Eigenwelt
kubuka rahimku, rona Maria mengendap berkabut-kabut di bawah kurma Bethlehem. jika aku, Jibril akan serupa senjata penghilang paksa, kenyang dengan temuan Faraday yang aromanya kembali bereinkarnasi. barangkali besok tulisan ini juga mati di tangan redaksi, sebab hidung-hidung lihai menelisik bau-bau busuk, sudah berjabat hangat dengan mahkota mawar, yang semakin mekar sebab gagal dicabut akarnya.
kukoyak payudaraku, bersungut-sungut detak jantung, vena bicara banyak—meski temponya lebih lambat dari aorta—sungguh aku benci disulut detakmu tiap hari, aku hanya membawa sedikit CO2, tidak sebanding dengan 1,3 gigaton yang diproduksi setiap hari. jatuh cintalah meski sekali lagi, biar tak ada yang perlu bertengkar di sini. kau akan berseri meski sehari, sehari pun tak apa daripada kau tuba aorta. abaikan saja hutan-hutan yang disulap jadi arena balap rekening yang disembunyikan.
amigdala menjadi yang terakhir kuletakkan di meja, ia biru lebam pucat, apakah marah tak lagi merah? kurasa ia yang paling lelah belakangan, setiap kali jemari menemani mata menelusuri maya, kanal-kanal berita tak pernah kehabisan bahan, membakar apa-apa yang tersisa sebagai harapan. tak lupa dioplos dengan goyang gemoi validasi untuk cinta bersemi kembali. tak ada yang murah meriah, yang palsu saja si paling mahal, maka tentulah rindu layak dibayar satu negara.
embuskan angin pada rongga-rongga diri, beri makan atau uang—bukankah uang menundukkan siapa saja—agar seirama setiap sel-selmu bekerja. membentuk otonomi mahir menyiasati kompromi, agar tak selalu melarat—sebab kejujuran masih marginal.
–
Bertuhan Tanpa Surga Neraka Manusia
mereka tertawa saat aku datang di pesta meriah
tapi menolak tequila dan berdansa.
“aku bisa membaca semua lekukmu, ukuran payudara bahkan gaya favoritmu saat bercinta.”
“lalu?”
“ayolah, ini hanya minuman dan tarian.”
“lalu?”
kulihat ia jengah dan mengadu
mereka tertawa sinis saat aku pergi
tanpa mabuk tanpa menari.
esoknya di selasar megah aku bertemu
sejenis mereka lagi.
“kau tahu, tak ada perempuan diperkosa karena tak sujud, tapi karena tanpa penutup, banyak.”
“lalu?”
“ayolah, seluruh tubuhmu harus tersembunyi, ia aib.”
“lalu?”
kulihat ia jengah dan mengadu
mereka tertawa sinis saat aku berlalu
tanpa membela tanpa mencela.
selalu, mereka bergerombol, berbisik-bisik
saat kau tak sama imanmu dipertanyakan
saat kau tak sama janggal bagimu beribadah
di tempat sakral mereka bahkan membuat aturan.
dilarang masuk yang tak tahu malu
berkali aku mengadu kepada pemilik hidup
inikah kasih dengan bungkus sinis?
inikah sayang dengan isi menyerang?
entah neraka adalah pasti
atau surga adalah dongeng
tapi tidakkah manusia
boleh bertuhan tanpa mengukur
hidup setelah kematian?
–
Semoga Tidak Ada Emas di Desa Kami
nasib sudah lama anjlok
entah dicekik takdir atau
dipersekusi manusia-manusia terpilih.
maka saban malam setiap kali berangan
tentang kota yang megah
aku kembali ke akar begitu mengingat raja di istana.
desaku aman dari kebijakan yang membantai,
lalu kenapa menyerahkan diri
pada garis yang tak bisa kusiasati?
kecuali musim seleksi tak banyak yang terjadi.
hingga bisu setiap kali istana mengeluarkan fatwa.
sunyi dan senyap, selayak pak tani di sawah
pada buku sekolah dasar yang sudah usang.
menyenangkan bukan
kami masih memetik sayur dan sabar
menghirup udara segar
sebelum cukup mahal untuk dilarang.
di kota;
beasiswa dicabut—semua panik
kami menyimak, lulus SMA sudah epik.
ibu-ibu berebut antrean gas
kami setia pada arang untuk menanak.
phk datang secara berkala, kami masih
meraba cuaca bersiap jika paceklik tiba.
kami tak iri
tanpa kebijakan lebih merdeka, bukan?
sudah lama kami pensiun berharap
akan setumpuk nasib yang harus sadar nyawa.
setiap kali kami menonton berita
tersisa doa; semoga tidak ada emas di desa.
agar perut kami tak turut diacak-acak
seperti saudara kami di pulau seberang.
meski saban malam kami merenungi
–sawit berbuah dengan baik.
–
Dua Kaki
kau pandu telunjukmu
tepat di bilik unsur berganti
yang dihina untuk dipuji.
katamu;
tiada yang lebih hebat dari perempuan hita
tak pernah dibatasi sekolah dan bekerja
masihkah kau bicara setara?
adam, adam, adam.
bila kau duduk di singgasana dengan segala hamoraan
tanpa pernah menanak nasi dan menanam ubi
adakah hak kau merasa paling suci?
saban pagi kau sudah duduk di kedai kopi
sedang malam tuak di tangan kiri
sambil kau bernyanyi kau berilusi
—martabatmu berkali-kali dicaci.
saat istrimu masih harus mendidik dan mencuci
kau ingkar berkali-kali, hari ini kau bermain lakon
sebagai korban nerakanya perempuan
—banyak drama, tak tahu diistimewakan.
piring kotor tak pernah kau pegang
hidangan utama haram disuap pada lapar
sebelum kau sentuh dan santap.
lalu kau masih ingin generasi percaya
bahwa perempuan kau istimewakan?
setidaknya jangan membuat aku tertawa
dalih kau pakai adat dan agama.
Tuhan tak pernah ajarkan kau jadi bajingan bukan?
–
Keadilan
adil itu
tak sama
sesuai porsi
kata si bijak.
esoknya
mereka beri
si miskin
porsi melarat.
*****
Editor: Moch Aldy MA
