Manusia tidak lagi hidup di sebuah tempat yang tenang, melainkan ingar-bingar panggung dan kursi penonton. Kehidupan menjadi ruang ekspresif tanpa sekat, memaksa manusia untuk tampil sempurna dengan segala hal yang prestisius. Beberapa orang menjadi aktor, beberapa yang lain—mungkin bisa, namun—hanya menjadi sekadar ladang atensi, untuk membuat segelintir orang merasa senang.
Ruang digital memberi banyak pilihan melalui beragam penyajian. Semuanya dilukis tanpa cela, membuat kita berandai: seandainya dan seandainya. Dan terlalu banyak pilihan, sejatinya membuat otak cepat kehabisan bahan bakar. Kita mengambang di antara puing-puing tak bermakna. Sesuatu yang membuat kagum, namun juga menyisakan iri. Menariknya, banyak orang selalu penasaran, selalu ingin mencari informasi baru yang tak ia butuhkan. Apakah ada yang salah dari cara kita bermedia sosial? Apakah akan lebih baik ketika meletakkan ponsel sejenak, dan hidup di dunia yang kita pijak, cium, dan raba?
“Mungkin kebahagian adalah ini: tidak merasa Anda harus berada di suatu tempat lain, melakukan sesuatu yang lain, atau menjadi orang lain,” bunyi salah satu petikan kalimat dari buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner. Mirisnya, konten-konten media sosial sering membuat seolah-olah harus seperti itu. Perhatian dan emosi kita berubah setiap detik. Kemampuan untuk hadir perlahan mati, larut bersama mata dan jemari yang menempel di layar ponsel.
Baca juga:
Kita tidak lagi tertarik dengan sesuatu yang lambat, pada hal-hal yang membosankan. Media sosial—di taraf tertentu—membuat kita kehilangan sensitivitas. Menjauhkan setiap tubuh di meja makan dan yang lebih buruk adalah menjauhkan kita dari hal-hal yang menentramkan. Seperti halnya membaca buku, atau sekadar melihat pemandangan dan hadir secara utuh di kursi kereta.
Mengutip dari Eric yang meminjam kata-kata Bertrand Russell, “Sebuah generasi yang tidak tahan dengan kebosanan akan menjadi generasi yang kerdil, manusia yang dipisahkan secara tak wajar dari proses alam yang lambat.”
Dengan kata lain, media sosial—untuk sebagian besar orang—menjadi candu. Bukan hanya membuat kita terlena oleh ilusi yang ia ciptakan, melainkan juga resistan terhadap kesunyian, rasa tenang, dan tulisan yang sedikit panjang. Kita dibuat tak berdaya ketika jauh dari ponsel, takut ketinggalan, dan menjadi semacam kerang: berlumut lalu mati. Tapi yang sebenarnya terjadi pada kerang adalah mereka menikmati setiap hantaman ombak, mendekap waktu yang berjalan perlahan membantunya mencipta mutiara.
Kerang berusaha menjauh dari rangsangan eksternal, kemudian membekukannya. Begitupun manusia, melalui sebuah mekanisme ilmiah yang dikenal sebagai Default Mode Network (DMN) pada otak. Secara singkat, ada bagian-bagian otak tertentu yang saling terhubung dan berfungsi ketika seseorang tidak berfokus kepada rangsangan eksternal. Tidak melakukan apa-apa untuk sementara.
Baca juga:
Ketika otak terlalu banyak mendapat informasi, maka ia akan memberi tugas berlebih ke sistem saraf. Sistem saraf simpatik, yang berfungsi untuk mengatasi stres akan selalu aktif karena terus-menerus terpapar “pemicu stres”—konten media sosial. Hal ini menciptakan masalah baru yang disebut oleh ilmuwan sebagai “kelebihan beban alostatik”, terjadi ketika sistem saraf kewalahan, membuat seseorang berada di puncak gairah emosional—senang, sedih, haru, marah—tiada henti, dan meningkatkan resiko kecemasan.
Kita perlu menjadi bosan, seperti orang Swiss. Dari pengamatan Eric selama berada di sekitar Pegunungan Alpen, ia menyimpulkan bahwa orang Swiss membosankan—dan merangkul kebosanan. Mereka tidak menyukai sesuatu yang superlatif, namun c’est pas mal, lumayan. Berada di antara puncak dan dasar.
Orang Swiss mungkin tahu, bahwa sedikit kebosanan cukup membantu untuk menjadi damai. Membiarkan sistem saraf istirahat sejenak, dan memberi ruang pada otak untuk berkelana. Memang, DMN juga membantu dalam proses kreatif. Misalnya, kita kerap kali mendapat ide cemerlang ketika sedang dalam keadaan rileks: melamun, mandi, atau berjalan-jalan tanpa memikirkan apapun.
Menjadi bosan kerap disepelekan. Padahal, menjadi bosan berarti hadir secara utuh sebagai manusia. Kita hidup untuk menunggu, namun banyak orang yang tidak sabar. Mau berjalan paling depan, terlihat di setiap tempat—seperti meninggalkan banyak jejak di postingan Instagram.
Media sosial diciptakan supaya manusia saling terhubung satu sama lain, antar bangsa-antar negara. Ironinya, ia berubah dan membuat sesuatu yang dekat terasa jauh, dan yang terasa dekat tetap jauh. Kita “perlu” untuk terhubung, bukan senantiasa terhubung tanpa jeda.
Menjadi bosan, berarti menemukan peti harta karun. Ia berkilau di pojok ruangan yang gelap, dan hanya segelintir orang yang mendapatkannya. Mereka adalah orang-orang yang—terkadang—berjalan lambat dan melihat ke sekitar. Bukan pasti bahagia, namun ada kepuasan batin ketika duduk di meja makan, melihat paha ayam dengan pandangan yang jelas, lalu menimpali seseorang di seberang meja melalui senyum tulus dan mata yang penuh perhatian—yang benar-benar hadir.
Pada akhirnya, manusia butuh ruang untuk jeda. Kita perlu menepikan ponsel sejenak, dan belajar untuk menemukan potongan kehidupan yang sesungguhnya. Karena kehidupan yang benar-benar hidup ialah tidak dimanipulasi, tanpa efek visual, dan narasi berlebihan. Tak melulu harus berada di depan panggung, karena kita hidup di dunia yang lebih besar. Dunia yang mempunyai laut, hutan, gurun, dan makna yang bertebaran di mana-mana. Kita perlu menyisakan ruang—sedikit saja—untuk kebosanan: piranti yang menjadikan kita menjadi manusia. (*)
Editor: Kukuh Basuki
