“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”
R.A Kartini (1879-1904)
Emansipasi perempuan hari ini lantang menyuarakan tentang bagaimana perempuan bisa memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam aspek kehidupan. Perempuan dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan mengakses kesempatan yang sama, perempuan bisa berpikir kritis, perempuan bisa berdaya bagi politik dan ekonomi, perempuan bisa turun tangan dalam upaya kemajuan bangsa. Namun, sebenarnya, apa indikator dari keberhasilan emansipasi wanita itu sendiri?
Dalam dialog-dialog masa kini kerap kali dikatakan bahwa emansipasi berhasil menghantarkan perempuan pada peran yang menembus ranah publik dan “melampaui” tugas domestik. Sederhananya, emansipasi dianggap berhasil ketika perempuan terbebas dari tugas domestik dan diakui kontribusinya ranah publik.
Sayangnya, justru persepsi yang seperti inilah yang menggeser cita-cita emansipasi perempuan serta mereduksi nilai pada peran tertentu yang pada akhirnya hanya akan menggandakan ketimpangan dalam wajah yang baru. Lantas, bagaimana seharusnya kita memahami arah emansipasi wanita hari ini?
Baca juga:
Sejatinya, esensi dari pada emansipasi perempuan bukan terletak pada substitusi peran dengan peran lain yang lebih baru. Emansipasi terhadap perempuan seharusnya dipahami sebagai hadirnya ruang otonom bagi perempuan untuk memilih tanpa adanya labelisasi, diskriminasi, hingga stigma sosial. Perempuan yang memilih berkiprah di ranah publik tidak terdiskriminasi, tetapi di saat yang sama perempuan yang memilih untuk melakukan peran domestik tidak dipandang lebih rendah.
Menilik situasi saat ini, emansipasi perempuan justru dilekatkan pada peran yang dianggap “modern”, lebih menguntungkan dan efektif secara ekonomi, serta selaras dengan produktivitas dan pengakuan publik. Kondisi yang demikian seolah-olah menempatkan tugas domestik sebagai bentuk kegagalan dan ketertinggalan atau justru melabeli perempuan sebagai sosok yang tidak berdaya. Implikasinya, emansipasi perempuan bukan lagi dianggap sebagai alat koreksi atas adanya ketidakadilan yang terjadi, melainkan sebagai mekanisme penilaian keberhasilan perempuan berdasarkan ukuran pada peran-peran tertentu.
Emansipasi seharusnya tidak hadir dalam rangka menciptakan hierarki pada peran perempuan. Hillary Clinton mengingatkan bahwa:
“Kita perlu memahami bahwa tidak ada formula bagaimana wanita harus menjalani hidup mereka. Itulah sebabnya kita harus menghormati pilihan yang dibuat setiap wanita untuk dirinya dan keluarganya. Setiap wanita berhak mendapatkan kesempatan untuk menyadari potensi yang diberikan Tuhan.”
Kesadaran inilah yang hendaknya dibumikan, di mana perempuan memiliki otonomi dalam memilih peran dan statusnya dalam masyarakat. Demikianlah emansipasi tidak seharusnya menjadi penentu lebih-kurangnya keluhuran peran yang dipilih perempuan, melainkan menjadi instrumen yang menegaskan bahwa setiap pilihan hidup perempuan merupakan keputusan yang setara dan bermartabat.
Namun demikian, keberhasilan emansipasi perempuan hari ini kerap kali diukur ketika perempuan bersinar di ruang publik alih-alih berada di ranah domestik. Cara pandang yang demikian justru menyingkirkan misi dari emansipasi itu sendiri serta melanggengkan nilai patriarki. Kenapa demikian? Karena logika patriarki pada dasarnya tidak menghormati tugas domestik. Dengan menganggapnya sebagai bentuk ketertinggalan, masyarakat justru telah mereproduksi emansipasi dalam konstruksi yang sama saja patriarkis dan menciptakan standar normatif baru yang mengurung perempuan pada logika yang berorientasi pada pengakuan publik.
Ketika peran publik dijadikan tolak ukur keberhasilan emansipasi, maka pilihan perempuan untuk berkiprah pada peran-peran domestik justru terpinggirkan. Nilai yang ada di dalamnya tereduksi serta kehilangan pengakuan sosial. Jika keberhasilan emansipasi semata-mata dilihat dari sejauh mana perempuan berkiprah pada ranah tertentu, maka sama saja emansipasi perempuan menjadi terjebak pada logika yang salah. Lebih lanjut, persepsi yang demikian justru akan mempersempit otonomi perempuan dalam menentukan pilihan hidup karena tujuan awalnya terdistorsi dan berubah menjadi sebuah tali pengekang baru bagi perempuan.
Kontras antara ranah publik dengan domestik kerap kali memunculkan pelapisan di mana peran di ranah publik dianggap lebih superior sehingga mengabaikan kontribusi fundamental tugas domestik bagi peradaban manusia itu sendiri. Misalnya, perempuan yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dianggap tidak berdaya dan tidak memberikan kontribusi bagi masyarakat, padahal pilihan tersebut lahir dari kesadaran dan keputusan yang matang. Pemaknaan akan dikotomi yang seperti inilah yang menjebak emansipasi dengan standar tunggal tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan menjalani hidup. Padahal, peran domestik yang ditempatkan oleh masyarakat di posisi yang inferior merupakan peran nyata yang memberikan topangan dalam kehidupan sosial dan ekonomi meskipun sering kali tidak tersorot dalam penilaian sosial.
Seorang aktivis Amerika Serikat, Margaret Sanger mengatakan bahwa tidak ada wanita yang dapat menyebut dirinya bebas, jika tidak bisa memiliki dan mengendalikan tubuhnya sendiri. Hal itu menjadi refleksi bagi kita semua bahwa cita-cita emansipasi bukan tentang menciptakan tabel peringkat pilihan hidup perempuan, melainkan menjamin otonomi perempuan untuk menentukan kontribusinya bagi peradaban manusia.
Baca juga:
Keberhasilan emansipasi berarti memberikan kesempatan dan akses yang sama. Hal itu ketika pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga perlindungan hukum terbuka secara adil bagi perempuan, tetapi tidak mengikat perempuan dengan hasil yang seragam, apalagi menciptakan standar baru bagi perempuan dalam menentukan pilihan.
Baik peran publik maupun peran domestik sama-sama memiliki daya bagi kehidupan sosial, politik, ekonomi, hingga peradaban manusia yang semestinya diakui pada derajat yang sama. Dengan demikian, arah emansipasi perempuan seyogyanya dapat dikembalikan pada tujuan dasarnya, yakni membongkar relasi kuasa yang mengekang otonomi perempuan dan menegaskan bahwa setiap pilihan perempuan, baik di ranah publik maupun domestik, diakui sebagai subjek penuh, layak dihormati, bebas dari tekanan struktural, serta setara dalam kehidupan bermasyarakat. (*)
Editor: Kukuh Basuki
