Apa yang kamu lakukan saat mantan pacar yang memberimu ciuman pertama meninggal dunia? Aku mengambil perjalanan ke Surabaya (Begitulah pembukaan salah satu cerpen Etgar Keret, dan kebetulan aku mengalami hal yang sama). Ciuman itu begitu berarti. Ciuman dan perempuan terpilih yang menemaniku melakukannya pertama kali setelah bertahun-tahun percaya bahwa itu dosa dan menjaga diri: perpaduan epik untuk jadi kenangan indah nan penting.
Saat kami di ruang tamu rumahnya untuk saling melumat bibir, sebenarnya aku masih percaya dosa itu, hanya saja aku keras kepala melakukannya. Begini rasanya bibir, pikirku lega, penasaranku hilang. Jadi, betapa istimewanya ciuman dan perempuan itu bagiku, sampai aku berpikiran jika dia meninggal dunia aku bakal edan, seolah takkan ada perempuan lain yang akan memberikan ciumannya kepadaku.
Empat tahun berlalu. Ternyata, segalanya berubah. Aku mulai merasa terlalu berlebihan menilai keistimewaan ciuman pertama dan perempuan itu. Aku tidak sampai gila mendengar dia wafat karena kecelakaan. Aku hanya pergi ke Surabaya buat hiburan. Bahkan, saat di kereta, hanya sedikit waktu saja aku meratapi kepergian Veronika.
Setengah jam pertama terasa lumayan berat lantaran aku masih dihantui Veronika. Sekalipun aku batal gila, tetap saja aku harus berusaha memendam kepedihan yang nyaris meletup ini serapat mungkin. Aku benci kepedihan yang tak terbendung. Dan bertahun-tahun aku berlatih untuk menghadapi momen-momen seperti ini.
Gesekan roda kereta dengan rel mengocok tubuhku, membuatku mual, memperburuk keadaan. Penumpang kereta ekonomi berisik. Mereka suka sekali mengajak berbicara. Tapi aku membalasnya dengan senyuman belaka. Melengos halus seolah berkata maaf, kata-kata saya habis.
Anehnya, setelah satu jam pertama dunia kembali seperti semula. Kesedihanku sirna. Mualku mereda. Aku sudah terbiasa dengan berisiknya orang-orang, meski tetap menjaga jarak. Aku mulai merasakan kesia-siaan perjalanan ini. Ini hanyalah hasratku yang tertunda untuk kabur dari pekerjaan.
Bahkan, ketika mahasiswi baru ini sekonyong-konyong menanyakan judul buku yang ada di tanganku, aku menjawabnya tanpa beban, seperti tak pernah merasa kalau sejam yang lalu aku berusaha menghindari basa-basi semacam ini. “Marxisme dan Problem Ilmu Bahasa,” jawabku singkat.
Dia mengguratkan matanya. Dia tahu buku ini, dan pertanyaan itu hanyalah permulaan untuk menegurku. Dia berbicara banyak sekali. Katanya dia ambil kuliah akuntansi. Program studi yang ternyata sangat jauh dari topik yang kami bicarakan barusan. Kami telah mengobrol satu jam. Dia tahu banyak perihal bahasa. Dia memanfaatkan pengetahuannya untuk mengorek banyak informasi tentang diriku, untuk terus berbicara. Seperti sudah tahu aku suka linguistik. Aku keliru meremehkannya.
Bukuku belum kubuka sama sekali. “Ya udah, sana lanjut baca,” akhirnya, seolah dia mendengar suara hatiku. “Bagi username akun Instagrammu, ya. Enggak masalah, kan?”
“Oke aja.” Aku mengetik namaku di kolom pencarian Instagram-nya.
“Udah,” katanya menunjukkan dia sudah mengikutiku. “Oke,” kataku.
“Belleza,” lanjutnya sambil menyodorkan tangan, “aku boleh panggil kamu Jeremi?” Aku menjabat dengan ala kadar. “Terserah, saja,” timpalku.
Aku lanjut membuka kumpulan pamflet Stalin ini. Tapi sudah kehilangan minat.
Hanya sedikit gambaran yang kuambil dari penampilannya. Yang paling aku ingat barusan adalah dia terlihat sangat muda. Aku seperti kakaknya saja. Aku segan untuk menengoknya lagi, dan tak tahu apakah harus menyapanya lagi sebelum turun untuk mengamatinya lebih seksama, atau melanjutkan obrolan di Instagram saja.
***
Aku mahasiswi baru. 21 Juli 2023, aku menaiki kereta api ke Surabaya.
Begitulah awal mula pertemuanku dengan lelaki yang seratus persen sempurna bagiku—dia duduk di depanku. Mungkin aku mengada-ada. Mungkin kalian menganggapku berhalusinasi, karena aku baru saja membaca cerpen Murakami “Dia yang Sempurna“. Atau barangkali aku berlebihan. Bagaimana mungkin seseorang bisa terlihat begitu sempurna di mata orang lain, begitu pikir kalian, kan? Maksudku, memang tidak mudah seseorang dianggap dan menganggap sempurna. Juga tidak sesingkat itu. Kesempurnaan milik tuhan semata, kata orang-orang. Sementara manusia senantiasa punya kekurangan. Kesalahan mungkin tak menampak begitu cepat di hadapan orang yang baru dikenal. Tapi siapapun tahu semua orang melakukan kesalahan. Namun, rasanya mustahil untuk yang ini. Dia akan sempurna sampai kapanpun.
Dan mungkin aku satu-satunya remaja perempuan di dunia yang seberuntung ini. Menemukan lelaki yang seratus persen sempurna di usiaku yang masih 18 tahun. Tak ada tanda apapun sebelumnya bahwa aku akan merengkuh keberuntungan ini: tiba-tiba ada bintang jatuh semalam, atau ayahku yang hilang akibat ninja ’98 itu kembali, atau hati yang berdebar sejak menginjak peron, tidak, tidak. Tak ada satu pun tanda. Bahwa kehidupanku berjalan seperti biasa, layaknya sebelumnya. Tapi aku menemukan lelaki yang seratus persen sempurna.
Dia sungguh sempurna. Aku yakin telah seksama mengamatinya. Dia membaca buku dengan anteng, sesuatu yang umum, memang. Tulangnya kecil. Tapi dari bahu dan dadanya yang bidang, aku yakin dia anggota sebuah rumah kebugaran. Tubuhnya tidak terlalu berisi, tapi padat. Kulitnya bisa kukatakan kuning. Dia sedikit lebih tinggi. Secara umum dia tampak sederhana. Tapi aku sangat terkesan dengan caranya menjawab semua pertanyaanku. Kata-katanya sangat selektif. Tak pernah seorang pun yang kutemui selama ini sama sepertinya.
Setelah sejam kami berbincang, dia membuka buku itu. Apa aku terlalu banyak tanya? Dia membuatku sangat pengin tahu.
Tapi aku tak tahu apakah aku adalah perempuan yang seratus persen sempurna baginya. Akan makin beruntung aku jika demikian, kami akan langsung menikah dalam waktu dekat, karena dia berusia 26. Aku tak masalah menikah muda demi cowok ini. Tapi jika bukan aku perempuan yang seratus persen sempurna, akan kubuat dia menganggapku seperti itu.
Aku meminta username akun Instagramnya. “Boleh,” katanya dengan biasa saja, yang membuatku khawatir bahwa pertemuan pertama ini juga yang terakhir. Akunnya kosong. Tidak ada foto profil, tidak ada foto feed, apalagi sorotan. Tertulis Jeremi Gerlado, dengan bio pendek, pembaca novel, seolah sudah membaca novel lebih banyak dari siapapun. Aku langsung mengikutinya dan menunggunya mengikuti balik. Percakapan sudah kelar. Kini kami sibuk membangun sebuah sosok dari itu di kepala. Menyusun kepingan-kepingannya untuk menebak kepribadian masing-masing. Apa hanya aku saja? Aku jadi tak bisa tidak meliriknya sedikit-sedikit, mengawasi apakah dia mengambil handphone untuk mengikuti balik.
“Belum kamu follback, ya?” tanyaku dengan bodoh. Dia otomatis tahu aku begitu menaksirnya.
***
“O, iya. Sebentar,” kataku berusaha tak terkejut. Padahal aku merasa sangat heran sebab dia kelihatan sekali ingin aku mengikutinya balik. Aku tak mau jumawa dengan menganggap dia tertarik padaku.
Dia lebih cantik di sini daripada di foto. Hanya ada sembilan foto di feed-nya, tujuh sorotan, dan foto profil yang tampaknya diambil di sebuah padang savana, mungkin Bekol, Baluran. Aku mengikutinya balik.
Mungkin beginilah yang dirasakan Veronika dulu. Kedatangan orang lain, yang menyukainya dengan cara yang sepenuhnya baru dibanding caraku, membikinnya tak bisa menghindar dari perselingkuhan. Dia membutuhkan variasi dalam hubungan, sementara aku gagal memenuhinya. Tapi apa salahnya hubungan kita, Veronika? Andaikan kamu menjelaskannya saat itu juga! Kamu memilih bungkam. Kamu membela lelaki itu, dan kita berpisah meninggalkan masalah.
Rasa tersanjung yang muncul akibat disukai orang memang melenakan. Aku sampai lupa bahwa tujuan perjalanan ini adalah menghilangkan kesedihan. Aku memang berhasil, tapi aku melakukannya dengan cara yang dilakukan Veronika untuk menyakitiku. Padahal aku menyesalkan cara kami berpisah. Jika seseorang menanyaiku apa satu hal yang tak bisa aku maafkan darinya, maka itu adalah cara kami berpisah.
Kini aku merasa bersalah kepada Veronika. Aku terlalu cepat melupakannya. Aku lupa dengan semua kasih yang pernah aku berikan kepadanya. Tak seharusnya aku dengan cepat turut tertarik kepada Belleza. Tapi jika dipikir-pikir lagi ini tak adil. Ini bukan sesuatu yang setara untuk dibandingkan. Ketertarikanku kepada Belleza adalah ketertarikan lelaki lajang kepada perempuan lain. Sementara waktu itu Veronika masih pacarku. Ketertarikan memang tidak bisa dihentikan. Tapi seyogyanya Veronika tahu posisinya saat itu sebagai pacarku.
Kereta akan sampai dalam beberapa menit. Aku dan Belleza berakhir dengan saling mengucap selamat tinggal.
*****
Editor: Moch Aldy MA
