Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Bahasa Bapak dan Puisi Lainnya

Salman Alade

3 min read

Ibu: Jam Kerja Seumur Hidup

setiap pagi,
matahari belum selesai mengenali jendela,
tapi ibu sudah lebih dulu
menyalakan terang
di lantai, di piring, di jemuran,
di udara yang bau gosong dan sisa sabun.

dulu,
ketika hidup menendang ayah keluar
dari lapangan yang bernama pekerjaan,
ibu berubah menjadi lembur yang tak pernah pulang:
menanak hari,
menambal sekolah,
menjahit masa depan
dari sisa-sisa yang tak diakui sebagai upah.

ia berdiri paling lama
di depan mesin jahit yang merengek pelan,
menyulam hari esok
dengan benang doa
yang hanya langit
punya arsipnya.

kini,
usia membuka tubuhnya
seperti kalender yang disobek sembarang.
sendi-sendinya menjadi tanggal-tanggal mati.
namun lihatlah:
ia masih menyapu halaman
seolah panen akan datang,
menanak nasi
seolah para dewa akan singgah,
melipat baju
seperti menyusun kami,
satu per satu,
agar tidak tercerai.

ibu,
yang katanya sudah pantas duduk di bangku sore
dan menertawakan sinetron,
malah sibuk
memungut remah-remah
dari hidup
yang tak pernah memberinya jam kerja,
apalagi pensiun.

setiap piring yang dicuci
adalah pengunduran diri
yang tak pernah ditandatangani.
setiap lantai yang dipel
adalah pengakuan sunyi
bahwa dunia
tak pernah belajar
mengupah cinta.

dan aku menulis ini
bukan untuk memuliakan pengorbanan,
melainkan karena tak tahu
cara membebaskanmu, ibu,
dari pekerjaan
yang kau cintai
lebih dari tubuhmu sendiri.

(Mei, 2025)

Bahasa Bapak

di formulir sekolah
tertulis pertanyaan sederhana:
apa bahasa ibu yang kau kuasai?

aku menjawab pelan:
tidak ada ibu.
hanya bapak.

bahasaku tak lahir dari nina-bobo,
melainkan dari kapalan
yang membelah kayu setiap pagi.
bukan nyanyian,
melainkan bunyi sendok
di mangkuk kosong
yang tetap kami doakan hangat.

bahasaku adalah napas
yang memendek setiap sore,
bau solar di kerah kemeja,
mata yang hanya menutup
karena kalah lelah.

aku tak hafal lagu tidur,
tapi hafal tatapan bapak
saat uang tinggal receh
dan aku minta buku gambar.

di rumah,
tak pernah ada istilah kepala keluarga.
yang ada:
tulang-tulang
yang belajar berdiri
meski hujan turun
di atap dan dada.

bapak tak pandai bicara.
tapi bahasanya jelas:
cara ia mengiris sayur sambil batuk,
mencuci sepatuku dengan sabun colek,
memelukku
tanpa tangan,
tapi dengan seluruh musim
yang ia tahan
agar aku bisa berangkat esok hari.

maka jika hari ini aku ditanya lagi
apa bahasa ibuku,
aku akan menjawab:

bahasaku bahasa bapak,
bahasa yang tak punya ibu,
namun cukup
untuk membuatku tumbuh
dan tahu
bahwa cinta
tak selalu bersuara.

(Februari 2025, terinspirasi dari cerpen “Bahasa Bapak” karya Tri Utami Suleman)

Yang Tertinggal dari Cinta adalah Seprai yang Tak Ditarik Lagi

ia menyapu lantai
yang tak lagi diinjak cinta.
membersihkan jejak
yang bahkan kesepian
pun ragu pernah meninggalkannya.

ia perempuan yang ditinggal
bukan oleh maut,
melainkan oleh hidup
yang memilih arah
tanpa menoleh.

tubuhnya
pernah jadi ranjang dan ladang.
kini hanya tanah retak
yang tetap ia sirami,
meski benih tak pernah kembali.

di malam hujan,
saat anak-anak sudah tidur,
ia mencium tubuhnya sendiri
bukan untuk gairah,
melainkan untuk memastikan:
aku masih ada.

yang tertinggal dari cinta
bukan hanya sunyi,
melainkan seprai
yang tak pernah ditarik,
satu sisi ranjang
yang dingin setiap pagi,
dan lipatan kain
yang tak mengenal tangan.

lengan membatu,
payudara menyimpan ingatan,
tubuh setia
menunggu keberanian
yang tak pernah diajarkan
pada perempuan.

ia ingin bicara
tentang rindu tanpa alamat,
tentang tubuh
yang juga ingin didengar.
tapi dunia lebih percaya
pada perempuan yang diam
daripada yang jujur.

maka ia menjadi rutinitas:
memasak, berdoa, mencuci.
menjadi altar
yang tak pernah disembah.
menjadi hujan
yang tak pernah ditengadah.

dan ia tetap hidup
bukan karena ingin,
melainkan karena dunia
terlalu terbiasa
membiarkan perempuan
bertahan.

(Juli, 2024)

Sepasang Angsa yang Melintasi Jalanan Hujan dan Gelap

mereka berjalan
tanpa bicara,
tanpa tergesa,
seperti ingatan
yang menolak gugur.

air mengalir di sekitar kaki,
lampu-lampu lelah
menatap dari kejauhan.
klakson tak paham
bahwa cinta
tak selalu cepat.

sepasang angsa
tak mencari teduh.
mereka mencari satu sama lain
di dunia
yang mudah lupa
cara setia.

mereka kehilangan danau,
rumput,
dan masa depan.
tapi tetap melangkah,
sebab satu-satunya
yang tak bisa dicuri
dari tubuh angsa
adalah kesetiaan.

dan aku,
di balik kaca,
tahu:
kesepian adalah
menyeberang hidup
tanpa seseorang
yang bersedia
basah bersamamu.

(Mei, 2025)

Bisakah Tembok Mengadu pada Tuhan?

di satu dinding,
dunia terbelah.

sebelah kiri,
ranjang berisik oleh transaksi.
tubuh dibuka
bukan untuk pulang,
melainkan untuk lupa.

sebelah kanan,
perut menyanyi lebih nyaring
dari radio tua.
tak ada erangan,
hanya lapar
yang tak bisa ditunda.

hotel berlampu terang
dan rumah beratap bocor
berbagi satu tembok
yang tak pernah diajak bicara.

tuhan,
apakah Kau mendengar
cara orang merintih
yang berbeda?

apakah cinta yang dibayar
lebih pantas
mendapat selimut
daripada cinta
yang bertahan
tanpa uang?

malam menampung semuanya.
tanpa memihak.
tanpa menjawab.

(April, 2025)

Amuk Tidak Hanya di Kepala Juga di Dada

ada kabut
yang menetap
di kepala dan dada.
bukan pikiran,
melainkan sesak
yang tak pernah diizinkan keluar.

kepala seperti cerobong.
dada kamar tanpa jendela.

amuk ini tak berteriak.
ia berdengung.
menjadi peluru kecil
yang tahu
tempat bersarang.

aku berjalan
seperti retakan
yang belajar tampak utuh.
setiap langkah
menunda runtuh.

kadang aku ingin jadi langit,
agar hujan tanpa alasan.
kadang ingin jadi hutan,
agar terbakar
tanpa perlu menjelaskan.

tapi aku hanya tubuh
yang menyimpan badai
seperti rahasia
paling setia.

(Desember, 2024)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

One Reply to “Bahasa Bapak dan Puisi Lainnya”

Leave a Reply to Emha Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email