Tulisan ini berangkat dari keresahan lama yang sebenarnya masih sangat relevan hari ini: kenapa sih agama, filsafat, dan sains sering dianggap seperti tiga kubu yang nggak mungkin akur? Padahal kalau kita telusuri lebih jauh, ketegangan itu bukan bawaan lahir. Ia adalah produk sejarah yang panjang, penuh tarik-menarik otoritas, dan—kalau boleh jujur—penuh drama intelektual. Menariknya, tokoh seperti Pierre Teilhard de Chardin dan Quraish Shihab menunjukkan bahwa dialog yang elegan antara ketiganya bukan hanya mungkin, tetapi justru sangat kaya secara intelektual.
Chardin, lewat The Phenomenon of Man, mencoba menjembatani teori evolusi Darwin yang saat itu tengah “panas-dingin” dengan teologi Kristen. Ia menyatakan bahwa evolusi itu sendiri merupakan ekspresi dari kehendak Ilahi. Jadi, transformasi manusia dari bentuk primitif hingga modern bukanlah sekadar proses alam tanpa arah, melainkan pergerakan kosmos menuju titik kesempurnaan yang disebutnya Omega Point. Ini menunjukkan bahwa bagi Chardin, sains tidak perlu dilihat sebagai lawan agama—keduanya justru bisa saling menguatkan jika dibaca dengan pikiran terbuka.
Baca juga:
Dalam Islam kontemporer, Quraish Shihab juga bersikap serupa. Ketika ditanya pandangan Al-Qur’an tentang evolusi, beliau menjawab dengan santai tapi reflektif: “bisa jadi.” Jawaban ini bukan karena ragu, tetapi karena ia memahami bahwa cara kerja wahyu dan cara kerja sains itu berbeda. Penciptaan manusia memang disebut melalui tahap—dari tanah, lalu ruh—yang membuka ruang pemahaman bahwa proses biologis bisa jadi merupakan bagian dari rencana Tuhan. Lagi pula, pernyataannya bahwa sebelum Adam ada “makhluk” lain di bumi menegaskan bahwa kosmos tidak sesederhana pembacaan literal semata. Jadi, baik Chardin maupun Shihab sebenarnya sedang melakukan praktik filosofis: berpikir dengan akal yang tidak terkurung dogma sekaligus tetap menghormati wahyu.
Masalah mulai muncul ketika orang merasa bahwa mempertemukan agama dan sains itu mudah—cukup “cocokologi” ayat suci dengan penemuan laboratorium. Model seperti ini kerap ditemukan dalam karya-karya populer, seperti narasi-narasi “Qur’an telah membuktikan sains modern”. Di satu sisi, ini tampak meyakinkan; namun di sisi lain, justru riskan. Sains berubah setiap saat, dan jika makna ayat disandarkan pada penelitian yang besok bisa kadaluwarsa, maka posisi agama justru jadi rentan. Di sini kita melihat dominasi epistemologis sains: seolah agama hanya bisa “ikut-ikut” data empiris.
Untuk memahami pertentangan ini, kita perlu mundur jauh ke belakang, ke masa ketika pengetahuan manusia masih menyatu. Pada era pra-Yunani, kegiatan berpikir itu masih spiritual: bios-theoretikos—“menengadah sambil berdoa.” Kata theoria yang sekarang kita kenal sebagai “teori ilmiah” dulunya berarti kontemplasi suci. Namun datanglah para filsuf alam seperti Thales, Heraclitus, Parmenides, dan Democritus. Mereka mulai memaknai alam secara rasional, bukan mitologis. Dari sinilah theoretikos kehilangan dimensi religiusnya. Nietzsche pun menggambarkan para filsuf pra-Sokrates ini sebagai pemikir “ateis” dalam arti mereka meletakkan dasar pengetahuan bukan pada dewa, tetapi pada alam.
Pemisahan antara bios dan theoretikos inilah yang kemudian membentuk cara berpikir dikotomis dalam tradisi Barat: iman versus akal, ruh versus materi, teologi versus sains. Pertentangan itu memuncak di abad pertengahan, ketika Gereja menjadi institusi superkuat pasca-kanonisasi Benediktus. Mahkamah Inkuisisi menghukum siapa saja yang dianggap mengancam ajaran.
Kita mengenal kasus tragis Hypatia yang dibunuh massa, Giordano Bruno yang dibakar hidup-hidup, Galileo yang dihukum karena heliosentrisme, hingga Descartes yang harus “kabur” agar bisa berpikir tenang. Perempuan pun tak luput dari represi melalui mitos penyihir—terutama karena tafsir misoginis atas kisah Hawa. Dari sini kita bisa melihat bagaimana otoritas agama, ketika tak dikontrol, dapat menghambat tumbuhnya sains maupun keadilan sosial.
Baca juga:
Situasi represif tersebut akhirnya memunculkan gelombang pemikiran humanisme yang mempertanyakan legitimasi gereja. Para pemikir bertanya: jika gereja menindas atas nama Tuhan, apakah Tuhan benar-benar memberikan mandat itu? Atau jangan-jangan nama Tuhan hanya dicatut? Ketika pertanyaan itu terus digali, sebagian intelektual kemudian mengambil kesimpulan radikal: mungkin Tuhan tidak ada. Pemikiran semacam ini menjadi landasan munculnya Renaissance dan Pencerahan Eropa, yang menggeser orientasi teosentris menjadi antroposentris. Nietzsche lalu mengumumkan, “Tuhan telah mati”—bukan pernyataan teologis, tetapi diagnosis sosiologis tentang hilangnya otoritas religius dalam kehidupan publik Eropa.
Pada fase berikutnya, sains tumbuh pesat dan semakin menjauh dari filsafat. Puncaknya adalah Revolusi Industri abad ke-19. Sains modern tidak lagi menjadi bagian dari tradisi kontemplatif, melainkan mesin produksi pengetahuan yang powerful. Namun, seperti pepatah “dengan kekuatan besar datang tanggung jawab besar”—sains justru sering disalahgunakan. Kolonialisme, imperialisme, eksploitasi bumi, hingga lahirnya teknologi perang seperti bom atom, semuanya adalah anak kandung modernitas. Mazhab Frankfurt menyebut kondisi ini sebagai “rasionalitas instrumental”—akal yang dipakai untuk menguasai, bukan memahami. Ulrich Beck menyebut masyarakat modern sebagai “masyarakat risiko”: semakin maju, semakin berbahaya.
Lalu muncul pertanyaan besar: apakah filsafat bisa menjadi penyeimbang? Ternyata tidak sederhana. Filsafat memang mengajarkan berpikir kritis, tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak aliran filsafat justru menjadi legitimasi kekerasan dan eksploitasi. Darwinisme sosial menguatkan rasisme, kapitalisme membuat kesenjangan ekonomi, anarkisme dan sosialisme ekstrem melahirkan kekacauan politik. Dengan kata lain, filsafat itu seperti pisau: bisa dipakai memasak, tapi juga bisa melukai.
Pada titik ini, agama tetap muncul sebagai sumber nilai yang paling stabil. Jean-Paul Sartre, tokoh eksistensialisme ateistik yang sangat menjunjung kebebasan, justru mengakui bahwa tanpa Tuhan manusia tidak punya fondasi moral apa pun. “Jika Tuhan tidak ada, manusia bebas sebebas-bebasnya. Tetapi kebebasan total itu memuakkan.” Ini adalah pengakuan jujur dari seorang ateis eksistensialis bahwa moralitas yang murni dibangun manusia sering rapuh dan kontradiktif. Di sinilah agama menjadi penting: ia bukan sekadar kumpulan dogma, tetapi kompas moral yang menyediakan arah, bukan hanya data.
Betul bahwa agama juga punya sejarah kekerasan. Tetapi dunia tanpa agama bisa jauh lebih babak belur—karena manusia kehilangan tujuan. Sains bisa menjelaskan bagaimana bintang bergerak, tetapi tidak bisa menjelaskan apa makna hidup. Filsafat bisa mempertanyakan segalanya, tetapi tidak selalu menawarkan akhir yang pasti. Hanya agama yang memberikan horizon makna, orientasi etik, serta narasi tentang tujuan keberadaan.
Pertentangan antara agama, filsafat, dan sains sebenarnya merupakan warisan Eropa dari masa pencerahan. Dunia Islam sendiri dulu tidak mengenal pemisahan itu. “Ulama” pada masa keemasan bukan hanya ahli hukum, tapi juga ahli astronomi, kedokteran, filsafat, matematika, hingga musik. Baru setelah keruntuhan Turki Utsmani tahun 1924, istilah ulama menyempit hanya pada ahli agama tekstual. Di sinilah umat Islam mulai terjebak dalam dikotomi yang diciptakan Barat.
Pada akhirnya, mendamaikan agama, filsafat, dan sains bukan berarti menyatukan semuanya dalam satu bahasa atau metode. Yang diperlukan adalah dialog epistemologis yang saling menghargai. Agama memberi nilai, filsafat memberi nalar, sains memberi data. Masing-masing punya kelebihan, masing-masing punya keterbatasan. Ketiganya tidak perlu bersaing, cukup bekerja sama seperti tim yang saling melengkapi.
Dengan cara seperti ini, kita bisa keluar dari warisan konflik abad-abad sebelumnya dan membangun pemahaman baru yang lebih sehat. Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang butuh penjelasan, tetapi juga butuh makna. Dan ketiga tradisi ini—agama, filsafat, dan sains—sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama: upaya memahami siapa kita dan bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini. (*)
Editor: Kukuh Basuki
