulan kecil
Menggeriap bulu kuduk
Seperti gigil kabut menjelang subuh;
Kelebat sisa haru—fase relapse—
Itulah hantu, itulah
Hantu dalam pejam saban waktu
(2025)
–
EPIGRAM PISCES SETELAH ASTROLOGI
Engkau menemukanku sebagai seekor ikan
Zodiak, rapalan-ramalan berenangan
Di antara kerlip bintang dan hampa ruang.
Geletar sirip duga meriak buih putih asma
Seperti gigil mimpi meraih degup-degap jaga
Meneroka gumam takdir, di sekitar rencana.
Dekat ceruk kosmis, engkau melihat arus lain
Aras waktu berpusat-pusar pada dingin batin
Mengisap segumpal ingin menyimpan mungkin.
Tuhan di hulu harapan itu pun, akhirnya, mencibir
Lewat hilir berparas petir dari lubuk langit gering:
Di manakah gerangan bayangan saat cahaya mati?
(2025)
–
PADA SUATU DISKON TRAVELOKA
Pada suatu diskon Traveloka, ia teringat
Panas asmara Emma Rouault
Yang gelisah jadi Nyonya Bovary
Dalam percumbuan separuh enggan
Di jantung kota Paris
Yang sangat ingin dikunjungi
Tapi tertahan persyaratan visa
Kemudian dengan legawa, ia periksa
Manila yang berambut panjang: batin
Menyahut Angeli Khang
Sedang mencucup San Miguel
Di jendela lantai dua losmen Malate
Yang menampilkan langit sore
Tapi urung melakukan pemesanan
Sebelum terlambat, ia menunjuk
Jarak terdekat dari kenangan
Tempat nama seorang perempuan
Tersemat serupa korsase di dadanya
Atau ornamen serupa embun
Yang dulu perlahan jatuh diam-diam
Dari kedua sudut matanya
(2025)
–
NOSTALGIA DALAM BEBERAPA DATA
Jogja yang menenung pelupuk
Dan asam lambung
Tengah lembur menyiram cahaya
Pada rangka beton hotel anyar
Dalam semangat buruh berupah rendah.
Jam menunjuk setengah empat.
Sederet lapak membongkar tratag
Di trotoar cupet juga rusak.
Nama seorang perempuan dalam kenangan
Luruh di jalan lurus menuju Tugu.
Cinta kemarin yang dikira akan sampai.
Kisah yang menolak selesai;
Gemetar memotret metafora penyair itu:
“Rindu, pulang, dan angkringan”
Yang agaknya meleset dari pojok keraton itu
Yang bergelimang sampah dan gundah.
(2025)
–
SAJAK UNTUK SEMUA ORANG YANG MENGERTI
Pada sampul biru tua buku cetak ulang itu,
Langit menitipkan gemuruh guntur.
Suara serupa kutuk di lubuk pulau Buru.
Sejarah bersimbah malaria jadi hantu,
Ia yang mati dalam warna kirmizi itu
Dirajam bara batu rezim orde baru.
Di balik sampul biru tua buku cetak ulang itu,
Satu abad meruyak lembap dari ampul
Kedaluarsa di bilik narkose yang suwung.
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA

Puisi Epigram Pisces Setelah Astrologi ini menarik karena ia tidak buru-buru menjelaskan dirinya. Ia membuka dengan sesuatu yang tampak personal: “Engkau menemukanku sebagai seekor ikan.” Tapi ikan ini bukan sekadar binatang air, ia adalah Pisces—lambang zodiak, makhluk simbolik yang berenang dalam kolam takdir dan mitos. Dari sana, penyair seperti menyelam ke wilayah tafsir, dari permukaan astrologi menuju kedalaman eksistensi.
Ada peralihan pelan-pelan dari yang personal ke yang universal. Awalnya, pembicaraan ini bisa kita kira semacam dialog batin antara dua pribadi, bisa antara dua kekasih, atau mungkin antara aku dan sesuatu yang lebih besar—entah semesta, entah nasib. Tapi makin ke dalam, makin terasa bahwa yang dibicarakan bukan hanya tentang satu individu Pisces. Ini tentang semua manusia yang bertanya-tanya: apakah hidup ini sudah ditulis? Apakah yang kita sebut takdir itu bisa ditawar?
Bahasanya padat, tidak terlalu riuh, tapi tiap larik menyimpan bara. “Geletar sirip duga,” misalnya—itu bukan hanya permainan bunyi, tapi juga metafor tentang kegelisahan kita saat mencoba memahami isyarat-isyarat hidup. Lalu “degup-degap jaga”—itu ketegangan antara tidur dan sadar, antara mimpi dan kenyataan, antara yang kita harapkan dan yang kita dapat.
Di bait terakhir, pertanyaan tentang bayangan saat cahaya mati adalah inti dari keseluruhan puisi. Ia menohok: setelah semua harapan, ramalan, dan tafsir, apa yang tersisa saat semua terang padam? Di sinilah puisi ini jadi universal. Ia bukan cuma curhat seorang Pisces, tapi menjadi renungan semua orang tentang gelap, tentang kehilangan arah, dan tentang ketidakpastian sebagai rumah manusia.
Kita diajak menghadap langit, tapi bukan untuk berharap. Justru untuk menyadari bahwa kadang Tuhan pun diam, bahkan mencibir. Dan dari sana, puisi ini menemukan daya: dalam gumam, dalam duga, dalam “segumpal ingin” yang tak pernah benar-benar habis.