Gentayangan

Hachimitsu Kanro

6 min read

Bukanlah sebuah kesengajaan untuk membiarkan tubuhku dirundung kuyup. Pada saat itu mataku terpejam. Aku tertidur dalam lindungan pohon rindang yang membawa sebuah kenikmatan. Aku berbaring di bawah beringin tinggi dengan lengan sebagai bantal dan rumput sebagai tilam. Saat itu aku terlelap dalam posisi menyamping. Lengan kananku dilipat untuk menumpu pipi dan kepala, sementara yang satunya terkulai di paha kiri. Hal ini lumrah terjadi di kalangan para budak korporat.

Percik hujan semula kuindahkan sebagai sapuan penyejuk. Namun, lambat laun ranting-ranting air membesar dan menciptakan belukar hujan. Seketika itu aku terkesiap dan berjalan besar-besar untuk memburu gedung kantor yang letaknya sekitar sepuluh meter dari posisiku saat ini. Aku tidak berlari karena jalanan licin hingga berpotensi membuatku tergelincir.

Tubuh yang basah membuat kemeja putih tercetak sempurna di badan. Sungguh menakjubkan titah alam, gumpalan bola kapas itu meleleh dan seketika membiarkanku terperangkap dalam pelukan hujan. Aku butuh handuk atau kain apa pun yang dapat menyerap setitik air agar bajuku sedikit kering.

Kusadari jika sesuatu agak asing. Matahari telah ditelan gelap. Hal yang tersisa hanyalah cahaya lampu neon. Aku memandang area sekitar. Rupanya tirai malam telah tersingkap untuk menyambut kedatangan sang bulan. Dalam langkahku menuju ruang loker, sayup-sayup suara sekumpulan orang mampir di kupingku. Aku pun memilih untuk mencuri dengar.

“Kayaknya kemah minggu ini ditunda dulu. Mending fokus ke agenda lain.” Jelas kalau itu adalah ucapan manajer pemasaran, namanya Rio. Gaya bicaranya sangat khas. Vokal lembut, tapi agak berat. Aku yakin jika beberapa orang tengah mengadakan rapat. Namun, mereka ceroboh karena membiarkan pintu ruangan terbuka sehingga suara di dalam melayang begitu saja.

Sebagai mantan komandan PASKIBRA di SMA, suara Rio cukup lantang dan mampu menghadang riuh hujan yang terpelanting dan ambruk ke tanah. Pertemuan semacam ini biasanya terjadi ketika muncul urgensi tertentu dan diadakan setelah kantor sepi. Sebagai budak korporat, kami kerap lembur sampai suntuk.

Perihal rapat, jujur saja aku kecewa dengan keputusan Rio. Dia akan menunda acara kemah yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari. Sumpah, acara itu kususun jatuh bangun sampai tidur banyak tercuri dari mataku. Ini adalah hal tersier untuk merekatkan hubungan individu dalam perusahaan, tapi kuatur semuanya seolah terletak pada level kebutuhan pokok. Dia mengubah semua rencana sesuka hati seolah tonggak kekuasaan ada di tangannya.

Aku tak menyangka jika sikap apatis mulai merongrong jiwanya, padahal dia baru diangkat menjadi manajer beberapa bulan lalu. Memang, jabatan bisa memakan idealisme seseorang. Dulu ketika kami masih di level yang sama, dia berjanji untuk tidak berubah. Apalah arti janji jika hanya terselip di lidah.

Sebagai seorang ketua pelaksana, perasaanku tercabik karena tidak diajak berembuk. Kalaupun ada masalah, mengapa tidak menyertakanku? Apakah dia lupa dengan perjuanganku? Sungguh, aku sangat gusar dan ingin memuntahkan segala kekesalan. Aku memang punya masalah pribadi dengan Rio, tapi tak pernah terlintas dalam benakku untuk mencampuradukkannya dengan pekerjaan. Aku memang karyawan kontrak yang baru lulus magang. Namun, profesionalitas tetap terawat dan menjadi bagian dari ideologiku.

Tanganku sudah mengepal dan siap memuntahkan segala kekesalan, tapi tiba-tiba saja lidahku kelu dan bibir tak dapat bergerak barang sedikit pun. Hal yang bisa kuperbuat hanyalah menangis. Aku kecewa karena kepercayaanku benar-benar tercincang sempurna. Tangis pecah dan seketika itu juga aku sesenggukan. Kuputuskan untuk berlari menjauhi mereka dan berpindah ke satu pojok sepi di gedung perusahaan. Area rooftop kantor menjadi sasaranku. Biarlah gelegar petir menelanku bulat-bulat. Aku sudah tak sanggup lagi menahan kekesalan dari manusia macam begundal itu.

Aku naik ke lantai tertinggi dengan menaiki tangga. Tak peduli dengan gaharnya cuaca, aku akan menebas rindangnya hutan air dan mengabaikan tubuh yang akan menggigil karena kuyup. Setelah menaiki beberapa anak tangga, aku berjalan penuh tenaga dan berbelok ke kiri. Langkahku cepat dan lekas membuka pintu penutup rooftop. Setelah area luar tertangkap mata, aku mendapatkan senyap dan gelap layaknya tempat bernaung makhluk halus. Aku tidak memedulikan hal tersebut, pokoknya aku ingin sendirian.

Aku mengajak kedua tungkaiku berlari menuju pagar pembatas. Sepasang tangan diletakkan di atasnya. Kepalaku mendongak ke langit dan tak memedulikan rintik yang menerjang layaknya tusukan jarum. Aku berteriak sekerasnya. Tangisku bercampur dengan hujan hingga sulit dibedakan antara lelehan awan atau air mata.

“Jancok!” Sekadar kata persetan dari bahasa Jawa untuk mewakili rangkaian sumpah serapah yang sebenarnya masih panjang jika aku tidak keburu kesal.

Selama empat tahun aku bermimpi bekerja di perusahaan Jepang, tapi hanya lapisan kecewa yang kudapat. Pertama, orang-orang bersaing dalam menjilat atasan agar posisinya terangkat. Tak lupa, mereka menyikut teman dan menginjak lawan. Sekejam itukah dunia? Mengapa sulit mengendapkan persaingan dan berpindah pada tabiat seorang pelajar? Kita sama-sama mengasah ilmu untuk berkembang. Sialan! Tidak ada manusia yang dapat dipercayai di dunia ini.

Aku memandang ke titik jauh, poin itu sangat renggang dengan posisiku sekarang. Tidak ada hal menarik, tapi tatapanku tetap saja menerawang panjang seperti ada tarikan magnet dan bola mataku adalah sejenis logam. Bayang-bayang masa lalu memberondong ingatanku.

Dulu, aku bekerja di perusahaan ini karena Rio. Dia membuka celah lebar, sehingga aku dapat memasuki satu ambang dengan begitu mudah. Kami sama-sama belajar dan berjanji untuk saling bergandengan sampai berada di puncak yang paling sesuai. Kami tidak memimpikan hal muluk karena paham akan kemampuan yang ada. Pelan-pelan semuanya berubah.

Jabatan menjadi anggur memabukkan yang mengandung racun. Sekali kauteguk, semua janji seolah lenyap dari dasar memori. Kata-kata hanyalah pemanis untuk memuluskan tipu daya. Aku adalah korban yang terperangkap. Dulu, aku dan Rio berpacaran. Kami memang tidak romantis, tapi kisah yang dijalani menyebar dengan membawa wewangian kasturi. Cerita cinta itu tertangkap banyak mata dan menggantung di telinga orang-orang. Kami acapkali menjadi buah bibir karena dinilai paling manis dan mencerminkan kisah dewasa. Namun, apalah daya, petaka tiada yang tahu. Bagai petir menyambar gurun sahara, sebuah ultimatum turun. Pihak HRD memutus paksa ikatan cinta itu.

Ada satu aturan telak di perusahaan, regulasi mengharamkan adanya hubungan keluarga di antara sesama karyawan. Memang sudah tersiar kabar bahwa kami akan melangsungkan pernikahan. Hal itu pertanda bahwa aku dan Rio akan menjadi keluarga erat. Banyak perdebatan tentang penentuan siapa yang akan bertahan. Dalam sisi egois, sangat jelas jika aku tidak mau hengkang. Ibarat kembang, aku baru tumbuh menjadi kuncup. Sangat tidak bijaksana jika memetik sesuatu yang berpotensi mekar dan menyebar wangi semerbak. Di sisi lain, Rio adalah senior dan karirnya sudah matang sehingga siap diangkat ke puncak. Dia laksana padi yang menguning dan siap panen. Posisinya sangat menggiurkan. Kami bersikeras dengan alasan masing-masing sehingga tak mau mundur. Perang pun pecah, kami mengakhiri hubungan romansa yang telah terikat sejak tiga tahun lamanya.

Semenjak jalinan itu terputus, sikap Rio agak berubah. Dia benar-benar kaku dan hanya menanggapi seperlunya. Begitu kontras dengan momen ketika masih berpacaran. Tangan kami selalu bergandengan. Kecupan di bibir dan kening senantiasa mendarat untuk masing-masing. Kata-kata manis, obrolan ringan, keluhan, dan segala hal yang menggelayuti pikiran senantiasa dicurahkan kepada satu sama lain. Kami menjadi kekasih sekaligus kawan bertukar bincang. Namun, semua terbalik ketika api menyerang dan menghanguskan segalanya. Cinta kami terbakar oleh ambisi. Aku tidak menyesali apa pun karena hidup manusia diikat oleh tali takdir. Kita punya jatah peran sebagaimana kehendak Tuhan sebagai sang sutradara. Namun, kadang kala kecewa itu membekas. Kenapa dia lekas berubah? Apakah percikan pengobar hasrat itu telah punah seutuhnya? Apakah kenangan tentang kami telah luput sempurna?

Pucuk semangatku patah bukan semata-mata karena lemah. Aku hanya lelah sebab bibit amarah sering ditanam ke jantungku. Tak bisa kuhitung. Sebagai manajer, Rio kerap memberikan tekanan ekstra padaku. Ini bukan perasaanku saja, tapi orang lain melihat hal serupa. Ibu selalu bilang, mungkin pria itu hendak mengasah kemampuanku agar semakin tajam dan sanggup membelah kesulitan yang menghadang di depan mata. Namun, apa yang kuterima berbeda. Batinku terguncang dan melemahkan keyakinan terhadap diri sendiri. Contohnya sekarang. Aku sudah merancang banyak hal untuk merekatkan hubungan interpersonal karyawan, tapi Rio malah mengubah rencana. Padahal, jelas-jelas dia menaruh kepercayaan padaku dan menguar kata manis. Dia bilang bahwa aku paling bisa diandalkan untuk urusan perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan pengikat persatuan.

“Ah! Jancok! Cowok emang brengsek! Setan! Demit! Sialan!” Aku merutuk karena setiap jengkal ingatan bersama Rio kembali mekar dan mengeluarkan bau busuk seperti bunga bangkai. Di tengah-tengah amarahku, seseorang membuyarkan lamunan.

“Mbak Puspa?” Aku berbalik ketika namaku disebut. Kehadiran Adi membawa angin hangat yang entah bagaimana bisa merontokkan kesedihanku. Hujan yang semula menciptakan tunas berupa air deras sekaligus angin kencang perlahan-lahan sirna. Adi seolah menyapu segala keburukan dan menghadiahkan keceriaan. Dia memang punya kekuatan magis. Orang kantor kerap menyebutnya sebagai Pak Ustaz, dia memang mafhum ilmu agama. Kebajikan seolah enggan berpaling darinya. Aura-aura positif senantiasa membanjiri langkah kakinya.

“Eh, kamu ngapain?” Butuh waktu lama sebelum aku menanggapinya. Sesuatu seolah menahanku untuk bicara. Sejujurnya pertanyaan barusan lebih tepat dilayangkan padaku, tapi sudahlah. Terlanjur kuucap juga.

“Saya cuman cari angin segar sekaligus bantu Pak Darmaji.” Orang yang disebutnya adalah salah satu petugas kebersihan di kantor.

“Memangnya bantu apa?” Aku tergugah rasa penasaran. Kesedihan seketika teralihkan oleh obrolan ringan ini. Kuperhatikan Adi baik-baik, dia berdiri menghadap ke pagar pembatas dan tampak mengawasi jalanan di bawah kami.

“Saya diminta menyalakan lampu rooftop. Katanya si Bapak takut.”

“Takut sama apa?” Aku berdiri di sebelah Adi. Jarak yang memisahkan kami hanya sebatas satu siku.

“Tadi sore ada kecelakaan di sana.” Dia menunjuk satu titik dengan ibu jari tangan kanannya. Aku pun mengikuti arahan tersebut.

“Terus hubungannya sama lampu itu apa?”

“Kata Pak Darmaji, beberapa kali lampu dinyalakan dan hasilnya gagal. Dia juga melihat ada sosok hitam masuk ke area sini. Mbak memangnya gak lihat?”

Penuturan Adi membuat bulu kudukku seketika meremang. Pandanganku menyebar ke area sekitar. Tidak ada tanda-tanda makhluk lain di sini. Hanya ada pijar lampu yang menyorot ke langit dengan anggunnya. Dia pasti mengarang untuk menakutiku.

“Ah, kamu mah. Pasti mau bikin aku jumpalitan karena takut.”

Adi tersenyum dan memandangku sekilas. Dia pun menjelaskan bahwa tak ada yang perlu ditakuti dari makhluk selain manusia atau wujud nyata lainnya. Entitas di muka bumi adalah sebuah keindahan tersendiri yang Tuhan ciptakan. Sebab-sebab adanya bentuk mengandung sebuah alasan besar untuk menafakuri tanda-tanda kebesaran-Nya. Iman yang setipis kapas membuatku terenyuh. Ada banyak hal terlewat selama ini. Namun, aku belum siap untuk membicarakan hal-hal fundamental pembangun religi. Naluriku belum sampai ke sana.

“Kita ngomongin kartun aja, yuk?” Aku menginisiasi perubahan topik agar tidak larut pada pemikiran mendalam. Otakku sudah penuh sesak karena dijejali banyak masalah. Lebih baik mengangkat sesuatu yang ringan untuk mendangkalkan problem hidup.

“Boleh. Mbak suka kartun apa?”

“Aku paling suka nonton SpongeBob. Tiap pagi sebelum ke kantor pasti lihat dulu itu. Walaupun episodenya sering diulang, aku enggak pernah bosan.” Serial animasi yang kumaksud sangatlah populer pada hampir semua kalangan. Ceritanya sendiri agak berat jika kita cermati. Ada kehidupan karyawan yang diperlakukan semena-mena oleh pimpinannya. Seorang tokoh bernama Squidward adalah gambaran banyak orang di kala dewasa. Namun, semuanya tersaji secara implisit dan tidak akan menyakiti pikiran seperti halnya dongeng sejarah yang kelam.

“Kamu sendiri suka kartun apa?” Aku melanjutkan kalimatku dengan satu pertanyaan.

“Saya suka nonton Lucky Luke.”

“Ceritanya tentang apa?” Aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat, tapi jejak memorinya agak kabur. Mudah-mudahan Adi mau menjelaskan ulang kisahnya.

“Lucky Luke itu kartun tentang koboi, film yang diperankan oleh manusianya juga ada.”

Harapanku terkabul. Adi mempertegas ingatan yang sulit kugali karena tertimbun masa. Dia menjelaskan bahwa Lucky Luke adalah judul seri sekaligus nama seorang tokoh yang pandai mengendalikan pistol. Ada sebuah kutipan menarik dari cerita tersebut. Lucky Luke dijuluki sebagai si penembak yang lebih cepat dari bayangannya sendiri. Hal tersebut karena tangannya gesit dan bidikannya sangatlah jitu.

“Lucky Luke pernah duel sama bayangannya sendiri,” tutur Adi.

“Konyol banget. Pasti yang menang si Lucky Luke, kan?”

“Betul sekali. Seratus buat Mbak Puspa. Bayangannya sampai kabur karena malu udah kalah cepet.”

“Jadi hantu dong, gak punya bayangan.”

Aku terkekeh-kekeh sebelum akhirnya tawa itu terputus. Kuputar tubuhku dan memperhatikan lampu yang sudah menyala. Pandanganku turun ke tempat kaki memijak. Hanya ada satu bayangan hitam memanjang dan itu milik Adi.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hachimitsu Kanro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email