Eksistensi bersifat opsional

Naskah yang Dibaca Ulang dan Puisi Lainnya

Sofia Mahdi

2 min read

Pohon Beringin

Wahai tanah air,
aku melihat engkau berdiri—
seperti beringin tua
di tengah alun-alun sunyi.

Akar-akar leluhurmu merambat,
memeluk bumi dengan erat,
dari ujung pulau ke ujung pulau,
menahan hujan, menahan badai,
agar tanah ini tak pernah hanyut
dari pangkuanmu yang perih.

Di bawah naunganmu yang teduh,
pernah berdiri para pemuda,
mengangkat sumpah yang membara,
membakar tekad di dada mereka—
seperti api yang tak pernah padam.

Mereka menanam darah,
menyiram tanahmu dengan pengorbanan,
agar anak cucu dapat berteduh
di bawah daunmu yang hijau dan penuh janji.

Kini usiamu delapan puluh tahun,
merdeka dan tetap kokoh.
Meski angin membawa kabar getir,
kau menaungi kami dengan sabar dan diam,
mendengarkan langkah yang pulang,
dan tangis yang mencari rumah.

Beringinku,
aku bangga memanggilmu tanah airku,
dan kuharap,
ketika daunmu luruh satu per satu,
tunas baru akan tumbuh di pucuknya—
agar teduhmu abadi
bagi mereka yang akan lahir setelah kita.

Lemari Kaca

Setiap Agustus,
lemari dibuka.
Bendera diangkat,
diberi angin dan mata.

Sore itu juga
ia dilipat kembali,
disimpan,
dilupakan.

Mungkin inilah arti kemerdekaan kita:
bernapas sehari,
lalu kembali diam,
di balik kaca.

Naskah yang Dibaca Ulang

bendera perlahan naik
di tiang yang sama—
setia seperti tiap tahun yang berlalu.
angin lembut membetulkan lipatannya—
seperti ibu yang menyempurnakan
kerah baju anaknya,
sebelum langkah kecil itu
menapak ke sekolah.

di bawahnya, orang-orang berdiri tegak,
wajah mereka memantulkan cahaya pagi
dan gema kata-kata lama
yang dibacakan dengan suara khidmat—
kata-kata tak berubah
sejak pertama kali lahir
di rumah sederhana puluhan tahun lalu.
kata-kata milik semua,
namun tiap tahun terasa kian jauh
dari mulut yang mengucapkannya.

anak-anak memanjat tiang licin,
mengejar hadiah yang mungkin lenyap sebelum malam.
tawa dan teriakan mereka melayang riang,
tak menyadari di balik riuh lapangan itu,
tangan-tangan tanpa lelah menggambar ulang garis peta tanah,
layar-layar dingin membeku dengan rekening tak tersentuh,
nama-nama terhapus dari daftar,
karena punya terlalu banyak pintu untuk bicara.

di bawah bendera itu, ibu-ibu tarik tambang,
seakan menarik nasib agar bergeser sedikit,
bapak-bapak lomba balap karung,
melompati rintangan yang tak pernah benar-benar hilang.

sorak-sorai menutupi denting kunci
yang memutar gembok baru di pagar tanah
yang kemarin masih milik orang lain.

sore datang, bendera turun,
lipatannya rapi seperti arsip rahasia negara
yang tersimpan di laci berkunci.

orang-orang bubar dengan sisa senyum
dan kantong plastik hadiah.

malam tiba membawa berita—
peraturan baru lahir,
pajak naik,
izin diperketat,
lubang-lubang jalan tetap menganga,
kursi kekuasaan bertukar tangan
tanpa bergeser sejengkal pun.

esok pagi, kemerdekaan kembali menjadi benda
yang dilipat dan disimpan di lemari besi—
kuncinya tetap di saku yang sama.

di luar lemari itu, orang-orang kembali bekerja,
berdagang, bertahan hidup,
menghindari tatapan kamera yang mengingat terlalu banyak,
menutup mulut di meja makan
agar tak terdengar oleh telinga yang tak terlihat.

dan kita tahu,
kita akan kembali ke lapangan yang sama tahun depan,
membaca ulang naskah yang sama,
memberi hormat pada bendera yang sama,
dan pura-pura lupa
bahwa setelah bendera turun,
semua yang dibacakan kembali masuk ke laci
yang tak pernah terbuka untuk kita.

Indonesia, dalam Mimpi yang Belum Selesai

hari ini,
Indonesia meniup ulang tahun ke-80
dari lubang kecil di antara dua gunung tidur—
napasnya masih menggantung debu-debu
dari bendera yang terlalu sering dikibarkan
tanpa sempat dikeringkan.

kami berjalan di atas punggung
jalan raya yang retak,
menyusun kalimat dari kerikil,
membaca puisi dari iklan pinjaman
yang menempel di tiang listrik.

di langit, seekor naga merah putih
menggulung dirinya jadi pita,
lalu melilit pohon beringin,
sementara seekor capung berseragam sekolah
menari-nari di atas genangan yang tak sempat di aspal.

Indonesia,
kadang kami menyayangimu
dengan cara yang kau tak mengerti—
seperti anak kecil yang memeluk ibunya
tapi lupa menanggalkan lumpur dari bajunya.

kadang kami merayakanmu
seperti orang kehilangan alamat,
berteriak di depan gapura
sambil menunggu pintu terbuka entah oleh siapa.

hari ini,
kami tidak meminta keajaiban:
hanya agar roti tidak mengeras
sebelum sampai ke mulut,
hanya agar suara-suara kecil
tidak ditutup dengan istilah-istila megah.
hanya agar Indonesia,
jika kau memang masih bangun,
berjalanlah perlahan—
karena banyak dari kami
masih duduk di tepi jalan,
mengobati kaki yang disandung mimpi.

17 Agustus 1945

Telah dijahit merah—putih
dengan benang resah dan nyala,
di beranda pagi yang tak bersuara
kibar sunyi pun jadi merdeka.

Langkah-langkah tiada gamang,
meski bayang peluru masih bergayut
di ujung palang dan pohon randu—
dini hari pun jadi saksi.

Sesiapa menggenggam nadi tanah
akan tahu:
tiap huruf proklamasi
telah ditulis dengan luka yang jernih.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Sofia Mahdi
Sofia Mahdi Eksistensi bersifat opsional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email