Rumah Opa Ayat
aku tiba malam hari. lampu teras menyala seperti sudah lama menungguku. opa ayat membuka pintu dan bilang darahnya ada gorontalo. aku tidak bertanya apa-apa lagi. kamar yang disiapkan berbau sabun cuci dan kain yang dijemur seharian.
paginya ada nasi goreng. tidak ada kecap, tidak ada saus tomat. hanya nasi, bawang, dan telur dadar yang diiris tipis di atasnya. ibuku membuatnya begitu juga. aku makan pelan-pelan supaya tidak ketahuan bahwa mataku panas.
opa ayat bercerita sambil mengunyah. kota ini punya pulau-pulau yang bagus, katanya. orang luar datang untuk melihatnya. lalu ia berhenti, minum air, dan bilang di daratan ada tambang. tanahnya digali. sungainya berubah warna kalau hujan. ia mengatakannya seperti orang melaporkan cuaca.
kami terus makan. ia bercerita, aku mengangguk. telur dadar habis lebih dulu. ceritanya belum. nasi di piringku tinggal sedikit, dan aku sadar aku sedang menghabiskan sesuatu yang bukan hanya sarapan.
piring-piring dibawa ke belakang. di luar, matahari naik seperti biasa. aku menyendok suapan terakhir. rasanya sama dengan di rumah. itu yang paling kuingat, dan yang paling tidak kumengerti.
–
Luka-Luka di Tubuh Banggai
orang-orang bilang banggai cantik. aku percaya. di layar, danaunya jernih dan pulau-pulaunya rapi seperti disusun orang sabar.
tapi aku tahu mumpe dari video pencarian youtube. bukit yang tidak ada lagi, difilmkan dari atas oleh kamera yang tidak bisa menangis. aku tahu batui dari cerita opa ayat. ia menyebutnya sambil mengunyah, pelan, seperti menyebut nama saudara yang sudah lama sakit.
aku tidak pernah menginjak tanah itu. lukanya sampai padaku lewat sinyal, lewat suara orang tua, lewat hasil pencarian yang berurutan: wisata, penyu, izin usaha pertambangan.
begitulah aku mengenal sebuah kota: dari belakang kaca. cantik di halaman pertama, berdarah di halaman ketiga, dan aku menggulir di antara keduanya dengan ibu jari yang bersih.
kota ini seperti ibu yang tetap menyiapkan sarapan padahal badannya sakit. ia bilang tidak apa-apa. aku, yang hanya mendengar dari jauh, ikut mengangguk.
–
Kota Kita Blur
pagi ini luwuk lupa memakai wajahnya.
teluk lalong yang biasa jadi cermin
kini cermin yang diembus napas,
dan kota di dalamnya
tinggal kira-kira.
rumah-rumah di atas bukit
dihapus pelan dengan jempol basah.
pegunungan mundur selangkah,
dua langkah, lalu menyamar
jadi bayangan yang lupa pemiliknya.
asap itu datang dari tempat
yang tak pernah kami undang.
ia menempuh jarak berhari-hari
tanpa tiket, tanpa nama,
dan mendarat tepat di paru-paru kami.
sementara itu, di landasan,
pesawat berputar seperti kalimat
yang belum menemukan titiknya.
para penulis tertahan di langit,
membawa puisi yang kepalang basah
oleh udara yang tak mereka pilih.
bandara menutup pintunya.
kata-kata menunggu di kota lain,
berjubel di ruang tunggu,
memeluk koper berisi
metafora yang belum sempat dibuka.
lima hari kota ini hendak bersastra,
tapi alam menulis lebih dulu.
ia menulis dengan abu,
dengan kabut, dengan hutan
yang terbakar di tempat lain,
lalu mengirimkannya ke sini
sebagai surat yang tak bisa dibaca.
hutan itu tidak terbakar sendirian.
ada izin yang menyalakan korek,
ada pejabat yang memadamkan
pidato lebih cepat daripada api,
dan setiap tahun kami menerima
siaran pers yang sama:
sedang ditangani.
kami berdiri di tepi teluk,
menatap air yang tak lagi memantulkan apa-apa.
barangkali begitulah festival ini dibuka:
dengan satu halaman putih
yang terlalu besar untuk ditulisi,
dan kami semua,
yang datang maupun yang tertahan,
sama-sama belajar membaca
apa yang tak kelihatan.
–
Setelah Para Penulis Gagal Mendarat
panitia menaruh jadwal di instagram,
dinding yang tak bisa dipaku.
nama-nama berbaris dalam kotak persegi,
jam dan ruang sudah ditentukan,
orang-orang menekan tanda hati,
tetapi kursi-kursi itu duduk
tanpa pantat siapa pun.
di bandara, papan keberangkatan
menulis satu kata berulang-ulang:
tunda.
kata yang paling jujur di antara semua kata
yang akan diucapkan minggu ini.
negara juga tak kunjung mendarat.
ia dijadwalkan sejak musim lalu,
sejak tahun-tahun yang jam datangnya
sudah dihafal api,
tetapi selalu tunda, tunda,
dan kami tahu ini bukan cuaca.
ini kelalaian yang berseragam.
seorang penyair menelepon dari kota lain.
suaranya putus-putus,
seperti kalimat yang dipotong
sebelum sempat menemukan kata kerjanya.
ia bilang, bacakan saja puisiku.
kami bilang, baik.
kami tidak bilang bahwa puisi
tidak bisa dibacakan oleh mulut orang lain
tanpa sedikit berubah menjadi doa.
mikrofon di panggung dipasang.
ia menunggu dengan sabar
seperti anjing di depan pintu
yang tuannya terjebak hujan.
kami yang sudah sampai
menjadi tuan rumah bagi ketiadaan.
kami menuang kopi untuk cangkir
yang tak diambil siapa-siapa.
kami bertepuk tangan
untuk seseorang yang masih di langit,
dan tepuk tangan itu
tidak jatuh ke mana-mana.
aku mulai curiga
bahwa sastra memang begini:
orang-orang yang tak pernah tiba,
kata-kata yang menunggu di ruang transit,
dan sedikit kabut
yang membuat semua pembaca
menyipitkan mata.
malam itu kami pulang.
kursi-kursi tetap di sana,
menjaga bentuk tubuh
yang belum datang.
–
Mabuk Laut
bening sekali
danau paisupok itu.
pulangnya,
di pelabuhan teluk lalong,
semua yang bening
dalam diri kami
keruh.
(Luwuk—Bangai, 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
