Jerat itu bernama keraguan, dan Yola tahu dia harus menebasnya. Rumah itu lengang, dengan aroma kotoran tikus memuakkan, dan kenangan yang menyambutnya sigap. Di situ kamar Bapak. Punggung Bapak yang bersinglet bisa Yola lihat jelas dari balik pintu itu.
***
Yola pernah menganggap bapaknya manusia super. Lantaran beliau sangat giat bekerja tanpa banyak omong, tanpa banyak makan. Namun ketika berkali-kali masakan Lik Yesi selalu tak Bapak gubris sedikitpun, Yola seolah ikut terluka. Yola tahu, tetangganya itu selalu membuat sendiri aneka masakan untuknya dan bapaknya. Sejauh yang Yola ingat, sejak Yola TK, mungkin? Tidak. Sejak Yola berusia dua tahun. Sejak ibu Yola meninggal. Kata Bapak, karena jatuh dari kamar mandi.
Yola sendiri tak pernah ingat wajah ibunya seperti apa. Dia hanya mengenal sang ibu dari foto-foto di album dan cerita-cerita Lik Yesi dan suaminya. Yang Yola tahu, ibu adalah Lik Yesi. Di usia Yola yang ke-15 tahun ini, Yola baru menyadari bahwa Lik Yesi selalu hadir dalam hidupnya. Barangkali, bila Bapak tega, Bapak sudah menyerahkan Yola pada keluarga Lik Yesi lalu jadi kakak angkat Andra.
Untunglah, kenyataannya tidak demikian. Bapaknya masih giras bekerja dan memberinya uang untuk bayar ini-itu. Lik Yesi tak pernah meminta, baik secara langsung maupun melalui sindiran. Pakdhe Yono tampaknya senang-senang saja dengan kehadiran Yola di rumah mereka. Andra jadi punya mbakyu yang mengajarinya PR meski Yola tidak bisa dibilang pintar di kelas. Yola hanya suka mencoba.
Termasuk malam ini. Usai sore tadi Lik Yesi mengantarkan dua piring lengko tanpa nasi dan sepiring tempe goreng tepung berkucai, Yola tak jemu meminta Bapak menyantap makanan itu. Tapi Bapak hanya menggeleng ringan sembari mengeluarkan Sam Soe sebelum pamit tidur duluan. Sejak berulang tahun yang ke-10, Yola memang terbiasa mengunci pintu rumah sendirian kala malam. Rumah mereka yang mewah alias mepet sawah tak membuat Yola takut selama rumah Lik Yesi masih menyala. Yola tak bisa terus-menerus tidur sekamar dengan Lik Yesi. Setelah menstruasinya di Kelas 6, Yola memutuskan untuk belajar tidur sendiri di kamarnya. Hingga sekarang.
Meski gusar karena Bapak masih tak berkenan makan, Yola masih mencoba. Kali ini dia mencoba menghibur dirinya dengan menikmati asin gurih manis racikan lengko Lik Yesi dengan nasi putih yang Yola tanak sendiri. Dia hampir menuang lengko Bapak tepat saat matanya menangkap sesuatu di atas sofa ruang tamu. Yola gegas mendatangi benda itu.
“Dewi… Semara?”
Lengko Bapak pun terlupakan sejenak gara-gara buku cerita bergambar beserta beberapa selebaran yang kini Yola genggam itu. Situs makam Senopati Raka?
“Oh, itu… Itu kan mau dibangun makam. Biar banyak yang ziarah,” jawab Lik Yesi saat Yola temui esok harinya sepulang sekolah. “Itu proyek besar, katanya. Didukung Bupati soalnya biar daerah sini nambah pendapatan daerah.”
“Berarti yang ziarah disuruh bayar, begitu?”
“Ya mana ada sih yang gratis zaman sekarang?”
“Ngentut masih gratis kok, Bulik.”
Yola dan Li Yesi tertawa bersama. Sosok senopati yang mereka bicarakan memang dikenal sebagai juru demung mereka dan telah dianggap sebagai icon oleh pemerintah setempat sejak lama.
“Memangnya Senopati Raka Praj… Na…”
“Prajnapathi?”
“Ya, itulah… Memangnya Senopati Raka punya kekasih bernama Dewi Semara?”
Lik Yesi menoleh dari sepanci jangan gori yang mulai menggelegak ke arah Yola. Dapurnya sesak oleh aroma sayur nangka muda.
“Bulik baru dengar…” ujarnya sambil mengernyit. “Coba lihat.”
Lik Yesi mematikan kompor sebelum menuangkan sebaskom daun kelor ke dalam jangan gori-nya. Wanita paru baya itu pun menekuri buku cerita bergambar yang Yola bawa.
“Dewi Semara?”
“Iya, jadi jaman dahulu kala, ada dewi di Kahyangan yang jatuh cinta sama Senopati Prajna. Dialah Dewi Semara. Si Dewi Semara bahkan sampai turun ke bumi untuk mengutarakan perasaannya. Eh ternyata Si Senopati ini sudah kadung dijodohkan dengan putrinya si Raja Medang. Dewi Semara sedih, lah. Hebatnya, sang dewi itu tetap berbuat baik dan menjaga keluarga Senopati Praja, eh… Prajna. Nah, melihat hal itu, semua dewa-dewi di Kahyangan pun jadi kasihan pada Dewi Semara. Akhirnya mereka menganugerahi Dewi Semara kekuatan untuk bisa menjaga cinta-kasih semua umat manusia.” Yola menutup ringkasan ceritanya dengan kunyahan pilus kacang dari toples Lik Yesi.
“Oh… Bulik baru tahu.”
“Aku juga baru tahu, Bulik. Bahkan aku baru dengar cerita rakyat itu sekarang. Jaman SD, aku nggak pernah dengar Dewi Semara,” Yola mengernyit serius. “Apa jangan-jangan itu strategi marketing situs makam Senopati Raka Praja, eh… Prajna, ya, Lik?”
Bulik hanya mendengkus. “Bapakmu lagi menggarap tempat itu ya?”
“Sepertinya… Lha tiba-tiba buku cerita Dewi Semara dan lembaran-lembaran itu ada di ruang tamu, Lik. Siapa yang bawa kalo bukan Bapak? Bapak kan biasanya cuma bawa duit ke Yola, nggak pernah bawa barang apapun…”
Lik Yesi mesem dan mengelus rambut Yola. “Bapakmu ya begitu itu. Sing penting bapakmu menafkahimu, to?”
“Nggih, Bulik…”
Mata Yola kembali memandang buku cerita bergambar yang dia genggam. Di sampul buku itu, Dewi Semara yang jelita terlihat terbang di kejauhan mengenakan kemben dan kain ungu di kedua tangannya sambil memandangi sosok pria tampan yang sedang duduk bersama pengantin wanitanya. Yola menduga sosok pria itu adalah Senopati Raka Prajnapathi sementara wanita di sampingnya adalah putri Sang Raja Medang. Kegetiran yang Yola rasakan dari tatapan sosok Dewi Semara itu membuatnya ingin mengumpat.
“Jadi dewi kok bodoh…?”
Bulik yang tengah mewadahi jangan gori untuk Yola bawa pulang pun menoleh. “Bodoh gimana?”
“Sudah jelas-jelas cintanya nggak kesampaian. Kok nggak cari yang baru? Move on, gitu lho, Bulik.”
“Nggak semua orang berkenan move on, Nduk. Dan mungkin ada orang-orang yang tetap bertahan meski akhirnya mereka ndak mendapatkan apa-apa.”
Mata Yola membesar. “Kenapa?”
“Karena cinta seperti itu sudah cukup buat mereka.”
“Memangnya siapa yang seperti itu?”
Ada kegugupan yang Yola tangkap pada wajah Lik Yesi, tetapi sebelum sempat Lik Yesi menjawab pertanyaan Yola, suara Bapak bergema dari ruang tamu rumah Lik Yesi.
“Lho, Bapak pulang cepat?”
“Dada Bapak sakit, Nduk… Tolong oleskan minyak tawon, boleh?”
Yola panik saat melihat Bapak memegangi gagang pintu, mencoba tidak terkapar meski tubuhnya sangat lunglai.
Lik Yesi menyusul dengan tergopoh dan langsung memapah Bapak ke ruang tengah. Di depan teve, ada kasur tipis yang biasa digunakan Andra leha-leha. Tangan Yola cekatan membuka kancing kemeja Bapak sementara Lik Yesi mengambil sebotol minyak tawon untuk diserahkan pada Yola. Lik Yesi menghilang ke dapur lagi sementara Yola memastikan dada Bapak terolesi rata.
Baru kali ini Yola melihat Bapak kepayahan. Pria lima puluhan itu seolah menolak dan menahan keluhannya atas dentaman rasa sakit tiba-tiba yang dia rasakan di dada. Meski demikian, Yola bisa mendeteksi Bapak begitu menderita dari kernyitan alisnya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Yola menengok kembali ke hari itu, dia menandainya sebagai titik balik atas segalanya. Kartu domino pertama yang rubuh. Yang tak Yola sadari kecepatannya tanpa sempat dia tahan.
Karena meski Yola berdoa sungguh-sungguh, akhirnya Bapak pergi juga. Yola suka mencoba, dan dia mencoba untuk bernegosiasi dengan Tuhan. Namun, Tuhan selalu memiliki keputusan-Nya sendiri.
Kartu domino lainnya rubuh dari rumah Lik Yesi. Dimulai dari hilangnya Andra sebelum ujian akhir sekolah.
“Akhir-akhir ini, anaknya memang suka diam, Pak,” ujar Lik Yesi sambil mengendalikan isakannya pada dua pria berseragam di markas mereka yang pengap dan harum tembakau.
“Ibu ndak dekat sih, sama dia!” ujar petugas itu dengan nada menuduh yang gusar. “Jadi orang tua yang becus lah, Bu. Kalau sudah kabur begini, runyam kan, jadinya?”
Yola ingin memaki tapi Lik Yesi sigap meremas tangannya.
“Kami selidiki dulu ya, Bu. Tapi kami ndak janji cepat ditemukan. Kecuali…”
Seolah telah memahami aturan mainnya, Lik Yesi segera mengeluarkan amplop dari tasnya. Yola mencelus.
“Monggo, Pak… Tolong temukan anak saya…” isak Lik Yesi sambil menyodorkan benda yang disesali Yola itu.
Si petugas mendadak semringah. “Bapaknya mana, Bu?”
“Eh… Itu… Hm…”
Oh iya ya, dari tadi Lik Yesi tidak menghubungi Pakdhe… Suami Lik Yola itu memang jarang di rumah. Padahal dia tak berkantor di luar kota. Katanya dia bekerja di percetakan, atau penerbitan. Yola tak tahu pasti.
“Bapaknya Andra sedang menghubungi sanak famili, Pak. Bagi-bagi tugas,” dusta Yola. Matanya tak henti melihat petugas sialan itu yang sedang menghitung lembaran rupiah biru dari Lik Yesi.
“Oke, kami kabari lagi ya. Sudah menulis nomor handphone? Oh, sudah. Baik, silakan…” ucap petugas itu sambil menunjuk pintu keluar dengan dagunya pada Yola dan Lik Yesi.
Bersikap emosional dengan mengomel tak akan membuat Lik Yesi tenang, pikir Yola. Dia hanya bisa memastikan dirinya hadir untuk Lik Yesi yang mencekat Yola dengan jawaban jujurnya, menjelang salat magrib.
“Bulik tahu dari mana?”
“Pakdhe mengaku sendiri. Bulik bahkan sempat dikenalkan dengan kekasih lanang-nya.”
Yola membenci senyum Lik Yesi yang tabah. Lik Yesi seharusnya melawan.
“Bulik masih menerima Pakdhe?”
“Demi Andra, Nduk. Demi Andra…” Lik Yesi terbenam dalam tangis. Mukenanya basah dan ternyata tak juga beranjak kering hingga dua hari kemudian:
Yakni saat jasad Andra ditemukan di salah satu petak sawah. Terbungkus karung. Masih berseragam lengkap. Dan bersepatu yang bertuliskan namanya.
Seantero kabupaten ramai dibuatnya. Semua orang yakin ini adalah kasus penghilangan nyawa, meski polisi belum menemukan siapa pelakunya. Untunglah salah seorang kawan Andra berteguh hati mengunjungi Lik Yesi untuk membeberkan perundungan yang dia saksikan diam-diam. Gadis itu mengaku menyukai Andra sejak kelas 10, tetapi tak berani mengungkapkannya tanpa tahu Andra terlalu lekas meninggalkannya. Yang pasti, kata gadis itu, Andra sudah melawan dengan sebaik-baiknya. Semua tuduhan keji perihal bapak Andra yang menjadi wandu, telah Andra lawan hingga tarikan nafas terakhirnya.
Saat mendengar kesaksian itu, Yola melihat Pakdhe Yono dengan perasaan lebih getir dibanding kesedihan yang masih memeluknya sejak Bapak tak ada. Semua orang akan pergi, itu sudah pasti. Hanya alasan di baliknya yang membuat setiap perpisahan berbeda-beda.
Tahun itu adalah tahun terkelam buat Yola dan Lik Yesi. Keduanya sama-sama ditinggalkan oleh wong lanang dalam keluarga masing-masing. Lik Yesi mempersilakan Pakdhe Yono mengejar hasratnya. Dua rumah yang berhadapan itu menjadi saksi perputaran nasib mereka.
Walau Yola sepakat dengan Lik Yesi untuk saling berbagi sisa hidup, ada satu rahasia yang tetap Yola simpan sendiri. Yakni seseorang yang bisa Yola jadikan lahan menghindar dari kehidupan yang gamang.
“Ke tempat biasa?” ujar pemuda itu sembari tersenyum.
Yola mengangguk ceria. “Ayo!”
Mereka berboncengan, meninggalkan lembaga bimbingan belajar. Di situlah tempat mereka saling mengenal pertama kali. Pertemuan rutin dua kali seminggu usai les persiapan ujian akhir sekolah adalah suaka bagi keduanya.
Yola mengeratkan tangannya ke perut pemuda itu. Keduanya meluncur menuju tempat yang sudah berkali-kali mereka gunakan: rumah si pemuda yang kosong karena ibu harus mengisi pengajian rutin di desa sebelah, sementara ayah harus mempersiapkan tim terbangan masjid desa yang naik pamor.
Pernah suatu saat Yola bertanya pada pemuda itu, apakah mereka akan ketahuan suatu saat nanti? Tidak akan, jawabnya. Tetangga kanan-kiri sibuk livestreaming demi tambahan rupiah, katanya. Entah jualan, entah joged-joged. Jangan sampai menganggur, karena biaya lebaran makin tinggi.
Maka di kamar itulah Yola belajar mengenali dan mencintai dirinya. Karena ada seseorang yang membantunya memuja kemolekan tubuh yang sedang tumbuh itu, semuanya jadi lebih mudah. Dan tak perlu lama, Yola belajar untuk mensyukuri kenikmatan ketika dua tubuh saling berirama.
“Memangnya program bimbelmu itu sampai ba’da isya, po, Nduk?” Lik Yesi pernah bertanya, suatu kali.
Yola tergemap. Tapi dia berhak bahagia dan menikmati hidup ini. Pemuda itu adalah dunianya yang baru. Tak ada seorang pun yang bisa merampasnya. Juga kenikmatan di dalamnya.
“Inggih, Bulik… Soalnya insentif… Eh, intensif.”
“Opo iku?”
“Ya yang dipelajari banyak, Bulik…” jawab Yola tanpa beranjak dari soal matematika yang belum juga dia pahami.
“Kalau ada apa-apa, bilang, ya, Nduk… Sekarang, Bulik cuma punya kamu.”
Yola sedikit bergidik saat kepalanya dielus-elus oleh Lik Yesi. Dulu dia sangat menikmati elusan itu. Kini Yola khawatir barangkali tiap jengkal jemari Lik Yesi bisa menyerap informasi dari kepalanya dan membalikkan keadaan jadi runyam kembali.
Kadang dia ingin membela diri dari amukan dan tuntutan Lik Yesi yang memergoki rahasianya. Dalam imajinasinya, Lik Yesi berada di depan sosok Mahabesar yang Yola bayangkan sebagai perwujudan Tuhan. Lik Yesi pun bertanya mengapa Yola tega menodai dirinya sendiri.
Lalu Yola menangis, mengaduh, menuduh Tuhan tidak adil atas kesepiannya hingga menganggap imajinasinya terlalu dramatis dan mengada-ada. Sudahlah, kata Yola pada dirinya sendiri, selama pemuda itu menggunakan pengaman, semuanya akan baik-baik saja. Hingga sore itu permainan mereka berubah karena kepuasan tak melulu ingin dikerangkeng oleh sepotong pengaman.
“Nanti kalau aku hamil, gimana?”
“Aku akan keluar di luar,” janjinya.
Yang kemudian dia langgar sendiri. Karena kekang itu terlanjur terbuka, dan kemudi itu tak sudi dia kendalikan atas nama kebebasan yang memuaskan.
Maka ketika pagi itu, untuk kedua kalinya, Yola memuntahkan sarapannya—Yola sudah tahu sebabnya. Mereka sedang menempuh ujian akhir. Yola yakin dia pasti lulus. Bayi ini pasti baik-baik saja, karena pemuda itu pun pasti menikahinya. Mungkin mereka akan berjuang di awal, namun… keluarga mana yang tidak berjuang? Kehidupan keduanya pasti penuh cinta dan gairah sambil berjuang mencari rupiah.
Ternyata, bayangan itu terlalu indah untuk lekas pudar. Saat Yola membawa sebatang bukti bergaris dua, pemuda itu langsung menolaknya mentah-mentah.
“Aku nggak akan malu, Mas. Asalkan kita hadapi sama-sama. Kita jalani berdua,” bujuk Yola.
Ada kebengisan yang terpancar dari mata pemuda itu.
“Kita ngobrol sambil jalan, yuk,” ajaknya.
Yola menurut. Matahari sore itu boleh tenggelam, asalkan harapannya tidak. Hidup barunya dengan lelaki ini telah dimulai. Dan mereka pasti bahagia selamanya. Atau sampai Yola meragukan imajinasinya beberapa menit kemudian saat keduanya tiba di pinggir hutan kota.
Tidak ada orang lain selain mereka. Itu berarti pertanda baik saat pemuda itu meraih bibirnya untuk dia cumbu, sebelum…
“Hmph! Aduh! Mas!” Yola terhuyung saat sekepal tangan menghantam perutnya. Dia tersungkur nyeri di tanah.
Belum sempat Yola berteriak, tendangan pemuda itu menerjang perut Yola. Sekali. Dua kali. Inikah yang dulu Andra rasakan? Tiga kali. Sesuatu mengalir dari dalam perutnya. Empat kali. Lima kali. Dia tidak ingin melihat wajah pemuda itu. Apa dia akan mati?
Belum. Yola tahu dia belum mati saat sesuatu yang basah mengusik pingsannya. Dia bangun dan mendapati hutan yang gelap dan seekor anjing yang menjilati tubuhnya. Pakaiannya telah dilucuti. Tas sekolahnya entah di mana. Kemaluannya penuh darah. Ketika Yola menyentuh perutnya, rasa panas dan nyeri langsung melelehkan tangisnya.
Yola menangisi semuanya. Bapak. Andra. Pakdhe Yono. Dan pemuda itu. Lalu dia menangisi dirinya sendiri. Juga Lik Yesi yang mungkin akan ikut terluka karena kesialan ini. Padahal Yola hanya ingin menikmati hidup. Apakah hidup sudah berubah mengerikan seperti hutan ini?
Dengan segenap kekuatan tersisa, Yola memutuskan bangun dan beranjak. Barangkali masih ada hari esok untuknya mengubah hidup.
“Astaghfirullah! Itu hantu atau manusia?!” seseorang berseru dari kejauhan. Cahaya senter menyilaukan mata Yola. Dia yakin dia akan pulang sebentar lagi. Maka dia harus menyiapkan penjelasan untuk Lik Yesi.
***
“Diminum dulu, Nduk,” Lik Yesi meletakkan segelas jamu di rak dipan.
Sudah sebulan Yola tergeletak di ranjang. Nyeri di perutnya berangsur hilang, meski dia belum berani memeriksakan rahimnya ke dokter. Lik Yesi memaksa Yola untuk minum jamu tradisional tanpa banyak penjelasan. Yola menurut saja. Usai menjelaskan semuanya dengan pilu, Yola tak lagi mendengar kata-kata Lik Yesi kecuali saat minum jamu dan makan. Bahkan Lik Yesi tak pernah lagi menanggapi permintaan tolong Yola saat kebelet buang air. Lik Yesi mengingatkan Yola pada Bapak.
“Jadi Bapak selama hidupnya selalu menyalahkan aku? Nggih, po, Bulik?”
Lik Yesi melemparkan pandangan.
“Dulu Bapak nggak mau ngomong sama Yola. Sekarang Bulik juga. Berarti Ibu meninggal karena kesalahan Yola?” cecar Yola, susah payah menelan gondok. “Nggih, to, Bulik?!”
“Wis, to, Nduk!” sentak Lik Yesi. “Sudah! Kamu dan bapakmu sama saja! Kalian ini tidak bisa menghargai apa yang ada di depan mata!”
Yola tercengang mendengar bentakan demi bentakan Lik Yesi.
“Ibumu meninggal adalah takdir! Bukan salah siapa-siapa! Murni kecelakaan! Jatuh di kamar mandi! Selesai! Tapi apa yang bapakmu lakukan? Hah? Kamu tahu?”
Yola menggeleng.
“Bapakmu mengacuhkan kamu! Menyesal! Meratap! Bahkan ndak sudi menerima aku! Yang selalu cinta sama dia!”
“Cinta?”
“Ya menurutmu, kebaikanku digerakkan oleh apa?!” jerit Lik Yesi. “Digerakkan oleh apa?!”
Yola bisa melihat air mata mulai menggenang di mata Lik Yesi.
“Aku sudah tahu perilaku bapaknya Andra! Sudah tahu dari lama! Aku kira begitu ibumu meninggal, akan ada kesempatan buatku untuk menggantikan ibumu,” Lik Yesi menarik jeda dengan napas memburu, “aku cuma ingin Andra punya bapak yang ideal seperti bapakmu! Salah?! Hah?! Salah?!”
Yola menggeleng dengan takut.
“Yo wis! Aku nggak hitung-hitungan! Aku merawatmu semata-mata karena aku menyayangi kalian! Walaupun keinginanku nggak kelakon, persetan! Yang penting Andra bisa sekolah, kamu bisa sekolah! Apa kamu pernah mikir sampai situ?! Pernah?!”
Yola menggeleng lagi.
“Ya itulah pikiranmu cethek kayak got! Sekarang kamu mencoba mengalihkan fokus dari apa yang sudah kamu perbuat terhadap dirimu sendiri ke hal-hal yang bapakmu lakukan padamu di masa lalu! Tuhaaaan!!!”
Yola sudah bersiap bila Lik Yesi menggebrak meja seperti pria yang ada di televisi itu.
Untunglah tidak. Lik Yesi hanya ngos-ngosan dengan pandangan sedikit linglung. Lalu pamit dengan alasan dia butuh kesendirian. Meninggalkan Yola yang masih terperanjat setelah mendengar hal-hal yang tak pernah dia duga sama sekali.
Apakah menjadi dewasa berarti harus melalui serangkaian drama melelahkan seperti ini? Bertahun-tahun kemudian, setelah dia memutuskan untuk meninggalkan Lik Yesi atas nama rasa bersalah dan Lik Yesi sama sekali tak mencoba mencegahnya yang mengakibatkan Yola harus membanting tulang sebagai buruh pabrik sepatu sekaligus petugas kebersihan rumah sakit di kota lain, Yola akhirnya paham dengan semuanya.
Saat itulah dia memutuskan untuk kembali pulang, menemui sepetak kenangan meski dirinya masih terus terjerat. Jerat itu bernama keraguan, dan Yola tahu dia harus menebasnya. Rumah itu lengang, dengan bau kotoran tikus memuakkan, dan pahitnya kesalahan masa silam. Di situ kamar Bapak. Punggung Bapak yang bersinglet bisa Yola lihat jelas dari balik pintu itu.
Dulu Bapak lebih memilih masa lalu hingga mengacuhkannya. Yola pun pernah salah langkah, hingga membuat dirinya cedera dan melukai sosok ibu yang tetap bertahan meski dihujani penolakan. Yola tak tahu, apakah ibu yang dia rindukan itu masih menunggunya di rumah depan. Belum ada aroma aneka bawang yang ditumis seperti biasa. Bahkan hingga Yola selesai menyapu dan mengepel seluruh rumah. Mungkin besok?
Untungnya, kali ini, kebahagiaan masih menaruh minat pada hidup Yola. Dan Yola tak menemukan alasan lain untuk bahagia selain bertemu dengan Lik Yesi yang menua dengan cemerlang. Mereka melepas rindu dan banyak bercerita setelah mengampuni satu sama lain. Menjelang sore, keduanya ziarah ke rumah terakhir bapak Yola dan Andra. Saat jenazah Andra dibaringkan di liang lahat, Yola pernah berkeinginan untuk membalas dendam pada tiga orang kawan Andra yang membunuh remaja itu. Namun, manisnya pengampunan tak membiarkan hatinya tercemar lagi oleh dendam, rupanya. Yola hanya ingin yakin bahwa mendapatkan tempat terbaiknya, karena Andra telah melawan dengan sempurna atas semua perundungan yang dia terima dulu.
“Kamu pasti belum pernah mengunjungi Makam Senopati Raka Prajnapathi, to?” cetus Lik Yesi saat keduanya mengaso di warung soto.
“Yola ndak kenal sama Senopati Raka, Bulik. Jadi nggak minat saja…” timpal Yola sebelum menyedot es jeruknya.
“Ada karya bapakmu di situ. Dan…”
“Dan?”
“Ada karya Bulik juga,” Lik Yesi tak bisa menyembunyikan mesemnya.
Meski sulit percaya, Yola siap dengan kejutan apapun. Hanya saja, ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, dia lagi-lagi gagal menebak ekspektasinya sendiri.
“Itu patung… Dewi Semara?” tanya Yola takjub pada arca elok sesosok dewi yang telah Yola kenal sejak lama.
Lik Yesi hanya tersenyum puas.
“Bulik yang membangun ini?”
“Secara tidak langsung.”
“Maksudnya?”
“Kamu tahu kan, kantin Bulik ada di sebelah sana,” tunjuk Lik Yesi. Yola mengangguk. Dia sangat senang dengan pekerjaan baru Lik Yesi. Akan semakin banyak orang yang bisa menikmati sedapnya masakan wanita itu.
“Ya…”
“Nah,” Lik Yesi mendekat dan membisikkan sesuatu. “Saat pengelola makam ini sudah ketagihan dengan lengko buatan Bulik, iseng-iseng Bulik ancam mereka kalau mereka tidak membangun arca Dewi Semara, maka Bulik akan pindah.”
Mata Yola membesar lantaran takjub.
Di sore hari, situs makam sang senopati malah semakin ramai. Konon banyak peziarah yang percaya kalau doa mereka akan terkabul lebih cepat saat sore hari. Ketika garis cakrawala oranye terbentuk membelah mega-mega. Begitupun dengan sendang buatan yang disebut sebagai tirta semara, konon akan semakin berkhasiat bila diminum persis sebelum matahari terbenam.
Walau Yola pernah berpaling, hingga sekarang, hubungannya dengan Tuhan tak lebih rumit dari meneguk air di pagi hari. Meski demikian, Yola ikut berbahagia atas segala imajinasi yang diabadikan sebagai sejarah nyata demi memenuhi pundi-pundi pemerintah daerahnya. Karena, Yola sama sekali tak butuh arca siapapun, termasuk Dewi Semara. Sang Dewi sudah menitis dalam kehidupan luhur Lik Yesi yang tak kenal menyerah mempertahankan kasihnya tanpa peduli bahwa hidup ini penuh dengan penolakan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
