Laki-laki kelahiran 2001. Boleh kasih bacotan di @paa_litoo

Anak-Anak Pak Karmin

Palito -

5 min read

Sudah lama air menetes dari langit-langit yang bocor, membasahi lantai kayu dan kursi-kursi tua. Kabut tipis dan hawa lembap menyelimuti membuat segalanya terasa seperti mimpi buruk. Dari layar televisi di ruang tengah yang selalu menyala menampilkan banjiran cahaya melengkung aneh keluar seolah cahaya dunia lain mencoba menyusup.

Pak Karmin tinggal sendirian di rumah itu, sebuah bangunan tua di pinggir perkampungan yang dulu rumah itu ramai, tapi kini sudah ditinggalkan oleh waktu dan kenangan. Istrinya sudah lama pergi setelah tragedi banjir yang membawa lari anak-anak mereka. Tapi Pak Karmin tetap tinggal, percaya hujan itu adalah ruh anak-anaknya yang hilang.

Setiap hari, ia membeli ember-ember plastik baru, memberi nama, dan memperlakukan mereka seperti anak-anaknya. Ada Yama Merah di dekat jendela, dan Mojo blabiru, yang selalu ia isi air serta mainan kecil. Ia bicara pada mereka setiap pagi dengan suaranya yang parau akibat rokok.

“Nak, jangan nakal ya,” katanya, sambil menyanyikan lagu pengantar tidur di malam hari.

Rumah itu dulu penuh kehidupan. Pak Karmin ingat betul, meski kenangan semakin hari semakin pudar di ingatannya. Dulu, ia bekerja sebagai tukang kayu di bengkel kecil, membuat meja dan kursi. Istrinya, Ibu Siti, adalah wanita jelita yang bekerja sebagai penjahit baju di pasar. Mereka punya dua anak—Yama dan Mojo—yang suka berlarian di halaman belakang, tertawa sambil menangkap hujan musim kemarau.

Yama, yang saat itu berusia delapan tahun, suka menggambar bunga atau apa saja benda-benda dalam imajinasinya di dinding kamar. Mojo, enam tahun, selalu membawa bola yang dibuat dari kertas yang dikumpulkan dan digumpal jadi bulat tidak sempurna, bermimpi jadi pemain sepak bola profesional. Keluarga itu sederhana, tapi bahagia. Pak Karmin sering pulang larut malam, tangannya kasar karena pekerjaan keras itu, tapi ia selalu punya waktu untuk bermain dengan anak-anak.

“Ayah, ceritain dong tentang hujan ajaib,” kata Yama suatu malam, dan Pak Karmin akan memulai cerita tentang pelangi yang muncul setelah badai.

Segalanya berubah dalam satu malam yang mengerikan. Saat musim hujan datang lebih awal. Hujan turun tidak seperti biasanya, melainkan diikuti banjir bandang yang datang tiba-tiba, membawa lumpur, kayu-kayu hanyut, dan apa saja tersapu ikut dari sungai yang meluap cepat. Yama dan Mojo sedang tidur di kamar belakang.

Pak Karmin dan Ibu Siti berusaha menyelamatkan mereka, tapi air naik dengan cepat. Yama tenggelam dalam pusaran mimpi yang ganas. Mojo ikut terseret, tubuh kecilnya tak kuat melawan arus. Pak Karmin menemukan mereka pagi-pagi, terbujur dingin dan kaku di halaman.

Pemakaman berlangsung di bawah hujan yang masih rinai dan tanah yang basah menelan jenazah kecil anak-anaknya.

Ibu Siti, yang tak kuat menanggung beban, pergi pagi-pagi sekali setelah itu. “Rumah ini terkutuk!” katanya sambil menutup pintu dengan kasar, sembari menggeret tasnya.

Pak Karmin tetap tinggal, bukan karena keras kepala, tapi karena ia percaya hujan itu adalah cara anak-anaknya bisa pulang. Setiap tetes air adalah bisikan mereka, setiap rintik adalah langkah kaki kecil yang hilang. Ia tak mau pindah; rumah itu adalah satu-satunya yang tersisa.

Sekarang, ember-ember itu adalah pengganti. Ada Yama Merah, yang ia letakkan di dekat jendela, menunggu sinar matahari yang tak pernah muncul. Mojo Biru, yang selalu ia terisi air dan mainan kecil—miniatur bebek karet dan kapal mainan milik anaknya dulu. Pak Karmin bicara tentang apa saja pada mereka setiap pagi, suaranya parau dari rokok yang ia selalu hisap sebatang demi sebatang.

Malam hari, ia duduk di tengah ruang tamu, dikelilingi ember-ember, mendengarkan rintik hujan seperti musik. Televisi menyala, memancarkan cahaya aneh yang melengkung dan memantul di dinding basah.

Kadang, kabut pagi membuatnya berkhayal: Yama dan Mojo muncul dari uap, tertawa sambil menari. Ia bayangkan Yama menggambar di dinding dengan jari basah, Mojo menendang bola kertas ke arahnya. “Ayah, main yuk!” kata mereka dalam khayalannya. Pak Karmin tersenyum, tapi air mata jatuh ke ember, bercampur dengan hujan.

Hari-hari berlalu dihabiskan di dalam rumah itu. Pak Karmin bahkan tidak pernah keluar rumah selepas istrinya angkat kaki meninggalkannya. Tetangga-tetangga menggosipkan dia sebagai “Orang Gila Tua”. Bu Rone, tetangga sebelah yang dulu teman baik istrinya, pernah datang.

“Pak, jangan begini terus. Anak-anakmu pasti mau ayahnya bahagia,” katanya.

Pak Karmin mengangguk, tapi hatinya berkata lain. Ia tak mau bahagia tanpa mereka, anak-anaknya.

Suatu sore, bocah laki-laki bernama Temi, cucu Bu Rone datang ke rumah itu. Temi, berusia delapan tahun yang penasaran dengan cerita hujan di dalam rumah. “Pak, kok bisa hujan di dalam? Atapnya bocor, ya?” tanyanya sambil masuk tanpa izin.

Pak Karmin terkejut kedatangan bocah laki-laki itu, tapi tak marah. Ia tunjukkan ember-ember. “Ini anak-anakku,” katanya pelan.

Temi tertawa, tapi lalu diam. Dia lihat ekspresi Pak Karmin, mata tua yang penuh kesedihan. “Pak, aku bisa lho coba bantu perbaiki atapnya,” tawarnya.

Pak Karmin menggeleng. “Hujan ini bukan dari atap. Tapi … dari sini,” ucapnya sambil menunjuk dada sebelah kiri.

Temi mulai sering datang. Suatu kali, dia membawa peralatan yang pikirnya bisa memperbaiki genteng, mencoba perbaikinya tapi hujan tetap turun di rumah itu. Pak Karmin menceritakan tentang Yama dan Mojo, juga tentang banjir itu. Temi banyak menyimak, tak banyak bicara. Bocah itu lantas terlempar ingatan tentang ayahnya yang tewas dalam kecelakaan. Dia juga bercerita tentang ayahnya yang meninggal, membuat mereka semakin dekat.

Suatu hari, Temi bawa sepeda berwarna merah miliknya. “Pak, coba lho main!”

Pak Karmin tertawa pertama kali setelah bertahun-tahun. Ia coba naik sepeda, jatuh berkali-kali, tapi tertawa. Untuk sesaat, rumah terasa hangat. Tapi malam itu, hujan semakin deras. Pak Karmin bermimpi buruk: Yama dan Mojo tenggelam lagi, tapi kali ini mereka memanggilnya. Ia bangun berkeringat, telapak tangannya bergetar, ember-ember di sekitar seolah menatapnya.

Hujan berhenti total di dalam rumah Pak Karmin. Langit-langit tiba-tiba kering, seperti kulit yang kembali utuh setelah luka lama. Ember itu kosong, tak ada lagi genangan air dan benda-benda yang mengapung.

“Yama? Mojo?” panggilnya. Suaranya bergema di ruang kosong.

Ia berlari ke halaman. Hujan turun lagi, tetapi kini bukan dari langit-langit rumah, melainkan dari langit yang sesungguhnya.

Tetangga-tetangga yang lama tak pernah ia ajak bicara datang, membawa nasi lauk-pauk dan kata-kata prihatin. “Pak, sudah waktunya untuk melupakan,” kata Bu Rone, matanya berkaca-kaca.

Pak Karmin menggeleng. Ia kembali masuk ke rumah, mengumpulkan ember-ember. Mungkin hujan akan kembali, pikirnya. Mungkin anak-anaknya marah karena ia lupa memberi makan. Ia coba mengisi ember dengan air dari sumur, tapi air itu terasa berbeda; hangatnya tak seperti suara Yama, tak ada tawa Mojo di permukaan.

Malam itu, Pak Karmin bermimpi, tetapi mimpi ini terasa lebih nyata dan dingin dari hujan yang pernah ia kumpulkan. Ia berada di tengah ruangan, dikelilingi kegelapan. Di depannya, Yama Merah dan Mojo Biru berdiri tegak, tetapi mereka bukan lagi wadah plastik; mereka adalah pantulan anak-anaknya yang basah, terbuat dari air yang memantul dan cahaya televisi yang melengkung.

Yama Merah bergoyang pelan, dan dari permukaannya, suara merintih muncul, seperti tetesan air yang menghantam lantai kayu kosong.

“Ayah,” kata Yama, air matanya (atau mungkin hanya tetesan biasa) jatuh ke lantai. “Ayah, lihat. Cat di kamar kami sudah luntur. Semua gambarku… pelangi yang Ayah ceritakan itu sudah tidak ada di sini.”

Pak Karmin mengulurkan tangan. “Ayah bisa gambar lagi, Nak. Ayah bisa perbaiki.”

Saat ia menyentuh Yama Merah, tangannya menembus, dingin dan licin.

Lalu, Mojo Biru bersuara, suaranya lebih nyaring, seperti bunyi percikan ketika batu kecil dilemparkan ke genangan air.

“Ayah,” kata Mojo, bagian bawahnya berputar seperti pusaran air kecil. “Mojo lelah berenang. Bola kertas Mojo sudah hancur lebur, Ayah. Sudah tidak bisa ditendang lagi.”

Mojo Biru meneteskan air terus-menerus. “Kami tidak di sini, Ayah. Kami… kami sudah pergi bersama air itu.”

Pak Karmin menangis. Ia melihat kenangan berputar di sekelilingnya, bukan hanya banjir, tapi semua tawa sebelum bencana. Ia melihat Yama menggambar krayon di dinding, dan Mojo menendang gumpalan kertas ke arahnya.

“Ayah harus hidup bahagia, ya,” bisik Yama Merah, sambil memudar seperti uap di bawah cahaya.

“Tolong ya, Ayah,” Mojo Biru melanjutkan. “Kalau Ayah sedih, kami tidak bisa beristirahat. Biarkan kami pergi.”

Seketika, kedua pantulan itu hancur menjadi genangan air biasa, air yang terasa hangat, tidak lagi dingin seperti air sungai. Pak Karmin terbangun, peluh membasahi dahi. Ia melihat ke sekeliling; ember-ember itu sunyi, diam, dan kosong. Kali ini, ia menyadari, keheningan itu bukanlah kehilangan.

“Maafkan Ayah, ya, anak-anak,” bisiknya.

Ia membersihkan debu di pinggir Yama Merah setiap sisi yang kotor. Di dasar Mojo Biru, ia menemukan sebuah manik-manik biru yang mungkin dulu adalah bagian dari mainan kapal. Ia menciumi dahi setiap ember, seperti dulu ia mencium kening anak-anaknya sebelum tidur. Tanah yang menutupi lubang itu terasa bukan seperti mengubur, tapi seperti membaringkan mereka untuk tidur yang sangat panjang.

Malam itu, ia duduk lama di ruang tamu, menatap langit-langit yang kini kering. Tidak ada lagi rintik air, tapi entah kenapa, matanya terasa basah. Ia baru sadar bahwa hujan tidak pernah benar-benar turun dari langit. Mungkin, selama ini, hujan itu datang dari dalam dirinya, dari kenangan yang tak mau berhenti mencari jalan pulang.

Keesokan harinya, hujan masih turun di luar rumah. Awan hitam di langit-langit mulai menipis, menyisakan bercak-bercak kecokelatan. Pak Karmin duduk di beranda, menatap langit. Ia tak lagi beli ember baru. Rumah itu kini sunyi, tapi damai.

Temi datang lagi, membawa sepeda kesayangannya, “Pak, mau ikut main nggak?” tanyanya.

Pak Karmin tersenyum. “Mungkin besok saja.”

Pak Karmin mulai keluar rumah lebih sering, bicara dengan tetangga. Ia bahkan mulai membantu tetangga memperbaiki rumah mereka dan mengobrol dengan bapak-bapak di warung kopi. Pak Karmin menyadari bahwa hujan dalam hatinya bisa berhenti, jika ia biarkan ikhlas mendominasi. Di halaman belakang, ia menanam bunga-bunga kecil—bunga yang Yama suka gambar dulu. Setiap pagi, ia siram mereka dengan air sumur, dan untuk pertama kali, ia merasa hujan di dalam hatinya mulai reda, digantikan oleh harapan yang hijau

(Kabupaten Padang Pariaman, 18 Oktober 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Palito -
Palito - Laki-laki kelahiran 2001. Boleh kasih bacotan di @paa_litoo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email