Bukan penyair, hanya mengeluh dengan estetika. Sebab jujur dan terbuka, masih marginal.

Hidangan Virtual dan Puisi Lainnya

YH Harahap

1 min read

Selamat Datang

selamat datang di era
standar pencapain meroket
sedang standar moral menukik
mohon kencangkan sabuk pengaman
kita sedang dalam ketinggian angan-angan

–

Hidangan Virtual

dicari, dicari
di mari, di mari
cari apa kak
mari sini!

menu apa yang kau mau
segelas cumbu dengan desah
sepiring nasib dengan judi
atau cukup sesendok dusta?

lumayan untuk investasi
bonus jodoh tiga hari
kalau mau lain bisa dipilih
janji manis hingga bully

ketik saja mana kau ingin
produk andalan selebriti
atau si botak pembela nkri

di sini kau bisa memasak harapan
tak perlu mahal membeli psikotropika
cukup gulir dan gulir hingga delusi
nikmati afirmasi dunia sudah kau miliki

masuk kak, masuk saja
varian banyak alamat
berbagai macam hidangan
kau tinggal atur menu
menjadi
pelaku
atau
korban.

–

Penyangkalan

ini maya kau sebut
bersumpah hanya anganmu
bukan nyata yang bisa kau cumbu.

tapi saban malam hingga pagi
kau menjelajahinya setiap inci
observasi hingga sudut titik.

ini dunia, tempat segala huru-hara
kau datang untuk selamatkan sadar
tapi justru jatuh semakin dalam.

melarikan diri satu-satunya cara
terlambat, kau sudah terperangkap
lalu berputar di pengingkaran sekian.

–

Ain

gulir, gulir, gulir, gilir, lagi
hitam dan kuning dan pink
merah lalu hitam lagi dan lagi
gulir, gulir, gulir, gilir, lagi

aku yakin dia aslinya banyak duka
yang ini sudah pasti pencitraan saja
halah, semua emang sok sempurna
paling modal healingnya juga hutang

tertawa, senyum cantik, bicara negara
estetik, pasangan romantis, cuan dan cuan
klik “ih, couple goals banget”
klik “MAU”
klik “spill skincarenya dong kak”

hari ke hari, jam ke menit
mata perih hati menjerit

dan jari masih si munafik
“cantik sekali” idih, jijik!

–

Kepalaku adalah Pasar

kepalaku adalah pasar
dengan tikus & bau selokan
sayur busuk sisa kemarin
aroma monza yang lapuk
asap rokok penjaja tisu
ikan amis & tahi ayam
juga wangi pecel & uang.

*****

Editor: Moch Aldy MA

YH Harahap
YH Harahap Bukan penyair, hanya mengeluh dengan estetika. Sebab jujur dan terbuka, masih marginal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email