Pengrajin puisi dan esais. Punya akun Instagram namanya @ahm_soleh. Bikin penerbit buku indie namanya Penerbit Irfani.

Jari yang Pandai Berkata Kasar

Ahmad Soleh

2 min read

Sering Nongkrong di Berandamu

saat kubuka media sosial

kulihat akunmu sedang lengang

bersantai di beranda fesbuk

asyik membaca komentar haters

yang tampak begitu ngeri

 

setelah kubaca-baca

mereka memang cukup terlatih

seperti juga di instagram dan twiter

mereka lincah mengumbar amarah

 

rupanya benar persangkaanku

mereka memang begitu autodidak

meramu diksi-diksi penuh emosi

menebar benci lewat caci dan maki

 

apa peduliku? aku memang bukan siapa-siapa

hanya follower yang duduk di berandamu

sambil ngopi di senja-senjaku

membubuhkan like kecil di status-statusmu

 

setidaknya

itu jadi bukti

di berandamu yang ramai

ada aku yang sunyi.

 

7/3/2021

 

Jari yang Pandai Berkata Kasar

jari-jari itu menari

meletakkan kata demi kata

tanpa tedeng aling-aling

berkata sekenanya

 

di mana jari-jari itu bersekolah?

tanda tanya yang mungkin ada di kepalamu

sejak smartphone itu menggenggam

tangan-tangan polos kita

 

kita merasa begitu keren

menjadi primitif di era modern

alat-alat dibuat canggih

makin berkuasa makin lirih

 

jari-jari itu kini menggantikan mulut

mereka pandai berkata kasar

menghinda dina sesama manusia

mencela dan menista

 

jari-jari itu kini makin tak beradab

tapi perlu dicatat

kebiadaban itu lahir dari kepala

yang begitu pandai melupa

 

apa yang diungkapkan jari-jari itu

adalah sebuah kedangkalan nyata

bukti kita gagap

tak bisa sembuh dari luka-luka.

 

7/3/2021

 

Di Kolom Komentar

apa yang sedang anda pikirkan?

tanya fesbuk setiap waktu

“apa urusanmu? mau tahu saja,”

jawabku sedikit ngegas

 

lalu aku geser ke bawah

 

melihat statusmu yang cetar

jari-jariku gemetar

tahan, tahan barang sebentar

kuatkan aku menahan komentar

 

tuhan, tolonglah

tolong hambamu yang lemah

yang kuat menahan lapar

tapi tak tahan ingin komentar

 

kolom itu memanggil-manggil

disambut jempolku yang gigil

rasanya begitu gatal

ingin segera memperkaya jejak digital

 

aku akan menahannya sampai sabtu

tapi perlu kau tahu

betapa malam ini jariku linu

kangen komen sadis di statusmu.

 

4/3/2021

 

Imajiku Emojimu

kau tampak sedih sekali

di kolom percakapan instan itu

wajahmu tampak mendung

seperti langit di tepi pantai

yang megap-megap dirundung gelap

 

kucoba geser layar ke atas

percakapan kita tampak biasa saja

malah, hanya sedikit kau berbicara

mungkin sulit menata kata-kata

atau dengan alasan apa

aku tak bisa memahaminya

 

berserakan senyum dan tawa

yang jelas kusangsikan benar/tidaknya

hingga akhirnya percakapan kita pun usai

emoji darimu belum juga tuntas berderai

 

beberapa lama, ponselku mulai terasa panas

terlalu lama emojimu menatap mataku

sementara, imajiku sedari tadi berserakan

di tepi beranda twiter

yang lusuh di-unfolow zaman

yang koyak diserang buzer

 

mendengar kabar itu

kau begitu terbahak, meski cuma

lewat ikon bundar kuning di layar itu

kau menertawaiku yang sedang benar-benar pening

diterpa kangen yang tak pernah kering.

 

7/3/2021

 

Pada Ponsel yang Tak Cukup Cerdas

pada ponsel yang tak cukup cerdas

jemariku tersesat di profilmu

kebingunganku menjadi

saat pesanmu seketika terhenti

entah habis kuota atau

sudah cukup menuai derita

 

pada kolom yang sempit itu

lagi-lagi kubuatkan kau puisi

yang nadanya agak mendayu

dengan diksi-diksi sedikit merayu

celakanya kau malah pergi

menganggapku bagai angin lalu

 

tak terasa, batrei ponselku cepat habis

disedot pria tak punya kerjaan ini

saban hari mengirim kata-kata manis

untuk perempuan yang tak punya rasa

mungkin ia hanya pede belaka

atau terlewat gede rasa

 

pada layar yang hampir sejengkal ini

tak bisa kugenggam lagi percakapanmu

centang biru perlahan sayu

apa iya, begitu tega kau blokir aku

memandangi foto profilmu

sejak saat itu jadi rekreasi batin bagiku

 

sebab itu sedikit mengobati kangenku

yang sudah bernanah, luka, dan infeksi

disayat-sayat harapan yang karam

ditambah kini hatiku tertimpa garam

makin sakit, makin lama ia membusuk.

 

9 s.d 11/3/2021

 

Jalan Lain ke Hatimu

terpejam, tubuhmu telentang

kulihat cahaya berkelebat

begitu cepat menerangi tubuh kita

yang gigil diderai angin malam

 

kabut subuh tiba lebih cepat

kepalaku yang pusing mulai

berhalusinasi tentang jalan panjang

jalan menuju hatimu

yang kelok dan terjal

 

aku bisa mampir ke ceruk dadamu

juga bisa hampiri lembah belukarmu

tapi kadang aku tersesat

tak tahu jalan pulang

 

hingga kadang putingmu jadi pemandu

menghabiskan waktuku

menepi dari ponsel pintar itu

yang begitu erat menjerat tanganku

 

angin berembus saat kita telanjang

begitu membuatku ingin memelukmu

memberi hangat pada permukaan kulitmu

yang perlahan kisut ditempa waktu

 

kita ninabobokkan saja malam ini

lupakan, lupakan sejenak mimpi itu

sebab alamat ke hatimu

sudah ada di genggamanku

sudah kusimpan baik-baik di kepalaku

 

tak mungkin kan aku melupakanmu?

11/3/2021

 

***

Buku kumpulan puisi terbaru Ahmad Soleh berjudul Memutus Wabah Pilu Menyemai Benih Rindu (Diva Press, 2020). Instagramnya @ahm_soleh.

Ahmad Soleh
Ahmad Soleh Pengrajin puisi dan esais. Punya akun Instagram namanya @ahm_soleh. Bikin penerbit buku indie namanya Penerbit Irfani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email