Cinta, Jancok
di depan gerbang rumahmu
ingin kunyatakan cintaku yang bahkan
tak cukup dalam
nyanyi bonek di tribun utara
di depan gerbang rumahmu
tembok besi berkuku beku, menusuk nasib di ujung itu
kuarahkan para demonstran, seperti bung tomo, allahu akbar
suaraku—degup berisik sound horeg, lengking pekik knalpot herex
menggema di sela-sela gas dan air mata.
kalau ada polisi menghalang
juga tentara, kupanggil arwah-arwah nenek moyang
eyang suro memasang kuda-kuda, gus maksum merapal mantra-mantra
barisan hizboellah melafal hizib tolak bala
di depan gerbang rumahmu
ingin kunyatakan cintaku yang bahkan
tak cukup dalam
pisuh jancok pemuda sekarang.
(Gedung DPR, 2025)
–
Langit Seputih Nasi
buat Muhriyono
langit seputih nasi saat ia
menyisir ladang, melempar tembang-tembang
tanaman yang genit, acuh dari mata dan arit
walau angin menghibur, menyepoi-nyepoi lentur
bahkan hama sekecil zarah, dapat cepat ketahuan
dirasanya, ia sudah ditunggu di sana
“ibu bumi! bapa angkasa!”
indah gunung, julur-julur sawah
mekar bunga berwarna-warni
teringat ia pada kawah, pada kaldera
pada sekujur badan simbah-simbahnya
langit seputih nasi, ia tinggal sebentar lagi
“mengapa bukan sorga saja saat aku buka mata!”
(2024)
–
Mimpi Buruk Antarkota
parah
tak ada yang lebih bajingan
dari pemerintah
ini malam, malam pilek
mila gagal sejahtera
teler diperkosa trayek
baliho caleg sepanjang jalan
tersenyum menang, menang bajingan
(terdengar suara gus dur dari speaker)
tiba juga aku di terminal
selamat tinggal bajingan, bajingan terpal
tapi ingat
tetap tak ada yang lebih bajingan
dari pemerintah
baru turun kaki kanan
belum sempat nyentuh paving jelek itu
pasukan ojek menyerbu
siapa pula mempersiapkan
aku seakan artis, syahiba saufa mungkin
pinggulku bergoyang
dalam angan-angan mereka
pemerintah memaksaku jadi biduan
(terdengar suara tarkhim dari speaker)
o, pinggulku masih saja bergoyang!
“dengar, he, tukang ojek, ambil 50
dan jangan antar aku
kecuali menuju jalan panjang
jalan tanpa ujung
jalan pengetahuan
jalan reliji
jalan yang mampu membuat mampus
kebencian ini!”
“parah. naik!”
(terdengar azan subuh dari speaker
: salat lebih enak dari tidur)
(Jogja – Banyuwangi, 2024)
–
Kepada Yth. Mahasiswa
Kamu nerobos masuk kamarku. Kamar orang desa memang tanpa atap dan pintu. Kamu
ngobrak-abrik lemariku. Lemari orang desa memang tanpa atap dan pintu. Kamu ngambil
semua maumu. Orang desa memang tanpa atap dan pintu. Kamu ngomong itu mainanmu.
Mainan orang sepertimu, kataku, adalah kehidupan orang sepertiku. Kamu nyatet
perkataanku, terus bilang, “Ini juga!” Aku nyatet kelakuanmu, malaikat juga!
(2025)
–
Badge ACAB di Jaketmu
bertahun lalu
bapakmu mudik ke rumah mbahmu
seperti kamu, dia pun miskin
tetapi pulang haruslah necis
dia nekat pinjam honda
dan beli sepotong celana jeans
jalan raya semenyedihkan kota
penuh janda jahat, lobang lebar menjebak
para polisi enggan ketinggalan peran
mereka tidur merantak di sana-sini
bapakmu mual-mual
honda pinjaman sungguh sial
takluk pada geronjal
dia yang ketiga memang mustahil pertama
celana jeans sungguh sial
tak memberi napas alat vital
dia yang asia memang mustahil amerika
lobang sungguh sial
polisi sungguh sial
polisi sungguh sial
singkat cerita, bapakmu bertemu ibumu
bapakmu memang suka janda dan kejahatan
mereka senggama di atas kardus-kardus susu
separuh cinta separuh nafsu
bergoyanglah semak-semak perdu
dan jadilah kamu, anakku
(2024)
*****
Editor: Moch Aldy MA
