Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

Bunga Kertas Merah Berduri: Sebersit Memori Babeh Romi di Tribun SSA

Faiz Al Ghiffary

2 min read

Di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, malam itu tidak ada yang spesial. Udara dingin yang tak begitu terasa, kepulan asap rokok dari tribun yang bikin sesak, dan gemuruh drum yang mengiringi deru nafas suporter. Saya berdiri di sana, di tengah birunya Laskar Mataram, hanya ingin menonton pertandingan PSIM Jogja. Sebuah hobi untuk menjaga kewarasan dari realitas yang sering kali lebih pahit daripada kopi tanpa gula.

Namun, di tengah keriuhan itu, ada satu momen yang bikin bulu kuduk saya meremang. Bukan karena gol, melainkan karena sebuah lagu.

Baca juga:

Bukan chant perang atau hinaan untuk wasit yang tiba-tiba bergema. Melainkan lirik yang sangat akrab di telinga anak-anak tongkrongan pinggir jalan: Bunga Kertas Merah Berduri. Awalnya pelan, disuarakan oleh segelintir orang di baris depan. Lalu, seperti api yang menyambar bensin, suara itu membesar, memenuhi tribun, dan membuat SSA mendadak terasa seperti panggung konser musik jalanan yang kolosal.

Lagu Orang Kalah yang Menang di Tribun

Jujur saja, mendengar lagu karya almarhum Babeh Romi dinyanyikan di tribun stadion itu rasanya aneh sekaligus magis. Lagu ini bukan lagu penyemangat yang heroik. Liriknya malah cerita tentang hidup yang babak belur, tentang orang-orang yang tidak punya pilihan, dan tentang kepasrahan yang dibalut harga diri.

Tapi mungkin itulah kenapa lagu ini sangat “masuk” di stadion.

Suporter bola apalagi PSIM yang sudah kenyang dengan drama “nyaris lolos” adalah representasi orang-orang yang paling paham soal ketabahan. Kami terbiasa dihajar harapan, lalu dipukul mundur oleh kenyataan, tapi besoknya tetap berangkat ke stadion lagi. Lagu Babeh Romi adalah cermin bagi wajah-wajah di tribun; kasar, serak, tapi punya hati yang sangat jujur.

Di SSA, lagu itu tidak butuh gitar kopong atau mikrofon mahal. Ia hanya butuh ratusan tenggorokan yang sama-sama haus akan kemenangan, tapi sudah terbiasa dengan kekecewaan. Ketika bagian refrain meledak, saya melihat seorang bapak-bapak di depan saya bernyanyi sambil menutup mata. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi saya yakin dia tidak sedang memikirkan taktik offside atau rotasi pemain.

Dia, dan mungkin kita semua, sedang merayakan luka masing-masing lewat suara serak Babeh Romi yang dipinjam massal.

Babeh Romi yang Tiada, Suara yang Abadi

Di tengah koor raksasa itu, pikiran saya mendadak melompat ke sosok aslinya. Babeh Romi sudah tidak ada. Dia sudah pulang lebih dulu, meninggalkan skena musik jalanan yang mungkin sekarang sudah mulai melupakannya. Tapi malam itu, di Bantul, dia terasa sangat hidup.

Inilah keajaiban karya yang punya “darah”. Ia tidak butuh panggung megah atau promosi gila-gilaan di Spotify untuk tetap eksis. Ia menemukan jalannya sendiri ke tempat-tempat yang tak terduga, seperti tribun stadion. Sebuah lagu yang lahir dari trotoar ternyata punya kekuatan untuk menyatukan ribuan orang yang latar belakangnya berbeda-beda.

Babeh Romi mungkin tidak pernah membayangkan lagunya bakal dilantunkan di stadion. Mungkin dulu dia cuma ingin lagunya didengar teman-teman tongkrongannya sambil menyesap kopi. Tapi itulah takdir karya yang jujur; ia akan berjalan jauh melampaui usia penulisnya.

Lagu Bunga Kertas Merah Berduri ini adalah bukti otentik bahwa kematian gagal membungkam suara seseorang. Selama masih ada orang-orang kalah yang butuh pegangan, selama masih ada tribun yang penuh dengan teriakan keadilan, lagu-lagu seperti ini akan terus bergema.

Sepak Bola, Musik, dan Secuil Ketabahan

Pertandingan malam itu akhirnya usai. Skor dicatat, poin dibagi, dan orang-orang mulai membubarkan diri menuju parkiran yang macetnya minta ampun. Di perjalanan pulang, melintasi jalanan Bantul yang mulai gelap, melodi lagu tadi masih nyangkut di kepala saya seperti debu yang nempel di baju.

Saya tiba-tiba menyadari satu hal. Kita datang ke stadion bukan cuma buat nonton orang nendang bola. Kita datang untuk mencari kesamaan rasa. Dan malam itu, rasa itu diwakili oleh lagu Babeh Romi.

Baca juga:

Ada rasa sedih yang terselip saat menyadari bahwa penyanyinya sudah tiada. Tapi ada juga rasa bangga yang aneh saat tahu bahwa suaranya kini dipelihara oleh ribuan orang yang bahkan mungkin tidak tahu siapa nama asli Babeh Romi.

Suara-suara di tribun tadi adalah bentuk penghormatan paling tinggi bagi seorang musisi jalanan. Lebih tinggi dari piala atau piagam penghargaan mana pun. Karena di sana, lagunya tidak cuma dinyanyikan, tapi dirasakan sebagai bagian dari napas perjuangan mereka mendukung tim kebanggaan.

Babeh Romi mungkin sudah tenang di sana. Dan bunga kertas merah berduri itu, meski batangnya berduri dan warnanya memudar, ternyata tetap mekar dengan sangat gagah di atas tribun SSA yang riuh. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Faiz Al Ghiffary
Faiz Al Ghiffary Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email