Ada sebuah buku bernama Animal Farm, karya seseorang bernama George Orwell, dan entah kenapa saya merasa perlu mencatat bahwa saya menemukannya di perpustakaan pada suatu hari yang tidak istimewa, dalam keadaan yang juga tidak istimewa, sebagaimana kebanyakan hal penting biasanya dimulai dari sesuatu yang tampak remeh. Saya membaca sinopsisnya dan bertanya pada diri sendiri, dengan nada yang kini saya sadari agak naif: apakah ini semacam fabel?
Saya bukan pembaca karya klasik yang tekun. Hal itu perlu saya akui di sini, seolah pengakuan itu penting bagi seseorang selain diri saya sendiri. Saya mengambil buku itu bukan karena dorongan dari dalam diri saya, melainkan karena seorang kenalan pernah menceritakannya dengan semacam kegembiraan yang, waktu itu, terasa berlebihan dan sedikit tidak masuk akal bagi saya. Ia adalah seorang yang gandrung pada gagasan-gagasan tentang pedagogi kritis, seolah gagasan bisa menyelamatkan seseorang dari sesuatu.
Saya duduk. Saya membuka halaman demi halaman, dan pada titik-titik tertentu saya mendapati diri saya mengernyitkan alis tanpa benar-benar memahami mengapa.
Pada mulanya saya kira ini fabel, dan barangkali memang demikian, sebab tokoh-tokohnya adalah binatang yang bercakap-cakap satu sama lain sebagaimana manusia, masing-masing dengan semacam keyakinan yang mereka pertahankan tanpa pernah benar-benar mempertanyakannya. Mereka merencanakan sesuatu yang oleh mereka disebut pemberontakan, dan saya membaca bagian itu dengan perasaan yang sulit saya jelaskan, semacam ketertarikan yang bercampur kecurigaan. Yang memimpin mereka, saya dapati, adalah seekor babi, dan saya merasa perlu mencatat bahwa saya bukan seseorang yang membeda-bedakan makhluk berdasarkan rupa atau jenisnya. Hanya saja ada semacam ironi yang tidak bisa saya lewatkan begitu saja, bahwa dari sekian banyak kemungkinan, nasib memilih babi untuk memegang kendali.
Baca juga:
Saya mengenal babi, sebagaimana kebanyakan orang mengenalnya, dari layar-layar kecil: makhluk malas, gemuk, tanpa ambisi selain makan. Barangkali ini adalah kekeliruan saya sendiri, semacam prasangka yang saya warisi tanpa pernah saya periksa. Dalam buku ini babi-babi itu berwibawa; mereka berpikir, memutuskan, dan yang lain mengikuti tanpa banyak bertanya, dari awal pemberontakan hingga sesuatu yang kemudian tidak lagi bisa disebut pemberontakan.
Saya juga memperhatikan seekor kuda, yang memiliki satu kalimat sebagai semacam prinsip hidup: bahwa ia akan bekerja lebih keras. Ada pepatah yang mengatakan seseorang bekerja bagai kuda. Dan kuda ini, dengan caranya sendiri yang saya rasa agak menyedihkan, membuktikan pepatah itu benar. Bangun sebelum yang lain, demi sebuah visi yang, jika dipikirkan lebih jauh, bukan sepenuhnya visinya sendiri.
Saya berhenti membaca pada suatu titik. Saya berdiri, berjalan tanpa tujuan di dalam ruangan, bergumam pada diri sendiri hal-hal yang tidak saya ingat lagi persis apa, dengan perasaan yang saya kira mendekati kengerian, ketika saya sampai pada bagian di mana nasib kuda itu akhirnya terungkap, balasan atas segala kerja kerasnya. Ada sesuatu yang terasa familiar dalam ketidaknyamanan itu. Seolah saya pernah berada di posisi menyaksikan hal serupa, entah di mana, entah kapan. Saya bertanya-tanya apakah cerita ini sesungguhnya bukan tentang binatang sama sekali. Ada satu kalimat yang, sejak saat itu, menetap dalam ingatan saya dengan cara yang tidak bisa saya usir:
“Semua binatang setara, tetapi beberapa binatang lebih setara daripada yang lainnya.”
Kalimat itu tidak berteriak; ia hanya diam di sana. Dan justru karena diamnya itulah ia terasa lebih mengganggu. Saya merenung cukup lama, dan tiba-tiba saja. Tanpa saya undang, muncul sebuah pikiran: bagaimana jika kata “binatang” di kalimat itu diganti dengan kata “manusia”? Saat itu saya menyadari, dengan semacam ketenangan yang aneh, bahwa cerita ini bukan sekadar cerita tentang binatang, dan barangkali tidak pernah dimaksudkan demikian sejak awal.
Cerita ini, saya kira, adalah semacam catatan tentang bagaimana struktur kekuasaan bekerja: bagaimana yang berkuasa memiliki hak untuk menentukan mana yang benar, sehingga dua ditambah dua bisa menjadi lima jika merekalah yang mengucapkannya, dan tidak seorang pun merasa berada dalam posisi untuk membantah. Manipulasi, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, kebohongan yang disusun rapi, pencemaran nama baik, sekutu yang diam-diam menjadi musuh, dan yang tertindas yang perlahan-lahan berubah menjadi penindas. Semua ini digambarkan secara terbuka dalam novel ini, tanpa banyak selubung.
Yang paling mengganggu saya adalah bagaimana binatang-binatang lain samar-samar merasa ada sesuatu yang keliru, tanpa pernah benar-benar mampu menunjuk pada apa keliru itu berada. Mereka terus mengikuti, dengan semacam kepatuhan yang tidak sepenuhnya disadari sebagai kepatuhan, sebab mereka takut pada kemungkinan hidup tanpa pemimpin mereka. Mereka lupa, atau memilih untuk lupa bagaimana kehidupan sebelum pemberontakan itu berlangsung, sebab pada dasarnya tidak banyak yang berubah. Yang berganti hanyalah tangan mana yang kini memegang kendali atas mereka.
Saya membaca novel ini pada saat dunia di sekitar saya sedang sibuk dengan berbagai kegaduhannya sendiri. Barangkali karena itulah ia terasa seperti semacam penyingkapan, meski penyingkapan yang tidak sepenuhnya menenangkan. Novel ini menunjukkan bahwa kezaliman tidak selalu lahir dari niat jahat, melainkan dari keadaan di mana seseorang diberi celah dan kekuasaan yang cukup untuk terus-menerus membelokkan sesuatu yang semula lurus. Ia juga menunjukkan bahwa siapa pun yang pernah ditindas, pada suatu titik yang tidak selalu bisa diramalkan, berubah menjadi pihak yang menindas. Cukup dengan memberinya sebuah jabatan, sebuah kendali kecil untuk digenggam, maka betapa pun rendah ia pernah direndahkan, ia akan bangkit kembali, dengan rasa empati yang entah bagaimana telah menghilang, dan sesuatu yang menyerupai cambuk sudah berada di tangannya.
Baca juga:
Saya menutup buku ini tanpa benar-benar merasa telah selesai dengannya, sebagaimana seseorang tidak pernah benar-benar selesai dengan sesuatu yang telah mengubah caranya melihat. Yang tersisa bukan lagi pertanyaan tentang mengapa para binatang itu membiarkan segala sesuatunya terjadi, melainkan pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih sulit: apakah saya, jika suatu hari berada dalam posisi yang serupa, akan menyadarinya. Atau apakah saya, seperti mereka, hanya akan terus berjalan, mengikuti, tanpa benar-benar tahu ke arah mana, dan tanpa benar-benar bertanya mengapa. (*)
Editor: Kukuh Basuki
