“Cinta menurutku seperti traffic accident karena semuanya berawal dari kebetulan. Yang melanjutkannya adalah pilihan-pilihan kita sendiri, yang juga tak pernah lepas dari kebetulan.”
Zeynep Günay, sang sutradara, mendeskripsikan tentang cinta sesuai dengan yang ia pahami. Ketika Anda menjadi sutradara dari sebuah novel legendaris dengan sekumpulan karakter rumit, mungkin Anda akan mendeskripsikannya seperti itu juga. Bagaimana cara kita mendeskripsikan cinta? Bagaimana awalannya? Seperti apakah cinta itu? Apakah itu juga terlihat seperti obsesi? Bagaimana jika cinta adalah kasih sayang dengan obsesi di dalamnya?
Masumiyet Müzesi (dalam bahasa Inggris: Museum of Innocence), menjelaskannya dengan ambigu. Anda akan kehilangan deskripsi cinta yang selama ini Anda yakini dengan menonton serial ini. Diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Orhan Pamuk, salah satu penulis paling terkemuka di Turki, kisah ini juga dipublikasikan dalam bentuk museum. “Aku mencintai seorang perempuan, sangat mencintainya, sampai-sampai aku menyimpan rambutnya, semua benda yang dia sentuh, lalu membangun museum berisi barang-barangnya,” aku karakter utama laki-laki dari kisah ini kepada Orhan Pamuk. Meski novel ini terbit pada 2008, Orhan Pamuk membangun museum nyata berisi semua objek hasrat Kemal ini beberapa tahun berselang, yaitu pada 2012 di Çukurcuma, Turki.
Baca juga:
Sebagai pengarangnya, Pamuk memberi latar Turki pada tahun 1970-an dan sangat menyinggung tentang kelas sosial. Serial ini berkisah tentang Kemal Basmacı, pemuda berusia matang (mungkin 30-an atau mendekati 40 tahun), yang terlahir di keluarga dan lingkungan borjuis Istanbul. Pamuk menaruh Kemal di lingkungan Nişantaşı, sebuah lingkungan kelas atas, tempat keluarga Kemal berada. Kemal sendiri pernah mengatakan bahwa ayahnya mempunyai gaya hidup yang sedikit condong ke Eropa dan Anda akan menemukannya sepanjang serial ini. Kesan mewah, pesta, gemerlap cahaya kemegahan dari lampu dan ornamen yang memenuhi tempat tinggalnya; membuat Anda melihat bagaimana perbedaan warga Turki yang kaya raya dengan mereka yang miskin. Di tengah-tengah semua itu, Kemal lahir dan tumbuh.
Ia hidup nyaman layaknya seorang pangeran. Ditambah ia hendak bertunangan dengan seorang gadis baik dari keluarga borjuis juga yang bernama Sibel. Tidak hanya kaya, Sibel bahkan merupakan mahasiswi terpelajar di Prancis. Bagaikan kisah dongeng, semua orang sepakat bagaimana kedua manusia sempurna ini akan menjalin kisah cinta ala dongeng yang bahagia tiada akhir.
Hingga kebetulan itu terjadi. Seperti yang dikatakan Zeynep, cinta adalah kumpulan dari kebetulan, lalu pilihan kitalah yang menentukan. Suatu hari ketika bersama Sibel, keduanya sempat berhenti di depan sebuah toko. Sibel memuji display tas di toko tersebut, yaitu tas Jenny Colon warna putih yang tampak memikat. Setelahnya, atas dasar ingin memberi tunangannya kejutan, Kemal memutuskan untuk hendak membelikan tas tersebut. Ketika adegan ia memasuki toko, Zeynep memutuskan untuk membuat semuanya hening. Hanya bel yang berbunyi dan penonton dapat merasakan sesuatu hendak terjadi.
Sang penjaga toko akhirnya menghampiri. Gadis yang nantinya menjadi objek dari kisah cintanya, Fusun yang belia dan manis. Seorang sepupu dari keluarga jauhnya yang sekarang tumbuh menjadi perempuan memesona. Kemal merasakan bagaimana kebetulan ini membuatnya bertemu gadis tercantik yang pernah ia temui.
Bayangkan sebuah kebetulan kecil, yang ironisnya berasal dari si tunangan, membuat kisah cinta rumit ini terbentuk. Seorang pemuda yang terobsesi pada gadis muda, seorang gadis cantik dan miskin yang terdorong rasa penasaran. Keduanya mulai menjalin api. Kemal menarik Fusun kepadanya, tanpa peduli perasaan itu berbunyi apa.
Perbedaan usia yang besar di antara keduanya juga menjadi sorotan. Kemal mengeksploitasi masa gadis belia Fusun dengan memberinya afeksi dan janji-janji semata. Kemal mengakui bahwa ia terpesona dengan Fusun, tapi ia tidak ingin menyebut itu cinta. Ketika gelora itu mulai mirip dengan cinta, ia menjadi takut. Kemal tetap bisa menjalin hubungan dengan Sibel, tapi tetap harus berada pada posisi yang sadar bahwa Fusun tetap menunggunya. Ia bisa “menyayangi” Sibel selama Fusun masih ada di cengkeramannya. Ketika Fusun meninggalkannya, dia menjadi sakit.
Begitu pula sebaliknya. Ketika Fusun berada pada radarnya–tidak peduli apakah di situ tetap ada Sibel–Kemal menjadi begitu bahagia. Dengan alasan yang sangat aneh dan kompleks, Kemal bahkan memutuskan untuk membuat Fusun dapat hadir di pesta pertunangannya. Ia ingin melihat Fusun, tidak peduli dengan cara apa dan bagaimana, hanya agar hasratnya terpenuhi. Ekspresi dan gestur Fusun menjadi lebih dingin, seolah ada transisi dari Fusun belia yang ceria menjadi Fusun dewasa yang menderita. Karakter perempuan cerdas yang menderita ini bukanlah karakter yang mudah dimengerti.
Aktor yang memerankan Kemal, Selahattin, ketika pertama menerima peran ini pun ditanya dengan pertanyaan pembuka. “Bagaimana caramu hendak memerankan si monster ini?”
Kemal adalah seorang “monster” yang tidak mengerti apa yang dia mau, tidak mengerti apa yang ingin dia katakan, tidak mengerti pada kelakuannya sendiri. Ia tidak melepas Sibel, ia tidak mengetahui apakah ia mencintai Fusun, tetapi ia juga tidak tahu langkah apa yang harus dia lakukan. Ia adalah lelaki dengan insting yang impulsif dan sembrono.
Setelah Fusun menghilang, ia menjadi depresi layaknya seorang pesakitan hingga Sibel pun menyadarinya. Sebagai seorang perempuan muda terpelajar, Sibel berhak mendapat segalanya, termasuk suami yang baik. Menyadari bahwa Kemal mencintai perempuan lain, Sibel memutuskan untuk tutup mata. Menurutnya, Kemal hanyalah sakit dan ia akan sembuh jika dijauhkan dari semua hal yang berkaitan dengan si perempuan simpanan. Sibel mengurusnya layaknya ibu, sampai semua hal itu pun ia sadari, tak ada akhirnya, tak ada gunanya.
Begitulah ironi dalam serial ini. Seiring berjalannya waktu, Kemal hanya mencari Fusun di semua pelosok Istanbul. Ia tidak bisa bernapas, seolah Fusun membawa seluruh oksigen bersamanya dan Kemal tak diberi barang sedikit. Ketika akhirnya menemukan Fusun setelah beberapa tahun berselang, ternyata Fusun sudah bersuami. Fusun nampak lebih dewasa, kedewasaan yang sama cantiknya. Kedewasaan yang terenggut dari tahun-tahun menyakitkan dengan si cinta pertama yang memilih untuk bertunangan dengan perempuan lain.
Baca juga:
Niscaya, Kemal bisa bernapas lagi. Ia tak memedulikan Feridun, suami Fusun yang bekerja di bidang film, tetapi tidak begitu kaya. Dalam hal ini, dinamika janggal pun mulai terwujud. Bagaimana Kemal mencoba selalu dekat dengan Fusun lewat sponsor yang diberikannya kepada Feridun. Fusun yang bercita-cita menjadi aktris sekarang terimpit oleh dua pria. Feridun yang bodoh dan miskin, juga Kemal yang posesif dan kaya. Seolah-olah Fusun hanya dapat bergerak dengan izin keduanya. Ia seperti burung cantik dalam sangkar, tidak dapat pergi ke mana-mana. Hanya menunggu tuannya pulang, tidak tahu jika mimpinya tidak akan pernah berjalan.
Dari garis besar tersebut, mungkin kisah ini menjadi sederhana. Berarti ini adalah kisah cinta serong dari seorang lelaki kaya raya dan seorang gadis cantik miskin. Namun, Anda tetap dapat meramal bahwa kisah ini tidak hanya seputar itu, ia memuat ideologi-ideologi tersembunyi apa saja yang disinggung Pamuk di dalamnya. Pamuk tidak menutupi bagaimana lingkungan borjuis Kemal membuatnya tidak bisa lepas dari cengkeraman ekspektasi sosial. Maka dari itu, Sibel tidak dilepas dan Fusun tetap ditipu. Fusun yang naif dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ia hanyalah simpanan. Ia tidak mengelak, selama ini pahit baginya menjadi gadis cantik yang miskin. Semua orang berani menghadapinya, semua orang berkeinginan menaklukannya. Layaknya para serigala lapar, Fusun selalu menjadi mangsa di mana pun dia berada.
Fusun adalah apa yang sering terjadi pada para perempuan muda. Perempuan dengan mimpi-mimpi yang sayangnya tidak bisa diwujudkan begitu saja dengan mudah. Seperti yang dikatakan Kemal, Fusun tidak bisa bergerak tanpa pria kuat di sampingnya. Ia menjadi boneka yang dioper-oper begitu saja, menjadi subaltern dan tidak punya suaranya sendiri. Ketika akhirnya ia dapat bersuara, justru hal tersebut menjadi petaka baginya. Fusun adalah perwujudan bagaimana burung cantik dalam sangkar, yang tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengepakkan sayapnya. Sejak berumur 18 tahun, ia berurusan dengan laki-laki yang selalu hanya ingin memilikinya tanpa melihatnya dengan utuh.
Semua orang tahu bahwa Kemal agak gila. Ia membangun museum penuh dengan puntung rokok yang pernah diisap Fusun, baju-bajunya, sisir rambutnya, lipstiknya. Namun, yang terpenting ialah dia merenggut masa belia Fusun, merebut mimpi-mimpinya, menaruhnya dalam cengkeramannya sampai sayap sang burung patah. Sampai akhir, Fusun hanya selalu menjadi ornamen yang melengkapi laki-laki. Fusun menderita karena dia harus (dan memang) mencintai laki-laki yang seumur hidupnya hanya menyakitinya dengan obsesi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
