Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Kesetiaan Guillermo del Toro pada “Kisah Usang” Frankenstein

Rido Arbain

2 min read

Dalam mencari kehidupan, aku menciptakan kematian.” — Victor

Novel Frankenstein karangan Mary Shelley yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1818, saat ini sudah menjadi domain publik. Guillermo del Toro mungkin orang ke-sekian ratus yang tertarik untuk merekonstruksi kisah sang Prometheus modern tersebut.

Dikisahkan, seorang ilmuwan cerdas bernama Victor Frankenstein berambisi menciptakan makhluk hidup dari bagian tubuh mayat yang didaur ulang. Bagaikan Tuhan yang menciptakan Adam dari tanah dan memberinya kehidupan, Victor menciptakan makhluknya dengan wawasan pengetahuan. Namun, jika Tuhan merangkul ciptaan-Nya dengan penuh kasih, Victor justru menolak dan membenci makhluk jadi-jadian yang ia hidupkan rohnya dengan tangannya sendiri.

Seperti Adam yang kesepian sebelum penciptaan Hawa, makhluk tanpa nama itu—yang sering disalahartikan sebagai Frankenstein—pun mendambakan penerimaan dan kasih sayang, meski nahasnya hanya penolakan dan rasa jijik yang ia terima dari pandangan mata manusia.

Meski cerita Frankenstein sudah jamak kita dengar, bahkan tanpa harus membaca materi asli novelnya, akan tetapi interpretasi visual atas wujud “monster” dalam cerita tersebut tentu sangatlah subjektif. Itu juga kenapa del Toro punya keputusan kreatifnya sendiri saat merilis Frankenstein: The Anatomy Lesson (2025), yakni tidak latah menuruti penggambaran visual ikonik makhluk tersebut—yang digambarkan dengan kulit hijau, dahi besar, dan memiliki baut di leher. Lagi pula, wujud makhluk yang demikian itu tidak berada dalam domain publik karena berasal dari interpretasi film Frankenstein: The Man Who Made a Monster (1931) milik Universal Studios yang memiliki hak cipta tersendiri.

Baca juga:

Deskripsi Shelley tentang Sang Makhluk adalah seorang pria bertubuh besar setinggi 2,4 meter dengan rambut hitam berkilau, gigi putih, dan kulit kuning kencang. Sementara pada novel edisi tahun 1831, ia diilustrasikan sebagai pria telanjang bertubuh besar dengan perut yang sangat indah, dan sisanya kurang lebih tetap setia pada deskripsi awal. Penggambaran makhluk tersebut mulai berubah ketika Edison Studios memproduksi versi film (pendek) pertama Frankenstein (1910), yang memperkenalkan sosok “monster” berpakaian lengkap dan berantakan, dengan riasan putih di wajah seperti memakai bedak.

Del Toro tentu paham bahwasanya di luar sana sudah banyak waralaba film dan juga komik Frankenstein lainnya yang dilaporkan telah berupaya keras mendesain ulang tampilan monster tersebut berdasarkan interpretasi khas Universal Studios. Misalnya, pada tahun 2010, Universal pernah menegur dan mengirimkan surat peringatan kepada pihak yang menerbitkan buku poster Electric Frankenstein. Peringatan tersebut berisi imbauan untuk menghindari kombinasi lima elemen visual yang membentuk tampilan karakter monster versi Universal: baut, kulit hijau, dahi besar, bekas luka, dan rambut datar.

Lima elemen visual tadi sudah barang tentu tak akan kita temui dalam pembaruan Frankenstein versi del Toro yang diperankan oleh Jacob Elordi. Dengan tinggi alaminya yang mencapai 1,96 meter, Elordi disulap menjadi Sang Makhluk (The Creature) dengan penampilan kulit prostetik yang dijahit dari bagian-bagian tubuh yang berbeda, mata tajam yang sedikit berair, serta tubuh besar dan hampir telanjang—sesuai dengan deskripsi Mary Shelley dalam novelnya.

Berbeda dari penggambaran kaku dan kikuk di film-film klasik sebelumnya, interpretasi del Toro terhadap Sang Makhluk menjadi lebih luwes, cerdas, dan sensitif. Ia menyoroti sisi kemanusiaan monster tersebut, memberinya sifat kerinduan mendalam akan kasih sayang dan juga rasa sakit karena kesepian.

Banyak sekali detail-detail yang setia pada materi asli cerita novelnya. Misalnya, saat Sang Makhluk bertemu dan berkenalan dengan seorang Kakek Buta di sebuah pondok, lantas ia diminta membacakan puisi Ozymandias karya Percy Bysshe Shelley dengan lirih. Menjadi interaksi yang menarik saat Kakek Tua itu kemudian memintanya mengambil buku terakhir berjudul Paradise Lost karya John Milton.

Baca juga:

Manusia punya pertanyaan untuk Tuhan. Bahkan Tuhan pun punya pertanyaan. Kurasa Dia ingin jawaban dan itu sebabnya Dia mengutus Putra-Nya. Kematian mungkin membuat-Nya penasaran,” kata sang Kakek Buta, seolah-olah menggambarkan dengan tepat nasib Sang Makhluk di tangan penciptanya sendiri.

Bisa dibilang, del Toro sangat adil dalam merekonstruksi kisah usang Frankenstein. Ia tak hanya setia pada materi aslinya, tetapi juga menciptakan berbagai situasi dengan porsi yang setara bagi kedua karakter sentral. Penggunaan dua sudut pandang bercerita dari Victor dan Sang Makhluk seakan-akan mengajak kita mempertanyakan kembali sebuah ambiguitas; siapa yang salah di antara keduanya: Victor yang gagal bertanggung jawab atau makhluk ciptaannya yang menuntut tanggung jawab?

Menariknya, pertanyaan tersebut tetap saja melahirkan diskursus baru, meskipun di masa lalu dan (mungkin) di masa mendatang kita akan terus menyaksikan interpretasi-interpretasi lain dari kisah Frankenstein.

Mungkin Tuhan tidak kompeten! Kitalah yang harus memperbaiki kesalahan-Nya!” — Victor (*)

Editor: Kukuh Basuki

Rido Arbain
Rido Arbain Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email