Domisili di Sleman, Yogyakarta.

Menghabiskan Teh Dingin

Airlangga Wibisono

6 min read

Hujan di malam hari yang sedikit berangin adalah cuaca yang menemaniku saat menuliskan ini. Catatan yang sebenarnya hanya untuk diriku sendiri, tentang seseorang. Aku menulisnya di luar rumah, tepatnya di kedai teh yang meja-kursinya mulai melapuk dan berjendela besar-besar. Banyak cicak yang merayap di tiang kayunya. Semut-semut hitam berbaris menyesapi cipratan teh manis yang jatuh ke meja. Aku duduk pada meja dan kursi, yang lima tahun lalu, seseorang pernah duduk di sini, menemani diriku yang cemas.

Panggilan perempuan itu Er. Lima tahun lalu, sebelum aku menikahi istriku, Er bisa dikatakan perempuan yang paling dekat denganku, sangat dekat. Er pernah menolakku dan aku selalu gagal menjadikannya pacar. Meski begitu, aku benar-benar bisa memahami ekspresi mukanya, yang menurutku, adalah ekspresi ketertarikan.

Lima tahun lalu, saat duduk di kursi kedai teh ini bersama Er, itu adalah pertemuan kami terlama dari sembilan pertemuan yang pernah kulakukan bersamanya. Aku masih mengingat saat itu: mendung, dingin, dan bel angin yang berbunyi pada jendela-jendela kedai yang besar.

Saat memesan menu, ia tampaknya menerapkan sikap perempuan umumnya saat berkencan: selalu mengikuti menu yang aku pesan atau yang terburuk menjawab dengan kata “terserah”. Pesanan yang ia pesan sama denganku.

Kami saat itu masih menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta. Aku semester lima, Er semester tiga. Aku yang mengajaknya dan, kebetulan, ia bersedia menemani. Jurusan kami berbeda, juga sebenarnya tenggat tugasku masih lama, dan ia saat itu tugas-tugas perkuliahannya malah telah selesai semua.

“Tugasnya segera dikerjakan, Mas.”

“Laptopku sedikit lama sekarang, Er.”

“Mau pakai laptopku, Mas?”

“Kamu bukannya juga ingin nugas?”

Sebelum ia menjawab pertanyaan dariku, pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Bunyi bel angin terdengar bersama angin lembut yang masuk ke kedai. Laptopku akhirnya terbuka normal. Kedai saat itu tidaklah begitu ramai. Jarak kami dengan pengunjung lain ialah dua meja, dengan begitu kami dapat mengobrol dengan berbisik. Setelah meminum beberapa teguk, ia palingkan wajahnya kepadaku.

“Mas, menurutmu bagaiamana, kalau aku seorang cewek menolak cowok yang tidak aku sukai?”

“Bagaimana apanya?” Sedikit terkejut ia mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Apakah aku menyakitinya?”

“Ya jelas itu menyakitinya walaupun kau memiliki alasan logis atau abal-abal dan berderet-deret jumlahya untuk menjelaskan kekurangan cowok yang kau tolak itu,” jawabku dalam batin setelah mendengar pertanyaannya itu. “Pertanyaan bodoh ini Er!”

“Memang kenapa kau menolaknya?” Jawaban ini yang keluar dari mulutku.

Dan Er menjawab, yang jawaban itu sering aku dengar dari mulut teman-temanku cowok ketika mereka ditolak seorang perempuan. Er menceritakan itu semua dengan lancar. Saat bercerita mukanya kulihat datar dengan sedikit penyesalan.

Sedangkan teman-temanku yang cowok perlu mengajakku ke tempat sepi atau beramai-ramai, sambil membawa anggur merah secara sembunyi-sembunyi, yang kemudian mereka tenggak. Setelah cairan anggur merah itu masuk dalam tubuh mereka, mereka menjadi berani dan kemudian mengeluarkan cerita sedih yang mengganjal tentang kekalahan percintaannya. Aku mengira juga, mereka tidak akan menceritakan cerita itu kalau diposisi sadar dan sifat cerita ini tidak ada pengulangannya.

“Kenapa kamu memikirkan rasa sakitnya?” Tanyaku.

“Maksudnya?”

“Seperti pertanyaanmu tadi, seakan kamu ingin tahu apakah ia tersakiti atau tidak dengan penolakanmu itu.”

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin berbagi cerita saja.”

“Benarkah? Atau sebenarnya kamu menyukainya?”

“Jangan asal mas,” jawabnya dengan nada sedikit keras, tapi bersamaan dengan itu semburat merah muncul di bawah matanya.

“Lalu kenapa kamu masih mengenangnya?”

“Aku tidak mengenang, aku hanya bertanya,” ia memalingkan muka.

Lima belas menit kami diam setelah itu. Entah aku atau dia yang canggung untuk memulai lagi obrolan, atau memang sudah kehabisan topik bercerita. Tapi yang pasti selama lima belas menit itu aku fokus dengan tugasku.

Bel angin di jendela besar itu kembali bergemerincing. Hujan yang lumayan deras turun dan menyebabkan atap kedai berbunyi.

“Semester lima ini aku rasakan sulit Er,” aku mencoba memulainya.

“Sulit kenapa, Mas? Perkuliahannya?” Jawab Er sambil memalingkan mukanya padaku. Kami kembali berpandangan.

“Aku memikirkan bagaimana kehidupan setelah ini.”

“Semester enam?”

“Aku tau kamu mendengarkanku, kamu juga paham apa maksudku.”

Dia tertawa setelah aku berkata seperti itu. Sama sekali aku tidak berniat untuk lucu. Tapi bagaimana seseorang bisa melihat humor pada sesuatu yang sebenarnya bukan hal untuk ditertawakan melainkan untuk dicemaskan?

“Maaf Mas, iya aku paham kegelisahanmu ini akan ke mana,” Er kemudian mengambil gelasnya, meneguk minumannya sedikit. Seorang pelayan perempuan tiba-tiba jatuh terpeleset di dekat meja kami dan itu mengagetkanku. Er tertawa, bangkit dari kursinya, menolong karyawan perempuan itu. Muka pelayan itu memerah malu, terbawa sampai masuk ke dapur kedai.

Setelah Er duduk aku mengungkapkan kegelisahanku. Tentang masa depan yang misteri, dunia kerja yang suram, pertemanan yang datang dan pergi, dan segalanya yang sekiranya selama ini aku pendam. Bahkan perasaanku yang kecewa dengan penolakannya aku ungkapkan lagi untuk yang kesekian kalinya.

Er benar-benar mendengarkan apa yang aku ocehkan, tapi ia tidak berniat untuk membalasnya dengan serius. Hanya tertawa dan ya, ya, ya saja. Aku juga tidak berharap perasaan penolakanku membuatnya menyesal. Mungkin beberapa hal yang kugelisahkan terlalu sulit untuk ia pahami. Hal Itu menunjukkan ketidaktahuannya akan beberapa hal. Itu juga yang menunjukan kepolosannya. Itu juga yang membuatku terpesona.

“Semangatlah, Mas. Walaupun kayaknya kata itu kamu bakal anggap hanya basi-basi saja.” Ia menjeda sebentar meneguk kembali minumannya, “Aku kenal kamu sudah lama. Kamu akan bersikap aneh kalau mendengar kata semangat dari orang sekitarmu, tapi percayalah Mas, aku tidak punya kata yang tepat untuk kegelisahanmu selain kata itu.”

Aku benar-benar mendengar kalimat itu tanpa menyelanya. Seperti orang yang takzim mendengar sebuah doa. Ini aneh dan aku menyadari apa yang aneh pada diriku. Ini tidak seperti biasanya. Karena biasanya kalimat semangat apapun akan kutimpali dengan umpatan dengan muka yang tidak peduli. Tapi kini senyum tersimpul di mukaku. Bahagia yang kurasa membuat darahku mengalir lancar, menghilangkan rasa putus asa dalam diriku, dan menambah rasa sukaku pada Er.

Kiranya, setelah itu aku kembali melanjutkan mengerjakan tugasku. Aku menatap laptop dengan isi kepalaku yang terngiang pernyataan Er tadi. Angin mulai masuk dalam kedai, membawa juga rintik air ke dalam. Terdengar dari dalam dapur kedai, karyawan nampak sedikit ramai karena ada atap yang bocor. Kami kembali tidak mengobrol. Selama sepuluh menit.

Selain pernyataan Er tadi, hal yang paling kukenang adalah ketika duduknya tiba-tiba bergeser ke arahku. Kami beredekatan bahkan mepet. Seseorang di kedai itu pasti ada yang melihat kami, dan kemudian membatin bahwa ada pasangan ABG yang sedang saling mencinta dan tidak tahu norma umum. Er saat itu memakai kudung biru yang, aku yakin, ia telah menyemprotkan parfum beraroma buah-buahan pada kudungnya.

Ia melihat ke arah laptopku, bertanya sudah sampai mana. Tubuhnya yang sangat dekat dengan tubuhku membuat diriku membeku. Aroma parfumnya membuat grogiku tidak main-main. Dan aroma buah-buahan itu membuatku sesak, tapi bahagia. Aku berkata kepada Er agar duduknya sedikit bergeser manjauh dariku. Aku beralasan tidak enak dilihat orang. Er menggeser duduknya dan meminta maaf kalau tingkahnya membuatku tidak nyaman. Aku meneguk minumanku. Aku rasakan ada keringat yang turun di mukaku.

Hujan deras yang turun berubah menjadi hujan es batu. Pengunjung kedai-kedai ramai. Ada yang langsung ke parkiran menyelamatkan motornya. Ada juga yang merekam fenomena alam itu untuk kebutuhan media sosialnya. Er melihat ke jendela, pandangannya takjub. Bola mata hitam yang bulat itu benar-benar terpukau melihat kerikil es yang jatuh saat itu. Alisnya terangkat dan aku masih bisa mencium aroma buah-buahan dari kerudungnya. Dan aku terpesona dengan muka takjubnya melihat kerikil-kerikil es itu jatuh ke bumi. Aku membeku dalam ketakjuban atas dirinya.

Er lulus terlebih dahulu daripada aku. Aku datang ke wisudanya, menyelematinya, dan tubuhku bergetar hebat ketika dia meminta foto bersama. Temanku yang melihatku waktu itu heran bukan main. Aku paham mengapa mereka heran. Ada dua hal. Mereka tidak tahu siapa perempuan yang berfoto bersamaku dan tanganku yang bergetar ketika berfoto bersama Er.

“Siapa perempuan itu?”

“Sebuah cerita yang tidak akan pernah bisa aku selesaikan,” jawabku.

“Dirimu benar-benar sebuah kejutan, kukira kau selama ini pemuda yang lurus-lurus saja.” Temanku kemudian menepuk kepalaku dari belakang.

Er selamanya tidak bisa kumiliki. Dua tahun setelah berfoto bersama Er kala wisuda itu, aku mengenal perempuan yang kelak menjadi istriku. Kami pacaran enam bulan kemudian menikah. Aku mengundang Er ke acara resepsiku. Namun aku terkejut, ketika mendapat kabar bahwa dirinya sekarang berada di luar negeri. Di Palestina. Ia menjadi relawan di sana, sebagai pejuang kemanusiaan. Ia tetap menyelamati pernikahanku dengan sebuah video. Video tersebut adalah Er bersama seorang anak kecil menyelamati pernikahanku dengan bahasa Inggris. Aku terharu.

Satu setengah tahun setelahnya Er menikah. Suaminya orang Palestina, seorang pria berkumis tipis, muka rupawan, dan berambut keriting. Ia lebih tinggi daripada Er. Setelah bertanya pada temannya, suami Er adalah teman sesama relawan. Dan tentu semangatnya, semangat kemanusiaan dan menebar kebaikannya sama dengan Er. Terlebih dia lebih bisa diandalkan dan tidak seegois aku.

Lima tahun lalu aku menyukai Er, ah aku terlau gengsi dengan kalimat menyukai. Aku akan menuliskannya, “AKU MENCINTAIMU ER!” dengan semua huruf kapital plus tanda seru. Tapi Lima tahun setelahnya, waktu terus berjalan. Nasib kami pun berubah dan berganti. Aku dipertemukan dengan orang yang sekarang menjadi istriku, sedangkan Er dipertemukan dengan orang yang sekarang menjadi suaminya. Kami mencintai pasangan kami masing-masing. Sekarang kami memikirkan keluarga kami sendiri-sendiri. Tapi, lima tahun lalu kami adalah dua orang yang saling membutuhkan. Aku membutuhkannya. Ia membutuhkanku. Hanya untuk rentang waktu lima tahun. Bukan untuk selamanya. Dan tidak mungkin selamanya.

Dan hanya untuk malam ini, aku membutuhkannya lagi, dalam bentuk ingatan karena raganya ada di Tanah Palestina. Aku membuat tulisan tentangnya bukan karena aku bosan dengan istriku, tapi kiranya untuk menyelesaikan cerita yang selama ini kubiarkan berdebu. Meskipun aku harus pergi ke kedai malam-malam begini, kedinginan, dan kalau tidak bisa kutahan, aku juga akan menangis.

Aku akan menyelam dalam ingatanku untuk membuat epilog dari sebuah cerita yang seharusnya aku selesaikan lima tahun silam. Waktu malam begini malah menjadi waktu yang terang bagi seseorang untuk menyelami ingatannya. Itu sudah ketentuan alam. Meskipun aku harus melewati kenangan-kenangan yang suram, masam, ataupun kelam. Yang sangat sulit untuk diangkat, bahkan untuk barang sebentar. Semakin dalam diriku menyelam, kenangan bersama Er semakin beragam, menimbulkan rindu singkat yang menyayat. Dan catatan ini tidak akan berakhir menjadi catatan yang buram. Ini akan tersimpan dalam laci di rumahku atau di pikiranku. Barangkali, kalau aku membaca catatanku ini akan terasa sepat, tapi aku juga mengakui juga terdapat manisnya. Dua rasa ini yang memperbaiki, teh dari tanah-tanah negeri Asia Tenggara, yang katanya buruk oleh penjajah menjadi sangat dinikmati sekarang. Kemudian lembar hidup terganti selayaknya lembaran kertas baru. Dan teh yang manis malam itu tidak lagi hangat. Dan memang lekas dihabiskan saja. Selesai sudah tugas gelas.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Airlangga Wibisono
Airlangga Wibisono Domisili di Sleman, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email