Sebagian dari kita mungkin pernah menjumpai dan masih ingat pada awal-awal rilisnya Facebook (FB) sekitar tahun 2008-2009, di kolom posting ada sebuah pertanyaan menarik seperti ini, “Apa yang Anda pikirkan sekarang?” Buat saya yang masih polos waktu itu, pertanyaan ini menarik, karena saya sempat dibikin termenung, bahkan kesannya bertanya balik, “Lah, memangnya apa yang aku pikirkan?”
Saya ingat, pertama kali saya mulai bermain Facebook adalah ketika masih duduk di bangku SD kelas 6, dan saat itulah saya menjumpai pertanyaan Facebook tersebut yang membikin saya sempat merenung. Namun tidak sampai berlama-lama saya merenung—karena jika kelamaan bisa-bisa jadi filsuf. Jadi, sadar gak sadar saya langsung abaikan pertanyaan itu, dan tiba-tiba mulai bisa beradaptasi dan hanyut dengan cara orang-orang bermain Facebook. Peristiwa ini sekaligus menandai awal saya memasuki kehidupan dunia lain, dunia maya, dan menjadi netizen.
Orang-orang punya kesibukan baru dalam kehidupan baru di dunia maya ini, mereka bisa sangat antusias untuk mencurahkan perhatian lebih untuk cari perhatian, bahkan kalau itu cuma sebatas melaporkan aktivitas sehari-hari yang sepele. Tapi sebenarnya hal-hal sepele pun yang dilakukan di media maya bisa jadi sama pentingnya dengan di dunia nyata, karena toh memang kenyataan hidup dan segala-galanya di dunia ini sudah berubah. Bahkan antara dunia maya dengan dunia nyata hampir tidak bisa dibedakan.
Statement dalam kalimat terakhir tersebut mungkin seperti kesimpulan yang terlalu ringkas dan mendadak. Tapi biar saya perjelas seperti ini: seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, bahwa di era digital seperti sekarang ini, kita seolah-olah atau benar-benar telah dibawa memasuki relitas dan kehidupan dunia lain. Di dalamnya, orang-orang benar-benar telah menjalani aktivitas kehidupan dengan mencurahkan sepenuh jiwa dan raga mereka – sama penuhnya dengan di dunia nyata.
Jika bisa diibaratkan, seperti ketika kita untuk pertama kali membuka akun di media sosial, ini sama seperti kita baru dilahirkan ke dunia. Bedanya, kita lebih punya kebebasan untuk memilih dan bahkan hebatnya, kita bisa menciptakan identitas kita sesuka hati, dari SARA hingga jenis kelamin. Ya, mungkin itu agak berlebihan karena sebagian besar dari kita masih membawa identitas dari kehidupan “sebelumnya” – maksudnya dari dunia nyata.
Faktanya, kebanyakan orang di dunia maya juga mencari pengakuan dan jati diri, mereka juga tidak segan untuk merubah identitasnya menjadi sama sekali lain dari dirinya di kehidupan nyata. Jadi, dunia maya bisa menjadi semacam dunia alternatif tempat pelarian orang-orang dari dunia nyata, di mana orang-orang bisa mengekspresikan dirinya secara lebih bebas, panggung tempat mereka bisa unjuk diri, unjuk gigi, dan “unjuk rasa”.
Dunia maya jadi semacam tempat pelarian, karena dunia alternatif ini punya hal-hal yang lebih menjanjikan yang tidak terdapat di dunia nyata, bahkan lebih menjanjikan dari janji-janji “surgawi”. Makna-makna hidup yang sudah mapan di kehidupan nyata pun bisa diragukan dan dipertanyakan ulang. Terdapat akses informasi yang luas dan orang-orang mudah mengadopsi nilai-nilai hidup baru yang dirasa lebih memuaskan hati. Inilah hal-hal yang menjanjikan tersebut.
Tetapi bisa sebaliknya, karena banyaknya pilihan informasi dan nilai-nilai kehidupan yang dihadirkan oleh dunia maya, orang jadi bingung untuk memilih. Akhirnya mereka malah balik mempertegas nilai-nilai dan dogma-dogma kehidupan yang sudah mapan dari dunia nyatanya dengan caranya sendiri, misalnya kembali mempertegas dogma murni agama.
Upaya untuk mengajak orang-orang agar kembali ke nilai-nilai murni ajaran agama pun pernah saya “dakwahkan” di Facebook dengan angkuhnya, walaupun tidak seangkuh para ustaz-ustaz dadakan sebagaimana videonya justru paling ramai di YouTube. Bahkan tepatnya, saya lebih cenderung jadi simpatisan aliran ekstrem. Misalnya saja saya pernah pasang bendera ISIS jadi foto profil facebook. Dan ketika menjelang hari Valentine, Natal, dan tahun baru, dengan naifnya saya mengimbau via inbox saudara-saudara seiman saya agar tidak ikut-ikutan merayakan hari-hari tersebut, sebab itu budaya orang-orang kafir dan itu merupakan perbuatan bidah. Bagi yang mengikuti akan terancam siksaan neraka.
Berutungnya waktu itu saya masih SD dan style tersebut tidak berlangsung lama, kalau sampai berlama-lama, mungkin saja saya akan tertarik jadi rekrutan ISIS dan ‘jihad’ di medan perang. Barangkali yang membuat saya tersadar dari jebakan fanatisme buta tersebut, justru berkat interaksi saya dengan komunitas ateis online. Dari mereka saya belajar banyak hal, dari mulai belajar untuk bersikap skeptis hingga belajar untuk berpedoman pada “dalil-dalil” saintisme sebagai petunjuk kebenaran yang katanya paling mutakhir.
Baca juga:
Itu sekilas saja mengenai pergolakan hidup saya di dumay yang penting gak penting tetap punya andil besar dalam membantu pencarian saya atas makna-makna kehidupan yang hakiki.
Karena pada hakikatnya, manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa makna. Yang saya maksud dengan makna di sini cakupannya luas, yaitu termasuk di dalamnya berupa informasi, nilai, etika, moral, bahasa, simbol, abstraksi dan lain sebagainya. Seperti ada seorang “pepatah” yang mengatakan bahwa “manusia adalah makhluk simbolis”. Jadi apalah artinya manusia tanpa bahasa, tanpa kata, tanpa budaya, tanpa nilai, ia tak lebih hanya seonggok tulang, segumpal daging dan darah.
Mari kita berandai-andai, kira-kira akan tampak seperti apakah manusia jika mereka tidak memiliki tubuh biologis, tapi hanya punya pikiran dan kesadaran? Bisa jadi suatu saat nanti akan ditemukan teknologi yang bisa mentransfer pikiran dan kesadaran kita ke kehidupan virtual. Atau tidak perlu sejauh itu, coba andaikan lagi, jika saat ini juga manusia lenyap dari dunia dan digantikan dengan AI, apa bedanya? Kehidupan nyata atau maya tetap saja ramai dengan pertukaran identitas, simbol, bahasa, dan informasi.
Baca juga:
Sekarang kita coba renungkan kembali pertanyaan Facebook di awal dan mungkin kali ini kita bisa jadi filsuf, “Apa yang Anda pikirkan sekarang?“. Dan pertimbangkan juga saya yang bertanya balik dengan polosnya di awal, “Lah, memangnya apa yang aku pikirkan?“. Kemudian kita tambahkan pertanyaan itu jadi lebih radikal, “Siapa Aku?”
Dan tiba-tiba, kita mungkin akan mendengar Descartes berteriak dari balik kuburan, “Cogito Ergo Sum !”.
“Aku berpikir maka aku ada”. Kurang lebih itulah arti harfiah dari “teriakan” Descartes tersebut. Descartes tidak sekedar mengajak kita untuk berpikir, tapi juga mempertanyakan, menyangsikan, dan mengawasi segala apapun yang terlintas di benak dan pikiran kita. Bahkan sampai tak tersisa. Tapi justru di sanalah kita bisa menemukan diri kita sendiri yang sejati. Sebab, kita tidak lagi tenggelam dalam identitas-identitas palsu yang kita klaim seolah-olah, “itu adalah aku”. Paling tidak, ini bisa menjadi semacam pengingat buat kita di era digital ini, di mana kita lebih rawan tergoda untuk selalu ingin menjadi sesuatu dengan cara menjadi “yang lain”. (*)
Editor: Kukuh Basuki
