Pernah nggak sih kalian menjalin hubungan yang bernama HTS (Hubungan Tanpa Status)? Terus sering bertanya-tanya juga sebenarnya hubungan ini beneran ada apa nggak sih? Dimulai dari aku yang sering mendengar curhatan teman yang mengeluh tentang hubungannya tuh nggak jelas, kayak orang pacaran tapi kayak teman, kayak teman tapi kayak pacaran. Awalnya aku nggak percaya tapi setelah menjalani nya sendiri baru tau rasanya. Jadi setelah aku search di web dan media sosial tentang HTS ini, aku ketemu salah satu artikel yang menarik banget. Judulnya “Membaca HTS Lewat Freud dan Sartre” karya Muhammad Ilmi Assidiqy Yusuf.
Yang bisa didapat dari artikel tersebut, menurut Sigmund Freud, HTS dapat dipahami melalui teori psikoanalisis yang menekankan peran alam bawah sadar, dorongan emosional, dan konflik batin dalam perilaku manusia. Dalam konteks HTS, seseorang mungkin ingin merasakan kedekatan emosional, kasih sayang, dan perhatian dari orang lain, tetapi pada saat yang sama merasa takut terhadap komitmen, penolakan, atau kemungkinan terluka. Keadaan ini dapat mencerminkan konflik antara keinginan untuk mencintai dan kebutuhan untuk melindungi diri dari risiko emosional. Seseorang mungkin mempertahankan HTS karena merasa nyaman dengan kedekatan yang ada dan takut kesepian, tetapi belum siap menghadapi tanggung jawab yang dianggap menyertai hubungan resmi.
Baca juga:
Sementara itu, Jean-Paul Sartre memandang HTS melalui perspektif eksistensialisme, khususnya konsep kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab manusia. Menurut Sartre, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya, termasuk memilih bentuk hubungan romantis yang ingin dijalani. Dengan demikian, menjalani HTS tidak secara otomatis merupakan sesuatu yang salah karena setiap individu berhak menentukan apakah dirinya ingin berkomitmen atau tidak. Namun, kebebasan tersebut juga disertai tanggung jawab terhadap pilihan dan dampaknya bagi orang lain. Sebagai contoh, seseorang yang tidak ingin menjalin hubungan resmi tetapi terus memberikan harapan kepada pasangannya perlu menyadari konsekuensi dari tindakannya.
Menurut saya, seorang perempuan dan pernah mengalaminya sendiri, HTS menjadi sebuah hubungan yang penuh dengan pertanyaan, seperti “kita ini sebenarnya apa?”, “sebenarnya kita serius nggak sih?”. Ketika awalnya mereka hanya berteman dan sekedar mengirim pesan biasa namun kelamaan mereka menjadi sering mengirim kabar setiap hari, memberi perhatian, dan hadir setiap dibutuhkan membuat para perempuan menjadi mulai berpikir, “Kalau dia nggak punya perasaan ke aku, kenapa dia memperlakukanku seperti ini?”
Apalagi jika para lelaki sudah memberikan perhatian yang penuh seolah kita sudah berstatus pacaran, seperti memanggil satu sama lain dengan panggilan spesial yang berbeda dengan yang lain, saling mengabari lewat foto keseharian, dan sampai mengenali ke keluarga masing-masing. Hal tersebut semakin membuat para perempuan lebih berharap atas kejelasan dan kepastian status hubungan.
Perempuan juga kerap bingung karena pasangannya memiliki sikap yang berubah-ubah sehingga membuat perempuan terus menebak-nebak. Hari ini dia sangat perhatian, besok menghilang. Ketika perempuan mulai menjauh, dia kembali mendekat. Namun, setelah hubungan terasa dekat lagi, dia kembali bersikap biasa. Pola seperti ini dapat membuat seseorang terus memikirkan hubungan tersebut karena dia tidak tahu kapan akan mendapatkan perhatian berikutnya.
Baik Nggak Sih HTS Dijalani?
Melalui perspektif Freud, HTS dapat dipahami sebagai kemungkinan konflik antara keinginan memperoleh kedekatan emosional dan pertimbangan mengenai konsekuensi hubungan. HTS dapat menjadi kurang baik apabila seseorang hanya berusaha memenuhi kebutuhan emosionalnya tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Misalnya, seseorang ingin mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan teman berbagi cerita, tetapi tidak ingin memberikan komitmen.
Sementara itu, melalui perspektif Sartre, HTS dapat dilihat sebagai persoalan kebebasan memilih dan tanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Kedua pemikiran ini memberikan sudut pandang yang berbeda tetapi saling melengkapi. Dimana Freud membantu menjelaskan kemungkinan dinamika psikologis di balik perilaku seseorang, sedangkan Sartre membantu menilai bagaimana seseorang menjalankan kebebasan dan tanggung jawabnya dalam hubungan.
Sebagai contoh, seseorang tidak ingin berkomitmen, tetapi terus memberikan harapan kepada orang lain melalui perilaku romantis tanpa menjelaskan maksudnya. Jika ia menggunakan ketidakjelasan untuk menghindari tanggung jawab atas pilihannya, situasi tersebut dapat dikaitkan dengan konsep bad faith atau penyangkalan terhadap kebebasan dan tanggung jawab diri. Sebaliknya, apabila kedua pihak secara sadar menyepakati hubungan tanpa status dan bersikap jujur mengenai harapan masing-masing, HTS tidak otomatis menjadi sesuatu yang buruk.
Baca juga:
Pada akhirnya, Menurut saya, jika dilihat dari kedua perspektif tersebut, HTS bukanlah hubungan yang selalu salah, tetapi kualitasnya bergantung pada cara kedua pihak menjalankannya. Melalui Freud, kita dapat mempertimbangkan apakah hubungan tersebut hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan emosional tanpa memikirkan dampaknya. Sementara itu, melalui Sartre, kita dapat mempertimbangkan apakah setiap pihak menjalani kebebasannya secara sadar dan bertanggung jawab.
HTS sebaiknya tidak dijalani apabila salah satu pihak harus terus mengorbankan ketenangan emosionalnya demi mempertahankan kedekatan tanpa kepastian. Apabila kita mulai merasa suasana hati bergantung pada pasangan, cemas dan terus-terusan ingin segera kejelasan hubungan, dan mengabaikan kebutuhan dan kesenangan sendiri, maka HTS harus segera diakhiri.
Namun, apabila kedua pihak benar-benar nyaman, memiliki kesepakatan yang jelas, dan tidak saling memberikan harapan palsu, HTS tetap dapat menjadi pilihan mereka. Hal terpenting bukan sekadar ada atau tidaknya status pacaran, melainkan kejujuran, kesadaran terhadap pilihan, dan tanggung jawab terhadap perasaan masing-masing. (*)
Editor: Kukuh Basuki
