Jalan Ketiga Rocky Gerung

Alwi Reniwuryaan

2 min read

Berapa hari yang lalu, Presiden RI, Prabowo Subianto, melantik sejumlah tokoh sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Menariknya, dari beberapa tokoh tersebut, ada Rocky Gerung di sana. Kehadiran Rocky memunculkan respons masyarakat yang tidak sedikit. Wajar saja karena sebelum-sebelumnya Rocky selalu hadir dengan kritikannya yang tajam dan keras.

Berbagai respon menghampirinya. Ada yang mengatakan bahwa kritikannya selama ini hanya cara untuk duduk di kursi kekuasaan. Ada yang menyayangkan tindakannya bergabung dengan kekuasaan. Ada yang mengatakan akal sehatnya dikalahkan oleh kedunguannya sendiri, dan segenap komentar lainnya. Semua komentar itu tidak salah, namun terlalu cepat untuk mengatakannya begitu. Mungkin saja Rocky bisa lebih tajam menyuarakan pikirannya jika berada dalam kekuasaan.

Tulisan ini tidak berupaya untuk menunjukan apakah tindakan tersebut benar atau salah. Tentu saja, kekuasaan dan kaum intelektual memiliki sejarah panjang. Dhakidae dalam Nivada (2021) menunjukan bahwa Orde Baru berkontribusi terhadap keterbelahan intelektual: intelektual yang memenuhi kepentingan penguasa dan intelektual penantang. Mendudukan Rocky pada posisi pertama agaknya terlalu cepat. Namun, mendudukannya pada posisi kedua pun rasanya sudah berlalu. Pertanyaannya: apakah memang hanya tersedia dua pilihan itu? Di sini, ide Cornelis Lay mengenai jalan ketiga menemukan relevansinya.

Baca juga:

Lay, pada tahun 2019, menulis pidato guru besarnya dengan judul Jalan Ketiga Peran Intelektual: Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan. Di sini, Lay menunjukan keterbelahan intelektual dalam dua jalan: intelektual yang menempatkan kekuasaan sebagai ruang yang nyaman dan intelektual yang hidup di luar dan terbebas dari jangkauan kekuasaan. Namun, ia tidak berhenti di situ. Ia menawarkan jalan ketiga – suatu jalan yang memberikan akses pada kaum intelektual agar bisa masuk dan keluar dari kekuasaan.

Ia menekankan bahwa jalan itu tidak boleh didasari kecintaan atau kebencian terhadap kekuasaan, melainkan harus didasari oleh penilaian yang matang dan menyeluruh. Kita tidak tahu persis, dasar apa yang digunakan Rocky: apakah itu karena kecintaan atau penilaian yang matang dan menyeluruh. Satu hal yang pasti: ia tidak memiliki alasan untuk menolak. Bagi Rocky, ia akan tetap bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah walaupun berada dalam kekuasaan. Saya tidak yakin begitu. Penjelasan jalan ketiga Lay akan menunjukan hal itu.

Jalan ketiga, oleh Lay, dijelaskan bersifat timbal balik. Mengapa demikian? Lay memiliki tiga alasan untuk itu. Pertama, baginya, tidak sedikit intelektual yang kesulitan menemukan jalan kembali ketika berada dalam kekuasaan. Kedua, banyak intelektual yang mengalami kejadian traumatis pada politik yang membuatnya membunuh segenap alasan untuk kembali memasukinya. Ketiga, terdapat intelektual yang mengharamkan dunia politik yang dilihat sebagai dunia yang kotor. Dengan begitu, tidak layak dimasuki oleh kaum intelektual sebagai simbol kebersihan dan kesucian.

Tidak ada alasan untuk menolak yang disampaikan Rocky menunjukan bahwa dirinya tidak berada pada situasi ketiga. Begitupun situasi kedua. Bagi saya, situasi kedua dapat relevan ketika ia bisa menghadapi situasi pertama. Apakah ia akan menemukan jalan kembali? Sepertinya pertanyaan itu terlalu cepat untuk dijawab sekarang. Ia baru saja dilantik berapa hari yang lalu. Waktu akan menunjukannya. Kita harus tetap berprasangka baik.

Begitu pun Lay, ia merumuskan jalan ketiga dengan prasangka baik. Baginya, semua hal baik dapat berjalan bersama. Ia meyakini bahwa kekuasaan maupun ilmu pengetahuan lahir dan tumbuh dengan cita-cita yang sama: pembebasan manusia dan pemuliaan kemanusiaan. Tentu saja, jalan itu tidak mudah. Di sana, terdapat berbagai lapisan jebakan. Hal itu semakin berat karena kombinasi dua hal: daya rayu kekuasaan dan sifat alamiah manusia. Ia menekankan kaum intelektual untuk tetap waspada dengan satu hukum universal: power changes people!

Bagi Lay, tantangan terbesar seorang intelektual tidak terletak pada kemampuan dan kesiapannya untuk memaki kekuasaan dan para pelakunya dengan lantang, melainkan pada kesediaannya untuk bersahabat dan bergabung dengan kekuasaan. Rocky kelihatannya berada pada posisi ini: menantang dirinya untuk bersahabat dan bergabung dengan kekuasaan. Di sini, tantangannya, sebagaimana disampaikan Lay, terletak pada upaya menjaga kewarasan dan karakter dasar intelektual: berpikir bebas dan bertindak bijak bagi kepentingan kemanusiaan.

Baca juga:

Ia menutup pidato guru besarnya dengan pernyataan yang menarik: intelektual pasti hidup dalam kekuasaan dan kekuasaan membutuhkan ilmu pengetahuan. Di sinilah saya mulai ragu. Bagi saya, keterlibatan Rocky dalam kekuasaan dapat dibaca sebagai angin segar. Namun, terdapat dua syarat untuk itu. Pertama, suaranya masih lantang. Kita semua tahu bahwa kekuasaaan selalu menggoda. Ia memiliki kemampuan lebih perihal kenyamanan. Ia merubah orang. Tentu syarat pertama ini adalah jalan yang berat. Lay menunjukan bahwa tidak sedikit intelektual yang kesulitan menemukan jalan kembali.

Ketika berhasil melalui syarat pertama, ia baru bisa sampai pada syarat kedua. Sebagaimana syarat pertama, jalan syarat kedua juga tidak mudah. Ia mensyaratkan adanya kebutuhan kekuasaan terhadap ilmu pengetahuan. Saya semakin ragu. Dengan semua yang terjadi, saya pikir, kita semua sudah tahu: bagaimana kekuasaan memosisikan ilmu pengetahuan. Frasa “saking pintarnya menjadi goblok” yang banyak beredar di media sosial semakin memperjelas hal itu. Sampai sini, apa yang bisa kita harapkan. Ah, kita tidak boleh berharap pada manusia. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Alwi Reniwuryaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email