Memaknai sebuah Tragedi dalam Kisah In The Midst of Winter

Munawir Mandjo

2 min read

Saya menemukan tiga peristiwa sejarah saat membaca novel In The Midst of Winter karya Isabel Allende. Krisis ekonomi politik Guatemala yang mendorong peningkatan migran, kudeta militer Chili pada tahun 1973, serta saat Hitler berkuasa dan menciptakan ketakutan bagi orang Yahudi.

Ketiga peristiwa ini menjadi bagian dari kisah hidup setiap tokoh di dalam novel yang digambarkan dengan sangat baik. Pertemuan masing-masing tokoh membuat mereka menemukan kebenaran tentang betapa mereka telah dibentuk oleh tragedi yang mereka saksikan.

Kisah ini bermula ketika Richard Bowmaster menabrak mobil Evelyn Ortega, Imigran gelap dari Guatemala. Masalah menjadi rumit ketika Evelyn datang meminta pertolongan ke rumah Richard, karena tak tahu menyelesaikan masalah itu, Richard meminta saran Lucia Maraz salah satu penyewa rumahnya. Belakangan mereka tahu jika ada mayat di bagasi mobil Evelyn.

Baca juga:

Karena simpati terhadap Evelyn, mereka pun berencana menyingkirkan mobil beserta mayatnya. Cerita pun berkembang untuk menyelesaikan masalah itu. Menggunakan alur maju-mundur, novel ini memberikan kesempatan tiap tokoh untuk menceritakan kisah di masa lalunya.

Evelyn tokoh pertama yang menceritakan kisah masa lalunya. Ia hampir kehilangan nyawa dan menyaksikan kedua saudaranya mati mengenaskan di tangan geng MS-13 atau lebih dikenal dengan nama Mara Salvatrucha. Kejadian itu bermula ketika, kakak sulungnya, Gregorio Ortega bergabung dengan kelompok MS-13. Namun, sebuah kesalahan membuat ia mati mengenaskan di tangan kelompoknya sendiri.

Tak berhenti di situ, geng MS-13 juga mengincar keluarga Ortega yang masih tersisa, termasuk Evelyn. Beruntung Evelyn masih bisa diselamatkan. Karena merasa situasi tak lagi aman. Evelyn pun diselundupkan ke Amerika tempat di mana ibunya bekerja.

Namun, menjadi imigran bukanlah perkara mudah sebab pemerkosaan, kematian, cedera, sampai perampokan merupakan ancaman yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Demi terhindar dari ancaman itu, para imigran mengandalkan jasa coyote atau pemandu terpercaya yang akan membantu menyelundupkan mereka melintasi Meksiko-Amerika Serikat dengan selamat.

Lewat kisah Evelyn, Isabel Allende ingin menggambarkan kondisi Guatemala saat itu yang sarat dengan kemiskinan, ketidakstabilan politik, dan kekerasan. Kondisi itu mendorong orang-orang di Guatemala untuk bermigrasi ke Amerika Serikat.

Di sisi lain masalah yang timbul dari imigrasi warga Guatemala ialah penyebaran budaya geng yang dibawa orang-orang Guatemala yang dideportasi dari Amerika. Penyebaran budaya membuat banyak tindak kekerasan dan memudahkan Geng seperti MS-13 mengulurkan tentakelnya ke Amerika Tengah.

Tidak hanya menggambarkan kondisi imigran Guatemala, Isabel Allende juga mengambil latar cerita kondisi Chili saat dipimpin Salvador Allende, presiden pertama berlatar Marxis yang terpilih secara demokratis lewat kisah Luci Maraz.

Baca juga:

Tidak jauh beda dengan Evelyn yang harus kehilang saudaranya, Lucia juga harus kehilangan saudara laki-lakinya, Enrique Maraz, oleh pihak militer karena dianggap gerilyawan yang mendukung kelompok Salvador Allende. Demi menyelamatkan diri, Lucia terpaksa kabur ke Venezuela karena dianggap simpatisan kelompok itu. Lucia dan ibunya, Lena Maraz, harus berjuang tanpa henti mencari keberadaan Enrique Maraz.

Situasi seperti ini pernah menjadi bagian dari kisah kelam sejarah bangsa kita, ketika pemerintahan Orde Baru melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap aktivis atau kelompok yang kritis menentang pemerintah. Mereka yang hilang sampai saat ini pun tak pernah kembali.

Isabel Allende berhasil menciptakan kesan mendalam terhadap kehilangan yang dialami ibu Lucia. Ia terus berjuang menunggu anak lelakinya hingga akhir hayatnya. Kesan kurang lebih serupa, saya rasakan ketika membaca novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Di dalam novel tersebut digambarkan bagaimana keluarga Biru Laut selalu menunggu kedatangannya, memasak masakan kesukaannya setiap hari Minggu dan menyiapkan piring khusus untuknya, meski Biru Laut tak kunjung kembali. Mereka terus dihantui ketidakpastian. Penderitaan yang disebabkan ketidakpastian tentu lebih buruk daripada kepastian kematian itu sendiri.

Perasaan kehilang menjadi tema yang selalu dialami tokoh di dalam cerita ini. Bukan hanya Evelyn dan Lucia, Richard Bowmaster mengalami kisah serupa. Richard harus kehilangan kedua anaknya, bahkan satu di antaranya meninggal karena kecerobohannya.

Kematian kedua anaknya memberi pukulan bagi istri Richard, membuat mentalnya hancur berantakan. Bahkan sebelum dirinya ditemukan meninggal bunuh diri, istri Richard seolah hidup di dalam dunianya sendiri. Ia tidak pernah menganggap keberadaan Richard meski Richard sudah berusaha memperbaiki keadaan itu. Kematian istri dan anaknya menyisihkan rasa bersalah di dalam diri Richard, serupa bayang-bayang yang terus menghantuinya.

Kendati tak seperti Evelyn dan Lucia yang merasakan menjadi pengungsi, Richard tumbuh bersama kisah-kisah pelarian ayahnya, Joseph Bowmaster. Joseph lahir di Jerman dari keluarga Yahudi, ia melarikan diri ke Prancis demi terhindar dari bahaya Nazi ketika Hitler berkuasa.

Saat Nazi menyerbu dan menduduki Prancis, Joseph berhasil kabur ke Spanyol dan selanjutnya ke Portugal. Joseph akan selalu mengingat kebaikan hati orang-orang yang mempertaruhkan keselamatannya demi membantu perjalanannya.

Jangan pernah menanyakan siapa mereka atau dari mana asal mereka kepada orang-orang yang membutuhkan, dalam kemalangan kita semua sama.” (Halaman 100).

Novel ini berhasil menyuguhkan kisah menarik di balik kehidupan para tokoh dengan latar cerita berbeda. Meski setiap tokoh punya masa lalu kelam, tapi pengalaman-pengalaman itu membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan empatik. Bahkan di saat mereka diperhadapkan pada keputusan untuk menyingkirkan mayat itu, mereka tetap mengedepankan nilai kemanusiaan. Mereka melakukan ritual demi menghormati mayat itu, meski di dalam kondisi terbatas. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Munawir Mandjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email