Memaknai Ulang Rumah: Perspektif Emmanuel Levinas

Afri Juang

2 min read

Rumah adalah tempat tinggal yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Namun, seiring berjalannya waktu makna rumah sebagai tempat kediaman mengalami pergeseran yang sangat besar. Banyak orang merasa asing di rumahnya sendiri. Anak-anak malas pulang ke rumah karena menganggap orangtuanya terlalu perotektif, banyak orang lebih senang berada di luar rumah ketimbang berada di dalam rumah. Bagi sebagain orang, rumah bukan lagi menjadi tempat pulang yang dinantikan, tetapi menjadi tempat yang harus dihindari.

Untuk mengembalikan makana rumah yang sesungguhnya, dalam tulisan ini saya akan mengemukakan beberapa pemikiran kunci Emmanuela Levinas tentang rumah (home). Emmanuel Levinas adalah seorang filsuf di abad ke-20 yang sangat berpengaruh. Pemikirannya tertuang dalam salah satu bukunya yang terkenal Totality and Infinity: An Essay on Exteriority.

Baca juga:

Menurut Bollnow, manusia membutuhkan tempat tinggal yang jelas jika ia tidak mau diseret oleh aliran waktu (De Silva, 2010). Rumah memiliki peranan penting sebagai tempat berlindung. Menurut Bollnow “manusia adalah buronan”, sehinggah manusia harus mengakarkan dirinya pada rumah yang menjadi tempat kediamannya. Rumah menjadi tempat kita melepas penat setelah seharian bergulat dengan aktifitas-altifitas masing-masing kita.

Rumah sebagai Representasi 

Emmanuel Levinas berpandangan bahwa rumah menjadi representasi keberadaan kita di luar. Rumah adalah tempat pertama bagi manusia untuk berada di dunia (Setyono, 2023). Keberadaan manusia di rumah menjadi titik pertama sekaligus bekal untuk berada di tengah dunia. Karakter dan kemampuan manusia terbentuk di dalam rumah agar bisa hidup di tengah dunia. Keberadaan seorang manusia sangat ditentukan oleh kondisi dan keadaan yang dialaminya di rumah.

Setiap orang yang nyaman dan betah di rumah, akan bertahan berada dan berkompetisi di tengah dunia. Rumah menjadi dapur yang memberikan tidak hanya kekuatan bagi manusia, tetapi juga kehangatan yang mendorong manusia untuk lekas pulang kembali ke rumah. Rumah tidak hanya dilihat sebagai bangungan fisik yang megah dan indah, tetapi juga tempat untuk kembali dan memebuat refleksi setelah bertemu dengan orang lain (wajah) di dunia.

Emmanuel Levinas menggambarkan kediaman (dwelling) sebagai suatu rekoleksi. Manusia kembali ke dalam dirinya sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan makana keberadaannya. Dengan sendirinya rumah tempat kita berada mestinya adalah tempat yang kondusif untuk membuat refleksi atas hidup di tengah dunia. Rumah tepat kita berdiam adalah tempat untuk mendapatkan jawaban atas semua harapan, cita-cita dan mimpi-mimpi kita.

Levinas juga melihat rumah sebagai tempat mendapatkan kedamaian. Dari sanalah tercipta keramahan yang melahirkan keterbukaan untuk menerima dalam setiap perjumpaan dengan dunia di luar rumahnya. Rumah yang damai adalah sebuah keharusan bagi manusia. Keadaan damai dalam rumah tidak hanya membuat kita betah untuk tinggal lama, tetapi juga membuat kita terbuka untuk berjumpa dengan orang lain di luar rumah.

Keterbukaan: Dari Interioritas menuju Eksterioritas

Keterbukaan untuk berjumpa dengan yang lain ini menghantarkan orang untuk keluar dari interioritas menuju eksterioritas. Di sanalah ada perjumpaan dengan wajah. Perjumpaan dengan wajah yang lain, menghantar manusia untuk bertanggungjawab atas yang lain. Tanggung jawab itu dalam pandangan Levinas adalah tanggung jawab tanpa ada harapan untuk dibalas kembali oleh yang lain itu.

Baca juga:

Dalam pandangan Levinas, ‘Yang Lain’ menampakkan wajahnya dengan keadaan polos, telanjang, menggigil, yang terus memanggil, menuntut kita untuk bertanggung jawab padanya.  Wajah, seolah mengundang kita untuk suatu tindakan kekerasan dan pada saat yang sama, wajah melarang kita untuk membunuh. Wajah adalah panggilan bagi kita untuk menjadi sesama bagi yang lain.

Memaknai ulang rumah di zaman yang semakin terdigitalisasi adalah suatu keharusan. Media sosial membuat seolah tidak ada lagi perbedaan berada di rumah dan di luar rumah. Seringkali orang berada dalam rumah tanpa ada kehangatan hubungan di dalamnya dan pada akhirnya menarik orang untuk keluar dari rumah. Banyak orang tidak merasa tenang berada di rumah dengan berbagai alasan yang terdengar masuk akal. Padahal, rumah harus menjadi tempat pertama dan dasar bagi seorang manusia untuk berada dan berjumpa dengan wakah-wajah yang lain (sesama manusia) di tengah dunia. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Afri Juang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email