Aroma Kematian

Rania Alyaghina

5 min read

Aroma itu datang lagi, yang ketiga kali.

Aku menyebutnya aroma kematian. Karena aromanya benar-benar bikin yang mengendusnya mau mati. Karena aromanya menguar dari bangkai yang mati berhari-hari. Dan karena aromanya, yang dari depan rumah terhitung sudah tercium tiga pagi kali, aku pengin orang yang meletakkannya mati.

Aku tahu ada pelaku dari kemunculan bangkai itu. Di mana ada bangkai yang terhirup, di situ ada pembunuh yang enggan mengubur. Bangkai itu, yang mulanya makhluk hidup, tidak serta-merta mati di tengah jalan. Sudah pasti ada penyebabnya ia teronggok mati, diabaikan, kemudian jadi bangkai. Sudah pasti ada yang menaruhnya di situ. Siapa, kau tanya? Tentu salah satu dari mereka.

Orang yang selama ini kau sebut orang terdekatmu nyatanya bisa berjarak sejauh gapaian tangga berlantai lima belas. Untuk meraih hati mereka, kau perlu menyamakan, atau setidaknya lebih tinggi dari standar mereka. Paling tidak menyamakan kriteria mereka, sembari sesekali mengingatkan mereka akan keberadaanmu. Dan aku termasuk orang yang sudah-jatuh-tertimpa-tangga. Sudah jungkir balik berbuat baik, tetap tidak ada artinya. Orang-orang sekitar sini benci aku berbaik hati pada mereka. Kok aku bisa tahu? Hanya orang mati yang tak tahu kalau ada orang yang membencinya.

Meski begitu, aku mesti menjaga imej. Aku punya tanggung jawab besar: menagih uang kas kepada mereka setiap bulannya, demi keberlangsungan kompleks ini. Ini bermula dari kesoktahuanku mengajukan diri sebagai bendahara RT. Banyak, banyak betul yang mesti dibenahi: ayunan yang sudah patah lengannya, perosotan yang kakinya sengklek, lapangan yang warna catnya sudah kelabu karena sering diinjak-injak, tanaman dan berbagai pohon buah yang mulai layu dan mengering daunnya, dan sederet tugas lain, yang sebetulnya bisa dicicil kalau ada kemauan. Ah, kemauan saja tidak cukup. Di mana ada kemauan, di situ perlu ada doku.

Itu salah satu alasan mengapa aku sok-sok-an menawarkan diri, karena aku melihat potensi kompleks ini, padahal aku pendatang baru. Beberapa dari mereka sebetulnya rajin membayar kas, ada pula yang kerap mengulur-ngulur waktu, berharap aku lupa dengan janji mereka yang bunyinya selalu sama: lusa, tiga hari lagi, atau minggu depan. Mereka pikir bendahara itu pekerjaan gampang, apa? Pekerjaan bendahara salah satunya menanggung janji-janji orang yang ingkar janji. Termasuk nombok di setiap bulannya. Lho, sudah barang tentu aku mencatat setiap pemasukan! Tapi kalau soal pengeluaran, sudah lama tidak aku catat. Apa lagi kalau bukan karena tidak ada pengeluaran apa-apa yang diperlukan kompleks ini. Tampaknya tak ada yang begitu peduli lingkungan tempat tinggal mereka mau sebagus atau sebobrok apa. Yang penting bisa ditinggali. Tampaknya tidak ada yang sepeduli aku.

Akhir-akhir ini, setiap hari, aku pulang dini hari. Dan setiap pulang pulalah kutemukan seonggok tikus habis ditabrak tergeletak di depan pagar rumah, layaknya tempat kejadian perkara yang tidak diacuhkan. Karena lelah dan lapar menguasai dan mengalahkan amarah, kusimpan kemarahan itu untuk bekal esok pagi. Kenyataannya, setiap bangun pagi, bangun jugalah akal sehatku. Menguap amarahku yang tadinya sudah sampai ubun-ubun.

Siang hari, kusempatkan diri mengambil bangkai tikus itu dengan serokan. Tukang sayur yang senantiasa ngetem di depan rumah, dipenuhi ibu-ibu, memekik berbarengan layaknya paduan suara, “Eh, Mas, jarang kelihatan. Lho, tikus mati itu, Mas?”

“Iya, Bu,” aku mengangguk ramah—ah, perlu kukoreksi—mencoba ramah. Mereka pikir aku tidak tahu kalau ini ulah mereka? Atau ulah suami-suami mereka? Anak-anak mereka, mungkin? Siapa pun itu, yang jelas dan sudah pasti ini ulah mereka semua. Sebegini bencinya mereka kepadaku, orang yang hanya mau lingkungan tempat tinggalnya layak huni dan terawat?

Sore hari, aku siap-siap berangkat. Bercak darah rupanya masih menempel di aspal tempat bangkai tikus tadi terbaring. Besok pagi akan kusapu dengan air, atau cukup dengan ingatan.

Esok paginya, sesaat sampai di rumah, tidak kutemukan bangkai itu mentereng menghiasi pemandangan halaman. Mungkin mereka mulai sadar kalau perilakunya merugikan.

Tapi, aku kelewat cepat senang. Seonggok tikus yang aromanya sudah tidak karuan kutemukan di atas meja kerjaku, sesaat aku sampai di kantor. Kuperhatikan tampang mereka satu per satu. Tak ada tanda-tanda pelaku dari wajah mereka. Atau memang mereka kelewat lihai menutupi wajah mereka.

Kuangkat tubuh tikus nahas itu dan membuangnya ke tempat sampah terdekat, bergabung bersama tumpukan kertas. Mereka mau hidungku akrab dengan aromanya? Kupastikan hidung mereka jadi sobatnya juga.

Bangkai tikus tadi meninggalkan jejak bercak darah. Kuraih kotak tisu terdekat dan mengambilnya banyak-banyak, menuangkan sedikit air dari botol minum yang tinggal setengah, kemudian menggosok meja tanpa ampun. Serabut tisu mulai berpencaran, bredel, semakin mengotori meja, tetapi noda darahnya tak kunjung hilang.

Usai jam kerja, Pak Bos memanggilku ke ruangannya. Katanya, ia menerima banyak keluhan karena aku membuang bangkai sembarangan.

“Lho, saya kan buangnya ke tempat sampah, kenapa sembarangan?”

“Tapi kamu buangnya di dalam ruangan. Kenapa gak buang ke luar ruangan? Kan baunya menyebar ke mana-mana.”

“Saya mau jujur saja, Pak, kalau sebetulnya salah satu dari mereka yang menaruh bangkainya ke meja saya. Jadi, mestinya Bapak bisa mencari tahu lebih lanjut siapa dalang pembuang bangkai sembarangan sesungguhnya.”

Respons dari pengakuanku adalah aku diminta tidak datang ke kantor hingga sebulan ke depan. Katanya, konyol kalau ada orang yang seniat itu membopong bangkai ke meja rekan kerjanya. Kataku, konyol kalau suatu perusahaan menskors seorang manajer keuangan yang jelas tidak bersalah ini.

Sesampainya aku di depan rumah—kali ini bukan satu, tapi—dua onggok bangkai tikus tampak mejeng tepat di depan pagar. Akal sehat tidak lagi tersisa di dalam diriku. Kuinjak-injak bangkai itu tiada ampun, hingga kedua tubuh mereka menyatu, hingga bagian dalam tubuh mereka undur diri dari tubuh yang semula utuh, hingga aroma anyir darah menggantikan aroma kematian yang sempat terlupakan di roma hidung. Apa nama yang tepat, yang lebih menyengat dari kematian? Kebangkitan; kehidupan setelah mati? Ya, agaknya itu nama yang pas, mengingat aromanya tak pernah kau duga-duga kebenarannya, namun nyata ketika kau mengendusnya sendiri.

Sehat tidak lagi jadi nama belakang akalku. Tapi aku sepenuhnya sadar kalau aku menginginkan pelakunya, siapa pun itu, mati.

Kali ini, tidak kuserok bangkai itu ke tempat sampah. Tidak kusemprot bekas bangkai itu dengan air, dengan ingatan, dengan apa pun. Kubiarkan saja di sana, sekaligus penasaran apa reaksi orang-orang sekitar.

Baru empat jam aku terlelap, tubuhku langsung digonjang-ganjing riuh ramai di luar. Sejumlah orang membungkukkan tubuh, sibuk mengelilingi dan menunjuk entah apa di bawah sana, yang baru kuingat adalah dua bangkai yang sudah mejret. Mereka yang melihatku melongok, lantas melempar makian tak karuan.

“Ini siapa yang taruh bangkai di sini?”

“Kok bisa dibiarkan saja? Kan baunya mengganggu banyak orang!”

“Lho, saya juga gak tahu. Tiba-tiba ada di depan rumah saya.” suaraku menyelip di tengah-tengah keramaian, berharap terdengar salah satu dari mereka, namun apa daya tenggelam cuitan lain.

“Waduh… sampai gepeng begini… baunya gak ada ampun!”

“Kalau ada di depan rumah kamu, berarti ini punya kamu! Perbuatan kamu!”

“Pak, Pak… mana ada orang ‘punya’ bangkai.”

“Sekarang gimana cara hilangkan baunya, nih…”

“Coba aku cari di gugel.”

“Nah, pake cuka bisa, katanya! Adakah yang punya cuka di rumah?”

“Oh, ada… ada orang yang punya, bahkan nyimpen bangkai. Kamu jangan sok tahu.”

“Anak kemaren sore emang begitu.”

“Andalannya cuma gugel.”

“Kalau gitu, sebutin satu contoh bangkai yang disimpen orang.”

Gugel tuh apa, sih?”

“Gatau, kita dengarkan saja sampai perbincangannya selesai.”

“Mobil. Bangkai mobil. Banyak disimpan orang di garasi mereka.”

“Uang.”

“Bapak-bapak, ibu-ibu, kebetulan pada ngumpul di sini, saya mau laporan bahwa saya belum terima honor enam bulan ini…”

“Uang?”

“Iya, uang. Dipendem terlalu lama. Disimpan kelamaan. Lama-lama jadi bangkai.”

“Untungnya masih bernilai.”

Ya, untungnya masih punya nilai bangkai yang satu itu. Meskipun nilainya berkurang jika dimakan waktu, uang tetaplah uang. Semakin lama disimpan memang semakin merugikan. Tapi daripada buru-buru dipakai buat hal tak perlu, lebih baik disimpan untuk kebutuhan ke depan.

“Begini saja, uang kas yang ada, kita keluarkan untuk membasmi tikus-tikus di kompleks kita ini. Agar mayatnya gak bergelimpangan di jalan kita.”

Ucapannya menohokku. Bagaimana bisa mereka memutuskan sepihak begitu? “Lho, gimana mau keluarin uang, kalau warga di sini gak ada yang bayar? Apa harus saya keluarkan uang saya sendiri?”

“Uang yang ada saja dulu, Mas. Nanti kekurangannya tinggal diperiksa siapa-siapa saja yang belum bayar, nanti kita tagihkan langsung ke orangnya.”

“Ya, uang yang ada gak cukup menutupi biayanya. Saya mesti cek dulu siapa orang yang belum bayar-bayar.” Bisa-bisanya mereka menagih uang yang tak ada wujudnya.

Kami semua lantas membubarkan diri. Dua bangkai yang sudah gepeng itu masih setia tergeletak di depan rumahku.

Pukul dua pagi, aku menabur remah-remah bangkai ke depan rumah mereka. Iya, bangkai yang masih setia di depan rumahku itu. Harapanku berbuat begini agar mereka segera berteman baik dengan aroma ini. Agar mereka terbiasa dengan aroma ini, saking terbiasanya hingga tak bisa membedakan bahkan mengendus aroma lain. Aku harap, saking terusiknya mereka dengan aroma ini, mereka tak lagi menggubris uang yang mereka anggap menjuntai di saku celanaku, dan mulai membayar kas dengan rajin. Aku harap, mereka sadar bahwa uang yang ada belum mampu memoles kebobrokan kompleks ini.

Mudah-mudahan setelah ini mereka sadar, bahwa total uang kas yang kupegang saat ini belum mampu membangkitkan bangkai jenis apa pun.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rania Alyaghina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email