Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Mengurai Mitos ala Lévi-Strauss

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf

3 min read

Dalam obrolan sehari-hari, kata mitos acap kali diperlakukan sebagai lawan dari kebenaran. Ia diasosiasikan dengan cerita lama, khayalan, atau kepercayaan yang tak lagi relevan dengan nalar modern. Padahal anggapan itu justru menutup pintu untuk memahami bagaimana manusia memberi makna pada dunia. Claude Lévi-Strauss pernah mengingatkan bahwa mitos bukanlah sisa pikiran primitif yang tertinggal, melainkan cara berpikir yang sangat terstruktur. Mitos bekerja seperti bahasa. Ia memiliki tata aturan, relasi, dan logika internal yang tidak kalah rapi dibandingkan ilmu pengetahuan modern.

Lévi-Strauss memulai kritiknya terhadap cara lama membaca mitos. Bagi banyak antropolog awal, mitos dianggap sebagai cerita simbolik yang harus ditafsirkan secara moral atau psikologis. Ia dicari makna tersembunyinya, seolah mitos adalah teka-teki tunggal dengan satu jawaban. Lévi-Strauss membalik pendekatan itu. Baginya, makna mitos tidak terletak pada satu cerita tertentu, tetapi pada relasi antarelemen dalam keseluruhan sistem mitologi. Sebab yang penting bukan siapa tokohnya atau apa pesan moralnya, melainkan bagaimana oposisi-oposisi dasar disusun dan didamaikan.

Baca juga:

Dalam Structural Anthropology (1958) dan Mythologiques (1964–1971), Lévi-Strauss menunjukkan bahwa mitos bekerja dengan oposisi biner: hidup dan mati, alam dan budaya, mentah dan matang, langit dan bumi. Mitos tidak menghapus kontradiksi itu, melainkan mengelolanya. Ia menawarkan jalan tengah sceara simbolik agar manusia bisa hidup berdamai dengan ketegangan yang tak pernah benar-benar selesai. Di titik ini, mitos justru tampak sangat rasional meski bukan rasionalitas ala sains.

Kerangka ini menjadi menarik jika dibawa ke Sulawesi Selatan, wilayah yang kaya tradisi mitologis dan kosmologis. Dalam kebudayaan Bugis-Makassar misalnya, mitos tidak berdiri sebagai dongeng hiburan, melainkan fondasi cara pandang terhadap dunia sosial dan kosmik. Kisah-kisah tentang asal-usul manusia, hubungan langit dan bumi, hingga konsep kepemimpinan, beroperasi sebagai sistem makna yang saling berkaitan.

Ambil contoh mitos tentang Tomanurung, figur yang diyakini turun dari langit untuk menata kekacauan di bumi. Selama ini, Tomanurung kerap dibaca sebagai legitimasi kekuasaan elit tertentu. Namun jika dibaca ala Lévi-Strauss, Tomanurung bukan hanya berupa tokoh historis atau simbol kekuasaan. Ia adalah penanda relasi antara langit dan bumi, antara yang transenden dan yang imanen. Tomanurung hadir untuk menjembatani oposisi kosmik itu, bukan semata-mata untuk mengukuhkan hierarki sosial.

Dalam banyak versi lisan yang masih diteliti hingga kini, Tomanurung tidak memerintah sendirian. Ia hadir bersama perjanjian, kesepakatan, dan aturan adat. Artinya, mitos ini menyimpan logika struktural tentang bagaimana kekuasaan harus ditata bukan kekuasaan absolut, melainkan kekuasaan yang lahir dari relasi.

Pendekatan struktural ini juga membantu kita membaca La Galigo, salah satu epos terpanjang di dunia yang berakar kuat di Sulawesi Selatan. Selama ini La Galigo sering dibahas dari sisi sastra atau sejarah. Namun bila diamati dalam beberapa penelitian yang justru menunjukkan jika La Galigo menyimpan struktur oposisi yang sangat kompleks, antara dunia atas (Botting Langi’), dunia tengah (Ale Kawa), dan dunia bawah (Buri’ Liu). Relasi ketiganya membentuk kosmologi Bugis yang tidak hierarkis secara kaku, melainkan saling membutuhkan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Indonesia and the Malay World memperlihatkan bahwa pembacaan struktural terhadap La Galigo membuka pemahaman baru tentang konsep keseimbangan kosmik dalam budaya Bugis. Dunia atas tidak selalu lebih benar daripada dunia bawah. Keduanya justru saling mendefinisikan. Inilah yang dimaksud Lévi-Strauss sebagai “logika konkret”, yakni cara berpikir yang tidak abstrak tetapi sangat sistematis.

Hal serupa juga terlihat dalam mitos-mitos Makassar tentang laut dan darat. Laut sering diposisikan sebagai ruang ketidakpastian, sementara darat adalah ruang keteraturan. Namun oposisi ini tidak bersifat hitam-putih. Pelaut Bugis-Makassar hidup justru dengan merangkul ketidakpastian laut. Mitos-mitos tentang penjaga laut, arah angin, dan tanda alam berfungsi sebagai mekanisme simbolik untuk menegosiasikan ketegangan antara kontrol dan ketidakpastian.

Sekali lagi, mitos tidak menghilangkan risiko, tetapi membuatnya dapat dipikirkan. Pendekatan Lévi-Strauss membantu kita keluar dari jebakan romantisme budaya. Dengan cara ini, mitos tidak lagi diposisikan lebih rendah dari ilmu modern melainkan sejajar sebagai cara lain memahami dunia.

Data etnografi terbaru yang dihimpun Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan memperlihatkan jikalau banyak komunitas adat masih mengaktifkan mitos dalam praktik sehari-hari. Mitos hadir dalam ritual, musyawarah adat, hingga cara membaca bencana alam. Kendati demikian, mitos itu tidak dijalankan secara dogmatis. Ia terus ditafsir ulang sesuai konteks. Ini sejalan dengan tesis Lévi-Strauss bahwa mitos tidak pernah mati. Ia hanya berpindah bentuk dan medium.

Baca juga:

Argumentasi penting lainnya dari Lévi-Strauss adalah bahwa mitos tidak bisa dipahami secara terisolasi. Satu mitos hanya masuk akal jika dibaca bersama mitos lain. Hal tersebut relevan dengan kondisi Sulawesi Selatan yang memiliki keragaman subkultur. Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar memiliki mitologi masing-masing, tetapi berbagi pola struktural tertentu. Penelitian lintas wilayah yang diterbitkan dalam Journal of Southeast Asian Studies (2024) menunjukkan adanya kesamaan struktur oposisi kosmik di kawasan Sulawesi, meski ekspresinya berbeda. Oleh karenanya, membaca mitos ala Lévi-Strauss Adalah ikhtiar membongkar cara berpikir yang meremehkan mitos sebagai cerita kuno.

Di Sulawesi Selatan, mitos telah lama berfungsi sebagai jembatan antara manusia, alam, dan kekuasaan. Ia mengajarkan cara hidup dalam dunia yang penuh ketegangan tanpa harus menyederhanakannya. Fenomena krisis ekologis dan sosial kontemporer membuat cara berpikir semacam ini justru terasa relevan, sebab mitos tidak menawarkan solusi instan melainkan kerangka berpikir jangka panjang.

Mitos jika dibaca dengan cermat, akan memberi pemahaman kepada kita bahwa masyarakat telah lama memikirkan persoalan kekuasaan, alam, dan identitas dengan cara yang sangat canggih. Di titik itulah mitos tak lagi berdiri sebagai lawan modernitas. Ia menjadi cermin lain untuk memahami diri sendiri dan Lévi-Strauss memberi kunci untuk membuka cermin itu alih-alih memecahkannya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf
Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email