Fenomena Live Streaming : Ketika Gift TikTok Lebih Berharga daripada Harga Diri

azkia harirorun

3 min read

“gift dulu ya guys, ntar aku guyur lagi”

Kalimat seperti itu sekarang terasa biasa saja di TikTok. Setiap hari, jutaan pengguna menyaksikan live streaming orang orang yang rela melakukan hal-hal aneh demi mendapatkan gift dari para viewers. Ada yang mandi lumpur, mengguyur tubuh dengan air kotor, tidur di kandang hewan, bahkan ada yang rela bergoyang untuk dijadikan sebagai tontonan digital. Semakin lucu atau semakin aneh aksinya, maka semakin besar pula gift yang akan didapatkan.

Parahnya, fenomena ini tidak lagi dianggap hal yang memalukan. Mengemis gift dengan cara-cara seperti itu, justru mulai dinormalisasikan sebagai cara mencari uang, hiburan, bahkan strategi untuk menjadi populer di media sosial. Para viewers pun ikut menikmati dalam budaya tersebut. Mereka mengirim gift bukan semata-mata untuk membantu atau berbagi, tetapi juga karena ingin di-notice streamer, seperti disebut username-nya saat live streaming, komentarnya dibaca, atau ketika dirinya diakui oleh streamer maupun penonton lain.

Baca juga:

Pada awalnya, gift TikTok dipahami sebagai bentuk dukungan atau apresiasi kepada streamer, tetapi dalam praktiknya, fenomena ini berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Gift bukan lagi sekadar bentuk bantuan, tetapi telah berubah menjadi alat mencari perhatian, validasi sosial, bahkan status digital. Gift Tiktok sendiri memiliki nilai yang sangat beragam dengan bentuk dan karakter yang berbeda-beda pada setiap nominalnya. Mulai dari gift yang murah, yaitu mawar yang bernilai 1 koin atau sekitar Rp.140 – Rp.250, hingga gift mahal seperti singa, paus, topi, dan lain sebagainya yang memiliki nilai 29.999 koin atau sekitar Rp.7,5 juta. Setiap gift nya dirancang dengan animasi visual tertentu untuk menarik perhatian selama live streaming. Semakin mahal gift yang diberikan, maka semakin bagus pula animasi yang muncul di layar streaming.

Disitulah letak daya tariknya.

Banyak orang menganggap fenomena gift Tiktok ini sebagai bentuk sedekah atau berbagi kepada sesama. Namun, kenyataannya gift sering kali diberikan kepada seleb tiktok atau artis yang sebenarnya sudah memiliki penghasilan besar. Para viewers tetap rela mengirimkan gift karena adanya sistem pengakuan sosial di dalam platform. Ketika ada seseorang yang memberi gift, username-nya akan muncul dengan disertai tulisan “mengirim gift kepada anda”. Selain itu pemberi gift juga bisa memperoleh lencana tertentu sebagai “top supporter” yang menunjukkan status di jendela live streaming tersebut.

Muncul satu pertanyaan yang mengganggu pikiran saya : “kenapa orang lebih mudah memberi gift ke TikTok daripada membantu tetangga sendiri yang sedang kesusahan?”. Yaitu Ketika seseorang dengan mudah untuk menghabiskan uang untuk membeli gift tetapi merasa berat ketika dimintai bantuan oleh orang sekitar. Padahal nominalnya tidak jauh berbeda. Jangan-jangan, media sosial memang pelan-pelan mengubah cara kita memahami kepedulian. Orang kini lebih mudah merasa iba pada sesuatu yang viral di layar ponsel dibanding penderitaan nyata yang ada di sekitar mereka.

Sekarang, fenomenanya bahkan semakin jauh. Tidak sedikit streamer yang rela berjoget atau melakukan tindakan yang merendahkan dirinya sendiri demi mendapatkan gift dari penonton. Ada yang terus berjoget selama gift berdatangan, ada pula yang sengaja menampilkan aksi vulgar atau memalukan demi menarik perhatian viewers. Parahnya, semakin seseorang kehilangan rasa malu di depan kamera, semakin besar kemungkinan live streaming itu ramai dan menghasilkan uang.

Di titik ini, media sosial perlahan membuat harga diri seseorang bisa dipertukarkan demi mendapatkan perhatian di media sosial. Kalau dipikir-pikir, fenomena gift TikTok memang tidak sepenuhnya soal membantu orang lain. Ada rasa puas tersendiri ketika nama kita muncul di layar live streaming atau ketika streamer mengucapkan terima kasih secara langsung. Dalam teori impure altruism milik James Andreoni, kondisi seperti ini disebut sebagai warm glow, yaitu perasaan puas setelah memberi bantuan kepada orang lain (Andreoni, 1990).

Dalam konteks TikTok, warm glow itu muncul secara instan. Ketika seseorang mengirim gift, layar langsung menampilkan animasi besar, nama pemberi muncul, streamer mengucapkan terima kasih, bahkan ribuan penonton lain ikut melihatnya. Ada rasa senang karena merasa diakui dan dianggap penting. Jadinya, gift di TikTok terasa seperti transaksi timbal balik. Penonton memberi uang, sementara streamer memberi perhatian dan pengakuan sosial.

TikTok secara tidak langsung membangun sistem yang membuat orang ketagihan mencari validasi sosial melalui gift. Semakin besar gift yang diberikan, semakin besar pula perhatian yang diterima. Artinya, rasa iba dan empati masyarakat sebenarnya sedang diubah menjadi sumber keuntungan ekonomi.

Contoh nyata dari fenomena ini dapat dilihat pada konten-konten ekstrem yang dilakukan demi memperoleh gift. Ada seorang ibu-ibu rela mengguyur tubuhnya dengan air setiap kali menerima gift dari penonton. Ada pula konten mandi lumpur yang sempat viral, di mana streamer akan terus berendam atau mengguyur dirinya dengan lumpur selama gift terus berdatangan. Konten-konten seperti ini dianggap unik dan menghibur oleh sebagian viewers. Akibatnya, semakin ekstrem tindakan yang dilakukan streamer, semakin besar pula peluang mereka memperoleh perhatian dan gift.

Baca juga:

Pada akhirnya, algoritma media sosial memang lebih menyukai hal-hal yang sensasional. Semakin aneh, memalukan, atau mengundang emosi suatu konten, semakin besar kemungkinan konten itu ramai dan menghasilkan uang. Dan mungkin, itu adalah bentuk perubahan sosial paling mengkhawatirkan di era digital hari ini.

Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam memahami fenomena gift TikTok agar praktik berbagi di media sosial tidak hanya menjadi sarana mencari eksistensi dan validasi sosial semata. Sebab, kalau rasa peduli hanya muncul pada hal-hal yang viral, jangan-jangan kita memang mulai lupa cara peduli tanpa bantuan algoritma. Pada akhirnya, TikTok mungkin tidak benar-benar membuat manusia kehilangan empati. Platform itu hanya berhasil mengubah empati menjadi tontonan, perhatian menjadi transaksi, dan rasa malu menjadi sumber penghasilan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

azkia harirorun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email