Penulis kreatif dan esais yang mengeksplorasi sisi manusia yang rapuh, absurd, dan penuh pertanyaan. Selain menulis esai di Medium, juga aktif sebagai editor dan pekerja kreatif.

Lipstik Merah Ibu

Iyas Utomo

4 min read

Langit Jakarta sore ini mengingatkanku pada warna lipstik Ibu. Merah. Merona. Warna yang membuat wajah Ibu semakin cantik, tapi aku membencinya. Warna yang menyembunyikan wajah dan senyum hangat Ibu, dan itulah yang membuatku tidak pernah menyukainya. Namun, tentu saja aku tidak bisa mengatakannya dengan lantang, karena bagaimanapun berkat warna merah lipstik itulah yang membuat kami bisa makan setiap hari, dan aku tetap bisa melanjutkan sekolah.

Ibu sering bilang kalau sopir-sopir bajaj dan tukang ojek menyukai jika ibu memakai lipstik merah. Itu membuat mereka mau memberikan tambahan lembaran seribu atau dua ribu karena sudah membuat hati mereka bungah. Begitu Ibu bercerita kepadaku.

“Belom nyampe juga, Neng?” Suara tukang nasi goreng di sebelah kananku membuyarkan lamunan. Aku menolehkan kepala sambil melebarkan senyum yang sedikit kupaksakan. Namun, sebelum aku sempat menjawab pertanyaan itu, tak lama seorang pelanggan datang membatalkan percakapan kami tiba-tiba, dan aku sedikit lega karenanya.

Hari ini aku genap berusia enambelas tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu menjanjikanku makan istimewa untuk merayakan ulang tahunku. Maka, di sinilah aku. Berdiri di trotoar jalan di depan kompleks rumah susun yang di parkirannya ramai dengan deretan mobil berbagai warna. Aku berdiri tepat di seberang warung nasi bebek yang selalu aku idam-idamkan setiap melewatinya.

“Warung nasi bebek Dek Soleha,” pelan aku membaca barisan huruf di kain penutup warung berwarna hijau yang berkibar-kibar ditiup angin sore.

Aku tak tahu sudah berapa lama aku menunggu Ibu. Lima belas menit? Tiga puluh menit? Entahlah. Yang jelas, sejak aku di sini tukang nasi goreng yang memarkir gerobaknya di samping kananku sudah melayani lebih dari lima pelanggannya. Sementara itu, kakiku mulai lemas. Ingin duduk tapi semua bangku di bahu jalan dipenuhi oleh remaja-remaja seusiaku. Suara obrolan yang kadang diselingi dengan tawa membuat mereka terlihat begitu sangat menikmati waktu yang mereka miliki.

Bahagia.

Ya, mungkin begitulah rasanya—bisa duduk tanpa harus memikirkan berapa harga nasi goreng dan es teler yang mereka pesan. Atau mungkin bahagia itu dengan bisa makan nasi bebek kapan pun, bukan hanya menunggu janji yang tak pernah bertemu dengan kenyataan, paling tidak itu yang sudah terjadi beberapa tahun ini. Dan mungkin, itulah yang membuatku tak bisa menemukan harapan saat Ibu menjanjikan pertemuan hari ini. Hatiku mungkin sudah tidak bisa merasakan kekecewaan yang sama berulang kali. Mungkin, ya … kurasa ini yang membedakanku dengan tahun-tahun sebelumnya.

Suara azan terdengar menyatu dengan keramaian jalan, dan di saat itulah aku melihat sosok yang sudah kunantikan kedatangannya sejak tadi. Sosok itu berjalan pelan dengan menyeret gerobak pelantang suara yang telah menjadi temannya beberapa tahun terakhir ini di jalanan. Ia makin mendekat. Warna merah di bibirnya sudah mulai hilang, digantikan dengan senyum hangat yang sangat kukenal. Di wajahnya mengucur keringat membentuk sulur-sulur halus seperti anak sungai yang membuat bedaknya luntur. Melihat itu, aku merasa sedikit lega. Kalau rencana hari ini gagal lagi, paling tidak aku bisa kembali melihat wajah ibuku tanpa riasan yang menyembunyikan garis-garis halus yang telah menjadi saksi betapa kerasnya hidup yang telah ia jalani.

“Nunggunya lama, ya?” Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Hm ….”

Ah, aku sudah tahu arah pembicaraan ini selanjutnya. Ibu menundukkan kepala, mungkin dia sedang mencari kata-kata yang pas di aspal jalan. Aku menghela napas pelan. Menunggu rasa kecewa untuk datang menghantam diriku seperti yang sudah-sudah. Namun anehnya, tidak ada yang terjadi. Tidak ada perasaan sedih atau marah, yang tersisa hanya kekosongan yang menolak dirinya untuk dinamai sebagai kekecewaan.

“Ayo, pulang.”

Aku memecahkan kebisuan di antara kami. Ibu mendongakkan kepalanya, tetapi tak mengatakan apa pun. Ia menatapku lekat, hingga aku bisa melihat bayang-bayang air mata yang menggenang di sudut matanya.

Aku meraih tangan kanannya, mencoba untuk menggantikannya menarik gerobak berwarna biru yang catnya sudah mulai mengelupas. “Nggak apa, Bu. Ayo kita pulang.”

“Kita bisa beli sambel hitam maduranya,” ucapannya menggantung tak selesai.

“Ah, nggak usahlah. Mending buat ongkos ke sekolah besok,” jawabku mantap. Makan malam istimewa kami gagal untuk kesekian kalinya dan tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Tidak mungkin juga aku merajuk kepada Ibu, karena aku tahu dia sudah bekerja seharian di jalanan kota yang panas dan tidak ramah bagi orang-orang seperti kami.

Kini aku sudah menggantikan ibuku menarik gerobak pelantang suara bercat biru pudar. Suara keramaian di bahu jalan menjadi musik pengiring langkah kami yang pelan meninggalkan tenda warung nasi bebek Dek Soleha.

“Mampir bentar beli air, ya.”

Ibu membelokkan langkahnya ke sebuah warung yang ramai dengan anak kecil yang tengah asyik membeli lotre dua ribuan berhadiah mainan. Aku menunggunya di tepian jalan yang agak sepi dekat kios fotokopi. Entah karena rasa bosan atau bisikan demit yang kata orang suka bergentayangan waktu magrib, tas putih yang menggantung di pegangan gerobak tiba-tiba menarik perhatianku. Iseng, aku membukanya dan menemukan barang-barang pribadi Ibu di dalamnya. Sisir ungu yang giginya sudah hilang beberapa, kaca berukuran setengah halaman buku, dompet … ah, dompetnya ketinggalan di dalam tas. Aku meraih dompet berbahan kulit palsu yang sudut-sudutnya sudah koyak. Namun, apa yang kutemukan setelahnya seperti sebuah tamparan keras di pipi yang meninggalkan rasa panas dan nyeri. Sebuah kotak lipstik berwarna merah yang aku tahu cukup bermerek ada di antara barang-barang Ibu. Tanganku gemetar bukan main saat mengambil kotak lipstik dengan warna yang sangat aku benci itu. Masih tersegel rapi.

Tersegel.

Rapi.

Rasa kecewa dan marah yang sebelumnya tak kurasakan tiba-tiba menyergapku. Dadaku terasa berat dan sesak, membuatku sulit bernapas. Tanpa pikir panjang, aku membuka dompet Ibu untuk mencari barang yang kuharap tidak akan pernah kutemukan di sana. Ah, rupanya dunia memang bekerja agak keji bagi orang-orang sepertiku. Aku menemukan struk pembelian benda yang saat ini kugenggam erat di tangan kiriku.

Delapan.

Puluh.

Tiga.

Ribu.

Satu kotak lipstik merah adalah kebahagiaan sopir bajaj dan tukang ojek pangkalan yang ternyata lebih mahal daripada nasi bebekku. Nasi bebek Dek Soleha yang aku idam-idamkan. Nasi bebek Dek Soleha yang harumnya masih terbawa angin menjelang malam. Nasi bebek Dek Soleh yang … wah, aku bisa membeli tiga bungkus lengkap dengan es teh manis dengan uang itu. Namun, mungkin bagi ibu itu terlalu mahal. Bagi Ibu mungkin rasa bungah sopir bajaj dan tukang ojek pangkalan lebih penting saat ini. Ya, mungkin seperti itu.

Suara sorak gerombolan anak-anak kecil yang tengah menggantungkan kebahagiaannya di papan lotre dua ribuan menyadarkanku dari serbuan rasa marah dan kecewa. Di saat itulah aku melihat Ibu berdiri mematung tak jauh dari tempatku. Kami hanya saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kebisuan menggelayuti kami bersama angin yang perlahan mengibarkan rambutku yang tergerai. Pelan, aku memasukkan struk pembelian ke dalam dompet berbahan kulit palsu berwarna cokelat terang. Aku mengembalikannya kembali ke dalam tas putih bersama dengan kotak lipstik merah yang penyok.

“Ayo, pulang,” ucapku sambil melangkah pelan dan menyeret gerobak biru yang catnya sudah pudar. Ibu mengikutiku dari belakang. Tanpa mengatakan apa pun, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Di antara langkah pelan yang sedikit goyah, aku teringat sebuah berita yang sempat kudengar di siaran TV milik tetangga tempo lalu. Sebuah berita yang menyiarkan penemuan seorang bayi di bak sampah di sebuah kompleks perumahan yang anehnya tak jauh dari rumah kami.

“Ah, sungguh beruntung bayi itu,” gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri. Gumaman yang tenggelam bersama suara deru kendaraan di kota yang tak pernah tidur. Gumaman yang melebur dengan angin sore yang membawa jauh aroma nasi bebek Dek Soleha di belakangku.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Iyas Utomo
Iyas Utomo Penulis kreatif dan esais yang mengeksplorasi sisi manusia yang rapuh, absurd, dan penuh pertanyaan. Selain menulis esai di Medium, juga aktif sebagai editor dan pekerja kreatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email