Kelim
Ibu meminta celananya
dipendekkan dua jari.
Di atas bangku kecil
ia berdiri menghadap cermin.
Aku memegang sikunya.
“Dulu tidak sepanjang ini.”
Penjahit menarik ujung kain.
Ibu mengangkat tumit.
“Biasa saja, Bu,”
kata penjahit.
Ibu menurunkan tumitnya.
Tanganku ikut turun.
Kapur menggaris
sedikit di atas mata kaki.
Di bawah lipatan baru,
bekas lipatan lama
akan ikut dijahit
ke dalam.
–
Kolom Hubungan
Petugas mencoret kata almarhum
di depan nama ayah.
“Namanya saja,
sesuai kartu identitas.”
Kusalin namanya.
Tanggal lahir kuambil dari kartu,
tanggal mati
dari surat rumah sakit.
Pada kolom hubungan
kutulis: anak.
Petugas membawa formulir itu
ke meja di belakangnya.
Kartu ayah masih di tanganku.
Di foto,
ujung kerahnya terlipat.
Kuratakan
dengan ibu jari.
–
Bekas Jam
Jam itu kita turunkan
untuk mengganti baterainya.
Di belakangnya,
sebuah lingkaran pucat:
warna dinding
sebelum kita tinggal di sini.
Kau pergi ke pasar.
Aku menyapu serbuk
yang jatuh dari paku.
Siang merambat
ke bagian dinding
yang baru terbuka.
Malamnya,
baterai baru masih dalam bungkus.
Kita makan
dengan jam terbaring di meja.
Jarum-jarumnya berganti arah
setiap kali kau menggesernya
agar piringku muat.
–
Di Tengah Doa
Di tengah doa
aku mendengar buah jatuh
di halaman.
Aku berhenti.
Masih ada beberapa nama
yang belum kusebut.
Ketika kubuka pintu,
gelap sampai ke anak tangga.
Kuraih senter
dan mencari di bawah pohon.
Sebuah mangga pecah
di dekat selokan.
Semut sudah menemukan
bagian yang manis.
Kubawa masuk.
Kupotong bagian yang memar.
Sisanya cukup
untuk sepiring kecil.
Ketika kembali,
aku lupa
sampai di mana
aku meminta.
Di antara kedua tanganku
masih tercium
bau buah itu.
–
Sebentar
Kita sudah selesai bercakap.
Di meja,
air dalam gelasmu
masih bergerak.
Ingin kukatakan: tinggal.
Kau mencari kunci.
Aku mengambilkannya
dari ujung meja.
Di ambang, bahu kita hampir bersentuhan.
Aku bergeser,
memberimu jalan.
Air dalam gelasmu sudah tenang.
Aku haus. Gelas itu kuangkat.
Kuminum dari bibir kaca
yang tak kausentuh.
Kubiarkan pintu
terbuka sebentar.
–
Yang Terbawa
Tubuh adalah arsip.
Di lutut kanan, aku masih berumur tujuh.
Ayah memunguti kerikil dari lukaku,
lalu meniupnya, seolah sakit bisa terbang.
Aku tumbuh dan pandai berpamitan.
Ayah memetik sehelai benang dari bahuku.
Di luar, bagasi sudah ditutup.
Setelah ia tiada, kubereskan lemari.
Baju-bajunya kubagikan, surat-surat kusimpan.
Kupikir aku sudah tahu
mana yang pergi, mana yang tinggal.
Bertahun kemudian, anakku jatuh.
Aku berjongkok dan meniup lututnya.
Dari tubuh yang sibuk menjadi diriku,
ayah keluar sebentar.
*****
Editor: Moch Aldy MA
