Senin, 6 Mei.
Rinaya masih menggelesot di depan cermin. Alarm, yang biasa meronta-ronta nyaring, sudah mati sedari tiga puluh menit yang lalu. Cahaya matahari telah mengisi kamarnya lewat sela-sela tirai yang sedikit tersibak. Rinaya termenung sebentar, sebelum akhirnya meraih ponsel di bufet kecil yang terletak di samping ranjang. Ia kembali menggulir sederet pesan singkat yang urung dibalas.
Sebagian besar rekannya menanyakan keadaannya. Beberapa bersikeras hendak berkunjung untuk mengantarkan buah-buahan atau sekadar mengobrol. Sementara Pak Nob, kepala bagian personalia, menawarkan diri untuk menemuinya secara empat mata demi kebaikan semua pihak. Namun Rinaya mengabaikannya.
Semua itu bukan tanpa sebab. Sudah dua pekan berturut-turut sejak Rinaya mangkir ke kantor tanpa pemberitahuan. Sebetulnya Rinaya sudah menyiapkan alasan bahwa dirinya tak memungkinkan untuk beraktivitas karena bebannya menahan rindu. Kaki, tangan, hingga mulutnya seakan lumpuh. Tak bisa diajak berkompromi. Tapi ia masih tak dapat menjelaskannya ke siapa pun.
Rinaya sebelumnya sudah mengutarakan hal ini ke beberapa orang. Ke sahabatnya, ia menanyakan apakah rindu semacam ini memang betul-betul ada. Kepada dokternya, seorang perempuan berkacamata tebal dengan aroma orchid yang selalu menempel di jasnya, Rinaya mengaku bahwa kerinduan ini melumatnya perlahan. Lalu kepada pengacaranya, ia bertanya sampai mana aksi berengseknya ini bisa ditoleransi.
Di kepalanya, tugasnya kini hanyalah mencari pembenaran yang simpang siur. Sebab di era ini, siapa yang tak dongkol mendengar alasan melodramatis picisan seperti itu?
“Kamu bolos lagi?” suara Murak menyembul dari arah kamar mandi.
“Ini bukan bolos, kamu tahu itu,” balas Rinaya seadanya.
Murak tak puas. Ia menghela napas.
“Setidaknya, jika kamu memang bolos kerja karena tak kuat menahan rindu, beri tahu mereka. Mereka juga berhak mendapat keterangan, Rin.”
Rinaya tak menjawab ocehan itu. Ia memilih menengok keluar jendela apartemen, di mana ada seekor burung merpati liar yang bertengger di ambang terali balkon.
Ia lanjut menatap cermin besar yang tergeletak di hadapannya, duduk di ubin sambil memeluk kedua belah kakinya yang panjang. Hanya mematung. Begitu saja selama dua pekan. Dapat dilihatnya kulit lehernya yang langsat, bra cokelat muda kekuningan yang ia kenakan sejak dua minggu lalu, dan lingkaran hitam di bawah matanya.
Lebih dari sepekan sejak Rinaya mencari pencerahan atas perasaan janggal itu. Seumur hidupnya, yang ia ketahui ialah bahwa kerinduan akan menemukan batasnya, cepat atau lambat. Konon, dengan adanya pertemuan, rindu akan menguap dengan sendirinya. Namun kali ini ia sama sekali tak yakin. Pasalnya, rasa itu kian menggerogoti dirinya dari dalam, hari demi hari. Seperti menolak untuk disembuhkan.
“Adakah rindu yang mustahil ditahan?” gumamnya dalam hati.
***
Jumat, 19 April.
Sedari siang, perutnya terasa sakit. Seperti ada yang memberontak hendak keluar. Serasa dipelintir. Ketika dielus dan dibaluri minyak, rasa itu tak kunjung hilang. Sedangkan di dadanya lebih ganjil. Di situ bergumul hal-hal acak yang belum pernah ada, yang entah dari mana asalnya.
Rinaya segera mengirim pesan singkat pada Murak, mengabarkan bahwa dirinya sebentar lagi akan bertolak menuju apartemen. Sungguh mati, ia hendak memberi tahu Murak atas kondisinya yang payah. Tapi niat itu selalu ia batalkan. Rinaya ingin buka suara saat waktunya dirasa tepat.
Itu adalah Jumat, hari yang paling mereka tunggu sepanjang pekan. Momen saat mereka berjanji akan menghabiskan jatah libur, mengingat itulah yang akan tersisa dalam beberapa bulan ke depan. Dapat dibayangkan oleh Rinaya adegan ketika mereka mengobrak-abrik bumbu di dapur atau menonton film serial di sofa sembari melumat separuh stoples bronis hingga tandas. Hanya berdua.
Jalanan urung terlelap. Persimpangan lampu merah masih dipadati kendaraan. Di dalam taksi, Rinaya masih mengusap perutnya. Kali ini lebih sering.
“Halo, Sayang!” Murak menyapa Rinaya seraya membukakan pintu.
“Halo….”
Ada jeda. Mereka berpagutan untuk sekian detik. Aroma parfum dan minyak oles saling bertabrakan. Murak dengan sigap menyadari keadaan. Usai meraih tas mungil Rinaya, Murak lantas menatap matanya dalam-dalam.
“Ekhm, ada apa?”
“Maksudmu?”
“Kamu tampak pucat.”
“Ah, biasalah, mungkin kurang minum.”
“Bohong, jangan coba menutup-nutupi,” lanjut Murak, “kamu mesti segera minta cuti ke Pak Nob.”
“Kita sudah sepakat, kita harus mulai rajin mengumpulkan uang dan menabung, kan? Ingat, Sayang, biaya makin mahal. Aku tidak mau melihat kamu susah sendirian.”
Murak melipat kedua lengannya.
“Lembur tiga hari nonstop pasti melelahkan,” Murak menuntun Rinaya duduk di sofa, “langsung tidur saja, ya? Atau mau ke dokter?”
“Tidak mungkin, aku sudah janji akan menemanimu menamatkan season terakhir Friends.”
“Kamu terlalu memaksakan.”
“Aku ogah melihat orang, yang sudah hampir kepala empat ini, jadi norak karena belum tahu ending-nya,” sambung Rinaya sambil menyeringai, “lagi pula, tak lama lagi kamu punya pesaing.”
“Astaga, lupakanlah. Aku lebih mengkhawatirkanmu.”
Rinaya melingkupi wajahnya sepintas lalu, lantas merebahkan tubuhnya di sofa.
“Jika demikian, biarlah kita ambil jalan tengah. Aku tetap menemanimu di sini. Tapi kalau aku jatuh tertidur sebelum Ross dan Rachel balikan, tidak masalah, ya?”
“Heh, itu namanya spoiler!”
Maka, dengan cekatan Murak mempersiapkan segalanya: selimut, dua stoples camilan, dan sepasang bantal tambahan. Sesudahnya ia semprotkan pengharum ruangan, menyalakan lampu dinding agar suasana meremang, lalu menyetel teve raksasa yang baru genap berusia satu bulan. Acara dimulai. Dan setelah lima menit, Rinaya pulas mendengkur.
“Oh, berapa lama aku tertidur?”
“Mungkin satu jam,” Murak tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, “kenapa terbangun?”
“Mau ke kamar mandi.”
“Oke, sekalian ganti baju, ya. Kamu pasti sangat letih sampai-sampai kelupaan. Aku masih di sini, kok. Mau melanjutkan desain interior mumpung ada ide. Kalau mau tidur di sini, silakan saja.”
“Ya.”
Bola mata Murak terpaku ke layar. Ia tak menghitung menit yang berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Empat puluh lima menit. Namun Rinaya belum juga kembali. Ia baru tersadar oleh bunyi keran air yang terbuka. Murak bergegas ke kamar mandi. Setelah pintu terkuak, hanya ada banjir darah di ubin.
***
Senin, 6 Mei.
“Halo, Rinaya?”
Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Langit sudah memerah. Hujan masih enggan turun. Merpati liar yang biasa asyik bercokol di ambang kusen pun telah lama lenyap. Dan Rinaya masih mengamati dirinya di depan cermin. Aku menanyakan kabarnya.
“Seperti sediakala.”
“Bronisnya aku taruh di meja, ya.”
Aku baru saja pulang, menenteng sekotak bronis kesukaannya yang ia idamkan sejak dua bulan lalu. Meskipun ia sudah bilang padaku berkali-kali bahwa dirinya sudah tak nafsu sejak dua pekan silam, tetap saja aku bawakan. Aku menganggap ini sebagai upaya terakhir untuk menegaskan cinta dan kepedulianku. Alhasil, meja itu makin penuh saja dengan berkotak-kotak bronis. Pikirku, barangkali ia melunak.
“Belum bosan kamu di depan cermin itu?” tanyaku berusaha mencairkan suasana.
Rinaya tak ingin merespons. Sebab, betapa bodohnya pertanyaan itu. Aku memang lulusan dari negeri seberang, namun otakku kerap sesunyi rumah angker perihal ini. Melompong. Wajar saja, masalah baru perlu solusi yang tak kalah baru. Dan isi kepalaku nyaris meletus karenanya.
“Nah, kalau kita jalan-jalan menyusuri danau, bagaimana? Cuaca sedang bagus. Di sana kita bisa memesan kopi, membeli gulali, atau sekadar….”
“Kapan kamu mau mengerti?” Rinaya memotong kalimatku.
Aku diam saja. Dari pantulan cermin itu, dapat kuamati jemarinya yang saling memijat sambil memejamkan mata. Seberapa jauh penderitaan dan rasa bersalah itu telah merongrongnya? Padahal, ia tak perlu demikian. Semua ini ibarat ingin menyelesaikan susunan teka-teki tanpa memegang satu pun pecahannya. Tak tentu ujung pangkalnya.
“Maaf, aku kira hari ini adalah momen yang tepat. Kamu….”
“Entahlah,” Rinaya memotong lagi.
Kali ini, ada yang menetes perlahan di tepian pipinya yang kucam.
“Dua bulan. Dua bulan aku bercengkerama dengannya dalam senyap. Aku belum lagi tahu namanya atau bentuk wajahnya atau perilakunya. Tapi itu sudah sangat membuatku bahagia. Lalu bayangkan, tanpa seizinku, kebahagiaan itu seketika direnggut begitu saja.”
“Sayang, kita bisa mengunjungi orang tuamu malam ini juga. Mungkin kamu bisa….”
“Kita menantikannya selama hampir delapan tahun,” kata-kata Rinaya terus berhamburan, “beri tahu padaku, adakah cara melupakannya selain kematian?”
Aku hanya menatap matanya dalam-dalam, sebagaimana yang lalu-lalu. Aku mencoba mengenali istriku lagi.
“Kerinduanku ini rupanya kian sulit untuk dilepaskan,” Rinaya membelai perutnya. “Aku betul-betul rindu padanya.”
*****
Editor: Moch Aldy MA
