Panah Tak Sampai
ada yang berbicara tanah
sambil merakit panah
hendak membunuh langit
sengit sekali,
hingga sanak saudaranya
mengernyitkan alis
tak sedikit mencoba menakar
seberapa besar kemungkinan
meski sebiji jagung-pun
nampaknya tak sampai.
langit yang jauh
menyunggingkan senyuman
tak tersentuh sebutir pun rasa khawatir.
hitamnya dendam takkan mengusiknya,
tajamnya panah takkan mengoyaknya.
si pembuat panah terus bekerja
mengasah tiap ujungnya dengan amarah
basah oleh racun mematikan
mengencangkan busur dengan benang-benang luka
dari serat neraka
menggenapkan segala upaya
hingga ia binasa.
–
Gerbang yang Menyusut
di depan pintu surga yang terbuka,
aku berdiri, menatap.
seorang peziarah lupa arah.
terperangkap cermin dunia,
di mana pencapaian adalah raja,
dan ego menjelma penjaga.
banyak jejak kupijak:
harta berkilau, takhta memukau.
tetap saja, hati digelayuti bayang-bayang mengekang.
buta melihat cahaya,
terperdaya bingkai kepongahan.
di depan pintu itu,
aku membengkak dalam congkak
sosokku membesar seperti unta raksasa
kesulitan mencari pintu yang kini menyusut
—mengerut seukuran lubang jarum
sekarat langkah penuh berat
menghadapi kiamatku sendiri.
aku mencoba berlari, mencari,
tanpa menemukan apapun.
hingga nalarku tiba pada sadar:
bahwa hanya dengan melepas
segala yang kupanggungkan,
aku mampu turut menyusut,
dengan hati lapang,
menuju pulih.
–
Biodata Kebencian
benci adalah kobar api
melahap hati yang segumpal
tersengal pandang oleh asap tebal
menghanguskan kebaikan—menguapkan kebenaran;
menyelimutkan sesak pada rongga dada,
mengendap residu emosi dan prasangka.
benci adalah peluru salah sasaran
tak jitu melesat melumat sikap dan sifat
justru cepat meleset, mengincar sosok bernama,
membidik momok, lalu memperolok.
benci adalah virus lupa
betapa tanaman liar di atas lumpur
mampu berbunga teratai elok
daripada satu ilalang bersaripati dengki,
kerap kali terperosok dalam kubangan tinggi hati.
–
Sebuah Pembalasan untuk yang Tersayang
pada kawat gantungan baju
kutunaikan dendam atasmu
kutekuk sudutnya sedemikian rupa
meruncing tajam memanjang—melengkung.
kuputar ia dengan cermat, tepat, namun perlahan
mengitari ruang ovarium berisikan Larry kecil
berusia dua puluh satu minggu.
nyeri yang merajam teredam ingatan kelam,
memberi sensasi puas atas balas yang separuh tuntas,
nyaris sebanding dengan lebam yang dulu bengkak menghitam,
menyimpan nanah yang semakin busuk memenuhi sukma
tersisa demi tunainya angkara murka.
napasku terengah menjemput damai,
tubuhku berendam merahnya darah,
yang sengaja kukucurkan dari bilik wanitaku
yang dahulu gemar kau kunjungi tiap temu.
pada malam bersejarah ini aku terkapar,
selepas memberi makan kebencianku yang lapar
dengan hidangan besar pengguguran mandiri.
putra kecilmu telah membayar sebagian dendamku,
selanjutnya, akan menjadi giliranmu—sayang.
–
Merasa Beriman
ia memuja jelaga yang bermandikan cahaya,
tak berniat bertanya perihal nama
yang dilabeli sakral—
kental dengan kesan murni,
pantang disangkal.
tunduklah ia pada titah yang mengklaim fitrah,
meski datangnya dari lorong gelap.
sebab mata dipejam dengan rela,
nalar diselipkan ke bawah meja.
merasa telah beriman, ia.
dengan tekun, jalan lurus disusurinya:
kepala merunduk,
mulut bungkam,
nurani ditekuk.
selalu setuju pada segala yang diserukan,
sebab patuh adalah takaran.
ia tak mengenal tanya—
takut dikutuk,
atau diketik tebal
dalam daftar para pendosa
yang tak layak hadir
di shaf sunyi
para penggaung takbir.
*****
Editor: Moch Aldy MA

Puisinya keren, semoga nnti kamu jadi penulis hebat. Aamiin…