Tak kusangka, langit masih gelap saat pagi. Kabut juga masih menutupi kota. Maka istriku—yang membutuhkan 240× genggaman listrik—kutaruh kembali ke atas ranjang.
Sialan, istriku tersenyum pahit. Kecewa karena kematiannya harus ditunda sebegitu lama. Sudah beberapa hari ini ia merengut, kadang mengutuk malaikat yang sembarangan mengambil nyawanya. Ia bilang: seharusnya kematian tidak usah dibuat lelucon. Namun malaikat tak mungkin mendengar ucapannya yang diam.
Maka, untuk meredakan kemarahannya yang menempel pada tubuhku, aku mengambil pensil. Menyerutnya. Lalu menusuk-nusukkannya ke badan istriku. Ia ketawa. Katanya, itu geli. Aku menduga, walaupun ia sudah mati, ia masih merasakan dirinya sebagai manusia hidup. Itu hebat sekali. Darah pun mengucur deras dari bekas tusukan-tusukan itu.
“Bagaimana dengan televisi, aku lelah, nih,” kataku sambil memindahkan ke saluran favoritnya.
“Aku kejam, toh?” Ia bangkit berdiri, lalu duduk di pojokan.
“Tidak, sayangku. Kau baik.” Aku mengusap-usap rambutnya yang pendek.
“Kalau saja tahun depan aku mati, mungkin ini semua tidak terjadi!”
“Iya, sayangku, iya.”
Aku menyalakan AC dan membiarkan udaranya masuk ke kamar. Seketika, udara berubah jadi 0° Celsius. Membuatku kedinginan dan istriku melayang-layang dekat ventilasi.
Aku bertepuk tangan waktu istriku menyambar diriku dengan kristal tajam. Itu lelucon favoritku sejak dulu. Rupanya ia telah membaca buku biografi yang kusebarkan di internet. Terutama saat kulihat hanya satu orang saja yang membacanya…
“Ganti, ganti!” seruku, sambil lari keliling kamar.
“Kamu suka neraka, ya?”
“Aku suka kamu. Bukan surga!”
“Kalau begitu…” Dengan tangannya, ia menyihir tempat ini jadi semangkuk sup.
Mendadak aku berubah jadi sayur kol, yang ia makan dengan lahap. Lantas aku terjun ke ususnya setelah lambungnya memusnahkanku.
Kini ia tampak seperti seorang bocah yang dulu kukenal sering menolong neneknya makan teknologi.
Aku hilang untuk sesaat. Terbang. Nyawaku asyik menyaksikan ia bermain lompat tali.
***
Matahari sudah membakar leherku ketika aku terbangun di pinggir jendela. Istriku masih mati. Belum bisa makan sejak hari membusuk jantungnya.
Ia kesal kepadaku sebab matahari sudah hilang lagi, menyebabkan pemakaman tertunda lebih lama lagi. Aku menenangkannya dengan sebatang rokok. Tapi ia menolak. Mulutnya sudah ia tutup beberapa hari ke depan.
“Aku tahu surga menunggumu, sayangku. Tapi jangan buru-buru. Biar aku memelukmu sampai maut menjemputku juga. Hmm… bagaimana kalau hari ini kita bermain seperti hari kemarin?”
“Maksudmu seks?” Ia mengepalkan tinju erat-erat, hendak menghajarku.
“Astaga, kau lupa peristiwa kemarin?”
“Bodoh, peristiwa apa? Yang ada adalah kau tertidur semalaman setelah menciumku sampai puas.”
Aku menggaruk-garuk kepalaku. Heran. Mungkin aku bermimpi tentang hal itu. Kulihat langit-langit. Kipas masih berputar, menerpa wajahku yang rapuh. Menerpa rok yang kupakai jatuh ke celana dalamnya.
“Berhenti!” katanya, saat aku mau menggendongnya ke kuburan.
“Kenapa?”
“Kau belum membelikanku baju tidur. Tuhan tidak suka orang yang tidak berpakaian rapi. Juga bunga dan nisan.”
Aku menepuk jidatku. Aku lupa. Maka, secepat kilat, aku ke pasar untuk membelinya. Aku pulang dengan truk yang membawa barang entah milik siapa.
“Sayang, matahari sudah menggosongkan aku lagi!”
“Mana barang-barang yang kau janjikan untukku?” Ia memakai konde, membuatnya tampak seperti bangsawan.
“Nih aku bawa. Empat kresek sekaligus. Aku juga membeli snack untuk kau makan nanti di alam baka.”
“Bagus, aku sudah berada di peti mati sekarang. Masukkan bunga-bunga itu, dan barang-barang lainnya. Masukkan juga Crime and Punishment, aku mau kutuk Dostoevsky sepanjang arak-arakanku.”
“Bedebah!” teriakku waktu para ular menghalangiku jalan.
Terpaksa aku harus berperang melawan mereka untuk mencapai peti mati. Dalam waktu dua hari dua malam, aku berhasil memangkas mereka, sehingga yang kuhadapi sekarang hanya raja terakhir. Tampaknya ia lebih tolol daripada yang kuduga.
Dengan jurus skizofrenia, kumatikan ia. Dan mayatnya kujadikan sate kambing. Sekarang sudah saatnya membawa pergi peti istriku. Karena hanya hari ini saja tak ada halangan.
Tapi aku heran, betapa ringannya beban yang kubawa. Beberapa kali aku sempat berhenti untuk berpikir dan menimbang-nimbang dalam otakku, berapa berat istriku. Karena penasaran dan seminggu tanpa jawaban, aku membuka petinya untuk memastikan. Sialan, tak ada orang di dalamnya!
Kesal. Aku menendang batu besar. Menyebabkan kakiku terbelah. Berdarah.
Sialan, bagaimana itu bisa terjadi!
Dengan geram, kutelepon istriku. Istriku—di rumah—mengangkatnya.
“Di mana saja, sayangku…” kataku lembut. Karena kehadirannya, aku tenang kembali.
“Aku menunggumu, sayang. Kau ke mana saja? Pemakaman sudah lelah menunggumu!”
Aku terbahak-bahak. Lalu duduk di peti mati. Adalah tidak mungkin hal itu bisa terjadi! Tidak ada Gusti!
Setelah merasa lelah seharian menatap aspal, aku pulang. Di meja makan, istriku sudah menunggu dengan telur rebus. Aku pun mengecup keningnya sebelum makan. Kemudian aku pergi ke kamar mandi.
Merenung.
***
Habis berdebat dengan istriku. Aku menangis. Semua orang menangis. Rumah ini dibanjiri air mata tak terjangkau. Sebab pemakaman akan berlangsung lama.
“Ada sesuatu yang tak beres dengan nisannya,” kata tetanggaku, “maka harus dilaksanakan pemeriksaan panjang terlebih dahulu.”
Sambil makan soto, aku melihat istriku ngomel-ngomel ke petugas karena mereka sudah membuat prosedurnya lambat.
“Biadab! Anda pikir saya kesendirian? Manusia terlahir sebagai bayi, sialan!”
Istriku menonjok muka orang-orang yang menahannya. Mereka tak bisa menghalau kekuatan sebesar istriku, jadi mereka biarkan istriku mengutuk petugas jadi arwah gentayangan.
Akhirnya semuanya beres. Setelah menandatangani surat-surat yang ada, peti istriku dimasukkan ke dalam lubang setinggi 1 cm.
“Siapa yang menggali kuburan ini?” tanya istriku, geram.
“Bukan saya, Nyonya. Tapi suami Anda.”
Aku berhak menyalahkan orang itu karena dia telah menuduhku sedemikian gampang. Kuseret dia ke pengadilan dan membiarkan hakim bicara.
Hakim mengetuk palunya dan tak bicara apa pun, lalu pergi meninggalkan semua orang dengan santai. Saat kutanya kenapa ia bertindak tidak adil hari ini, ia mengatakan bahwa ini bukan urusannya lagi.
“…Apakah kau tak baca berita hari ini, bahwa aku memiliki trauma atas kematian?!”
Terkutuklah dunia!
Aku dihakimi massa dan diikat di sebatang pohon jambe. Mereka memaksa diriku mengaku atas semua perbuatanku: mengapa aku selalu menunda-nunda pemakaman istriku…
“Ngomong apa kalian ini?!”
Aku tak takut mereka membawa obor dan garpu. Aku justru semakin menantang mereka. Saat ada orang yang mendekatiku, orang itu kutendang ke langit malam.
“Jangan basa-basi lagi. Anda sebenarnya masih rindu istri Anda, kan?”
“Kalau ya, lantas kenapa?!”
“Anda sudah seharusnya masuk rumah sakit jiwa hari ini juga. Tidak seperti biasanya, Anda tidak waras…”
Suara jangkrik, gagak, dan kodok bercampur aduk tepat saat mereka bicara terus.
“Kalian semua yang tidak waras! Dari mana kalian tahu saya waras atau tidak?!”
“Istri Anda yang merekomendasikannya. Apakah Anda lupa?”
Mereka menunjukkan surat berisi pernyataan yang ditandatangani istriku saat masih hidup. Air mataku tak bisa kubendung. Menetes ke tanah. Aku agak lelah.
“Ta… ta… pi orang waras mana yang membuat aku tak bisa bersama istriku selamanyaaaa!” Suaraku terputus-putus karena tangisan.
“Sejak Anda nekrofilia. Sejak Anda terobsesi pada kematian. Padahal, Andalah yang sudah mati.”
Karena aku sudah tak kuat menahan siksaan lagi, kemudian mereka membuang diriku ke lubang yang cocok untuk tubuhku. Di atasnya, istriku sedang menangisi diriku, air matanya menetes-netes ke kafan.
“Jadi inilah yang kau tunggu, sayang!” Ia menjerit, lalu pingsan.
Setelah itu aku hanya bisa tersenyum. Membiarkan lubang berisi tubuhku diisi tanah kembali. Dimakamkan secara Islam.
Dengan tenang, kuucapkan: “Ya Allah, aku bukan ateis, kok.”
Selamat tinggal.
*****
Editor: Moch Aldy MA
