Lulusan psikologi. Guru BK salah satu SMK di Kota Makassar dan tergabung di sekretariat Jaring Nusa KTI, koalisi 18 organisasi yang berfokus pada isu pesisir, laut dan pulau kecil

MBG dan Momentum Kesadaran Iklim

Muhammad Riszky

2 min read

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dijalankan pemerintah sejak tahun 2025 telah menjadi salah satu program populer yang merupakan janji kampanye Prabowo-Gibran. Tujuan kebijakan tersebut untuk memastikan siswa mendapat gizi seimbang yang mendukung kesehatan dan masa depan generasi muda.

Terlepas dari tujuan yang baik itu namun tak dapat dipungkiri jika program ini juga tak luput dari berbagai kritik. Mulai dari anggaran yang sangat besar yang mencapai 300 triliun rupiah lebih, banyaknya keracunan makanan, hingga yang tidak kalah penting untuk diabaikan yakni sampah makanan yang dihasilkan!

Tulisan ini akan berfokus pada isu terakhir. Indonesia merupakan salah satu negara dengan penghasil sampah terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), tercatat pada tahun 2024 sekitar 39.36% atau sekitar 27, 3 juta ton dari total volume sampah yang dihasilkan merupakan sampah makanan.

Baca juga:

Belum lagi data yang dirilis oleh BAPPENAS mengungkap jika sebanyak 184 kg per orang dalam setahun makanan konsumsi yang terbuang. Angkat tersebut jika mengacu dari Waste4Change setara 1,73 gigaton CO2 atau 7% dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Indonesia dalam setahun.

Program MBG yang tujuannya baik ini bisa jadi akan menambah beban emisi dan timbulan sampah makanan yang berakhir di TPA di berbagai daerah di Indonesia. Sehingga penting bagi guru di sekolah untuk memberikan literasi iklim dan meningkatkan kesadaran lingkungan bagi siswa.

Sisa MBG dan Krisis Iklim

Data dari Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat hingga Agustus 2025 penerima manfaat MBG mencapai lebih dari 20 juta siswa. Angka tersebut baru sekitar 25% dari total 82,9 juta siswa di Indonesia. Di balik besarnya angka tersebut tentu tak terlepas juga dari potensi besarnya sisa sampah makanan yang terbuang.

Pada Januari 2025, WALHI telah memberikan peringatan tentang potensi sampah yang dihasilkan dari program MBG. WALHI menyebut ada potensi sampah organik 25-50 gram setiap porsi. WALHI memberikan gambaran jika menyasar 17 juta siswa maka potensi sampah organik yang dihasilkan berbisar 425 hingga 850 ton per hari.

Sampah organik yang dihasilkan akan menghasilkan emisi 127,5 hingga 255 ton CO2e. Sehingga dalam setahun potensi emisi yang dihasilkan mencapai 25.000 hingga 51.000 ton CO2e.

Sisa makanan yang menghasilkan emisi tersebut turut memperparah laju krisis iklim. Berbagai hasil riset dari berbagai organisasi telah memaparkan data-data buruk dampak yang ditimbulkan mulai dari kesehatan, lingkungan, ekonomi hingga masa depan bumi yang kian terancam.

Survei yang dilakukan oleh United Nations Development Programme tahun 2024 mencatat sebanyak 53% khawatir dampak krisis iklim. Angkanya lebih tinggi jika menyasar negara berkembang dengan karakteristik pulau kecil yang mencapai 71% lebih khawatir.

Baca juga:

Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2019 menyebut jika pengurangan food waste merupakan cara paling efektif untuk mengurangi emisi yang dihasilkan secara global. Food waste sendiri berkontribusi terhadap 8-10% total emisi global.

Peran Guru BK

Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2019 menyebut jika pengurangan food waste merupakan cara paling efektif untuk mengurangi emisi yang dihasilkan secara global. Food waste sendiri berkontribusi terhadap 8-10% total emisi global. Data tersebut menunjukkan program MBG dengan distribusi makanan yang sangat besar memiliki resiko makanan yang pada akhirnya menjadi sampah dan akan menjadi emisi jika tidak disekolah dengan baik.

Guru BK memiliki peran strategis dalam memberikan literasi iklim bagi siswa agar bijak dalam mengkonsumsi makanan dan meminimalkan potensi makanan terbuang yang pada akhirnya dapat berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pendidikan tidak berhenti pada ranah kognisi. Literasi iklim yang diberikan kepada siswa harusnya diterjemahkan dalam perilaku. Guru BK dapat menjadi fasilitator perubahan. Pemahaman dalam siklus makanan yang dimulai dari produksi, distribusi, konsumsi dan terakhir adalah dampak limbah yang dihasilkan harus diberikan kepada siswa.

Guru BK sendiri dapat memanfaatkan besarnya keingintahuan siswa terhadap isu lingkungan. Riset dari Yayasan Indonesia Cerah menyebut sebanyak 82% anak muda mengetahui isu krisis iklim.

Data lainnya dari UNDP dan Oxford University menjelaskan 56% penduduk memikirkan dampak krisis iklim setiap hari atau setiap minggu. Lebih lanjut, sebanyak 86% masyarakat Indonesia menginginkan adanya aksi iklim untuk mencegah kerusakan yang semakin parah.

Siswa belajar tanggung jawab, menumbuhkan empati serta membentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan. Nilai-nilai yang ditanamkan akan membentuk siswa berwawasan ekologis. Melalui berbagai layanan seperti konseling, bimbingan kelompok, layanan karir, hingga penguatan informasi di media sosial dan media informasi lainnya guru BK dapat membentuk kesadaran dan perilaku yang berkelanjutan bagi siswa.

Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat. Tak kalah penting adalah siswa belajar untuk menghargai makanan dan keberlanjutan lingkungan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

 

Muhammad Riszky
Muhammad Riszky Lulusan psikologi. Guru BK salah satu SMK di Kota Makassar dan tergabung di sekretariat Jaring Nusa KTI, koalisi 18 organisasi yang berfokus pada isu pesisir, laut dan pulau kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email