Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Bagaimana Child Grooming Menulis Ulang Bahasa Sayang?

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf

3 min read

Bahasa sayang, dalam pengertian paling purba, lahir dari relasi yang timpang namun saling menjaga. Ia tumbuh dari kebutuhan manusia untuk merawat yang rapuh dan melindungi yang belum selesai menjadi dirinya sendiri. Dalam keluarga, bahasa sayang menjelma dalam nada suara yang menenangkan, dalam larangan yang bermaksud melindungi, dalam perhatian yang tak selalu manis tetapi jujur. Namun di tangan praktik child grooming, bahasa ini direbut, dibajak, lalu ditulis ulang dengan makna yang sepenuhnya berkhianat pada tujuan awalnya.

Child grooming bukan sekadar kejahatan seksual terhadap anak, melainkan kejahatan semiotik. Pada tahap awal, yang disasar adalah kata dan kepercayaan. Pelaku grooming memahami satu hal mendasar, anak-anak hidup dalam bahasa. Mereka belajar mengenali dunia bukan melalui konsep abstrak, tetapi melalui ujaran orang dewasa yang mereka percaya. Di sanalah bahasa sayang menjadi pintu masuk.

Dalam relasi yang sehat, bahasa sayang mengandung batas. Ia tahu kapan harus mendekat dan kapan harus berhenti. Grooming lambat laun membuat batas itu secara perlahan dikaburkan. Kalimat yang terdengar penuh perhatian sesungguhnya sedang menguji seberapa jauh makna bisa dipelintir. “Aku peduli padamu,” berubah menjadi alasan untuk mengontrol. “Ini rahasia kita,” menjelma alat isolasi. “Aku melakukan ini demi kebaikanmu,” menjadi pembenaran atas pelanggaran.

Saat Kata “Sayang” Dipakai untuk Menguasai

Bertolak dari pemikiran Michel Foucault yang menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui paksaan tetapi melalui produksi kebenaran dan normalisasi. Pada praktik child grooming, kekuasaan bekerja melalui afeksi. Si pelaku tidak memerintah dengan ancaman, melainkan dengan perhatian berlebih, hadiah, pujian, dan narasi kedekatan yang eksklusif. Bahasa sayang menjadi sarana disiplin halus yang membentuk persepsi anak tentang apa yang “wajar” dan “tidak wajar”.

Baca juga:

Salah satu daya paling berbahaya dari child grooming adalah kemampuannya menormalisasi pelanggaran melalui bahasa. Pelaku tidak serta-merta melanggar batas, tetapi menggesernya sedikit demi sedikit. Dalam proses ini, bahasa berfungsi sebagai alat pelicin moral.

Pertama, bahasa sayang digunakan untuk mengaburkan relasi kuasa. Seorang dewasa yang berkata “kita seperti teman” kepada seorang anak sebenarnya sedang menutup perbedaan fundamental dalam posisi mereka. Relasi asimetris dibingkai seolah simetris. Anak diajak merasa setara padahal ia sedang ditempatkan dalam situasi yang rentan.

Kedua, bahasa sayang dipakai untuk mengubah persepsi tentang tubuh dan keintiman. Sentuhan yang tidak pantas bisa dibungkus dengan kalimat seperti “ini tanda kasih sayang” atau “ini hanya candaan”. Bahasa seolah berfungsi sebagai teknologi pembenaran yang mengaburkan garis antara kasih dan kekerasan.

Ketiga, bahasa sayang digunakan untuk menciptakan rasa keterikatan emosional yang berlebihan. Anak dibuat merasa spesial dan berbeda dari yang lain. Meski begitu, “spesial” ini bukan pengakuan sehat atas keunikan anak, melainkan taktik untuk membangun ketergantungan.  Dengan demikian, child grooming tidak hanya merusak individu, tetapi merusak tata bahasa moral masyarakat. Ia mengotori kosakata afeksi yang seharusnya melindungi.

Media dan budaya populer juga turut berperan dalam mengaburkan batas ini. Glorifikasi kedekatan “istimewa” serta lelucon yang menormalisasi pelanggaran batas turut menyumbang kosakata yang ramah bagi grooming. Bahasa sayang pada akhirnya kehilangan ketajaman etik. Ia menjadi sekadar hiasan emosional yang bisa ditempelkan pada relasi apa pun, betapapun timpangnya..

Marshall McLuhan melalui tesisnya yang terkenal, “the medium is the message”, mengingatkan bahwa setiap medium komunikasi adalah struktur yang membentuk cara manusia berpikir, berhubungan, dan memaknai realitas. Perubahan medium dari tatap muka ke digital tidak hanya mengubah “bagaimana” bahasa sayang disampaikan, juga “apa” arti bahasa sayang itu sendiri. Oleh karenanya, bahasa sayang dapat mengalir melalui layar yang menyelinap ke kamar tidur anak tanpa harus mengetuk pintu.

Batas yang Pelan-Pelan Digeser (Lalu Pura-Pura Tak Tahu)

Inti persoalan child grooming terletak pada ketidaksetaraan. Bahasa sayang antara orang dewasa dan anak tidak pernah netral sebab karena ia selalu dibayangi perbedaan kuasa, pengalaman, dan pemahaman. Di sinilah masalah etis muncul, bagaimana membedakan kasih yang melindungi dari kasih yang mengeksploitasi?

Bahasa sayang yang sehat mengakui batas. Ia mengandung jarak yang menghormati otonomi anak. Sebaliknya, bahasa sayang dalam grooming justru mengikis batas itu dengan dalih kedekatan. Dalam kerangka pemikiran Simone de Beauvoir, posisi “yang lain” (the Other) selalu lahir dari subjek yang dominan mendefinisikan dirinya sebagai pusat. Beauvoir menunjukkan bagaimana perempuan diposisikan sebagai “yang lain” terhadap laki-laki sebagai subjek universal. Logika serupa dapat ditarik pada relasi orang dewasa dan anak. Anak kerap diperlakukan bukan sebagai subjek etis yang memiliki kehendak dan suara, melainkan sebagai makhluk yang “masih menjadi”, belum selesai, dan karenanya sah untuk dibentuk.

Dampak child grooming tidak berhenti pada korban individual. Kerusakan simbolik yang lebih luas terhadap cara masyarakat memahami kasih sayang, kepercayaan, dan keintiman juga dapat terjadi karena hal itu. Ketika kasus grooming terungkap berulang kali, boleh jadi bahasa sayang akan kehilangan kepolosannya. Orang tua menjadi curiga berlebihan, anak belajar untuk waspada bahkan terhadap perhatian yang tulus, dan relasi sosial diliputi kecurigaan. Dengan kata lain, grooming merusak ekosistem afeksi sosial.

Belajar Curiga pada Kata Manis (Tanpa Harus Sinis pada Kasih)

Jika child grooming telah menulis ulang bahasa sayang, maka tugas kita adalah menulis ulang kembali bahasa itu dengan cara yang lebih etis. Hal tersebut bukan soal pencegahan kejahatan belaka, tetapi proyek kultural untuk merebut kembali makna kasih sayang.

Langkah pertama adalah mengajarkan anak kosakata yang jujur tentang perasaan dan batas. Anak perlu tahu bahwa tidak nyaman adalah sinyal yang sah. Bahwa rahasia yang diminta oleh orang dewasa tidak selalu berarti kepercayaan. Bahwa kasih tidak pernah meminta pengorbanan tubuh atau martabat. Pendidikan semacam ini bukan menanamkan kecurigaan berlebihan, melainkan membekali anak dengan bahasa untuk memahami pengalamannya sendiri.

Orang dewasa pun perlu belajar ulang. Banyak dari kita mewarisi bahasa sayang yang problematis. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta harus disertai penderitaan, bahwa kedekatan berarti kehilangan batas. Tanpa refleksi kritis, bahasa ini dengan mudah direproduksi, bahkan oleh mereka yang berniat baik. Dalam konteks ini, melawan grooming juga berarti membongkar romantisasi relasi timpang yang sudah lama berakar.

Baca juga:

Ruang publik memiliki peran krusial. Diskusi tentang child grooming tidak boleh berhenti pada sensasi kasus. Media seharusnya tidak hanya memberitakan kejahatan, namun juga membongkar mekanisme halus yang membuatnya mungkin. Tanpa itu, grooming akan terus bersembunyi di balik kata-kata manis yang terdengar akrab.

Pada akhirnya, child grooming adalah pengkhianatan terhadap bahasa sayang. Ia mencuri kata-kata yang seharusnya melindungi, lalu menggunakannya untuk melukai. Tugas kita adalah mengembalikan kata-kata itu pada makna asalnya. Menjadikan kasih kembali sebagai ruang aman. Menjadikan bahasa sebagai jembatan kejujuran. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf
Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email