Ayo, Ajojing Dulu

May Wagiman

4 min read

“Ayo, ajojing dulu,” seru Kucing Putih di tengah dentuman cepat techno music.

Kucing itu berdiri di dua kaki belakangnya. Ia mengulurkan kaki depan yang berbungkus sarung tangan hitam. Berjalan meliukkan pinggul, ekornya bergoyang mengikuti irama musik. Matanya bermain nakal.

Udara di sekeliling mereka berat digantungi bau asap rokok bercampur rata dengan parfum dari tubuh-tubuh berkeringat.

Langkah sang kucing makin dekat.

Lawan bicaranya sudah siap untuk membuka mulut. Ada sapuan kekesalan di matanya. Ia heran sendiri mengapa mau begitu saja menerima ajakan untuk datang ke tempat ini. Kejadian yang menohok harga dirinya rupanya masih mengacaukan isi kepala.

Sehabis berkonsultasi, bujukan lihai sang pengacara membuatnya tak kuasa menolak. Tahu-tahu, mereka sudah berhenti di muka sebuah jalan sempit.

Dari luar lorong itu terlihat seperti gang buntu. Lampu-lampu jalan yang bagaikan hidup segan mati tak mau, menerangi langkah mereka. Tembok bangunan di kanan kiri dipenuhi graffiti serta poster-poster usang yang mengelupas. Deretan tong besar dipenuhi sampah menebarkan aroma busuk. Ia bertaruh, pasti tak ada yang sudi lewat di sini.

Lapisan cat pintu di depannya terlihat memudar. Sang pengacara mengulurkan kaki depannya. Ketukan pintu berbunyi seperti ketukan kode morse.

Hanya para pelanggan setia yang tahu ritual khusus untuk masuk.

Dua kali ketuk—jeda—tiga kali ketuk—jeda—satu kali ketuk.

Lengkingan musik langsung menusuk gendang telinga begitu pintu terbuka, terdengar makin keras seiring mereka turun. Anak tangga membawa keduanya ke sebuah ballroom.

Bintik-bintik cahaya terpantul di dinding. Kilatan lampu disko di tengah ruangan menyilaukan mata, ditambah lagi sinar laser merah dan biru yang menyambar-nyambar intens.

Suara riuh menyeruak dari belasan wajah asing, tubuh mereka meliuk dipandu komando ritme energetik. Tangan-tangan bergoyang liar ke atas dan ke bawah. Punggung maju ke depan lalu menyentak ke belakang. Kaki-kaki lincah mengikuti ayunan.

Ia masih terus memandang kucing betina bermata kuning di hadapan. Mata itu berkerjap seronok. Untaian mutiara mengelilingi leher jenjangnya. Headband bermanik menghiasi kepala.

“Eh, jangan bengong begitu,” seru Kucing Putih. “Ayo, musiknya lagi asyik.”

Ia masih tak bergeming.

Tak sabar, Kucing Putih akhirnya merangkul manja pundak lawan bicaranya. “Pertama kali?”

Suara di belakang mereka menjawab. Suara itu terdengar licin, menggelincir mulus seperti mentega yang dioleskan di atas ikan bakar.

“Yep … pertama kali.”

Keduanya menengok bersamaan. “Dia klien,” ucap suara licin itu lagi.

Alis mata Kucing Putih terangkat. Ia memandang sepupunya, Kucing Belang. “Oh?” Kucing betina melepaskan rangkulannya dan berjalan ke arah deretan sofa.

Kucing Belang menyuruh kliennya duduk sambil menyodorkan segelas jus daun pepaya sebelum menghempaskan bokongnya di atas sofa berlapis kulit.

“Dia dituduh mencuri.” Kucing Belang berkata, menyilangkan kakinya dan menyeruput dengan elegan minuman di tangannya.

Kucing Putih memandang sang klien. “Pantas, tampangmu tidak enak dilihat.”

Kepada sepupunya, Kucing Putih bertanya, “Klienmu punya nama?”

Sang klien menjawab pelan, “Kam ….”

“Apa? Lebih keras.”

“Namaku Kambing Hitam.”

Kucing Putih menatap lama lalu berkata, “Apa ada bukti-bukti kau mencuri?” Rasa tertarik tampak jelas di wajahnya.

“Semua bukti aspal! Informasi dipelintir. Dari semua yang punya potensi mencuri, aku yang ketiban apes.”

“Dia ada di tempat yang salah, di waktu yang keliru. Intinya nasibnya nahas.”

“Kau ada di TKP? Kok, bisa?”

“Kembaranku kerja jadi staf di sana. Tapi sialnya semalam dia tiba-tiba sakit. Aku yang harus menggantikan.“

***

Tak begitu jauh dari ujung lorong.

Satu makhluk merasa dirinya bagaikan berada di langit kesembilan. Matanya merem melek, lidahnya terjulur mendekati potongan indah di depan mata. Aroma yang menyerbak begitu menggoda, menggelitik lubang hidung, membuatnya menarik napas lebih dalam.

Mulai dari atas, ia menjilat. Pelan-pelan turun mengikuti lekuk potongan. Begitu berada di bagian bawah, ia berhenti sesaat membiarkan rasa itu meresap.

“Ah, pas sekali dengan seleraku,” gumamnya tersenyum simpul.

Seekor kucing kudisan sejak tadi memerhatikan, tak berani melihat lebih dekat lagi. Ia meringkuk, merapat pada tong sampah sembari sesekali menggaruk kulitnya, menunggu dengan sabar.

Begitu jumpa pers malam itu digelar, berita hilangnya ikan tuna sirip biru tadi pagi sudah menyebar ke seantero kota. Koki bertopi putih yang sekaligus pemilik salah satu restoran termahal di kota mereka terlihat mendelik. Koceknya terkuras seperti habis membayar utang negara. Percikan api menyembur dari bola matanya saat ia berdiri di depan kerumunan wartawan. Saat mendelik, ia terkadang juga harus memicingkan mata, silau oleh kilatan cahaya kamera. Ekornya bergerak cepat sebagai tanda protes kekesalan.

Ia kesal karena Kambing Hitam tak bisa segera diborgol. Petugas mengingatkan, “Tanpa bukti cukup, ya, tidak bisa asal ciduk.”

“Hidangan itu pesanan khusus dari perdana menteri. Kalau raib begitu saja, utusan negara tetangga mau dijamu apa? Ikan biasa? Perdana menteri padahal sudah wanti-wanti, tuna itu harus dimasak sesimpel mungkin. Kalian tahu, overcooking bisa mengacaukan rasa aslinya,” tutur sang koki berapi-api. Dua telinganya melambai.

“Koki ini mirip si Jumbo.” Satu wartawan jantan berkomentar.

“Ah, beda. Si Jumbo kupingnya lebih besar.” Wartawan di sebelahnya berkata.

Satu wartawan betina terlihat menyorongkan mikrofon yang nyaris menohok hidung sang koki yang terjulur ke bawah.

“Apa Kambing Hitam mengaku?”

“Manalah dia mau mengaku!”

“Apa ada CCTV di restoran?”

Koki tak menjawab. Sesaat matanya menatap ke bawah. Sudah lama semua kamera keamanan di restorannya rusak, tetapi ia menolak mengeluarkan biaya untuk mengganti. Pura-pura menggaruk kepala, ia mengalihkan pertanyaan dan berseru, “Segera tangkap pelakunya. Bikin malu saja!”

***

Kucing Garong memandang dengan mata penuh nafsu. Daging ikan mengilap. Baluran minyak marinasi menebarkan aroma yang menempel di udara. Ia mengendus lalu mengeluarkan desahan panjang. Ada hangat membara di dadanya.

Cakar depannya menekan ringan, memastikan tak ada tangan bercakar lain sekonyong-konyong muncul merampas harta karunnya.

Gigitan pertama. Daging itu lembut, mudah robek di antara gigi-giginya. Rasa manis menjalar dari lidah ke seluruh ruang mulut. Matanya terpejam. Ia mendesis puas.

“Tuna sirip biru,” gumamnya. Lidah Kucing Garong lincah beraksi. Setelah suapan terakhir, ia menjilat kedua kaki depan, lalu mengusap kumis panjangnya, pelan, telaten, satu demi satu.

Dari sudut matanya ia melihat si Kucing Kudisan. Ala pesepak bola kawakan ia menendang sisa daging tuna yang terlalu berserat.

Kucing Kudisan melompat secepat kilat. Bunyi kunyahannya nyaring. Ia mencabik di sana sini, menarik sisa-sisa serat yang tersembunyi.

***

Di antara nyaringnya suara musik dan kerlip lampu disko, Kucing Putih mengajak Kambing Hitam berajojing.

Si Kambing Hitam mengikuti ke lantai dansa setelah puas menghamburkan unek-uneknya. “Siapa juga yang doyan ikan? Jelas-jelas fitnah yang direkayasa.”

Sementara itu, di luar sana. Tanpa disadari, ada mata lain yang mengintip sejak si Kucing Garong mencuri hidangan untuk jamuan diplomatik.

“Aku bisa melaporkan kau pada polisi, hehe.”

Tawa miring tiba-tiba muncul dari atas atap.

“Pengecut! Keluar kau!”

Ia meloncat dan mendarat mulus di depan Kucing Garong. Seekor kucing berbulu hitam berdiri menghadang, senyuman sinis tersungging. “Yang ketemu aku biasanya bakalan celaka.”

Kucing Garong mendengus. Sebelum si Kucing Hitam berkata lagi, Kucing Garong sudah lenyap. Gerakannya kilat. Ia melompat ke tangga yang tersandar.

Kucing Hitam tak kalah sigap. Ia berjalan di bawahnya dan serta merta mendorong tangga sekuat tenaga.

Kucing Garong terjatuh. Tetapi, pemilik sembilan nyawa itu segera bangkit, mengibas debu di badannya, kemudian melompat cepat ke balik peti lapuk dan lenyap ditelan malam.

Di dalam nightclub, sendirian, Kucing Putih meliuk-liukkan badannya di lantai dansa. Si Kambing Hitam yang kelelahan menyeret pengacaranya untuk pulang. Kucing betina itu menatap satu target.

“Ayo, ajojing dulu.” Ia berseru.

Kambing itu tak bereaksi. Ia sibuk menyeruput jus daun pepaya. Kucing Putih lagi-lagi tak sabar. Ia mendekat dan bergayut santai. Pipinya hampir menyentuh jenggot sang kambing. “Hei, kau berlagak tuli, ya?” desahnya manja.

“Apa?”

“Kau kambing tuli, ya?” seru Kucing Putih.

“Bukan, namaku Kambing Congek.”

*****

Editor: Moch Aldy MA

May Wagiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email